KHUTBAH JUMAT; Antara Cita dan Fakta ( Studi Khutbah di Masjid se-Lamongan)

ABSTRAK

Al-Jum’ah artinya: persatuan, persahabatan, kerukunan [al-ulfah], dan pertemuan [al-ijtima]. Meski secara umum dan keseluruhan semua hari – termasuk Jumat – dalam seminggu itu bisa dikatakan sama atau tidak ada bedanya; namun hari Jumat bagi kaum umatan muslimatan [kaum Muslimin/Muslimat], dipastikan memiliki keistimewaan tersendiri. Sama halnya dengan keistimewaan Sabtu bagi orang-orang Yahudi, dan Minggu untuk kawan-kawan Nasrani.

Seperti kita maklumi bersama, khutbah merupakan rangkaian yang tak terpisahkan dari pelaksanaan shalat Jumat yang hukumnya wajib atas setiap muslim laki-laki dan mempunyai persyaratan tertentu. Kita tidak boleh melakukan shalat Jumat tanpa menyelenggarakan khutbah. Bahkan, shalat itu sendiri tidak sah tanpa khutbah terlebih dahulu.

Menurut sebagian ulama, shalat Jumat adalah shalat Dhuhur yang diringkas menjadi dua rakaat (Dhuhrun maqshurah). Sedangkan dua rakaat sisanya, diganti khutbah. Karena itu dalam penyelenggaraannya, khutbahnya dua kali, sama dengan jumlah rakaat shalat yang dikurangi (Sahal Mahfudh, 2003; 50).

Dengan demikian, khutbah Jumat merupakan ibadah, tidak sekedar media dakwah semata sebagaimana pengajian umum, ceramah keagamaan, kuliah Subuh, siraman rohani dan sejenisnya. Meskipun semuanya mengandung unsur dakwah, yaitu mengajak manusia ke jalan yang benar dan diridhai Allah untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat (sa’adah addaraian), sebagaimana dicita-citakan umat Islam.

Adapun pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah Pendekatan Deskriptif Kualitatif. Penelitian Deskriptif atau Descriptive Research yaitu penelitian yang menggambarkan realitas objek penelitian dengan apa adanya dengan menjabarkan secara mendetail apa yang diamati di lapangan dengan tanpa sedikitpun melakukan manipulasi atas realitas, dan realitas dibiarkan apa adanya. Pada penelitian deskriptif, peneliti berupaya menggambarkan kegiatan penelitian yang dilakukan pada objek tertentu secara jelas dan sistematis.

Dari hasil penelitian di lapangan ditemukan bahwa ada sekitar empat belas gap yang antara keinginan para khatib vs fakta riil di lapangan belum ada titik temu. Keempat belas hal itu adalah pertama, cacat khutbah, keluhan jamaah, kantuk/tidur ketika khutbah, problem khatib pemula, anak kecil ramai, ber-HP-ria, ngobrol dengan teman, ngulur waktu datang ke  masjid, Berlomba-lomba duduk di barisan belakang, khutbah isinya kok mencaci, transaksi jual-beli ketika khutbah berlangsung, baju shalat untuk orang papa, pengemis pra dan pasca jumat, dan terakhir dilema kotak amal. 

 

Kata Kunci: Khatib, Khutbah dan Jumat.

 

PENDAHULUAN

Jum’ah atau al-Jumu’ah sebagai nama hari setelah hari Kamis dan sebelum Sabtu, pada Jaman Jahiliyah bernama al-’Arûbah. Kemudian umat Islam mengubah nama hari itu menjadi al-Jumu’ah.

Ibnu Sirin menyebutkan, suatu hari sebelum tibanya Rasulullah Saw di Madinah saat menjalankan Hijrah dari Makkah [juga sebelum turunnya QS. Al-Jumu’ah [62]], penduduk Madinah dari kaum Muhajirin dan Anshar berkumpul di rumah As’ad ibn Zurarah. Dari orang-orang yang berkumpul itu, ada seorang Anshar yang menyampaikan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani mempunyai hari-hari tertentu untuk berkumpul. Orang Yahudi mempunyai hari Sabtu sedangkan orang Nasrani mempunyai hari Ahad [Minggu]. Akhirnya semua yang berkumpul menyetujui bahwa hari Jumat adalah hari berkumpulnya umat Islam sebagai hari untuk beribadah kepada Allah [baca: dzikr Allâh].

Mereka juga sepakat untuk merubah nama al-’Arûbah menjadi al-Jumu’ah. Riwayat yang lain sebagaimana disebutkan di dalam buku “Lisânul ‘Arab”, orang yang pertama kali menamakan hari al-’Arûbah menjadi al-Jumu’ah adalah Ka’ab bin Lu’ai. Dalam pertemuan itu juga, As’ad ibn Zurrah sebagai tuan rumah menyembelih seekor kambing atau domba.

Berangkat dari pemikiran kaum Ansor dan Muhajirin inilah, penulis ingin mengetahui seberapa efektif dan efesien kegiatan jumatan oleh masyarakat Lamongan khususnya ketika melaksanakan khutbah jumat yang diadakan setiap pekan sekali tersebut.

Untuk itu tulisan ini akan dimulai dari keistimewaan hari jumat. Dan selanjutnya diketengahkan temuan-temuan yang terjadi di lapangan. Berikut bagaimana solusinya yang tepat untuk mengurai benang kusut tersebut.

 

 

Jumat hari yang istimewa

Allah swt berfirman dalam kitab-Nya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia [berada] dalam kesukaran/kesusahan [QS al-Balad [90]:4]. Saking susahnya, tak sedikit orang yang lupa akan perputaran waktu termasuk nama hari. Apalagi untuk memahami makna hari. Saat ini, kita tengah berada dalam hari Jumat. Apa itu Jumat? Dan apa keistimewaannya dibandingkan dengan hari-hari yang lain?

Jumat adalah hari keenam dalam seminggu atau sepekan. Dalam literatur Arab, Jumat [الجمعة] juga terkadang digunakan untuk arti minggu [الاسبوع]. Jumat, yang secara utuh diserap dari kata Arab-Qur’ani, berasal dari akar kata جمع- يجمع- جمعا  (jama’a-yajma’u-jam’an,) artinya: mengumpulkan, menghimpun, menyatukan, menjumlahkan, dan menggabungkan.

Al-Jum’ah artinya: persatuan, persahabatan, kerukunan [al-ulfah], dan pertemuan [al-ijtima]. Meski secara umum dan keseluruhan semua hari – termasuk Jumat – dalam seminggu itu bisa dikatakan sama atau tidak ada bedanya; namun hari Jumat bagi kaum umatan muslimatan [kaum Muslimin/Muslimat], dipastikan memiliki keistimewaan tersendiri. Sama halnya dengan keistimewaan Sabtu bagi orang-orang Yahudi, dan Minggu untuk kawan-kawan Nasrani.

Bagi umat Islam, yang masih sempat atau sengaja menyempatkan diri untuk merenungkan makna-makna hari, paling sedikit didasarkan pada alasan utama tentang kebesaran hari Jumat:

Pertama, satu-satunya nama hari yang dijadikan nama surat dalam Al-Qur’an ialah Jumat, dalam kaitan ini surat al-Jumu’ah [62] yang terdiri atas: 11 ayat, 180 kata, dan 748 huruf. Di luar Jumat, tak ada hari lain yang dijadikan nama surat dalam Al-Qur’an. Bahkan pada umumnya disebutkan pun tidak dalam Al-Qur’an. Kalaupun ada nama hari lain yang disebut dalam Al-Qur’an, bahkan penyebutannya beberapakali, namun hari tersebut tak dijadikan nama surat. Padahal, pengabadian sesuatu sebagai nama surat dalam Al-Qur’an, dipastikan menjadi simbol bagi kelebihan sesuatu.

Kedua, berbeda dengan enam hari lainnya yang diposisikan sebagai ‘anggota-anggota’ hari, Jumat dijuluki sebagai penghulu atau pemimpin hari. Gelar sayyid al-usbû’ [pemimpin minggu] atau saayid al-ayyâm [penghulu hari], mengisyaratkan hal itu. Paling tidak secara simbolis.

Ketiga, berlainan dengan kewajiban shalat [maktûbah] di hari-hari lain yang bisa dilakukan seorang diri [munfarid] sungguhpun tetap diimbau dengan sangat [sunnah mu’akkadah] untuk dilakukannya secara berjamaah [bersama-sama], pelaksanaan shalat Jumah sesuai namanya, wajib dilaksanakan secara berjamaah. Bahkan ada di antara imam mazhab fikih yang mematok jumlah minimal jamaah shalat Jumah sebanyak 40 orang dewasa. Pensyariatan pelaksanaan shalat Jumat harus dilakukan secara berjamaah, dipastikan memiliki nilai-nilai positif tersendiri. Paling tidak dalam rangka mempererat tali silaturrahim, persaudaraan, persatuan dan kesatuan umat Islam.

Keempat, bagi kaum Muslimin, hari Jumat dipastikan memberikan penambah pengetahuan tentang keagamaan, di samping merupakan hari-hari pemupukan persaudaraan keagamaan [ukhuwwah ad-dîniyyah] secara internal. Penyampaian khutbah Jumat oleh ahli-ahli keislaman dan umumnya disampaikan orang-orang yang sejatinya menyandang predikat saleh, akan memberikan peningkatan kecerdasan bagi umat Islam. Baik itu kecerdasan intelektual maupun kecerdasan spiritual. Paling tidak bagi mereka yang selalu mengikuti jamaah shalat Jumat.

Kelima, banyak riwayat hadits yang menyebutkan kelebihan Jumat dibandingkan dengan hari lain, terutama berkenaan dengan berbagai macam dzikir dan amalan-amalan tertentu yang memiliki nilai lebih dibandingkan dengan hal serupa atau bahkan sama tetapi dilakukan di hari lain.

Selain itu, bagi kaum pekerja, hari Jumat memiliki suasana yang berbeda dibanding empat hari kerja lain. Jam kerja terasa pendek karena ada beberapa kegiatan di luar aktivitas kerja. Di pagi hari, sebagian instansi pemerintah atau kantor swasta menggelar senam pagi bersama. Selesai senam, baru saja ganti pakaian dan masuk kerja, sebentar kemudian sudah menjelang shalat Jumat, semua aktivitas dihentikan untuk melaksanakannya.

Suasana yang berbeda di hari Jumat tentu sangat dirasakan kaum muslim. Bagi muslim laki-laki diwajibkan untuk melaksanakan shalat Jumat berjamaah. Karena itu mereka memenuhi masjid-masjid atau tempat melaksanakan shalat Jumat yang lain. Ada siraman rohani, penyejuk iman dari khatib Jumat.

Sebenarnya, tak hanya shalat Jumat saja yang menjadikan Jumat sebagai hari istimewa bagi kaum muslim. Jumat juga menjadi hari besar yang berulang setiap pekannya, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw: “Hari ini adalah hari besar yang Allah tetapkan bagi umat Islam, maka siapa yang hendak menghadiri shalat Jumat hendaklah mandi terlebih dahulu…” [HR. Ibnu Majah]. Perbandingan hari Jumat dengan enam hari lain seperti perbandingan bulan Ramadhan dengan sebelas bulan lain. Karena itu bersedekah di hari Jumat lebih mulia dibanding sedekah di hari-hari yang lain.

Langkah menuju ke masjid untuk menunaikan shalat Jumat dihitung sebagai pahala. Aus bin Aus At-Thaqafi ra menyebutkan bahwa ia mendengar sendiri Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang mandi pada hari Jumat, kemudian bersegera berangkat menuju masjid, dan menempati shaf terdepan, kemudian dia diam, maka setiap langkah yang dia ayunkan mendapat pahala puasa dan shalat selama satu tahun, dan itu adalah hal yang mudah bagi Allah”. [HR. Ahmad dan Ashabus Sunan, dinyatakan shahih oleh Ibnu Huzaimah].

Keistimewaan lain, pada hari Jumat ada suatu waktu jika seseorang memohon dan berdoa kepada Allah, maka niscaya doa dan permohonan itu akan dikabulkan [disebut waktu mustajab]. Bukhari dan Muslim meriwayatkan sabda Rasulullah: “Di hari Jumat itu terdapat satu waktu yang jika seseorang muslim melakukan shalat di dalamnya dan memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala, niscaya permintaannya akan dikabulkan.” Lalu beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya waktu itu.” Mengenai kapan tepatnya waktu mustajab tersebut, para ulama berbeda pendapat. Di antara perbedaan itu ada dua pendapat yang paling kuat. Pertama, waktu yang mustajab itu saat duduknya imam sampai pelaksanaan shalat Jumat. Pendapat ini dikuatkan Imam Nawawi. Sedangkan pendapat yang kedua menyebutkan batas akhir waktu tersebut hingga setelah ‘Ashar. Pendapat yang kedua ini dikuatkan Imam Ibnu Qayyim.

Hari Jumat juga merupakan hari pengampunan dosa. Kaum muslim yang melaksanakan shalat Jumat akan menyimak dengan kecerdasan emosional, maupun kecerdasan moral dan bahkan kecerdasan sosial. Lebih-lebih lagi khutbah yang disampaikan khatib, akan diampuni dosa-dosanya sampai Jumat berikutnya, asal ia tak melaksanakan dosa besar. Berkenaan dengan ini Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah seseorang mandi pada hari Jumat dan bersuci semampunya, berminyak atau mengoleskan minyak wangi dari rumahnya, kemudian keluar [menuju masjid], dan dia tidak memisahkan dua orang [yang sedang duduk berdampingan], kemudian dia mendirikan shalat yang sesuai dengan tuntunannya, lalu diam mendengarkan [dengan seksama] ketika imam berkhutbah melainkan akan diampuni [dosa-dosanya yang terjadi] antara Jumat tersebut dan Jumat berikutnya.” [HR. Bukhari]. Namun tak benar jika hal ini digunakan sebagai dalih untuk melakukan kesalahan atau dosa selama seminggu ke depan karena sudah diampuni dosanya dengan shalat Jumat. Tak ada dosa kecil jika dilakukan berulang-ulang dan sebaliknya.

Yang lebih istimewa lagi adalah hari Jumat merupakan yaumil mazid, hari saat Allah menampakkan diri kepada kaum mukminin di surga nanti. Allah berfirman: “Mereka di dalam surga memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya” [QS 50:35]. Anas bin Malik mengomentari ‘tambahannya’ dalam ayat ini: “Allah menampakkan diri kepada mereka setiap hari Jumat”.

 

Hikmah Salat Jum’at

1. Simbol persatuan sesama Umat Islam dengan berkumpul bersama, beribadah bersama dengan barisan shaf yang rapat dan rapi.

2. Untuk menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antar sesama manusia. Semua sama antara yang miskin, kaya, tua, muda, pintar, bodoh, dan lain sebagainya.

3. Menurut hadis, doa yang kita panjatkan kepada Allah SWT akan dikabulkan.

4. Sebagai syiar Islam.

 

LAPORAN PENELITIAN DAN SOLUSINYA

Dalam pengamatan penulis, paling tidak ada empatbelas hal yang ditemukan dilapangan, antara lain :

 

  1. 1.         Cacat Khutbah

 

Menurut Achmad Suyuti ( 1995; 43-44) ada dua cacat khutbah yang menonjol bahkan bisa membuat agenda jumat kurang maksimal, yaitu :

 

a. Kredibilitas Khatib

Siapa pun yang berkhutbah sedapat mungkin ia harus menghindari hal-hal yang bisa dinilai cacat oleh jamaah, meskipun tidak sampai merusak keabsahan khutbahnya. Hal-hal tersebut antara lain terdapat dalam sikap khatib yang kelihatan ragu-ragu, baik terhadap materi yang disampaikan maupun dalam pengucapkan dan penampilannya. Jelas sifat keragu-raguan seperti itu bisa menjadikan jamaah meragukan kebenaran materi yang dikhutbahkan, dan akan mengurangi kepercayaan mereka terhadap kredibilitas sang khatib.

Ada pula cacat khutbah disebabkan keteledoran khatib dalam segi materi. Materi yang disajikan sedikit pun tidak ada relevansinya dengan situasi jamaah, atau bobot materinya terlalu rendah, atau sebaliknya. Sehingga uraian khutbah terasa berkepanjangan dan bertele-tele. Ditambah lagi penampilan khatib tidak ekspresif, intonasi suara begitu datar dan terlalu pelan, sehingga khutbah terkesan kosong, kurang bersemangat dan tidak menggairahkan.

 

b. Budaya Slogan

Kecacatan khutbah bisa juga terjadi gara-gara khatib terlalu banyak memasukkan bumbu-bumbu retorik yang sloganis. Sampai-sampai terkesan seperti omong-kosong dan cekokan-cekokan melulu. Lebih-lebih dalam perkembangan sekarang, budaya slogan telah banyak dimanfaatkan oleh para khatib hanya untuk menuruti egonya sendiri, dan cenderung menonjolkan ambisi pribadi. Padahal bila seorang khatib sudah lebih mementingkan egoisme khutbahnya versi dia sendiri, dan tidak mau peduli apa sebenarnya persoalan yang dianggap penting oleh jamaah.

Karena terdorong untuk kepentingan-kepentingan tertentu, tidak sedikit khatib yang menghiasi khutbahnya dengan slogan-slogan yang sudah klise. Mereka mudah terjebak ke bentuk-bentuk slogan, biasanya adalah para  khatib yang berlatar belakang aktifis organisasi atau punya peran dalam birokrasi. Mereka terkadang lupa bahwa dirinya sedang berkhutbah bukan berceramah, atau bisa juga karena kesenjangan dianggapnya mumpung ada kesempatan berhadapan dengan khalayak.

Kalau slogan itu terselip tanpa kesengajaan, tentu jamaah bisa memaklumi. Ataupun disengaja, tapi pemakainnya tepat, sekadar untuk menambah daya pikat, dan tidak berlebihan, maka jamaah pun tentu masih mau toleran. Tetapi kalau slogan-slogan itu sudah dimanfaatkan untuk maksud-maksud tertentu, apalagi untuk upaya penggiringan massa, sudah pasti khutbah seperti itu sulit ditoleransi oleh jamaah, dan dapat dipastikan akan kehilangan nilai efektifitasnya. Oleh sebab itu, seorang khatib harus menghindari kecenderungan buruk seperti itu.

Biasanya, sebuah slogan lebih banyak bersifat hiasan di bibir saja. Apalagi kalau khatib sendiri tidak benar-benar memahami dan kurang yakin terhadap nilai dan maksud dari slogan yang disampaikannya akan berkesan hambar, kering dan tidak meyakinkan.

Memang benar, banyak juga slogan yang mengandung pesan moral dan sarat dengan nilai yang luhur, sehingga layak untuk ditanamkan kepada jamaah. Namun untuk keperluan itu, khatib harus pintar dan bijaksana dalam menyampaikannya, tidak terus mengulang-ngulang slogan itu hingga terkesan dipaksakan. Mislnya yang sangat populer adalah slogan-slogan mengenai pembangunan. Kiranya seorang khatib tidak harus menyebut secara berulang-ulang istilah-istilah baku, seperti “Pembangunan Nasional”, Era tinggal landas, Zaman Reformasi, “Dua Anak Cukup” dan lain-lain yang sudah merupakan klise.

Khatib sebaiknya pandai menahan diri untuk tidak mengumbar slogan, apalagi kalau dia sendiri tidak menguasai betul akan maksud daan tujuannya. Sekarang ini, dengan seringnya slogan diucapkan dengan begitu ngambang di mimbar-mimbar jumat, telah membuat jamaah menjadi muak. Lebih-lebih kalau sang khatib memaksakan slogan masuk ke dalam khutbah secara tidak etis. Misalnya, membawa-bawa urusan politik praktis dalam khutbahnya, sehingga berkesan khatib mempidatokan slogan-slogan yang  biasa dipakai oleh para politikus. Jika itu yang terjadi, khutbah bukan akan mencerahkan akal pikiran dan menyejukkan hati dan perasaan jamaah melainkan sebaliknya, dan nilai khutbah pun menjadi cacat di mata jamaah.

 

  1. 2.      Keluhan Jamaah

Sebagaimana diketahui, ketika seseorang akan berangkat jumatan, ia disunatkan untuk membersihkan diri seperti mandi, menyisir rambut, memotong kuku, mengenakan pakaian yang baik dan bersih, memakai wewangian dan lain sebagainya. Sehingga ia akan mengikuti prosesi jumatan yang ritual itu dengan keadaan fisik yang bersih. Hal ini menunjukkan bahwa pada hari Jumat yang mulia itu, setiap muslim diarahkan untuk menjadi orang-orang yang sadar akan pentingnya kebersihan, baik kebersihan fisik maupun jiwa dan rohaninya. Terutama kebersihan jiwa, lantaran di dalam prosesi jumatan itulah ia akan mendapatkan siraman rohani dan bimbingan spiritual dari khatib Jumatan. Karena penyelenggaraan shalat Jumat, pada hakikatnya bukan sekadar kegiatan ritual semata, melainkan sekaligus untuk memberi kesejukan rohani dan pencerahan akal bagi para jamaah.

Jadi harus dimaklumi, kalau sampai terjadi banyak munculnya keluhan dan rasa ketidakpuasan dari kalangan jamaah, gara-gara khutbah yang baru mereka dengar dan mereka simak kurang bermutu. Padahal yang mereka tunggu-tunggu dari khutbah itu adalah suatu khutbah yang dapat menghapus dahaga nurani mereka, dan dapat meningkatkan kualitas keberagaman mereka, serta menambah cakrawala pemikiran mereka. Sejalan dengan niat mereka mendatangi jumatan itu, yakni di samping niat utamanya adalah menunaikan ibadah ritual, juga tak luput dari keinginan mereka untuk menambah ilmu, mencerahkan akal pikiran dan mencari kedamaian jiwa.

Dari kenyataan tersebut, maka seyogjanya khatib mau mengadakan introspeksi, apakah penyampaian khutbahnya selama ini sudah tepat dan disukai oleh jamaah, atau sebaliknya, setiap kali ia tampil selalu muncul keluhan. Sebab, sebagaimana disebutkan di atas, sudah menjadi tradisi masyarakat kalau seusai jumatan, sebagian jamaah sering bisik-bisik tentang kekurangan dan kelebihan khatibnya. Oleh karena itu saran dari Ust. Suyuthi (1995; 5) para khatib dituntut mau menyempatkan diri untuk mengamati dengan objektif, faktor-faktor apa kiranya yang menyebabkan jamaah kurang merespon terhadap khutbahnya.

Supaya khutbah dapat memenuhi selera dan keinginan jamaah, terutama segi topik dan materinya, kiranya akan tepat dan banyak manfaatnya, bila khatib mau mengamati situasi dan kondisi para jamaah, serta memahami macam-macam karakter mereka secara umum. Cara ini akan bisa menjadikan khatib selalu bersikap arif dan bijaksana terhadap jamaah, serta akan mudah menyesuaikan gaya khutbahnya dengan keadaan mereka. Selain itu khatib takkan gegabah untuk berprasangka bahwa jamaahnya hanya orang-orang awam dan bodoh, sehingga isi khutbahnya cenderung bersifat menggurui dengan nasihat-nasihat yang kaku dan dogmatis melulu.

Sebab seiring dengan kemajuan alam kemoderenan, jamaah semakin butuh dan sangat berharap dapat memperoleh nasihat-nasihat yang bijak dan fatwa-fatwa yang lurus dari para khatib. Dan juga, jamaah sangat mendambakan adanya peningkatan kualitas isi khutbah yang dapat membangkitkan cita-cita dan harapan yang menyejukkan bagi pikiran dan perasaan mereka.

Oleh karena itu seorang khatib disamping menguasai ilmu-ilmu agama, juga harus membekali diri dengan berbagai pengetahuan yang luas, sekalipun tidak mendalam. Para khatib hendaknya peka terhadap kemajuan dan perkembangan kehidupan, sehingga mereka harus banyak membaca dan menambah wawasan pemikiran.

Hal ini cukup beralasan, lebih-lebih disadari betapa penting dan strategisnya media khutbah untuk dijadikan wahana pendidikan umat. Apalagi mengingat forum-forum pengajian yang selama ini menjadi andalan media dakwah tradisional, seperti majelis taklim di musallah dan masjid atau pengajian umum dan tabligh akbar, kini semakin surut daya tariknya, dan pengunjungnya pun semakin susut terutama dari generaasi muda dan kalangan terpelajar. Kiranya, tepat bila mimbar Jumat, yang notabene dihadiri oleh ratusan hingga ribuan jamaah, diterapkan suatu metode khutbah yang dapat mendidik umat secara efektif dan efesien.

 

  1. 3.      Tidur Ketika Khutbah

Sudah menjadi pemandangan yang lazim setiap hari Jumat, saat Khatib sedang berkhutbah tampak di beberapa tempat terpisah, jamaah shalat Jumat terlihat terkantuk-kantuk dengan khusyuk. Ada yang sampai terdengar dengkurnya. Ada juga yang hanya tertunduk tenang dengan mata terpejam, sesekali diiringi hentakan kaget karena menahan tubuh yang limbung. Sementara suara sang Khatib terdengar seperti nyanyian Nina Bobo yang semakin menghantar sang jamaah memasuki alam mimpi.
          Ironisnya hal ini terjadi tatkala ibadah suci sedang dilaksanakan, yakni ibadah shalat Jumat. Suatu ibadah yang oleh Rasulullah Saw amat sangat ditekankan untuk dilaksanakan, dengan ancaman dikunci mati hatinya oleh Allah, bagi mereka yang dengan sengaja tidak mengerjakan shalat Jumat tiga kali. (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa-i dan Ibnu Majah).

Rasulullah Saw menerangkan kepada kita, betapa besarnya fadhilah mengerjakan shalat Jumat. Di antaranya adalah dihapuskannya dosa-dosa yang terjadi diantara Jumat tersebut dengan Jumat sebelumnya, bahkan ditambah tiga hari (HR. Muslim No. 857). Tentunya fadhilah ini hanya bisa di dapat apabila shalat Jumatnya dikerjakan dengan penuh kesungguhan dengan memenuhi adab dan tertibnya.

Di antara adab dan tertib shalat Jumat adalah mendengarkan khutbah dengan seksama dan sungguh-sungguh (HR. Bukhari No 843). Disebutkan di dalam hadits  bahwa Rasulullah saw bersabda :

Hadirilah khutbah dan mendekatlah kepada imam (khatib), karena seorang yang terus menjauh (dari imam) dia akan diakhirkan (masuk) ke dalam surga, meskipun ia masuk ke surga (HR. Abu Dawud No 1108, ).

Akan tetapi khutbah Jumat ternyata menjadi bagian yang kurang favorit di antara para jamaah shalat Jumat. Hal ini menurut Teguh Kurniawan tak bisa lepas dari beberapa faktor, diantaranya adalah :

*Faktor Khatib

1). Lamanya khutbah.

          Di dalam suatu hadits Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya panjang shalat seseorang dan pendek khutbahnya merupakan tanda kefahamannya (pada agama). Maka panjangkanlah shalat dan pendekkanlah khutbah! (HR. Muslim, No 869)

Syaikh Ahmad bin Muhammad Alu Abdul Lathif Al Kuwaiti berkata : Wahai Khatib yang membuat orang menjauhi dzikrullah (khutbah) dikarenakan kamu memanjangkan perkataan! Tahukah engkau bahwa di antara sunnah khutbah Jumat adalah meringkaskannya dan tidak memanjangkannya. Dan sungguh memanjangkan khutbah menyebabkan hadirin lari (tidak suka), menyibukkan pikiran, dan tidak puas dengan tuntunan Nabi Pilihan (Muhammad Saw) dan pendahulu umat yang baik. (Al Ujalah fi Sunniyati Taqshiril Khutbah).

Yang terjadi sekarang, khatib seringkali bertele-tele, panjang lebar, dan tidak peduli dengan banyaknya jamaah yang mulai memasuki dunia lain. Dan jamaah juga tidak peduli dengan apa yang dibicarakan khatib.

2). Tidak menjiwai khutbah.

Khatib berkhutbah seakan hanya untuk memenuhi syarat saja, monoton, tanpa intonasi, seperti pidato, bahkan seringkali hanya membaca teks yang sudah disiapkan. Kesannya seperti murid TK yang sedang membaca deklamasi. Bandingkanlah dengan gaya Rasulullah Saw berkhutbah di dalam hadits :

Dari Jabir bin Abdullah, dia berkata: Kebiasaan Rasulullah Saw jika berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya tinggi, dan kemarahannya sungguh-sungguh. Seolah-olah Beliau memperingatkan  tentara dengan mengatakan: Musuh akan menyerang kamu waktu pagi. Musuh akan menyerang kamu waktu sore. (HR. Muslim No 867).

Imam Nawawi berkata : Hadits ini dijadikan dalil, bahwa khatib disukai untuk membesarkan perkara khutbah (yakni serius dan sungguh-sungguh), meninggikan suara, membesarkan perkataannya. Dan hal itu hendaklah sesuai dengan tema yang dibicarakan, berupa targhib (perkara yang menyenangkan) dan tarhib (ancaman). Dengan khutbah yang demikian, maka akan menjadikan jamaah merindukan khutbah, dan betah untuk menyimak khutbah. Sehingga tidak ada jamaah yang sengaja telat datang hanya untuk menghindari khutbah yang membosankan.

 

* Faktor Jamaah

1). Tidak butuh nasehat.        

Perasaan tidak butuh nasehat ini terjadi karena banyaknya penyimpangan yang dilakukan justru oleh orang yang dianggap faham agama. Dianggapnya khutbah Jumat hanya buang-buang waktu, pinter-pinteran ngomong tapi tanpa amal nyata. Khatib di mimbar berpetuah, tapi turun mimbar berulah. Umat jadi kebal dinasehati.

Seharusnya perasaan seperti ini harus dibuang jauh-jauh. Karena nasehat dan peringatan dari ayat maupun hadits, apapun bentuknya, akan bermanfaat pada diri seseorang yang beriman. Sebagaimana firman Allah di surat Adz Dzariyat (51) ayat 55 : “Dan berilah peringatan! Karena peringatan itu bermanfaat untuk orang yang beriman.”

2). Meremehkan ibadah.

Ibadah shalat Jumat komplit dengan khutbahnya, adalah ibadah yang membutuhkan waktu khusus. Bagi orang yang berpedoman “Time is Money”, ibadah ini hanya buang-buang waktu saja. Sehingga meluangkan waktu untuk mendengar khutbah adalah suatu beban berat. Bahkan kalau bisa, hadir shalat Jumat saat iqamat saja. Kalaupun hadir saat khutbah, rasa malas untuk mendengar khutbah menyebabkan dia ngantuk, dan bahkan terlelap.

3). Ibadah dengan tenaga sisa

 Ibadah Jumat di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim ini dikerjakan pada hari kerja. Sehingga shalat Jumat dikerjakan saat istirahat kerja. Namanya juga saat istirahat, setelah lelah bekerja jamaah memanfaatkan waktu ini untuk mengendorkan urat syaraf. Waktu ideal untuk melepas lelah. Dan waktu yang menjadi korban istirahat ini adalah waktu khutbah.

 

  1. 4.      Problem khatib pemula

Bagi para khatib yang baru pertama kali tampil di atas mimbar, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Di antaranya meraka harus bersikap penuh percaya diri dan punya tanggung-jawab yang besar terhadap tugas khutbah yang diembannya. Persiapkanlah materi khutbah dengan sebaik-baiknya, baik ditulis dalam naskah atau hanya catatan-catatan kecil saja, dan yang penting penyajiannya nanti harus efesien.

Kemudian dari segi psikologis, perlu untuk menghindari kecanggungan, khatib yang baru tampil harus memiliki auti sugesti, yakni sesuatu yang dapat menimbulkan keyakinan dan kemantapam batin dalam dirinya sendiri, seperti menanamkan keyakinan bahwa dirinya pasti berhasil. Dan juga ia perlu meyakinkan diri, bahwa orang-orang yang dihadapinya itu memang membutuhkan materi yang akan disampaikan, dan juga yakin bahwa materi itu penting untuk diketahui oleh mereka. Selain itu, ia perlu menganggap dirinya memeliki kelebihan dari jamaahnya, dan jangan sekali-kali merasa rendah diri.

Tentunya, semua itu setelah ia melakukan kesiapan teknis dan kesiapan mental secara matang. Sebab bagi khatib pemula, yang penting ialah menumbuhkan sikap berani tampil. Dengan cara demikian, seorang khatib akan memiliki kekautan batin dan ketetapan jiwa untuk berdiri di hadapan jamaah.

 

  1. 5.        Anak Kecil Ramai

Cerita anak kecil yang ramai dikala khutbah sedang berlangsung memang bukan hal yang aneh, maksudnya pemandangan tersebut memang hampir terjadi di semua masjid kita. Bahkan seolah-olah belum puas bergurau selama khutbah berlangsung, malah masih terbawa ketika  shalat sudah dimulai. Saat imam membaca surat Al-Fatihah pun masih ramai.

Namanya juga anak-anak, mereka senggol-senggolan, tertawa cekikikan, bahkan sampai kadang jatuh di lantai.  Ada juga yang saling senggol  pantat teman di sebelahnya, lalu dilanjutkan ke teman sebelahnya lagi. Seperti sebuah keteraturan gerak dalam kekacauan. Dan itu mereka lakukan berulangkali hingga shalat selesai.

Lalu imam membaca salam. Si anak-anak yang rata-rata usia anak SD atau MI itu berlari mengejar sandal masing-masing yang diletakkan sembarangan di pinggir masjid. Celotehannya masih terdengar keras hingga semua orang menatap keji ke mereka. Saya sendiri kadang tersenyum, menghargai mereka yang masih punya banyak waktu  untuk senggol-senggolan lagi, di waktu-waktu shalat yang lain. 

 

 

  1. 6.         Ber-HP-ria

Inilah fenomena menarik yang kadang sering kita jumpai khususnya di beberapa masjid kampus, yakni para pelajar atau mahasiswi, memang tidak ngobrol, tapi asik sms-an ketika khutbah berlangsung, bagaimana memberikan solusi dari problema ini ?

Ini memang dilema. Tetapi menurut hemat kita, sebaiknya ada evaluasi dalam hal ini, baik khatibnya ataupun jamaah jumatnya. Untuk sang khatib dalam berkhutbah dapat mencontoh Rasulullah saw, bagaimana menyampaikan pesan-pesan Robbani dengan serius tapi tidak bikin ngantuk, namun juga tidak bergurau dalam khutbahnya. Sebagaimana diriwayatkan Jabir bin Abdullah berkata : “Rasulullah Saw kalau berkhutbah, matanya merah, suaranya meninggi, dan semangatnya menyala-nyala, seakan-akan beliau sedang memberi komando pada pasukan perang (HR. Muslim). Artinya yang beliau saw lakukan adalah membangkitkan semangat para jamaah jumat dan memasukkan ‘nilai-nilai’ sehingga keimanan seseorang semakin bertambah, tidak pada tempatnya berkhutbah dengan melemparkan canda (joke), sebab canda dan tawa tidak dapat mendekatkan seseorang kepada Allah. Seringnya Rasulullah Saw berkhutbah sampai membuat para sahabat menangis dan bergetar hatinya. Ini dari sisi khatib yang tentu saja dapat menambah kekhusyukan dan konsentrasi para jamaah jumat untuk mendengarkannya sehingga tidak ada lagi yang iseng  sms-an. Namun dari sisi jamaah jumat juga perlu di evaluasi, terutama ketika mendengarkan khotbah yang tidak menarik. Bahwa mendengarkan  khutbah itu wajib hukumnya, bahkan ia tidak dibenarkan untuk menegur orang lain yang sedang berbicara, sebagaimana sabda Rasulullah Saw “Apabila kamu mengatakan kepada kawanmu ‘diamlah’ pada saat imam sedang berkhutbah, maka berarti kamu telah bermain-main”. Dengan kata lain jangan sampai terjadi konsentrasi para jamaah teralihkan kepada perbuatan-perbuatan lain yang dapat mengganggu mereka dari mendengarkan isi khtubah tersebut, termasuk ber sms-an.

 

  1. 7.      Ngobrol dengan teman

Ketika ditanya tentang hukum orang ngobrol saat khutbah jumat berlangsung Dr. Ahmad Asy-Syarbawi –dosen Universitas al-Azhar Mesir­– menjawab sebagai berikut : setiap muslim yang hendak menuju shalat Jumat setiap minggu wajib untuk selalu ingat dengan baik bahwa shalat ini terdiri dari khutbah dan dua rakaat shalat. Tidak dianggap shalat Jumat bila tanpa khutbah. Khutbah Jumat dimaksud untuk memberikan penghargaan kepada kaum muslim mengenai perkara-perkara agama dan dunia mereka. Maka mereka yang menghadiri shalat Jumat hendaknya senantiasa diam ketika khutbah sedang disampaikan. Nabi Saw mengatakan, “Barang siapa yang berwudlu pada hari Jumat dengan membaguskan wudlunya, kemudian pergi menuju shalat Jumat lalu mendengarkan khutbah dan diam, maka Allah akan mengampuni baginya dosa-dosa antara Jumat ke Jumat berikutnya.”

Jumhur fuqaha sepakat bahwa tidak boleh berkata-kata ketika khutbah sedang diberikan. Di dalam madhab Abu Hanifah disebutkan bahwa berbicara ketika khutbah hukumnya makruh tahrim, baik orang yang berbicara itu jauh dari khatib atau dekat dengan khatib menurut  qaul (pendapat) yang lebih shahih, baik itu perkataan itu mengenai urusan dunia, atau berzikir dan sejenisnya menurut pendapat yang masyhur. Bila ia mendengar Nabi di sebut, maka ia bersalawat kepada beliau di dalam hatinya. Dan tidak mengapa memberi isyarat dengan tangannya atau dengan kepalanya ketika melihat suatu kemungkaran. (Dr. Ahmad Asy-Syarbawi, 2001; 17-18).

Dalam penjelasan kitab Subulus Salam karya Muhammad bin Ismail al-Kahlani yang terkenal dengan nama: “Asy-Sun’ani”   ( jilid II, hal. 50-51), bahwa sabda Rasulullah Saw yang artinya: “Dari Ibnu Abbas r.a dia berkata: Rasulullah Saw bersabda: Barangsiapa yang berbicara pada hari Jumat padahal imam sedang berkhutbah, maka dia seperti keledai yang memikul beberapa kitab, dan orang yang mengatakan kepadanya: diamlah, maka tidak ada jumat baginya.” (HR. Ahmad dengan isnad la ba’sa bihi ).

Hadis tersebut mempunyai pendukung yang kuat dalam “Jami Hammad”, tetapi terputus sanadnya (mursal), yaitu hadis dari Ibnu Abbas yang menafsirkan hadis berikut ini :

“Dari Abu Hurairah dalam dua kitab sahih (al-Bukhari dan Muslim) yang bersambung sanad hingga Nabi Saw, beliau bersabda: Apabila engkau berkata kepada temanmu diamlah, pada hari jumat padahal imam sedang khutbah maka engkau telah sia-sia.”

 

 

  1. 8.      Mengulur Waktu Datang Ke Masjid sehingga Khatib Naik Mimbar

Di antara kaum muslimin ada yang berlambat-lambat ketika mendatangi shalat Jumat sehingga khatib naik mimbar. Padahal dengan demikian itu mereka telah kehilangan banyak kebaikan serta pahala yang melimpah.

Di dalam Shahiih al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda:

Barangsiapa mandi pada hari Jumat seperti mandi junub kemudian dia berangkat ke masjid, maka seakan-akan dia berkurban dengan unta. Barangsiapa berangkat pada waktu kedua, maka seakan-akan dia berkurban dengan sapi. Barangsiapa berangkat pada waktu ketiga, maka seakan-akan dia berkurban dengan kambing yang bertanduk. Barangsiapa berangkat pada waktu keempat, maka seakan-akan dia berkurban dengan ayam. Dan barangsiapa berangkat pada waktu kelima, maka seakan-akan dia berkurban dengan telur. Jika imam (khatib) telah datang, maka Malaikat akan hadir untuk mendengarkan Khutbah.”

Maksudnya, para Malaikat itu menutup lembaran catatan pahala bagi mereka yang terlambat sehingga tidak mendapatkan pahala yang lebih bagi orang-orang yang masuk masjid (di saat khatib sudah naik mimbar). Pengertian tersebut diperkuat oleh hadits berikut ini:

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan dinilai hasan oleh al-Albani. Dari Abu Ghalib, dari Abu Umamah, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Pada hari Jumat para malaikat duduk di pintu-pintu masjid yang bersama mereka lembaran-lembaran catatan. Mereka mencatat orang-orang (yang datang untuk shalat), di mana jika imam (khatib) telah datang menuju ke mimbar, maka lembaran-lembaran catatan itu akan ditutup.”

 

9. Berlomba-lomba duduk di barisan belakang

Duduk di barisan belakang tatkala barisan depan belum penuh, bahkan ada yang duduk di teras luar masjid, padahal ia berada di masjid yang lapang. Fenomena ini hampir pasti bisa ditemukan di seluruh masjid kita. Entahlah faktor apa yang menyebabkan para jamaah lebih menyukai sof belakang daripada sof di depannya, padahal jelas-jelas barisan di depannya masih kosong.

Bagi jama’ah yang sudah sampai ke masjid, hendaknya dia memilih shaf (barisan) pertama yang dekat dengan imam. Karena di samping shaf pertama memiliki keutamaan yang besar juga lebih jelas untuk menyimak khutbah imam.

Sebagaimana diriwayatkan dari Aus bin Aus radliyallah ‘anhu, berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنْ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا

Barangsiapa mandi pada hari Jum’at, berangkat lebih awal (ke masjid), berjalan kaki dan tidak berkendaraan, mendekat kepada imam dan mendengarkan khutbahnya, dan tidak berbuat lagha (sia-sia), maka dari setiap langkah yang ditempuhnya dia akan mendapatkan pahala puasa dan qiyamulail setahun.” (HR. Abu Dawud no. 1077, al-Nasai no. 1364 Ahmad no. 15585)

Sesungguhnya shaf pertama dalam shalat berjama’ah dan juga shalat Jum’at memiliki keutamaan yang agung dan pahala yang besar di sisi Allah Ta’ala. Sehingga Nabi kita menjelaskan,

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا

Seandainya manusia mengetahui pahala yang terdapat dalam panggilan adzan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkan kecuali dengan diundi, niscaya mereka melakukannya.”(HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Imam Ahmad mengeluarkan sebuah hadits dari Abu Umamah, Rasulullah Shallalahu ‘alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Nya membacakan shalawat atas shaf pertama.” Beliau sampaikan itu sampai dua kali, baru shaf yang kedua.

Masih dari Musnad Imam Ahmad, dari hadits al-‘Irbadh bin Sariyyah, bahwa Rasulullah Shallalahu ‘alaihi Wasallam bershalawat atas shaf pertama sebanyak tiga kali dan atas shaf selanjutnya hanya sekali.

Dan Rasulullah Shallalahu ‘alaihi Wasallam mengancam bagi orang yang sengaja memilih shaf belakang/akhir.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى فِي أَصْحَابِهِ تَأَخُّرًا فَقَالَ لَهُمْ تَقَدَّمُوا فَأْتَمُّوا بِي وَلْيَأْتَمَّ بِكُمْ مَنْ بَعْدَكُمْ لَا يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأَخَّرُونَ حَتَّى يُؤَخِّرَهُمُ اللَّهُ

Rasulullah Shallalahu ‘alaihi Wasallam melihat ada yang mengambil saf belakang. Maka beliau bersabda: “Majulah kalian dan ikutilah aku, dan hendaklah yang setelah kalian mengikuti kalian. Kaum yang senantiasa mengambil shaf akhir akan diakhirkan Ta’ala (dari masuk ke dalam surga). (HR. Muslim dari Abu Sa’id al Khudri)

Semoga Allah memberikan tambahan hidayah dan taufik kepada kita sehingga bisa mendapatkan pahala besar yang disediakan pada hari Jum’at. Sehingga kelak akan menjadi modal utama untuk kita masuk surga dalam rombongan pertama.

 

 

10.  Khutbah isinya kok mencaci

 

Ada lagi yang sering kita jumpai, yakni beberapa khatib yang dengan sangat mudahnya memvonis kelompok lain bid’ah. Padahal mereka sering kali berdakwah sampai kepelosok untuk menyebarkan ajaran Allah dan Rasulnya.2

Dalam menyikapi kasus ini Ahmad Sarwat, Lc menjawab sebagai berikut: bahwa urusan main vonis, main tuduh main mendeskriditkan saudara sendiri, sebenarnya bukan hanya terjadi di kalangan yang mengaku sebagai salafi saja. Tanpa sadar, terkadang tindakan dan sikap seperti itu sering juga kita lakukan, meski dengan kadar yang berbeda.

Sayangnya, begitu seseorang atau satu pihak merasa kurang sepakat dengan apa yang menjadi pendapat saudaranya, dia lantas bicara di mimbar umum, baik dalam ceramah atau pun media massa. Sehingga akhirnya orang yang tidak tahu urusan akhirnya jadi ikut-ikutan. Perbedaan yang pada dasarnya sangat sederhana, akhirnya menjadi fitnah dan kebencian, ketika masalahnya kemudian dibuka di publik.

Entah siapa yang memulai, tetapi saat ini boleh dibilang bahwa gaya dakwah kita secara umum tanpa harus menunjuk hidung, sudah kehilangan nilai-nilai kesantunan. Seolah siapa pun yang pendapatnya tidak sama dengan pendapat kita, harus jadi lawan. Dan yang namanya lawan, harus dilumat dan dipermalukan di depan publik.

Tentu saja yang dilecehkan di depan publik tidak bisa terima dengan cara-cara yang melanggar sunnah nabi itu. Walau pun ngakunya ingin menghidupkan sunnah nabi, tetapi karena caranya –lagi-lagi masalah cara– yang tidak manusiawi, maka bukannya yang diingatkan itu sadar, tetapi malah merencanakan untuk ‘membalas dendam’. Lalu terjadilah perang cacian, makian, kutukan dan sumpah serapah di antara dua pihak yang sama-sama mengaku umat Muhammad Saw, naudzu billahi min dzalik.

11. Transaksi jual-beli ketika khutbah berlangsung.

Di masjid pedesaan mungkin jarang ditemui orang yang jual beli di sekitar masjid padahal khutbah sudah dikumandangkan. Tetapi anda akan melihat hal yang lumrah di masjid daerah perkotaan. Padahal Islam telah menegaskan bahwa hukum shalat jumat adalah wajib. Sebagaimana disyariatkan pula  khutbah sebelum melakukan shalat. Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an:

 “wahai orang-orang beriman, jika adzan untuk shalat jumat sudah dikumandangkan maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkan jual beli.apa yang diperintahkan itu lebih bermanfaat bagi kalian jika kalian mengetahuinya.”

Khutbah Jumat dilakukan sebelum shalat. sebagaimana dijelaskan pada ayat diatas bahwa makna dari kata “az-zikr” dalam ayat ini adalah khutbah yang dilakukan sebelum shalat. Maka diantara syarat sahnya shalat jumat adalah khutbah. yang dilakukan saat waktu dzuhur. Dengan maksud tujuan pembelajaran dan pemberi peringatan atas segala nikmat Allah swt. Semua ini adalah keutamaan Islam yang selalu menjunjung tinggi peranan ilmu dan para ulama. Karena dengan ilmu kita mengetahui agama serta mengetahui hukum-hukumnya. Sehingga tidaklah seorang muslim melakukan sesuatu kecuali atas dasar ilmu. Maka dari itu Allah swt mencela mereka yang meninggalkan Rasulullah  saw saat beliau berkhutbah jumat. Hal ini digambarkan dalam surah jumuah ayat 11:

“Jika mereka melihat perniagaan dan permainan yang menyenangkan,mereka menuju situ dan meninggalkan kamu yang berdiri menyampaikan khutbah.katakan kepada meeka,”karunia dan pahala Allah lebih bermanfaat bagi kalian daripada perdagangan dan permainan.Allah adalah sebaik-bainya pemberi rizki.maka mintalah rizki dengan senantiasa menanti-Nya.”

Disebutkan dalam Tafsir al-Futuhat al-Ilahiyyat sebab turunnya ayat ini: bahwa suatu ketika Rasulullah saw khutbah jumat. Saat itu datang kafilah dagang dari Syam –sekarang negara Syiria– membawa barang dagangan. Dan saat itu harga barang dan kebutuhan hidup di Madinah sangat tinggi. Gendang pun ditabuh agar orang-orang mengetahui kedatangan mereka sehingga penduduk madinah membeli dagangan mereka. Maka seketika mereka yang sedang mendengar khutbah Rasulullah saw  bergegas keluar menuju kafilah dagang tadi takut kehabisan barang. Qotadah berkata: bahwa peristiwa ini terulang tiga kali. Dan kedatangan kafilah dagang ini bertepatan dengan khutbah jumat. Sehingga tidak tersisa bersama Nabi saw yang mendengarkan khutbah kecuali 12 orang. Dan diriwayat lain disebutkan bahwa yang tersisa hanya 40 orang. Maka Rasulullah saw berkata: andai saja kalian mengikuti mereka sehingga tak satupun yang tersisa diantara kalian, maka lembah ini akan meminta api untuk kalian. Maka turunlah ayat diatas.

 

12. Baju shalat Jumat untuk orang papa

 
Dari berbagai keterangan disebutkan bahwa kita dilarang  bermewah-mewahan dalam menghias masjid sebab itu adalah satu tanda dari dekatnya kiamat. Dan orang yang hidup dekat kiamat adalah manusia yang bobrok akhlaknya dan rusak agamanya Allah melarang kita bermewah-mewahan dan menghamburkan uang.
Bermegah-megahan telah melalaikan kamu” [At-Takatsuur:1]. “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.“ [Al-Isra’:26-27]
Hendaknya uang diberikan kepada keluarga yang fakir dan miskin. Bukan dipakai untuk menghias masjid secara mewah seperti melapisi kubahnya dengan emas. Masjid seharusnya kuat, besar, cukup untuk jamaahnya, bersih, rapi dan wangi di mana orang bebas beribadah kepada Allah Swt. di dalamnya. Percuma masjid mewah jika masjid lebih sering terkunci karena pengurus takut masjidnya kecurian sehingga orang tidak bisa beribadah menyebut nama Allah.

Melihat fenomena inilah, sehingga KH. Mustofa Bisri, yang akrab dipanggil Gus Mus, meledek dengan sebutan, jangan-jangan mereka bermaksud menyogok Tuhan agar kelakuan mereka tidak dihisab. ( Jawa Pos, 9 Januari 2008)

 

13. Pengemis Vs  Prosesi Shalat Jumat

Fenomena orang meminta-minta (pengemis) di sekitar masjid –khususnya saat pra dan pasca prosesi jumatan– ternyata tidak menjadi hak milik masjid di negeri ini saja. Pemandangan ini ternyata juga ada di masjid Madinah, tepatnya di masjid Nabawi, masjid di mana Rasulullah Saw dimakamkan, ini bisa dilihat dari laporan Ersis Warmansyah Abbas,dalam blognya ini: Ersis Warmansyah Abbas  ( http://webersis.com )

 

14. Dilema kotak amal saat khutbah

Memang kalau kita amati, hampir seantero masjid di negeri ini, pasti mengedarkan yang namanya kotak amal saat khutbah berlangsung, hanya sebagian kecil saja masjid yang tidak melakukannya. Mungkin para takmir mempunyai tujuan agar orang gemar bershadaqah ataupun infaq untuk masjid, kalau bukan saat itu, kapan lagi ?

Yang kurang sepakat misalnya mengatakan bahwa ini mengganggu khusuknya khutbah jumat. Ia juga bisa membuat orang bersedekah untuk pamer pada orang lain, paling tidak orang yang ada di sisi kanan dan kirinya. Dan masih banyak  alasan yang bisa dikemukakan. Tetapi intinya kurang sepakat dengan berjalannya kotak amal ketika khutbah sedang dimulai. 

Atau barangkali anda sepakat bahwa tidak usah mengedarkan kotak amal, cukup disediakan kotak di sudut pintu masuk masjid saja, sehingga mereka yang mau bershadaqah, dipersilakan memasukkan uangnya ke kotak tersebut.

 

 

PENUTUP

Sebagai simpulan agar kita tak lupa dan shalat Jumat kita lebih sempurna pelaksanaannya perlu disampaikan beberapa adab dalam melaksanakan shalat Jumat. Ketika  waktu shalat Jumat tiba, kita dianjurkan untuk datang ke masjid atau tempat ibadah lebih awal. Karena, pahala orang yang datang lebih awal lebih besar dibanding orang yang datang saat akhir. Perumpamaannya, seseorang yang datang di awal waktu, seperti orang yang berkorban dengan seekor unta, berikutnya seperti berkorban sapi, kambing, ayam, dan yang terakhir seperti bersedekah dengan sebutir telur. Batas akhir datang ke masjid saat shalat Jumat adalah ketika khatib sudah duduk di mimbar, karena malaikat-malaikat pencatat amal manusia yang berada di setiap pintu masjid menutup buku catatannya dan mendengarkan khutbah.

Para sahabat dan tabiin sangat memperhatikan anjuran untuk datang lebih awal ke masjid. Dahulu, semasa hidup para sahabat dan tabiin mempunyai tradisi setiap hari Jumat mereka datang ke masjid setelah shalat Shubuh. Di hari Jumat, jalan-jalan menuju masjid ramai, orang memadati jalan sambil membawa lampu penerangan seperti ramainya ketika akan melaksanakan shalat hari raya Idul Fitri.

Dalam rangkaian shalat Jumat ada khutbah yang disampaikan khatib. Para jamaah sangat dianjurkan untuk mendengarkan dan berusaha memahaminya. Berbicara saat khutbah sedang disampaikan sangat dibenci Rasulullah saw. Beliau menyebut perbuatan tersebut sebagai perbuatan yang sia-sia dan tidak selayaknya dilakukan jamaah shalat Jumat.

Seperti shalat jamaah pada shalat-shalat wajib yang lain, jamaah yang datang di awal dianjurkan untuk mengambil tempat paling depan, shaf terdepan dipenuhi terlebih dahulu. Untuk jamaah yang datang terlambat, yang datang setelah khatib sudah duduk di mimbar, dianjurkan untuk mengambil tempat paling belakang atau shaf paling belakang.

Jamaah yang telah datang, hendaknya melaksanakan shalat sunnah di antaranya shalat Tahiyatul Masjid [dua rakaat untuk menghormati masjid] dan shalat Qabliyah Jumat [dua rakaat sebelum shalat Jumat]. Setelah khatib duduk di mimbar tidak diperkenankan melakukan aktivitas kecuali shalat Tahiyatul Masjid. Shalat sunnah itu masih bisa dilakukan selama khatib menyampaikan  khutbah tetapi harus dipercepat pelaksanaannya. Wallahu a’lam.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Achmad Mubarok, Psikologi Dakwah, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1999.

—————, Psikologi Qur’ani, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1999.

Achmad Yani, Bekal Menjadi Khatib & Muballigh, Alqalami, Jakarta, 2005.

Ancok Djamaluddin ,Psikologi Islami-Solusi Atas Problem-problem Psikologi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1994.

Achmad Suyuti, Jadilah Khatib yang Kreatif & Simpatik, Pustaka Amani, Jakarta, 1995.

Ersis Warmansyah Abbas   http://webersis.com

Faizah—Lalu Muchsin Effendi, Psikologi Dakwah, Kencana Prenada Media Grup, Jakarta, 2006.

Ghazali, M. Bahri, Dakwah Komunikatif, CV. Pedoman Ilmu Jaya, Jakarta, 1997.

Habib, M. Syafa’at, Buku Pedoman Dakwah, Penerbit Widjaya, Jakarta, 1982.

Ibnu Hajar al-‘Asqalani, al-Hâfizh, “Bulûghul Marâm – Min Adillatil Ahkâm”

2000.

MA. Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqh Sosial,  LKIS, Yogyakarta, 1994.

————————-, Dialog dengan KH. Sahal Mahfudh, Ampel Suci, Surabaya, 2003.

Musthofa Bisri, Jawa Pos, 9 Januari 2008.

Rakhmat, Jalaluddin, Psikologi Agama: Sebuah Pengantar, Mizan, Bandung, 2004.

————————, Retorika Modern, Rosdakarya, Bandung, 2006.

————————, Psikologi Komunikasi, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1985.

Syukir, Asmuni, Dasar-dasar Strategi Dakwah Islam, Al-Ikhlas, Surabaya, tt.

Toha Yahya Umar, Ilmu Dakwah, Wijaya, Jakarta, 1985.

Ya’kub, Ali Mustafa, Sejarah dan Metode Dakwah Nabi, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1997.

Zakiah Darajat, Kesehatan Mental, Gunung Agung, Jakarta, 1985.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: