ISLAM DAN POLITIK: MUNGKINKAH BERGANDENGAN ?

Oleh : ALI SHODIKIN*)

Tulisan ini diilhami oleh perdebatan yang ’panas’ terkait fatwa MUI yang mengharamkan tentang golput. Bagaimana sebenarnya persoalan tersebut dalam persepektif al-Islam as-Siyasi (Islam Politik) ?
Perlu diketahui bahwa Islam yang sebenarnya –sebagaimana yang disyariatkan Allah– tidak mungkin tidak politis. Jika kita hendak melucuti dan menelanjangi Islam dari politik, hal itu tidak mungkin dapat dilakukan, demikian Dr. Yusuf Qardhawi dalam bukunya ”Hadyul Islam Fatawi Mu’ashirah” yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul ”Fatwa-Fatwa Kontemporer Jilid 2”. Hal ini menurutnya dikarenakan dua alasan yang mendasar: Pertama, bahwa Islam memiliki sikap yang jelas dan hukum yang terang mengenai berbagai masalah yang dianggap sebagai pilar politik.
Dengan demikian, Islam bukanlah melulu akidah teologis atau syiar-syiar peribadatan, ia bukan semata-mata agama yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya, yang tidak bersangkut-paut dengan mengatur hidup dan pengarahan tata kemasyarakatan dan negara.
Tidak, tidak demikian…. Islam adalah akidah dan ibadah, akhlak dan syariat yang lengkap. Dengan kata lain, Islam merupakan tatanan yang sempurna bagi kehidupan, karena ia telah meletakkan prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah, tasyri’ dan pengarahan-pengarahan yang berhubungan dengan kehidupan individu, urusan keluarga, tata kemasyarakatan, prinsip pemerintahan, dan hubungan internasional.
Barangsiapa yang membaca Al-Qur’an dan Sunnah Muthahharah serta kitab-kitab fiqih dari berbagai mazhabnya, niscaya ia akan menjumpai hal ini dengan sejelas-jelasnya.
Bahkan bagian ibadah dalam fiqih itu pun tidak lepas dari politik. Kaum muslim telah sepakat bahwa meninggalkan shalat, enggan membayar zakat, terang-terangan berbuka (tidak berpuasa) pada bulan Ramadhan, dan tidak mau menunaikan haji, semua itu mengharuskan yang bersangkutan dijatuhi hukum atau ta’zir, bahkan kadang-kadang perlu diperangi jika ada kelompok yang memiliki kekuatan yang mendukungnya, seperti yang dilakukan Sahabat Abu Bakar r.a terhadap orang-orang yang enggan membayar zakat.
Islam memiliki kaidah-kaidah, hukum-hukum dan pengarahan-pengarahan dalam politik pendidikan, politik informasi, politik perundang-undangan, politik kehartabendaan, politik perdamaian, politik peperangan dan segala sesuatu yang berpengaruh terhadap kehidupan. Maka tidak bisa diterima kalau Islam dianggap nihil dan pasif, bahkan menjadi pelayan bagi filsafat atau ideologi lain. Islam tidak mau kecuali menjadi tuan, panglima, komandan, diikuti dan dilayani.
Akidah tauhid pada hakikatnya adalah revolusi untuk mewujudkan kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan bagi manusia. Sehingga tidak boleh sebagian manusia menjadikan sebagian lainnya sebagai tuhan selain Allah. Dan akidah tauhid juga membatalkan penyembahan manusia kepada manusia lain.
Inilah rahasia berhentinya para pembesar Mekah dalam menghadapi dakwah islamiyah sejak hari pertama dengan semata-mata kibaran bendera ”Laa ilaaha Illallah”, karena mereka mengetahui apa yang ada dibalik kalimat itu beserta makna perubahan yang dikandungnya terhadap kehidupan sosial dan politik, di samping perubahan agama yang sudah dimaklumi tanpa ragu-ragu.
Kedua –masih menurut Dr. Qadhawi– bahwa kepribadian muslim sebagaimana yang dibentuk Islam dan diciptakan oleh akidah, syariah, ibadah dan pendidikannya tidak mungkin kosong dari muatan politik, kecuali jika pemahamannya yang buruk terhadap Islam atau penerapannya yang keliru.
Islam telah meletakkan kewajiban di pundak setiap muslim yang disebut amar bil ma’ruf dan nahyu ’anil munkar, yang kadang-kadang diungkapkan dengan istilah: ” memberi nasihat kepada para pemimpin kaum muslim dan kepada kaum muslim secara umum”, yang dalam suatu hadis shahih diistilahkan sebagai agama secara keseluruhan. Kadang-kadang juga diistilahkan dengan ”at-tawashau bil haq wa-tawashau bish-shabr” (saling berpesan dengan kebenaran dan kesabaran), yang merupakan syarat pokok keselamatan dari kerugian dunia dan akhirat sebagaimana dijelaskan oleh surat al-’Ashr.
Selain itu, Rasulullah Saw juga menganjurkan kepada manusia muslim untuk memerangi kerusakan di dalam tubuh ummat Islam, dan hal ini dianggap sebagai jihad yang lebih utama daripada perang terhadap orang luar. Maka ketika ditanya tentang jihad yang paling utama, beliau menjawab: ”afdhalul jihad kalimatu haqqin ’inda sultanin ja’ir. ”Jihad yang paling utama ialah mengucapkan perkataan yang benar terhadap penguasa yang zalim (al-Hadis).
Maka merupakan suatu kekeliruan jika orang yang menganggap kemunkaran hanya terbatas pada perzinaan, minum khamar, dan yang sejenisnya.
Sesungguhnya menjadikan hina suatu bangsa adalah benar-benar perbuatan munkar; kecurangan dalam pemilihan umum merupakan kemunkaran; tidak mau memberikan kesaksian; menyerahkan urusan (jabatan) kepada yang bukan ahlinya adalah suatu kemunkaran; menggelapkan harta milik umum (negara) merupakan kemunkaran; menimbun perdagangan yang dibutuhkan manusia untuk kepentingan perseorangan atau kolektif adalah kemunkaran; memenjarakan orang tanpa kesalahan menurut pengadilan yang adil adalah suatu kemunkaran; menyiksa orang dalam penjara dan tahanan pun tergolong tindakan kemunkaran; memberikan suap, menerimanya dan menjadi perantaranya adalah perbuatan munkar; merayu penguasa dengan cara batil dan membakar dupa dihadapannya merupakan perbuatan munkar; serta memberikan loyalitas kepada musuh-musuh Allah dan musuh-musuh ummat Islam adalah tindakan munkar.
Dengan demikian, kita akan mendapati wilayah kemunkaran yang begitu luas dan terus berkembang, melebihi apa yang diperhitungkan orang dalam bingkai politik.
Mungkin masih muncul pertanyaan dibenak kita, betulkah politik itu buruk ?
Siyasah (politik) –dilihat secara teoritis– merupakan ilmu yang penting dan memiliki kedudukan tersendiri. Sedangkan dilihat dari segi praktis merupakan aktivitas yang mulia dan bermanfaat, karena ia berhubungan dengan pengorganisasian urusan makhluk dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Imam Ibnul Qayyim mengutip perkataan Imam Abul Wafa’ Ibnu ’Aqil al-Hambali bahwa siyasah merupakan tindakan atau perbuatan yang dengannya seseorang lebih dekat kepada kebaikan dan lebih jauh dari kerusakan, selama politik tersebut tidak bertentangan dengan syara’.
Ibnul Qayyim mengatakan, ”sesungguhnya politik yang adil, tidak bertentangan dengan syara’, bahkan sesuai dengan ajarannya dan merupakan bagian darinya.”
Ulama-ulama kita terdahulu juga mengagungkan nilai politik dan keutamaannya. Sehingga hujjatul Islam Imam al-Ghazali mengatakan dalam kitab monumentalnya Ihya’ ’Ulumuddin juz 1 halaman 17 sebagai berikut: ”Sesungguhnya dunia itu merupakan ladang untuk akhirat, dan tidaklah sempurna agama tanpa dunia. Kekuasaan dan agama merupakan saudara kembar; agama sebagai fondasi dan kekuasaan sebagai penjaga. Sesuatu yang tidak ada fondasinya akan runtuh, dan sesuatu yang tidak ada penjaganya akan lenyap.”
Dari sini dapat dimengerti kalau Nabi kita juga seorang politikus, di samping sebagai mubaligh, mu’allim (pengajar), dan hakim. Demikian pula khalifah-khalifah beliau yang lurus dan mendapat petunjuk sepeninggal beliau adalah politikus-politikus yang mengikuti manhaj dan sistem Rasul. Mereka memimpin umat dengan adil dan ihsan dan membimbing mereka dengan ilmu dan iman.
Namun, orang-orang pada zaman kita dan di kawasan kita khususnya, karena seringkali mereka bergelut dengan politik, baik politik penjajahan maupun politik penguasa yang khianat dan zalim, maka mereka membenci politik dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Lebih-lebih setelah filsafat Machiavelli yang memperbolehkan segala cara untuk mencapai tujuan mendominasi politik kita, sehingga memunculkan adagium bahwa politik itu kotor dan buruk. Bahkan Syeh Muhammad Abduh pernah melontarkan perkataan yang sangat terkenal, ”Aku berlindung kepada Allah dari politik, dari orang yang sudah, sedang, serta akan berpolitik, dan dari menjadi politikus.” Ini bisa dimaklumi karena beliau pernah merasakan getirnya tipu daya politik dari rezim kala itu.
Akhir kalimat –lepas dari pro dan kontra– dapat dikatakan bahwa sebenarnya Islam tidak apologis dengan politik bahkan sebaliknya sangat konsen dengan as-Siyasah (politik).

(Penulis adalah Staf Pengajar UNISDA Lamongan dan pendamping pembelajaran ilmu-ilmu Agama di Perguruan Matholi’ul Anwar Simo Lamongan, email; alieunisda@yahoo.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: