Fenomena Ponari

MEMBACA FENOMENA PONARI
DALAM PERSPEKTIF ISLAM
Oleh : ALI SHODIKIN*)

Siapakah sesungguhnya Ponari itu ? Dukun cilik sakti atau hanya
seorang anak kecil di pusaran absurditas zaman ? Penulis tidak tahu persis. Tapi menurut beberapa media disebutkan bahwa dia berusia sekitar 10 tahun, dan beralamatkan di dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Megaluh, Jombang, itu memiliki sepotong batu yang dipercayai mampu menyembuhkan aneka macam penyakit. Tak heran kalau orang berbondong-bondong datang meminta ’pertolongan’ kepada Ponari dengan batu ajaibnya itu. Pasiennyapun membanjir dari berbagai penjuru angin. Sebagaimana dilaporkan Koran Jawa Pos, bahwa rata-rata pengunjung setiap hari antara 5.000-9.000 orang, bahkan sebelum praktek ditutup pada hari Kamis kemarin diperkirakan mencapai sekitar 15.000 orang.
Ada apa dengan Ponari ? Dalam waktu sekejap –tak sampai sebulan¬– dia kok bisa menjelma menjadi sebuah brand yang menasional, apakah ini mungkin merupakan efek viral marketing yang tanpa disengaja ? Atau ada faktor lain yang menungganginya ?
Pertanyaan-pertanyaan ‘menggugat’ ini wajar dilontarkan, sebab sebagaimana diberitakan media bahwa pada hari Selasa, 10-2-2009 Ponari jatuh sakit. Ia terserang demam setelah kecapekan mencelupkan batu yang dipegangnya dalam botol air sebagai media penyembuhan. Anehnya, dia justru tak memanfaatkan batu ajaib itu untuk mengobati dirinya sendiri. Keluarga Ponari membawanya ke meja praktek dokter di rumah sakit. Paradoks, bukan ?
Ponari mungkin mendatangkan manfaat buat banyak orang, juga tetangga dan seluruh isi kampungnya. Tapi, orang kadang lupa, bahwa dia juga berhak mendapatkan kebutuhannya sendiri, termasuk dalam hal ini pendidikan.
Dalam tulisan ini akan dipaparkan bagaimana sebenarnya anjuran, hukum dan metode berobat perspektif Islam ?
Menurut kalangan ahli medis, pengobatan itu terdiri atas dua bentuk, pencegahan dan penyembuhan. Dari sisi fungsinya obat merupakan bahan yang digunakan untuk mengurangi, menghilangkan penyakit atau menyembuhkan seseorang dari penyakit.
Dalam Islam, berobat termasuk tindakan yang dianjurkan. Dalam berbagai riwayat menunjukkan bahwa Nabi pernah berobat untuk dirinya sendiri, serta pernah menyuruh keluarga dan sahabatnya agar berobat ketika sakit. Diantara teknik pengobatan yang dilakukan Nabi adalah menggunakan cara-cara tertentu sesuai dengan perkembangan zaman saat itu.
Islam juga memerintahkan pada setiap orang yang sakit untuk berobat. Dan ini sudah pernah dilakukan oleh Rasul sebagaimana banyak disebutkan dalam hadis dengan cara berbekam (al-Hijamah=Cuping), yang dulu dilakukan secara bedah dengan besi panas. Dalam kedokteran, al-Hijamah dipahami sebagai pengeluaran darah dengan menoreh pembuluh darah. Secara umum teknik pengobatan di zaman Nabi ada 3 sebagaimana hadis dari Ibnu Abbas yang artinya: ”Pengobatan ada 3 cara, meminum madu, berbekam dan mencasnya dengan api dan saya melarang mencas dengan api (al-Hadis).
Al-Hijamah, saat zaman teknik dan farmakalogi belum maju merupakan teknik pengobatan yang populer masa itu yakni dengan cara mengeluarkan darah kotor. Teknik lain seperti disebutkan dalam hadis di atas adalah mengobati luka dengan api, dan dengan meminum madu. Maksud hadis ’pengobatan dengan 3 hal’ tersebut hanya merupakan deskripsi dari tindakan pengobatan yang dilakukan dimasa Nabi itu pada yang pokok saja.
Islam juga meyakini bahwa Allah-lah yang menurunkan penyakit, dan Dialah yang menjadikan setiap penyakit ada obatnya. Pesan ini mengisyaratkan tentang pencarian obat yang sesungguhnya telah tersedia, sesuai dengan hukum sunnatullah.
Pesan yang terdapat dalam hadis tentang perlunya berobat menunjukkan bahwa dalam keyakinan Islam proses penyembuhan terhadap suatu penyakit disamping berdasarkan hukum kausalitas (sunnatullah) juga karena campur tangan langsung Allah. Karena kesadaran demikianlah maka dalam hadis banyak dijumpai tuntunan Nabi dalam bentuk do’a mohon kesembuhan/kesehatan, maka sebenarnya penyembuh yang hakiki adalah Tuhan.
Kemudian bagaimana hukumnya berobat ? Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berobat. Al-Qur’an mengutip ucapan Nabiullah Ibrahim as; ”Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkannya (al-Syu’ara; 80).
Ayat ini menekankan agar orang yang sakit mengupayakan sehat sebagai anjuran agama. Dalam menafsirkan ayat ini, al-Dhahabi menyatakan, bahwa tindakan dan upaya penyembuhan penyakit secara medis merupakan perbuatan baik dan terpuji. Ini juga berdasarkan pada pesan Nabi;”Lakukanlah penyembuhan secara medis.”
Di kalangan ulama masa lalu terdapat perbedaan pendapat mengenai upaya berobat vs dengan tawakkal. Lebih baik mana, berobat atau pasrah dengan tidak melakukan pengobatan ? Dalam hal hukum berobat itu sendiri, mereka sepakat memperbolehkan, namun dalam hal mana yang lebih utama, terdapat perbedaan pendapat. Sebagian mereka berpendapat bahwa berobat lebih utama, namun ada ulama lain yang berpendapat bahwa tawakkal lebih utama. Pada aspek mana sebenarnya pangkal perbedaan itu ? Diantara pangkal perbedaan itu adalah menyangkut kandungan hukum dalam redaksi perintah (amr) dalam hadis di atas. Yang dimaksud wajib, sunnah atau sekadar himbauan yang bernilai hukum mubah ? Para imam madhab dan jumhur ulama menyatakan bahwa perintah tersebut tidak menunjukkan wajibnya hukum berobat, tetapi hanya mubah. Sedangkan menurut sebagian ashab (pendukung madhab) al-Syafi’i dan Imam Hambali bahwa perintah tersebut menunjukkan wajib.
Ibnu Taimiyah menyimpulkan, menurut 4 madhab hukum berobat bersifat fleksibel dan kondisional. Berobat dapat haram, makruh, mubah, sunnah (mustahab) dan kadang-kadang bisa wajib. Hal itu sangat tergantung dengan tetap hidup atau tidaknya orang yang sakit jika berobat bukan yang lain. Seperti wajib makan bangkai dalam keadaan darurat.
Dari sini dapat diketahui bahwa silang pandangan dan sikap seperti diuraikan di atas itu memang sudah terjadi ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Tapi itu tidak menjadikan mereka saling mengkafirkan satu dengan yang lain.
Kemudian bagaimana metode pengobatan ala Dunia Barat dan Timur itu ? Dalam dunia penyembuhan penyakit, secara umum kita mengenal penyembuhan ala Barat dan penyembuhan ala Timur. Keduanya memiliki prinsip yang sangat berbeda. Kedokteran Barat, selama ini melakukan penyembuhan terhadap si sakit dengan dua metode dasar yaitu pemberian obat-obatan dan melakukan pembedahan. Sedangkan kedokteran Timur melakukannya dengan prinsip dasar memulihkan keseimbangan sistem kesehatan di dalam tubuh si sakit.
Kedua teknik penyembuhan itu membawa konsekwensi yang luas pada pemahaman terhadap definisi sakit dan teknik penyembuhan antara keduanya. Dan kemudian, memberikan impilkasi yang sangat berbeda, karena keduanya memang dibangun dari asumsi yang berbeda.
Berikut ini beberapa contoh sistem penyembuhan dunia Timur yang populer antara lain: penyembuhan akupuntur, penyembuhan prana, penyembuhan lewat aura, penyembuhan lewat meditasi dan lain-lain.
Dari sini mungkin akan muncul pertanyaan, yang telah dilakukan oleh dukun cilik Ponari itu masuk katagori mana ? Dalam hal ini penulis akan melihat dari perspektif lain. Menurut penelitian Bronislow Malinow terhadap kepercayaan dan magis penduduk kepulauan Trobrian diketahui, bahwa magis dan kepercayaan sama-sama tampil dan berfungsi dalam situasi-situasi ketegangan emosional. Keduanya membuka jalan untuk melepaskan diri dari situasi dan impasse tersebut karena tidak ada jalan keluar yang masuk akal kecuali melalui ritual dan kepercayaan pada dunia adikodrati (supernatural). Keduanya sangat berdasarkan pada tradisi mitologis, dan keduanya hadir dalam suasana aneh.
Dari sini kita bisa memahami, entah apa yang terjadi dengan masyarakat bangsa ini. Fenomena Ponari sang dukun cilik, sepertinya menggambarkan betapa banyaknya penduduk miskin di negeri ini, seperti :miskin harta; miskin ilmu; miskin pemahaman; miskin empati dan yang lebih gawat lagi adalah miskinnya akidah. Akibat dari kemiskinan tersebut diatas mengakibatkan masyarakat bangsa ini menjadi banyak yang sakit –pisik dan psikis–. Tetapi siapakah yang bertanggung jawab dengan kondisi ini. Wallahu a’lam bissawab.

(Penulis adalah Staf Pengajar UNISDA Lamongan dan pendamping pembelajaran ilmu-ilmu Agama di Perguruan Matholi’ul Anwar Simo Lamongan, email; alieunisda@yahoo.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: