LAMONGAN, ADIPURA DAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA
Oleh : ALI SHODIKIN*)

Mungkin pembaca bertanya-tanya tentang relevansi tema di atas serta apa hubungannya di antara ketiga hal tersebut ?
Sudah lazim kalau orang Lamongan bangga dengan tanah airnya
sendiri. Hal ini bisa dimaklumi sebab beberapa dekade yang lalu Lamongan identik dengan kota kodok –ketigo ndak iso cebok, banjir ndak iso ndodok– tapi alhamdulilah image itu sedikit demi sedikit sudah mulai berubah seiring dengan berbagai prestasi yang diraih oleh kota Soto ini.
Sebagaimana diberitakan banyak media, Kota Lamongan pada tahun 2008 lalu banyak memborong berbagai penghargaan baik tingkat nasional sampai internasional.
Diantara prestasi itu adalah Bupati Lamongan Masfuk mendapatkan
penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai bupati terbaik
dalam bidang perdagangan, pariwisata, dan investasi daerah (Regional Trade,
Tourism, and Investment Award/RTTI Award 2008). Apalagi Penghargaan RTTI Award 2008 yang diterima oleh Masfuk dalam Indonesian Regional Investment
Forum (IRIF) di Ritz Carlton Hotel Jakarta tersebut juga dihadiri para investor dari
dalam maupun luar negeri. Penghargaan tersebut diberikan karena Lamongan dinilai
menonjol dalam bidang perdagangan, pariwisata, dan investasi. Lamongan juga mendapatkan anugerah bisa mempertahankan Piala Adipura berturut-turut dan diterima langung Bupati Masfuk di Istana Negara Jakarta.
Lamongan juga mendapatkan kehormatan melalui Imam Ghozali sebagai pemuda pelopor terbaik nasional bidang Teknologi Tepat Guna (TTG). Dia sukses membuat inovasi pembuatan pupuk organik yang mudah dan murah, kepada petani. Teknologi ini berupa penggunaan rumen (bagian dalam lambung) kambing untuk pembiakan bakteri pengurai limbah pertanian yang bisa dipakai sebagai pupuk organik. Tak hanya itu, dalam bidang MQK –Musabaqah Tilawatil Kutub– Inayatus Sholihah, Mahasiswi FAI Unisda Lamongan juga mempersembahkan juara I tingkat nasional yang dilaksanakan di Ponpes Al-Falah, Landasan Ulin, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Dan yang tak kalah menarik adalah Annora Marsha Sunparta –siswi kelas XI SMA Unggulan Siman Sekaran– menyabet medali perunggu pada ajang Internasional Exhibition For Young Investort (IEYI) di Taiwan 24 – 30 September 2008. Dia meraih medali perunggu berkat temuannya Communicator Helmed Based On Membrand Vibration.
Prestasi-prestasi tersebut memang membanggakan, sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi kota ini.
Selanjutnya yang menjadi tanda tanya adalah kenapa temuan-temuan yang brilian yang ditemukan oleh anak-anak ndeso (baca: negeri) ini jarang bisa membumi ? Pertanyaan ini patut diajukan karena sebenarnya Teknologi Tepat Guna (TTG) telah lama diyakini sebagai teknologi yang cocok dengan mainstrime kebutuhan masyarakat pedesaan. Apalagi teknologi ini tidak terlalu mahal, tidak perlu perawatan yang rumit, TTG pun dikenal ramah lingkungan dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara mudah, murah serta menghasilkan nilai tambah (added value) baik dari aspek ekonomi maupun aspek lingkungan hidup.
TTG bisa meliputi teknologi yang bisa membantu proses pengolahan makanan (seperti mesin sortasi buah, pengering produk pertanian); pengemasan produk (seperti pengemas bubuk, pasta, tablet ataupun cairan); serta teknologi tepat guna industri, terutama Usaha Kecil Menengah (UKM).
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa penemuan-penemuan baru mengenai TTG yang cukup pesat baik yang ditemukan oleh masyarakat –seperti yang telah dilakukan oleh Imam Ghozali ataupun oleh Annora–, dunia usaha, Perguruan Tinggi, lembaga-lembaga penelitian dan pengembangan milik pemerintah maupun swasta. Namun sayangnya pemanfaatan TTG masih belum dirasakan masyarakat di daerah pedesaan. Masyarakat belum dapat mengakses secara optimal temuan-temuan tersebut untuk dapat diambil manfaatnya. Padahal daerah pedesaan memiliki potensi sumberdaya alam dan manusia yang berlimpah untuk diberdayakan secara maksimal. Di sisi lain, kebutuhan terhadap inovasi teknologi sudah sangat mendesak.
Kenapa gaung pemberitaan Teknologi Tepat Guna yang demikian membahana ternyata belum begitu bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat pedesaan ? Diantara kemungkinannya adalah karena minimnya dukungan dari pemerintah untuk menstimulasi masyarakat, baik dari sisi pendanaan maupun dari sisi teknologi. Akibatnya potensi-potensi yang semestinya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat pedesaan, sebagai pemanfaatan teknologi tepat guna, menjadi hilang dan tidak tergali. Dan ternyata dalam perspektif Lamongan bisa dilihat dari keberpihakan Pemerintah Kabupaten Lamongan terhadap program kegiatan yang prorakyat dinilai sangat rendah. Dalam pemandangan umum terhadap rancangan APBD 2009, Juru Bicara Fraksi Kebangkitan Bangsa, Ningsih Musyafaah, menyebutkan hal itu tercermin dari prosentase belanja langsung turun sedang prosentase belanja tak langsung naik. Ningsih menyebutkan dalam Rancangan APBD Lamongan 2009, belanja langsung Rp 309,271 milyar (35,86 persen) dan belanja tak langsung sebesar Rp 552,985 milyar (64,14 persen). Pada APBD 2008 belanja langsung 40,33 persen dan belanja tak langsung 59,67 persen. “Penurunan belanja langsung dan kenaikan prosentase belanja tak langsung dari tahun ke tahun menunjukkan semakin rendahnya keberpihakan Pemda terhadap program kegiatan yang mengarah pada kepentingan publik”. Menurut Ningsih perubahan itu bertentangan dengan Peraturan Bupati nomor 15 tahun 2008 tentang Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD)Lamongan tahun 2009. Dalam RKPD itu disebutkan bahwa prosentase belanja langsung akan naik sembilan persen dari 40,33 persen pada 2008 menjadi 49,19 pada 2009. Belanja tak langsung turun sembilan persen dari 59,67 persen pada 2008 menjadi 50,81 persen pada 2009 (Jawa Pos, Senin 17/11/08).
Padahal semestinya Pemda Lamongan bisa memfasilitasi masyarakat pedesaan, dengan pembangunan infrastruktur seperti jalan dan bangunan pabrik, yang terencana secara sistematis, dan terukur agar masyarakat terdorong untuk menggalakkan teknologi tepat guna. Dengan kata lain langkah kongkrit yang dapat dilakukan pemerintah diantaranya adalah dengan mengalokasikan anggaran khusus, untuk membangkitkan industri-industri berbasis TTG. Tetapi ironisnya, justru yang selama ini lebih banyak proaktif dan menjadi perintis adalah bangsa asing, seperti Jepang yang membantu dalam bentuk grant ke sejumlah daerah, antara lain Sumbawa, Bali, Jember dan Malang, guna pemanfaatan TTG tersebut. Bagaimana menurut pendapat Anda ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: