MEDIA MASSA, MUSIK DANGDUT DAN KAMPANYE

Harapan calon anggota legislatif (caleg) untuk memanfaatkan media massa sebagai sarana kampanye yang efektif justru bisa menjatuhkannya. Media massa malah bisa menjadi bumerang jika caleg tak mampu menguasai teknik berkomunikasi dengan publik.

      Demikian dikatakan Dosen Komunikasi Politik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran, Dadang Rahmat di Bandung. Menurut Dadang,  bahwa caleg yang tak memiliki kemampuan tersebut berbicara tersendat-sendat, tidak menguasai materi, dan kurang memahami karakteristik massanya. Bahkan Dadang menyarankan kepada Caleg yang tak menguasai kemampuan retorika sebaiknya tidak tampil dalam acara televisi dan radio”.

 

Atomisasi masyarakat

Harus disadari benar bahwa perpolitikan kita sekarang ini sedang berlangsung dalam arena masyarakat massa (mass society). Memang, dalam masyarakat massa, politik telah kehilangan auranya. Dunia politik dan pemilihan presiden-wakil presiden yang dulu dimitoskan serba angkuh, angker, serta menjunjung tinggi kewibawaan, kini tidak lebih sebagai produksi hiburan yang menyenangkan.

Dalam masyarakat massa semacam ini, fenomena paling menonjol yang sedang berlangsung adalah pesan-pesan politik tidak perlu lagi diletakkan dalam parameter bermakna atau tidak, melainkan lebih diposisikan pada sudut pandang menghibur atau membosankan. Kenapa bisa terjadi seperti itu? Dominic Strinati (dalam An Introduction to Theories of Popular Culture, 1995: 6) menyatakan bahwa masyarakat massa terdiri dari orang-orang yang mengalami atomisasi. Inilah orang-orang yang mengalami kekurangan hubungan dalam makna dan moralitas yang penuh. Orang-orang ini tidak dapat dipandang secara murni dan sederhana sebagai atom-atom kecil yang mengalami isolasi, namun pertalian di antara mereka sepenuhnya bersifat kontraktual, berjarak dan sporadis ketimbang bercorak komunal dan terintegrasi dengan baik.

Inilah yang mengakibatkan budaya massa dengan berbagai formulanya, seperti musik, lagu populer, sinetron sebagai tontonan yang serba menghibur tanpa harus berpikir serius, serta berita-berita selebritis yang sangat sensasional dalam format infotainment, sedemikian sangat digemari.

 

Budaya Pop

Manusia dalam banyak hal memiliki kebebasan untuk bertindak di luar batas kontrol struktur dan pranata sosialnya dimana individu berasal. Manusia secara aktif dan kreatif mengembangkan dirinya melalui respons-respons terhadap stimulus dalam dunia kognitifnya. Karena itu, paradigma definisi sosial lebih tertarik terhadap apa yang ada dalam pemikiran manusia tentang proses sosial, terutama para pengikut interaksi simbolik. Dalam proses sosial, individu manusia dipandang sebagai pencipta realitas sosial yang relatif bebas di dalam dunia sosialnya.

Sehubungan dengan itu, Ritzer ( 2005; 13) menjelaskan bahwa ide dasar semua teori dalam paradigma definisi sosial sebenarnya berpandangan bahwa manusia adalah aktor yang kreatif dari realitas sosialnya. Dalam arti, tindakan manusia tak sepenuhnya ditentukan oleh norma-norma, kebiasaan-kebiasaan, nilai-nilai, dan lain sebagainya. Yang semuanya itu tercakup dalam fakta sosial, yaitu tindakan yang menggambarkan struktur dan pranata sosial.

Gagasan tentang budaya populer oleh Ben Angger (1992, 24) dapat dikelompokkan pada empat aliran: (a) budaya dibangun berdasarkan kesenangan tapi tidak substansial, dan mengentaskan orang dari kejenuhan kerja sepanjang hari; (b) kebudayaan populer menghancurkan nilai budaya tradisional; (c) kebudayaan menjadi masalah besar dalam pandangan ekonomi Marx Kapitalis; dan (d) kebudayaan populer merupakan budaya yang menetes dari atas.

Kebudayaan populer banyak dengan masalah keseharian yang dapat dinikmati oleh semua orang atau kalangan orang tertentu seperti pementasan megabintang, kendaraan pribadi, fashion, model rumah, perawatan tubuh dan semacamnya.

Sebuah budaya yang akan memusuhi dunia hiburan, maka budaya itu umumnya menempatkan unsur populer sebagai unsur utamanya. Dan budaya itu akan memperoleh kekuatannya manakala media massa digunakan sebagai jalan pintas penyebaran pengaruh di masyarakat. Seperti umpamanya Kapten Medison Avenue yang menggunakan media untuk menjual produk melalui studio dan televisi.

Budaya juga memiliki nilai yang membedakan satu budaya dengan budaya lainnya. Budaya yang memiliki nilai tinggi dibedakan dengan budaya yang memiliki nilai di bawahnya. Namun dalam budaya populer, “perangkat media massa” seperti pasar rakyat, film, buku, televisi, dan jurnalistik akan menuntun perkembangan budaya pada “erosi nilai budaya”. Sedangkan kelompok konservatif seperti Edmund Burke mengatakannya dengan “erosi peradaban berharga”. Sedangkan Allan Bloom dalam bukunya, The Clossing of the American Mind mengartikulasikan pemahaman kaum neokonservatif, dengan  menyalahkan kebudayaan baru sebagai merusak kebudayaan tradisional. Kebudayaan populer tidak hanya secara langsung disalahkan sebagai penantang intelgensia publik dan melemahkan keadaan normal, tetapi justru kritik neokonservatif semakin memperkeruh suasana dengan tidak menunjukkan sikap penyelamatan terhadap budaya tradisional.

Sampai saat ini kaum konservatif dan neokonservatif terus-menyerang kebudayaan populer, namun anehnya kekuatan budaya populer semakin kuat dengan begitu besar pengaruhnya kepada miliaran manusia. Dan, anehnya pula kebudayaan populer lebih banyak berpengaruh pada kelompok orang muda dan menjadi pusat ideologi masyarakat dan kebudayaan, padahal budaya populer terus menjadi kontradiksi dan perdebatan.

 

Musik dangdut dan ikon budaya

Tidak terbantahkan bahwa musik dangdut bisa menjadi magnet untuk mengumpulkan massa.Walaupun ejekan dangdut adalah kampungan tapi pada dasarnya dangdut adalah musik asli Indonesia. Tidak ada kampanye pilkada, pemilu ataupun pilpres tanpa melibatkan dangdut. Bagaimana massa berjumlah ribuan dan puluhan  ribu datang hanya karena dangdut.

Pada mulanya musik dangdut bernama musik melayu, yaitu musik yang umumnya berkembang dalam masyarakat melayu di Indonesia. Musik ini memiliki pengaruh yang sangat kental dari seni musik India yang rancak dan didominasi oleh gendang. Musik melayu ini kemudian berasimilasi dengan budaya melayu sehingga peran gendang banyak diambil alih oleh rebana. Musik melayu ini kemudian memiliki identitas baru ketika Oma Irama mulai mengombinasikan musik melayu ini dengan musik rock yang populer pada tahun 70-an. Mulailah musik melayu disebut sebagai musik dangdut, karena dominasi rebana diambil alih oleh ketimplung yang bunyinya dapat diatur dengan tangan sehingga  berbunyi dangdut.

Asimilasi lagu melayu menjadi musik dangdut sekitar tahun 70 sampai 80-an menjadi identik dengan musik-musik Oma Irama pada waktu itu yang tidak saja berirama dangdut namun juga syarat dakwah. Sehingga ia dijuluki raja dangdut dan/ atau satria bergitar. Bersamaan dengan itu muncul pula Rita Sugiarto, Elvi Sukaesih dan sebagainya yang semuanya pernah berduet bersama Oma Irama.

Kekuatan musik dangdut tak dapat dilawan, karena pergerakan musik ini kemudian masuk di ruang-ruang publik lainya seperti pub, restoran, atau karaoke. Apalagi panggung-panggung di masyarakat pinggiran terus melantunkan musik ini. Kita juga masih ingat ketika Basofi Sudirman yang waktu itu adalah petinggi Golkar dan kemudian menjadi Gubernur Jawa Timur menyanyikan lagu-lagu dangdut, secara tidak malu-malu dangdut sudah menjadi musik para pejabat dan tidak lagi dilihat sebagai musik kelompok perlawanan karena Oma Irama waktu itu juga sudah bisa dirangkul oleh Mbak Tutut.

Bahkan ketika Orde Baru runtuh, justru musik dangdut ini menjadi kemenangan rakyat yang dilantunkan dari panggung ke panggung. Kemudian musik dangdut ini menjadi benar-benar populer di seluruh lapisan masyarakat ketika stasiun televisi pendidikan (TPI) mulai menayangkan musik dangdut di TPI dan menjadi latah oleh stasiun-stasiun TV lainnya. Kekuatan televisi sebagai media massa mengubah musik dangdut menjadi ikon budaya populer tidak saja membenarkan teori agenda setting, namun akhirnya membawa musik dangdut ini ke puncak kegemaran pemirsa televisi ketika hampir seluruh penyanyi pop terkenal Indonesia mulai menyanyikan lagu-lagu dangdut karena mereka melihat ruang publik ini sangat menjanjikan. Dangdut tidak lagi menjadi ikon musik pinggiran, namun adalah ikon musik populer digemari oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Mengacu pada gagasan tentang budaya populer oleh Ben Angger yang disebutkan di atas, maka (a) bahwa musik dangdut saat ini disajikan untuk konsumsi kesenangan namun tidak substansial. Musik dangdut hanyalah konsumsi orang-orang kota yang penat dengan kesibukan sehari-hari. Musik dangdut hanyalah seteguk air putih ketika orang sedang kahausan; (b) musik dangdut dalam konteks budaya populer menghancurkan nilai budaya tradisional, termasuk musik dangdut itu sendiri. Apa yang disuguhkan oleh televisi saat ini sebenarnya memberikan sisi-sisi musik dangdut yang terbelah. Sisi pertama menempatkan dangdut dalam arena popularitas dunia musik sehingga dapat menggeser kegemaran masyarakat terhadap musik dan hiburan lain di televisi, tetapi di sisi lain, dangdut-dangdut macam ini telah menghancurkan nilai dan makna musik dangdut itu sendiri sebagai musik ”berbudaya” dan mendorong dangdut ke dalam arena ’musik setan’; (c) Musik dangdut menjadi masalah besar dalam pandangan ekonomi Marx kapitalis, karena musik dangdut telah menjadi mesin-mesin uang yang dapat melipatgandakan kapita dalam waktu yang sangat singkat; (d) Musik dangdut tidak lagi menjadi budaya orang-orang pinggiran, namun menjadi seni pertunjukan orang-orang gedongan, karena itu musik dangdut adalah seni yang menetes dari atas.

Sebagai ihtitam, harus kita akui bahwa dangdut adalah bahasa mereka, jadi memang ini adalah media efektif untuk menarik masa. Tetapi  kemudian kalau panitia kampanye dari partai-partai tidak lagi mengedepankan aturan dan norma sosial jadilah dangdut menjadi sebuah tontonan gratis yang mengumbar syahwat. Bagaimana dengan Anda ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: