TARIK ULUR KIAI BERPOLITIK

Dr. Ali Maschan Moesa –mantan Ketua PWNU Jatim—pernah melontarkan joke dalam suatu forum untuk Kapolda Jawa Timur yang duduk tidak jauh darinya. ”Polisi dan kiai itu ada kesamaan dan ada perbedaanya, ”begitu dia melemparkan guyonan khasnya. Kapolda tampak serius mendengarkan. ”Kesamaannya, sama-sama bertugas memberantas kemungkaran di tengah masyarakat. Lha perbedaannya, kalau polisi gajinya jelas, sementara kiai tidak jelas. Semua yang hadir pada tertawa.

Ketika diberi kesempatan memberikan sambutan, Kapolda menyambung kalimat Pak Ali, namun dengan bahasa hati-hati. Nada bicaranya merendah. ”Selain soal gaji, masih ada lagi perbedaan antara polisi dan kiai. Polisi berada di tempat-tempat kotor; bersama-sama berandal, preman, bromocorah, koruptor, WTS dan sebagainya. Sedangkan kiai berada di tempat yang bersih-bersih, di pesantren, masjid, surau, dan sebagainya. Setiap hari bergaul dengan kitab kuning dan pengajian. Oleh karena polisi sering berada di tempat-tempat kotor, banyak polisi yang berperilaku nakal. Meski polisi sudah mempunyai wadah tersendiri untuk ’mencuci’ mereka yang nakal, namun seringkali hasilnya belum maksimal. Oleh karena itu, bila nanti ada anggota kami yang nakal, sudilah kiranya bapak-bapak kiai untuk ikut membantu kami membersihkannya, ”pinta Kapolda.

Rupanya pembicaraan Kapolda tidak hanya berhenti sampai di situ. Ia menjelaskan soal beda tempat tugas polisi dan kiai tersebut. ”Oleh karena itu kiai sudah berada di tempat yang bersih-bersih, seyogyanya untuk tidak malah ikut terjun ke tempat yang kotor-kotor, ”kata Kapolda. Banyak yang meyakini kalimat ’kotor-kotor’ yang terakhir adalah dunia politik. ”Sebab kalau kiai sudah masuk ke tempat kotor, lalu ikut kotor, siapa yang akan ’mencuci, nanti ? Tanya Kapolda.

Citra politik Indonesia yang kotor memang nyaris tak terbantahkan. Dunia politik seakan menjadi sebuah sisi dunia tersendiri yang lain dari kehidupan normal di tengah masyarakat. Jargon untuk membela rakyat, demi kepentingan bangsa, perjuangan, demokrasi, dan sebagainya, terasa tepat hanya disampaikan saat kampanye dan terasa hambar dalam pembuktiannya.

Anehnya, meski citra dunia politik sudah sedemikian buruk di tengah masyarakat, namun tetap saja tidak pernah kesepian peminat. Para calon anggota legislatig (Caleg) masih saja rela antri untuk mendapatkan kesempatan ’mencicipi’ lezatnya duduk di kursi dewan. Sementara mereka yang sudah pernah jadi masih ingin mencalonkan lagi dan tidak ingin melepaskan posisinya.

Dunia politik memang menggoda, sekaligus menggiurkan. Tidak terhitung lagi jumlah orang yang kaya mendadak setelah menjadi Dewan. Untuk itulah mantan Ketua Dewan DPRD Surabaya, Basuki, pernah melontarkan ucapan jujur namun menggemparkan, ”Kalau ingin cepat kaya, jadilah anggota Dewan”. Karena ucapan yang lugas itu, malah mengantarkan dirinya masuk penjara.

Persoalannya adalah, layakkah kiai berkiprah dalam dunia  politik yang citranya sangat buruk itu, sementara citra kiai sebaliknya ? Mereka yang sahwat politiknya kuat –meminjam istilah Gus Mus—tentu menjawab ”harus !”. Dalihnya, justru karena politik sedang kotor, kiai harus masuk untuk berdakwah dan memperbaiki semua kebobrokan di sana. Kalau lepas tangan, sama artinya para kiai membiarkan kemungkaran merajalela. Sedangkan membiarkan kemungkaran merajalela di depan mata, bukankah sama dengan merestuinya ? Berarti semua juga harus ikut menanggung dosa, tak terkecuali kiainya. Masuk akal juga alasan itu.

Di sisi lain muncul wacana, sebaiknya kiai menghindari dunia politik praktis, karena memang kotor dan arusnya nyaris tak bisa dibendung. Kalau kiai masuk ke dalamnya, dikhawatirkan akan menjerumuskan kiai yang maqamnya memang tidak di situ. Selain bisa merusak diri, sekaligus berpotensi menghancurkan martabat kiai. Sehingga ada pendapat yang mengatakan, karena kiai suka ngurusi politik, banyak pendidikan di Pesantren yang terbengkelai.

Kenapa kiai berpolitik dicerca ? Karena politik di Indonesia itu brengsek, politikusnya brengsek, perilaku politiknya konyol sekali, kata Gus Mus dalam suatu kesempatan. Gus Mus mengutip pesan Sayyidina Ali Kw., “Orang yang masuk ke wilayah buruk akan tercemarkan dan dikesankan buruk juga. Dicontohkan Gus Mus, kiai masuk ke sebuah gedung bioskop, sekalipun hanya untuk mencari kawannya, ia akan dikesankan orang sebagai kiai yang suka nonton bioskop. Citra kiai menjadi rusak.

Namun ada juga pendapat ketiga yang memandang sesuatu dengan serba baik. Tidak ada kiai yang tidak baik. Oleh karena itu terserah kiainya, mau masuk politik atau tidak masuk politik, toh semua baik, dan semua yang dilakukan juga akan ada akibat dan pertanggungjawabannya.

Ada juga saran, kalaupun kiai akan masuk politik, sebaiknya diperhitungkan lebih dulu kemampuan dan medan yang akan dihadapinya. Jika memang dimungkinkan bisa untuk berperan dan memberikan manfaat lebih banyak untuk kemaslahatan ummat, tentu masuk akan lebih baik daripada berdiri di luar. Namun jika dirinya belum mempunyai ketahanan yang kuat, lalu dimungkinkan malah terseret arus sebaiknya keluar saja.

Sekalipun ada banyak pilihan, hemat penulis lebih baik kiai menggeluti dunianya sendiri, yakni santri dan pesantren. Sebab fakta membuktikan, lebih banyak politisi yang terseret arus, karena disana semua sudah berjalan sistemik dan arusnya deras sekali. Apalagi kalau kiai terlibat dalam partai-partai kredibilitas kiai akan semakin kabur.

Memang jadi kiai itu repot, kata Gus Mus. Mau jual ayam ke pasar, dikritik orang, ada kiai kok ngempit ayam ke pasar. Lho memang kenapa, karena punyaku Cuma ayam ini”. Mau bekerja kasaran, dipandang sinis orang, kiai kok jadi kuli bangunan, repot.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: