AGAMA (Vs) KEHIDUPAN GENERASI MUDA

Oleh : Ali Shodikin

Prof. Beneditc R. Anderson, dalam Java in Time of Revolution mengatakan, bahwa dalam konteks kebudayaan Jawa, generasi muda adalah suatu gerbang dalam kehidupan, tapi dalam arti lain, generasi muda merupakan gaya kultural yang otonomi, yang dapat didefenisikan sebagai gaya kultural, kita dapat memahami kehidupan dan peran kita.

GENERASI MUDA DAN SISI KULTURALNYA

Generasi muda dalam pengertian umumnya adalah golongan manusia berusia muda. Dalam Lokakarya Nasional Pembinaan Generasi Muda beberapa tahun yang lalu, bahwa pengertian generasi muda dibedakan dalam beberapa kategori :
1. biologis, generasi muda adalah mereka yang berumur 12-25 tahun (remaja) dan anatar 15-30 (pemuda)
2. budaya, generasi muda adalah mereka yang berumur antara 13-40 tahun.
3. angkatan kerja, yang disebut tenaga muda adalah yang berumur antara 18-22 tahun.
4. kepentingan perencanaan pembangunan, yang disebut sebagi sumber daya manusai muda (young humam resources) adalah dari 0-18 tahun
5. ideologis-politis, maka generasi muda yang menjadi calon pengganti generasi terdahulu, adalah yang berumur antara 18-30 tahun, dan kadang-kadang sampai umur 40 tahun.
6. lembaga dan lindungan hidup sosialnya, generasi muda dapat dibedakan dalam tiga kategori :
a. Siswa, usia antara 6-18/19 tahun
b. Mahasiswa, usia antara 18-25
c. Pemuda, yang berada diluar sekolah atau perguruan tinggi, usia antara 15-30 tahun.
Ciri yang menonjol dari kehidupan generasi muda adalah :
– Kemurnian idelismenya
– Keberanian dan keterbukaannya dalam menyerap nilai-nilai dan gagasan baru
– Semangat pengabdianya
– Spontanitas dan dinamikanya
– Inovasi dan kreativitasnya
– Keinginan-keinginan untuk segera mewujudkan gagasan-gagasan baru.
– Keteguhan janjinya dan keinginan untuk menampilkan sikap dan kepribadian yang mandiri.
– Masih langkanya pengalaman-pengalaman yang dapat merelevasikan pendapat, sikap dan tindakanya dengan kenyataan-kenyataan yang ada.

Ciri–ciri yang demikian itu, dalam Al-Qur`an juga berulangkali disebut, seperti tentang kemurnian idealismenya Ashabul-Khahfi; yaitu para pemuda yang diselamatkan oleh Allah pada saat berhadapan dengan penguasa tiran dengan bersembunyi didalam gua, yang kemudian ditidurkan oleh Allah didalamnya; hal ini digambarkan dalam surat Al-Khahfi ayat 12:

“… kemudian kami bengunkan mereka, agar kami mengetahui manakah diantara dua golongan itu yang lebih tepat menghitung berapa lamanya mereka tinggal di gua itu”.

Semangat pengabdian Nabi Ibrahim seperti digambarkan dalam surat Al-Ambiya`:60 “mereka berkata : “ Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala ini yang bernama Ibrahim”.

Keteguhan janji dan keinginan untuk menampilkan sikap yang komited dari Thalut dalam Al-Baqarah 247 : “Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut manjadi Rajamu”. ………… dst………
Dalam sejarah perkembangan Islam sendiri mencatat peranan pemuda, terutama pada zaman Rasulullah saw. Ada sekitar 40 pemuda pelopor dalam kancah perjuangan dan perintis pengembangan islam tersebut, antara lain kita kenal nama-nam Ali bin Abi Thalib, Zahid bin Tsabit, dkk…
Prof. Ishaq Ahmad Farhan, mantan Rektor Universitas Islam Yordan, dalam bukunya “ Muskilatus Syabab fi Dlaw-il Islam”, menyatakan bahwa generasi muda sekarang ini, dimana saja mereka itu berada akan dihadapkan pada empat probema kehidupan :
Pertama : Problema kehidupan spiritual (al-azmaturuhiyah),seperti terganggunya keutuhan persepsional antara kebutuhan materi danr ohani.
Kedua : Problema Kehidupan Intelektual (al-azmatul fikriyah), seperti pergumulan antara pola berfikir ortodok dan modern.
Ketiga: Problema kehidupan sosial (al-azmatul Ijtima`iyah ), seperti menghadapi pergeseran sistem nilai dan terpecahnya integritas moral.
Keempat : Problema kehidupan politik (al-azmatussiyasiyah), seperti gejala fruistasi yang berkepanjangan menghadapi sikap laku politik generasi tua yang tidak konsisten, perpecahan dan revalitas yang tidak jelas alasanya.

AGAMA dan GENERASI MUDA

Sebagai gambaran umum pandangan masyarakat sekarang tentang hakekat agama, dapat kita pelajari dari hasil penelitian tentang Orientasi Sosial Budaya dalam empat masyarakat di Jawa Barat, DKI, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang diselenggarakan oleh LIPI bekerjasama dengan Universitas Jember.
Dari pernyataan para responden diketahui, bahwa ada empat jenis pandangan yang dianut oleh para responden tentang hakekat agama dalam hidup. Keempat pandangan itu :

Pertama : Agama adalah landasan hidup.
Kedua : Agama adalah nilai-nilai tertinggi dalam hidup.
Ketiga : Agama adalah tradisi.
Keempat : Agama adalah memiliki watak dasar yang khas, dan tidak dapat dipersatukan antara agama yang berlainan.
Suatu kenyataan yang menarik dalam hubungan ini ialah bahwa mayoritas responden sebanyak 72 % tidak memberikan pernyataan apapun mengenai masalah agama ini. Jadi yang memberikan keempat pandangan diatas hanyalah sebesar 28 % dari para sesponden. Dari golongan ini sebagian besar dari mereka, yakni sejumlah 17 % memandang agama sebagai landasan hidup. Kelompok responden yang memandang agama sebagai nilai-nilai tertinggi dalam hidup adalah sebesar 7 %, sedangkan kelompok responden yang memandang agama sebagai tradisi adalah 3 %a dan akhirnya kelompok yang lebih menekankan pada kekuasaan setiap agama dam tidak mungkin mempersatukan berbagai nilai agama merupakan kelompok yang terkecil, yaitu sebesar 1%.
Kenyataan-kenyataan ini telah menimbulkan berbagai macam interprestasi, baik dikalangan peneliti, maupun dikalangan para peserta seminar lainnya. Salah satu hal yang dapat menarik perhatian ialah banyaknya kelompok responden yang tidak menyatakan pendapat tentang masalah keagamaan ini.
Berdasarkan data di atas, agama lebih banyak dipandang sebagai masalah operatif. Hal ini disimpulkan dari kenyataan bahwa sebagian besar dari para respondenyang memberikan jawaban memandang bahwa agama sebagai landasan hidup. Peserta seminar juga berpendapat, bahwa kalau penafsiran ini benar, maka pada hakekatnya telah terdapat kesenjangan antara para pemimpin agama dengan umatnya. Selama ini kebanyakan pemimpin agama lebin memandang agama sebagai masalah normatif, yaitu pandangan yang lebih menekankan nilai-nilai dari pada pengamalannya.
Mengenai pandangan tentang ketaatan generasi muda terhadap agama, ada tiga pendapat yang dikemukakan para responden mengenai hal ini, yaitu :
Pendapat pertama mengatakan, behwa generasi muda masa kini lebih taat pada agama dari pada generasi masa lalu.
Pendapat kedua mengatakan, bahwa ketaatan generasi muda masa kini terhadap agama lebih buruk dari pada generasi masa lalu.
Pendapat ketiga mengatakan, bahwa ketaatan generasi muda masa kini terhadap agama sama saja dengan generasi masa lalu.

Ada dua masalah yang perlu mendapat kajian dalam mengamati kehiduapan beragama dikalangan generasi muda sekarang, yang pada gilirannya dapat dipakai untuk memahami sikap dan tingkah lakukeagamaan mereka. Dua masalah tersebut ialah :

Pertama : Latar belakang kehidupan mereka.
Kedua : Pendekatan mereka terhadap agamanya dalam mengahadapi perubahan sosio-kultural.
tentang pendekatan mereka terhadap agamanya dalam menghadapi perubahan sosial-
kultural, Abdurrahman Wahid mengajukan dua bentuk pendekatan :

Pertama : Idealisasi ajaran islam sebagai alternatif terlengkap terhadap semua sistem kehidupan dimuka bumi ini, yang dalam bentuknya dapat dilihat pada :
a. Kecenderungan ritualistik berlebih-lebihan dikalangan kaum tarekat masa sekarang.
b. Kecenderungan merumuskan ajaran Islam sebagai suprastruktur terhadap semua faham dan tata kehidupan yang ada. Munculnya sederetan teori-teori Islam diberbagai bidang, dari masalah ekonomi hingga teknologi, merupakan tindakan susulah (follow up) logis dari kecenderungan tersebut diatas.
Kedua : Upaya adaptasi ajaran islam kepada kenyataan hidup, dengan upaya menyelaraskan ajaran Islam dengan realitas-realitas, memandang ajaran Islam sebagai sumber inspirasional untuk menyusun pandangan baru dibidang yang bermacam-macam. Tahap selanjutnya kesadaran seperti itu akan membawa kepada sikap untuk merumuskan kembali nilai-nilai ajaran Islam tentang berbagai masalah dasar yang dihadapi umat manusia, seperti kemiskinan, kebodohan, ketidak-adilan, keterbelakangan dan seterusnya. Kebutuhan menimbulkan jawaban institusional-struk-tural atas masalah-masalah dasar tersubut akan membawa kepada kebutuhan membuat rumusan lebih jauh tentang tempat manusia dalam kehidupan. Ajaran Islam dengan demikian menjadi sumber inspirasional dalam arti yang lebih besar, yaitu bagi penyusunan kerangka kema-syarakatan (societal frameworks) yang dibutuhkan manusia untuk memecahkan masalah-masalah dasar yang dihadapinya.

Dihadapkan kepada jepitan antara dua kecenderungan legal-formalistik dan adaptatif itu, generasi muda muslim lalu menumbuhkan dua sikap yang saling berdeda dalam kehidupan mereka. Yang pertama adalah pendekatan “fundamentalistik” yang ingin menerapkan ajaran agama secara harfiyah atau literal, dan yang kedua adalah pendekatan “moderat” yang memperlakukan ajaran agama sebagai sumber moral dalam mendekati dan memecahkan masalah-masalah kehidupan.

Disini dapat disimpulkan, bahwa kesadaran beragama generasi muslim dalam menghadapi proses perubahan sosial, khususnya yang berada dipusat-pusat sumber informasi nilai seperti kampus masih cukup kuat.

Disamping ada kecenderungan perubahan pandangan terhadap agama, dari pandangan yang menganggap agama sebagai masalah normatif kepada pandangan yang menganggap agama sebagai masalah operatif yang tentunya tidak menghapus sisi normatifnya.

Sikap dan tingkah laku kehidupan beragama bagi generasi muda muslim, banyak dipengaruhi latar belakang kehidupan beragamanya, disamping pilihan pendekatannya terhadap ajaran agamanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: