IPNU-IPPNU : Perspektif Sejarah ( Menimbang Kemaslahatan IPNU-IPPNU Ke Depan)

By; Ali Shodikin

Pendahuluan
Komitmen IPNU-IPPNU yang mulai ditinggalkan kader-kadernya dapat dirunut pada awal kelahirannya. Kelahiran keduanya sebenarnya bermula dari perkumpulan pelajar, di antaranya Tsamrotul Mustafidin di Surabaya ( 11 Oktober 1936), Persatuan Santri Nahdlatoel Oelama (PERSANO) berdiri 1936, Persatuan Anak Moerid Nahdlatoel Oelama (PAMNO) di Malang 1941, dan banyak organisasi pelajar di madrasah atau pesantren yang menjadi embrio bagi kelahiran IPNU-IPPNU. Di sini jelas bahwa komitmen keduanya kepada keilmuan telah ada sejak awal berdirinya.
Bahkan, pada awal kelahirnnya pada 24 Februari 1954 (20 Jumadil Akhir 1373 H) dalam acara Konferensi Besar Ma’arif NU se-Indonesia di Semarang, IPNU masih singkatan dari Ikatan Pelajar NU, sedangkan IPPNU yang lahir dalam Muktamar IPNU yang lahir dalam Muktamar IPNU II di Solo pada 1955 atau tepatnya 2 Maret 1955 ( 8 Rajab 1374 H) juga merupakan singkatan dari Ikatan Pelajar Putri NU.
Namun, sejak Kongres X IPNU—IX IPPNU di Pesantren “Mambaul Ma’arif” Denanyar, Jombang, Jawa Timur pada 29—31 Desember 1988, IPNU—IPPNU membuka lembaran baru yakni tejadinya perubahan dari pelajar ke Putra/Putri karena “menyesuaikan diri” dengan peraturan pemerintah yang tidak mengijinkan organisasi ekstra, kecuali OSIS dan Pramuka.
Langkah penyesuaian itu sendiri sudah dirumuskan secara baik dalam Citra Diri IPNU—IPPNU melalui Kongres XI IPNU—X IPPNU di Lasem, Rembang, Jawa Tengah (22—26 Desember 1992), namun hal itu tak kunjung memperjelas citra melainkan justru mengaburkan citra IPNU—IPPNU. Paling tidak, dalam kurun 1988—2000 ( 12 tahun) telah terjadi pengaburan arah sehingga “trayek” keduanyapun menjadi tidak beraturan. Kadang diseret ke orientasi politik karena ketuanya kebetulan suka politik. Kadang dipaksa ke orientasi LSM, karena ketuanya kebetulan lebih condong ke LSM. Kadang berorientasikan”sekolahan” karena ketuanya kebetulan pengajar, dan sebagainya. Lantas, IPNU—IPPNU itu “binatang” apa ? Tak jelas.
Orientasi yang Compang—camping itu membuat orang lain pun menjadi sulit mengenalnya. Bahkan, dengan adanya PKB—yang di satu sisi juga menguntungkan—tampaknya membuat kader-kader NU rebutan menjadi ketua hanya karena ingin berkarier di jalur politik. Karuan saja, wajah kedunya semakin lama semakin runyam dibuatnya. Karena itu, refleksi dari semua komponen Keluarga Besar IPNU—IPPNU tentang citra diri keduanya semakin mendesak untuk dipikirkan agar tak semakin babak belur dalam era milenium yang penuh persaingan global ini.
Sebab seperti diketahui, setelah rezim Orba tumbang, mestinya harus ada pemikiran untuk meredifinisi peran IPNU—IPPNU di masa yang akan datang. Seiring dengan itu, seharusnya IPNU-IPPNU tidak perlu takut lagi untuk mengatakan bahwa paradigma masa lalu yang mengarahkan IPNU—IPPNU sebagai organisasi pelajar tetap dipertahankan. Kebebasan untuk berorganisasi seirama dengan era reformasi seperti sekarang, bisa dijadikan momentum yang tepat untuk meletakkan jatidiri IPNU—IPPNU ke atas rel yang benar; perkumpulan pelajar Nahdlatul Ulama.
Tidak seperti sekarang. Ada semacam kejumbuhan dengan organisasi lain yang mengurus soal pemuda di NU, seperti GP Ansor dan Fatayat. Fokus kegiatannya seringkali tumpang-tindih. Lalu, di mana bidang garapan yang tepat untuk IPNU—IPPNU ? Kalau mengatasnamakan pemuda sudah ada GP Ansor. Jika mengatasnamakan mahasiswa sudah ada PMII, meskipun secara organisatoris tidak terikat. Tetapi tetap ada benang merahnya dengan induknya; Nahdlatul Ulama. Sedangkan jika mengatasnamakan pemudi sudah ada Fatayat.
Atas dasar itu, reorientasi IPNU—IPPNU tampaknya amat mendesak untuk diluruskan. IPNU—IPPNU harus murni diisi oleh aktifitas pelajar. Orientasi kegiatan juga harus diarahkan pada komitmen untuk meningkatkan kualitas belajar siswa-siswi atau santriwan-santriwati Nahdlatul Ulama. Tidak boleh lagi ada pelajar yang aktif di IPNU—IPPNU tetapi kualitas studinya morat-marit. Tidak boleh lagi ada aktifis yang hanya menjadikan IPNU—IPPNU kendaraan dan cantolan politiknya.
Oleh karena itu, menurut Kacung Marijan, alumni Flinders University Asutralia, bahwa target organisasi dan sasaran program IPNU ke depan harus kembali kepada rel semula, yaitu pelajar. “Soal siapa yang harus menjadi pengurus, saya tidak setuju kalau IPNU harus diisi oleh murni pelajar. Bagaimanapun, IPNU adalah organisasi pengkaderan. Tidak mungkin usia pelajar yang singkat itu bisa melewati proses pengkaderan sejak ranting sampai pengurus pusat,” Kata Prof. Kacung.
Lebih lanjut Kacung menambahkan, bidang garap IPNU sebenarnya cukup luas. Persoalan belajar dan pelajar, mungkin tidak tersentuh oleh IPNU. Oleh karena itu, reorientasi IPNU harus diletakkan kepada rel yang sebenarnya.

Fitrah Back to Sains
Sebagai bahan kajian, kepengurusan PW.IPNU—IPPNU sepuluh tahun yang lalu telah mencanangkan program-program yang diorientasikan pada basis IPNU—IPPNU, diantaranya Orientasi dan Asmak Kubro Seribu Santri (sejenis Makesta untuk Santri pada Juli 1998), Try Out Ebta—Ebtanas untuk Pelajar SMP/SMU ( 1997 dan 1998), Diklat Pers untuk Pelajar SMU (1998). Wisata Ziarah untuk santri (1997) dan sebagainya.
Bahkan, untuk Try Out, PWIPNU Jatim sedang merintis kerjasama dengan sebuah lembaga bimbingan belajar untuk beberapa tahun kemudian yang dimulai sejak tahun 2000. Selain itu, beberapa pengurus IPNU Jatim juga menjajaki kemungkinan menempuh pendidikan S-2 melalui kerjasama PWNU Jatim dengan Universitas di Surabaya.
IPNU—IPPNU Jatim juga melakukan serangkaian “kerjasama” yang mengarah pada fitrah, dianataranta Latihan Pers Pesantren yang bekerjasama dengan “Orda” (Organisasi Daerah di pesantren) dengan lokasi acara di pesantren serta pelibatan santri dalam kepanitian, kerjasama kegiatan juga dilakukan dengan LP Ma’arif NU dan RMI Jatim.
Mengamati dan mencermati perkembangan IPNU—IPPNU saat ini, pada kenyataannya, terlalu sedikit yang sudah dicapai kalau merujuk pada fungsinya sebagai wadah berhimpun, wadah berkomunikasi, serta wadah kaderisasi putra-putri NU untuk mempersiapkan kader bangsa. IPNU—IPPNU boleh dikata belum mampu berperan secara optimal mensuplai sumberdaya manusia NU yang berkualitas. Pesantren yang juga menjadi basis IPNU—IPPNU belum tergarap secara optimal. Sementara dinamika IPNU—IPPNU tidak mampu mengimbangi perubahan-perubahan struktur yang cukup mendasar dalam stratifikasi demografis warga NU sendiri, khususnya bagi anak-anak muda NU. Nampak IPNU—IPPNU adalah sosok yang out of date, old fashion dihadapkan pada tuntutan perkembangan kebutuhan bagi kalangan muda-mudi NU.
Seiring dengan modernisi dan semakin terbukanya kesempatan pendidikan, maka menimbulkan efek bagi warga NU, yakni terbukanya pilihan-pilihan yang amat plural bagi mereka untuk menyekolahkan anak-anaknya. Jika sebelumnya pilihan pendidikan bagi warga NU adalah lembaga pendidikan tradisional semacam pesantren, serta sekolah yang terbatas pada sekolah keagamaan, maka pilihan itu sekarang menjadi melebar ke pendidikan non pesantren yang membuka akses serta pintu masuk ke sektor kehidupan moderen. Sekarang, lihatlah dengan tersedianya infrastruktur pendidikan non-pesantren itu, anak-anak NU mulai berbondong-bondong memasuki pendidikan moderen di kota-kota besar. Lapisan terdidik dari warga NU ini sekarang barangkali telah melebihi prosentase santri yang belajar di pesantren. Ini tentu bisa dimaklumi, civil effect yang ditawarkan oleh pendidikan moderen lebih memikat. Apalagi seiring dengan proses modernisasi yang kian intensif. Differensiasi sosial dan pola pembagian kerja kian mengalami perumitan dan peragaman. Beberapa lapangan kerja lama tergusur, namun seiring dengan itu lahir pula beberapa lapangan kerja baru yang lebih menjanjikan prospek ke depan. Ini tentu lebih menggiurkan dan memikat lapisan muda NU tersebut.
Anak-anak muda NU yang menempuh pendidikannya di sekolah-sekolah moderen tersebut belum digarap oleh IPNU-IPPNU secara serius. Padahal mereka sebenarnya adalah asset NU yang berharga. Sekolah-sekolah menengah favorit ada dihampir tiap ibukota kabupaten. Katakanlah Jawa, khususnya Jawa Timur dan Jawa Tengah, yang mayoritas adalah warga NU, maka dapat dipastikan anak-anak warga NU banyak yang bersekolah di sekolah-sekolah menengah favorit. Dan mereka adalah generasi-genarasi cerdas dan terdidik dengan baik.

Jalan Baru
Era sekarang dan mendatang adalah era global. Kaum muda Indonesia dituntut mempersiapkan dirinya dengan baik. Persoalan kulaitas SDM menjadi persoalan strategis bagi kaum muda. Globalisasi, komtetisi, daya saing, dan kualitasa menjadi istilah yang saling terkait. Dalam konteks ini IPNU-IPPNU, sebagai organisasi kaum muda, dapat mengambil peran sebagai wadah yang memberikan jawaban bagi kebutuhan-kebutuhan ke depan bagi aktifisnya. Aktifitas-aktifitas IPNU-IPPNU harus mampu menumbuhkan etos berprestasi, mandiri, tekun, produktif, cermat dan teliti, kreatif serta inovatif bagi aktifitasnya. Secara lebih konkret kualitas dalam era kompetisi yang tajam seperti sekarang ini adalah keahlian profesional. Bidang-bidang profesionalisme secara pasti harus dipertajam dalam training atau pelatihan IPNU-IPPNU. Tentu saja pengembangan intelektualisme serta profesionalisme tidak boleh melunturkan etika, akhlak dan moralitas, baik secara horizontal maupun vertikal-teologis.
IPNU-IPPNU sebagai kader-kader ummat dan bangsa mempunyai tanggung- jawab untuk melahirkan pelaku-pelaku masa depan yang berkualitas profesional dan dibingkai dengan etika, akhlak dan moralitas yang kuat. Ini adalah dasar dari tumbuhnya sikap dan perilaku sosial yang berkualitas dan bertanggung jawab.

Tutimmatun
Untuk mewujudkan hal-hal di atas tentu bukanlah hal mudah, namun optimisme hendaknya tetap dikembangkan. Optimisme, kerja yang sungguh-sungguh sistematis, ikhlas dalam berusaha dan konsisten (istiqomah) adalah jawabannya. Optimisme akan melahirkan energi psikologis untuk berprestsi. Sementara sistematis adalah kerja yang terprogram secara rapi dengan target dan tujuan yang terukur. Konsisten berarti senantiasa menjaga jiwa dan semangat istiqomah untuk tetap berada pada track yang benar dan telah ditetapkan.

Unisda, Medio Pebruari 2008
Notulis,

ALI SHODIKIN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: