Menyukuri Lulus UAN vs Moral-Agama Siswa

Kita patut bersyukur sebab kelulusan tingkat SMA di Lamongan tahun ini mencapai 99,29 persen dari sekitar 11.818 peserta ujian nasional (UN). Pencapaian kali ini lebih baik dibanding tahun lalu yang hanya 98,62 persen. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lamongan Mushtafa Nur mengatakan tahun ini peserta UN tingkat SMA di Lamongan dinyatakan tidak lulus sebanyak 27 siswa.
Ini patut diapresiasi, sebab sebelumnya Dinas P dan K Lamongan mengkhawatirkan angka tidak lulus tahun ini tinggi, akibat kenaikan standar kelulusan dari 4,5 menjadi 5. “Kenyataannya tahun ini angka kelulusan lebih baik dari tahun lalu bahkan melebihi target yang ditetapkan sebesar 98 persen,” kata Musthafa.
Dia merinci dari 5.810 siswa SMA yang ikut UN tidak lulus 17 siswa, tingkat kelulusan 99,71 persen. Untuk SMK dari 2.851 peserta UN tidak lulus tujuh siswa atau angka kelulusan 99,76 persen. Adapun dari 3.157 peserta UN asal Madrasah Aliyah tidak lulus tiga siswa, dengan kelulusan 99,91 persen (Jawa pos, 13/6/09).
Mustofa Nur menambahkan, rata-rata nilai ujian nasional (NUN), siswa SMA Lamongan jurusan IPS menduduki peringkat kedua di Jawa Timur setelah Gresik. Sementara nilai NUN rata-rata jurusan IPA dan Bahasa menduduki peringkat keempat se-Jatim.
Dalam tulisan kali ini penulis perlu mengurai benang kusut yang terjadi setiap tahun, yakni aksi konvoi siswa dan corat-coret baju. Kenapa ini selalu terulang dan terulang setiap tahun ? Lihatlah, bagaimana para siswa yang mengendarai sepeda motor, dengan aksi trek-trekannya, yang kadang berlawanan arah dengan teman-temannya. Mereka terlihat tidak takut dengan kemungkinan adanya bahaya kecelakaan yang dialami para ABG (anak baru gede) tersebut. Dan yang lebih memprihatinkan lagi, dengan pakaian corat-coret, mereka melakukan konvoi keliling kota. Aksi yang dilakukan harapan bangsa itu, selalu membuat macet arus lalu lintas. Tanpa helm dan bahkan satu sepeda motor tiga orang dilakukan siswa-siswi yang baru lulus tanpa takut akan dikenakan sanksi oleh aparat kepolisian. Kata-kata yang senantiasa dilontarkan oleh mereka seperti:”Wajar aja mas, inikan acara setahun sekali. Biarkan kami merayakan kemenangan kami.”
Diantara faktor pemicu euforia siswa-siswi kita adalah makin derasnya lajunya proses modernisasi, yang diidentifisir dengan westernisasi dalam hampir semua sektor kehidupan individu maupun kolektif. Antara agama dan modernisasi juga diandaikan terhadap hubungan yang bersifak eksklusif, dimana yang satu akan mengucilkan yang lain dari arus umum kehidupan dan sebaliknya.
Pandangan tersebut berangsur-angsur digantikan oleh pendapat lain, yang muncul dari pengamatan yang lebih cermat atas kenyataan hidup yang terdapat di lingkungan pelajar kita. Ternyata tidak dapat dibuat pengambilan kesimpulan simplistik atas hubungan antara agama dan modernisasi, terutama dilingkungan pelajar.
Sebagai gambaran umum pandangan masyarakat (baca; pelajar) sekarang tentang hakekat agama, dapat kita pelajari dari hasil penelitian tentang Orientasi Sosial Budaya dalam empat masyarakat di Jawa Barat, DKI, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang diselenggarakan oleh LIPI bekerjasama dengan Universitas Jember beberapa tahun lalu.
Dari pernyataan para resuponden diketahui, bahwa ada empat jenis pandangan yang dianut oleh para responden tentang hakekat agama dalam hidup. Keempat pandangan itu : Pertama : Agama adalah landasan hidup; Kedua : Agama adalah nilai-nilai tertinggi dalam hidup; Ketiga : Agama adalah tradisi; dan Keempat : Agama memiliki watak dasar yang khas, dan tidak dapat dipersatukan antara agama yang berlainan.
Suatu kenyataan yang menarik dalam hubungan ini ialah bahwa mayoritas responden sebanyak 72 % tidak memberikan pernyataan apapun mengenai masalah agama ini. Jadi yang memberikan keempat pandangan di atas hanyalah sebesar 28 % dari para responden. Dari golongan ini sebagian besar dari mereka, yakni sejumlah 17 % memandang agama sebagai landasan hidup. Kelompok responden yang memandang agama sebagai nilai-nilai tertinggi dalam hidup adalah sebesar 7 %, sedangkan kelompok responden yang memandang agama sebagai tradisi adalah 3 % dan akhirnya kelompok yang lebih menekankan pada kekuasaan setiap agama dam tidak mungkin mempersatukan berbagai nilai agama merupakan kelompok yang terkecil, yaitu sebesar 1%.
Berdasarkan data yang telah diuraikan di atas nampaknya dikalangan responden, bahwa agama lebih banyak dipandang sebagai masalah operatif. Hal ini disimpulkan dari kenyataan bahwa sebagian besar dari para responden yang memberikan jawaban, memandang agama sebagai landasan hidup. Kalau penafsiran ini benar, maka pada hakekatnya telah terdapat kesenjangan antara para pemimpin agama dengan umatnya. Selama ini kebanyakan pemimpin agama lebih memandang agama sebagai masalah normatif, yaitu pandangan yang lebih menekankan nilai-nilai dari pada pengamalannya.
Mengenai pandangan tentang ketaatan pelajar terhadap agama, ada tiga pendapat yang dikemukakan para responden mengenai hal ini, yaitu :
Pendapat pertama mengatakan, bahwa pelajar masa kini lebih taat pada agama dari pada pelajar masa lalu.
Pendapat kedua mengatakan, bahwa ketaatan pelajar masa kini terhadap agama lebih buruk dari pada pelajar masa lalu.
Pendapat ketiga mengatakan, bahwa ketaatan pelajar masa kini terhadap agama sama saja dengan pelajar masa lalu.
Pendapat yang paling populer dikalangan responden, baik dikalangan orang tua maupun pelajar, ialah bahwa pelajar masa kini lebih taat kepada agamanya dari pada pelajar masa lalu. Dari seluruh responden, yaitu sebanyak 46 % diantaranya berpendapat demikian. Yang berpendapat sebaliknya, yakni bahwa pelajar sekarang kurang taat kepada agamanya dibandingkan dengan pelajar masa lalu, yaitu berjumlah sekitar 35 % dari seluruh responden. Sedangkan sisanya, sebesar 19 % dari responden berpendapat bahwa tidak ada perbedaan dalam ketaatan antara pelajar dahulu dengan pelajar masa kini.
Ada dua masalah yang perlu mendapat kajian dalam mengamati kehidupan beragama dikalangan pelajar sekarang, yang pada gilirannya dapat dipakai untuk memahami sikap dan tingkah laku keagamaan mereka. Dua masalah tersebut ialah :
Pertama : Latar belakang kehidupan mereka. Kedua : Pendekatan mereka terhadap agamanya dalam mengahadapi perubahan sosio-kultural.
Pelajar yang mempunyai latar belakang kehidupan beragama secara kolektif yang kuat (dalam masyarakat santri yang taat), dibesarkan dalam suasana keagamaan yang menyeluruh, yang tercermin dalam kegiatan kolektif mereka seperti pengajian, kesenian keagamaan dan kegiatan organisasi keagamaan, akan berbeda dengan pelajar yang mempunyai latar belakang kehidupan beragama yang bersifat peripheral, baik yang mereka sebagai minoritas ditengah-tengah mayoritas non Islam, atau sebagai mayoritas muslim nominal.
Persoalannya lalu menjadi berbeda sama sekali pada pelajar yang memiliki kehidupan beragama dalam masyarakat yang terpecah antara kelompok minoritas muslim yang taat, memiliki pola kehidupan beragama yang aktif dan vokal sekali, dan kelompok yang lain yaitu non Islam yang juga cukup kuat. Dalam kondisi seperti ini menonjol sekali peranan pelajar dalam memelihara, bahkan dalam meningkatkan kesadaran beragama secara intensif. Tuntutan untuk menghormati dan mengikuti norma-norma keagamaan diajukan dengan kadar yang tinggi, dan pola interaksi antara berbagai kelompok agama lalu mengambil bentuk lain, dan akhirnya tidak bisa lagi dihindari munculnya polarisasi antara mereka yang muslim dan non-muslim, atau antara yang muslim-taat dan muslim-nominal.
Tentang pendekatan mereka terhadap agamanya dalam menghadapi perubahan sosial-kultural, Abdurrahman Wahid mengajukan dua bentuk pendekatan : Pertama : idealisasi ajaran Islam sebagai alternatif terlengkap terhadap semua sistem kehidupan dimuka bumi ini, yang dalam bentuknya dapat dilihat pada : kecenderungan ritualistik yang berlebih-lebihan dikalangan kaum tarekat masa sekarang. Dan kecenderungan merumuskan ajaran Islam sebagai suprastruktur terhadap semua faham dan tata kehidupan yang ada. Munculnya sederetan teori-teori Islam diberbagai bidang, dari masalah ekonomi hingga teknologi, merupakan tindakan susulah (follow up) logis dari kecenderungan tersebut diatas. Kedua : upaya adaptasi ajaran islam kepada kenyataan hidup, dengan upaya menyelaraskan ajaran Islam dengan realitas-realitas, memandang ajaran Islam sebagai sumber inspirasional untuk menyusun pandangan baru dibidang yang bermacam-macam. Tahap selanjutnya kesadaran seperti itu akan membawa kepada sikap untuk merumuskan kembali nilai-nilai ajaran Islam tentang berbagai masalah dasar yang dihadapi umat manusia, seperti kemiskinan, kebodohan, ketidak-adilan, keterbelakangan dan seterusnya. Kebutuhan menimbulkan jawaban institusional-struktural atas masalah-masalah dasar tersebut akan membawa kepada kebutuhan membuat rumusan lebih jauh tentang tempat manusia dalam kehidupan. Ajaran Islam dengan demikian menjadi sumber inspirasional dalam arti yang lebih besar, yaitu bagi penyusunan kerangka kemasyarakatan (society frameworks) yang dibutuhkan manusia untuk memecahkan masalah-masalah dasar yang dihadapinya.
Diakui atau tidak, memang agama dan moralitas peserta didik kita melemah. Diduga, siswa terpengaruh dunia lain yang memuja kebebasan. Untuk itu, sebagai bahan renungan bahwa pendidikan tidak saja mengandalkan pembelajaran di sekolah. Tapi harus terintegrasi pada keluarga, lingkungan, dan sekolah. Keluarga wajar bila berkoordinasi dengan sekolah untuk mengetahui perkembangan anaknya. Sebaliknya, sekolah wajib meminta laporan kepada wali siswa untuk mengetahui perilaku anak di tengah keluarga dan lingkungan sekitarnya. Dengan demikian siswa tidak lepas kontrol, dan tidak mengambil jalan pintas dengan melakukan demoralisasi. Kata bijak mengatakan: “Masih ada waktu untuk memperbaiki mereka sebelum terlanjur tersesat.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: