Refleksi hari anak nasional PESAN UNTUK PARA ORANG TUA DAN PENDIDIK DALAM MELEJITKAN EQ ANAK

Ketika anak dibohongi, dia belajar menipu
Ketika anak diancam, dia belajar mengancam
Ketika anak dibohongi, dia belajar menipu
Ketika anak diberi, dia belajar memberi
Ketika anak dididik dalam kekerasan, dia belajar mengungkapkan kekerasan
Ketika anak dididik dalam cinta, dia belajar mencintai…

Langkah pertama untuk mengembangkan kesehatan emosional atau EQ anak adalah dengan mengajarinya bagaimana mengenali perasaan khususnya, dan dengan mengembangkan kecakapan bahasannya agar ia bisa mengekspresikan emosi-emosinya.
Anak tidak hanya diajari, misalnya; bagaimana mengatakan bahwa dirinya sedang marah atau sedih, tetapi juga diajari melukiskan secara detil perasaan marah atau sedihnya itu. Pembelajaran ini lebih penting lagi saat menghadapi emosi negatif, karena anak biasanya lebih cakap jika ia diminta mengekspresikan emosi negatifnya. Bisa saja anak belajar melukiskan perasaan dengan mengatakan bahwa ia merasa: “marah–terhukum–takut, pada sesuatu yang mungkin akan terjadi –tidak dihargai–dihina–bosan–ucapannya tidak didengar–atau banyak dikritik.”
Diperlukan kecakapan untuk mengungkapkan kosakata di atas, karena anak belum belajar bagaimana menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya, namun dengan syarat kosakata ini sampai ke telinga orang yang mampu mendengarkan dengan baik. Lebih dari itu, orang ini harus mampu memberikan respon yang baik terhadap ucapan anak.
Di saat kita mengajari anak bagaimana cara mengekresikan perasaannya, sebenarnya kita juga mengemban tanggung jawab terhadap kebutuhan emosinya. Di saat kita sedang mengajari anak bagaimana mengenali hakekat emosinya dan mengungkapkannya dalam kata-kata, maka sebenarnya kita sedang membekalinya kemampuan diri dalam beradaptasi dengan emosi dan hidupnya. Jika hal ini ditambah dengan penghormatan kita akan perasaan anak dan mengajari mereka untuk menghormati perasaan orang lain, maka masa depan anak akan lebih gemilang. Di mana ia mampu menyelesaikan semua masalah dan konflik secara damai, jauh dari kekerasan dan penggunaan kekuatan fisik.
Diantara sifat dasar yang membentuk EQ adalah kemampuan untuk menaruh simpati terhadap orang lain. Tugas kita menjaga agar perasaan simpati ini tetap ada pada diri anak, selain tentu saja mengembangkannya. Secara naluriah, anak cenderung lebih suka mencari teman daripada musuh. Kita tahu, kita mendapatkan teman dengan cara titik temu. Titik temu ini akan didapatkan jika ada kesepahaman dan perasaan simpati. Agar kita bisa memahami orang lain, kita tidak harus bertanya tentang apa yang terjadi, tetapi kita juga harus menanyakan perasaan dan sikapnya dalam menghadapi kejadian tersebut.
Pengalaman baik ini akan mengembangkan kemampuan anak dalam belajar. Anak yang tenang dan tenteram lebih mampu menyerap pelajaran daripada anak penakut atau gelisah.
Di sini, akan kita sebutkan beberapa faktor penting dalam hidup anak yang berkaitan dengan kesehatan dan keserdasan emosional.
Hukuman dan konsekuensi perbuatan
Dalam hal ini ada dua macam hukuman, yakni hukuman alamiah dan tidak alamiah. Hukuman alamiah adalah hukuman yang ditimbulkan karena melakukan perbuatan tertentu. Hukuman ini bersifat alamiah, muncul tanpa perencanaan. Anak yang memusuhi atau memukul seorang teman secara alamiah akan dijauhi teman-temannya karena perbuatannya itu. Konsekuensinya ia kini tidak memiliki teman. Inilah yang di sebut dengan konsekuensi alamiah. Adapun hukuman tidak alamiah, dapat berupa perintah untuk menulis. Misalnya, si anak diharuskan menulis, ”Aku Tidak Akan Memukul Temanku Lagi,” sebanyak 100 kali.
Hukuman dan Penerapan Disiplin
Seringkali orang tua dan guru salah dalam mengartikan kata ”disiplin.” Mereka bahkan mencampur aduk makna”disiplin” dengan ”hukuman”. Disiplin mempunyai banyak makna, namun tidak edentik dengan hukuman. Di antara kata-kata yang berada dalam cakupan makna disiplin adalah penguasaan, pembiasaan, pengaturan, pelatihan, ketepatan, ketaatan, kepatuhan dan lain-lain. Karena itu muncul pertanyaan, Apa yang kita maksud dengan ”disiplin” pada anak ?
Disiplin yang kita maksud adalah membiasakan anak dengan tradisi baik, seperti; mengetahui kewajibanya, tepat dan teliti dalam melaksanakan tugasnya, memiliki motivasi dari dalam dirinya, dan bertanggung jawab. Mengacu pada definisi ini, maka disiplin tidak identik dengan hukuman, mengendalikan atau menguasai anak. Yang dimaksud dengan disiplin bukanlah merendahlan atau menghinkan anak.
Sebelum kita menghukum anak, alangkah baiknya jika kita bertanya pada diri sendiri, ”apa yang saya inginkan dengan menghukum anak ?” Pertanyaan ini berarti; tindakan apa yang semestinya harus saya prioritaskan pada sang anak ? Apakah (dengan menghukumnya ) saya hanya menginginkannya menaati perintah saya ? Ataukah saya mengharapkan dirinya belajar, berkembang dan memiliki jiwa yang disiplin dalam menjalankan kewajibannya dengan meotivasi yang berasal dari dalam dirinya sendiri ?
Kemampuan kita dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan ini akan banyak membantu kita dalam menentukan tindakan yang paling tepat untuk anak. Jika tindakan kita tepat, anak pun akan merasa bahwa dirinya dihargai, sehingga ia pun menghargai jati dirinya. Jangan lupa, masa depan anak ditentukan pula oleh perasaannya ini !
Hati dan Simpati pada orang lain
Dengan membantu anak mengembangkan perasaan yang sehat dalam memandang orang lain, kita sesungguhnya telah banyak membantu anak itu sendiri, keluarga dan masyarakat. Cara pandang yang baik terhadap orang lain jangan sampai hanya dimotivasi oleh perasaan berdosa, malu, tertekan atau tidak aman.
Misalnya, seorang anak mengambil mainan temannya. Jika kita ingin meluruskan perilaku anak ini, kita tidak perlu mencela, membentak, atau marah kepadanya. Lebih baik kita bertanya kepadanya, ”Apa yang kau rasakan jika mainanmu diambil teman ?’ Lama kelamaan anak itu akan mampu mengambil kesimpulan sendiri. ”Ternyata tidak enak jika mainan saya diambil teman. Kalau saya mengambil mainan teman, mungkin ia juga merasa tidak senang.” Dengan cara ini, ia belajar mengenali emosi dan perasaannya sendiri, atau mendengar perasaan orang lain. Dengan cara ini pula ia mengembangkan perasaan simpati dan empati terhadap orang lain.
Seorang pendidik, baik dalam kapasitasnya sebagai ayah, ibu, atau guru, wajib melatih anak untuk mempertanggungjawabkan perbuatan, perilaku dan keputusannya. Jangan sampai anak melakukan sesuatu karena ”perintah” atau ”meniru” orang lain. Sebaliknya, ia harus tahu lebih dulu konsekuensi perbuatannya sebelum melaksanakannya, sehingga ia juga harus mampu mempertanggungjawabkannya dengan berani.
Takut dan Aman
Setiap orang membutuhkan rasa aman dan damai. Keamanan ini mencakup keamanan fisik dan jiwa, termasuk di dalamnya keamanan emosi. Anak yang tidak mendapatkan perasaan aman di waktu kecilnya, di saat ia dewasa akan menjadi sosok manusia yang gelisah, takut dan selalu merasa terancam. Setiap kali bertemu dengan orang lain, emosinya selalu tidak nyaman. Emosi negatif sang ayah akan berpengaruh pada anak-anaknya. Dengan demikian, selain takut pada perang dan ancaman bencana alam, sekarang anak-anak juga takut pada diri sendiri dan merasa emosinya tidak aman.
Sebagai solusi dari masalah ini, kita harus mengelola emosi kita terlibih dahulu, dengan cara mengenali perasaan takut kita, berani bertanggungjawab terhadap emosi kita sendiri, dan tidak membegankannya pada orang lain di sekitar kita.
Perasaan-perasaan Negatif
Di saat tubuh kita membutuhkan makanan, maka kita akan merasa lapar. Keadaan lapar ini mendorong kita untuk menyantap makanan. Setiap kali anak kecil dihinggapi perasaan negatif, maka hal ini menandakan adanya kebutuhan emosi tertentu yang belum dipenuhi. Ketika ia mengalami kegagalan, misalnya, maka kegagalan ini mendorongnya untuk berbuat sesuatu sebagai pelampiasan atas keinginannya yang tidak tercapai.
Menghormati orang lain
Seringkali orang dewasa menyuruh anak kecil untuk menghormati orang yang lebih tua. Namun, mereka lupa memberikan penghormatan pada si kecil. Seringkali anak kecil mentaati dan menghormati orang tuanya karena didorong oleh perasaan takaut kalau ia membantah.
Sikap saling menghormati (mutual respect) adalah masalah penting dan asasi bagi setiap masyarakat. Masyarakat akan tentram jika orang tuan maupun guru mengajarkan pada anak sikap saling menghormati. Sikap ini akan mendorong anak untuk saling menolong antar sesama anak dan orang tua.
Nilai dan perasaan
Ayah, ibu dan guru mengajarkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar hidup pada anak. Jika anak tidak berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang diajarkan ayah, ibu atau gurunya. Atau jika anak bebrbuat sesuatu yang bertentangan dengan apa yang mereka ajarkan, maka salah satu dari mereka akan ”gelisah” dan ”kecewa”.
Jika ibu melihat anak-anaknya bertengkar dan tidak mau saling hidup rukun, misalnya, maka mungkin ia bisa mengatakan; ”ibu sedih sekali jika melihat kalian bertengkar, dan tidak mau saling hidup rukun, padahal saling hidup rukun adalah penting dalam hidup ini.”
Kesimpulan
Kita harus mengubah pola perilaku kita terhadap anak kecil. Perubahan ini tidak akan terjadi dalam satu atau dua hari, tetapi membutuhkan latihan, praktik, dan waktu. Praktik ini akan menjadi semakin mudah seiring dengan berlakunya waktu.
Dalam banyak masyarakat dan generasi; tekanan, paksaan, pukulan, dan ancaman dijadikan sebagai metode mengajar. Sikap menghargai terhadap si kecil dan perasaannya kurang begitu ditekankan. Ini menyebabkan semakin bertambah kompleknya problem pendidikan, psikologis dan emosi. Akibat dari metode ini, dapat kita lihat pada perilaku pemuda dan masyarakat. Apa yang diusulkan dalam tulisan ini bisa dijadikan titik-tolak bagi upaya perubahan, agar kita bisa memimpikan hari esok yang baru bagi keluarga dan masyarakat kita, amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: