BULAN PEMBEBASAN SINDROM MIDAS

Siapa Midas itu ? Dia adalah seorang figur penguasa (Raja) dalam legenda Yunani Kuna, sosok seorang raja yang rakus, sangat bangga dengan jabatan yang dipeluknya. Dan yang paling menyolok adalah kesenangannya menumpuk kekayaan bagi diri dan keluarganya sekalipun harus mengurbankan kepentingan rakyatnya. Mayoritas rakyatnya benci pada Raja Midas, namun tidak memiliki nyali dan keberanian untuk melawannya. Jangankan melawan, mengritik secara terbuka pun tidak berani. Paling banter rakyat hanya berbisik-bisik di warung kopi atau membicarakannya dengan bahasa sindiran. Tiba-tiba, pada suatu hari, masyarakat heboh bersorak-sorai karena mendengar raja Midas menjadi gila gara-gara Sang Permaisuri mati dan berubah menjadi patung emas. Selidik punya selidik, rakyat akhirnya mengetahui apakah penyebab tragedi itu. Rupanya sang Raja yang telah kaya-raya yang tak tertandingi lagi di seantero negeri itu masih belum puas atas kemewahan, kemegahan serta jabatan yang dimilikinya. Maka bersemedi dan berdoalah raja Midas pada Sang Dewa, meminta agar tangannya dianugerahi kekuatan magis sehingga benda apapun yang disentuhnya berubah menjadi emas.
Begitulah, wangsit dari langit turun, mengisyaratkan bahwa permohonan Midas dikabulkan Sang Dewa. Maka tangan magic Raja Midas mulai menyentuh dan mengusap benda-benda di sekitarnya sambil mengucapkan mantera-mantera yang diterimanya. Disentuhlah bangunan rumah seisinya satu persatu sehingga berubahlah menjad istana emas. Tidak hanya rumah, pepohonan dan pagarpun disentuhnya sehingga semuanya menjadi emas. Dengan bangga, dipandanglah bangunan istana emasnya itu dan Raja Midas baru puas dan yakin setelah tak ada lagi orang lain di negerinya yang mampu menandingi kekayaannya.
Demikianlah, setelah puas memandangi istana emasnya yang amat megah dengan tamannya yang luas, raja Midas mulai merasa haus dan lapar. Dan, pasti bisa kita duga apa yang terjadi setelahnya, semua makanan dan minuman yang disentuhnya pun berubah menjadi emas. Maka tak terhindarkan lagi, raja Midas semakin merasa lapar, haus dan bingung sehingga sambil berteriak-teriak dicarilah Sang Permaisuri dan anak-anaknya yang kebetulan tengah pergi berlibur ke istana lain di luar kota. Begitu berjumpa dipeluknyalah Sang Permaisuri sambil menangis bagaikan anak kecil. Kebingungan raja Midas semakin menjadi-jadi, ketika mendapatkan kenyataan bahwa Sang Permaisurinya pun berubah menjadi patung emas akibat pelukannya. Dan sejak itu raja Midas berubah menjadi gila, mengundang cemoohan dan kasihan dari rakyatnya sendiri. (Komaruddin Hidayat; Paramadina, 1998).
Midas dalam perspektif modern bisa jadi diri kita sendiri. Atau mungkin benar-benar hanya sebuah legenda. Tetapi sebagai sebuah tipologi, mungkin saja melekat pada pada karakter Ferdinan Marcos atau Syah Reza Pahlewi atau mungkin Sadam Husein, yang hidup terlunta-lunta dan mengenaskan dalam menjalani hari-harinya setelah terjungkal dari kursi kekuasaannya sampai akhirnya ajal merenggut mereka. Sindrom raja Midas bisa menimpa siapa saja yang sangat bangga pada kekuasaan hanya untuk mengejar dan menumpuk kekayaan materi. Dalam skala yang kecil, sekali lagi, bisa saja karakter raja Midas itu bersemayam pada diri kita, hanya saja tidak sempat muncul dan teraktualisasikan ke permukaan secara mencolok karena tak ada fasilitas dan kesempatan untuk berkuasa. Dalam pada itu, sindrom raja Midas bisa juga diletakkan pada paradigma modernisme yang sangat menekankan pada ideologi developmentalisme dengan berbagai krisis ekologi dan kemanusiaan yang telah menyengsarakan rakyat banyak dan hanya menguntungkan pemilik kapital dan elite penguasa. Paradigma developmentalisme ini banyak dianut oleh negara-negara yang baru saja terbebas dari penjajahan dan kini tengah mencoba membenahi rumah tangga, bangsa dan negaranya dengan menjiplak model Barat, meskipun pengalaman negara-negara Barat tidak selalu cocok untuk bumi Afrika—Asia termasuk Indonesia. Negara-negara Barat yang lebih dahulu maju dan ingin mempertahankan hegemoninya belum tentu rela dan mendukung munculnya negara baru yang bisa menyaingi mereka. Dengan demikian, setiap proses modernisasi selalu menghadapi dua kendala dan tantangan sekaligus, yaitu: internal dan eksternal.
Pembangunan midasisme akan mengukur kemajuan sebuah bangsa atau rezim dengan tolok-ukur banyaknya gedung bertingkat, banyaknya jalan tol, gemebyarnya acara-acara kenegaraan yang bersifat seremonial dan tingkat stabilitas keamanan. Pendeknya, pembangunan akan dianggap berhasil kalau aspek ekonomi-material meningkat. Meskipun dimensi mentalitas dan kepribadian sebuah bangsa merosot, ruh budaya hilang tidak menjadi masalah, karena yang menjadi konsen mereka materi an sich. Padahal kita sebenarnya bisa belajar banyak dari sejarah pasang-surut bangsa-bangsa.
Inilah barangkali pentingnya kita sebagai bangsa untuk berintrospeksi, apakah sudah betul selama 64 tahun Indonesia merdeka ini, kita sudah pada rel yang benar sebagaimana lagu W.R. Supratman “bangunlah jiwanya bangunlah badannya”. Untuk itu dalam kitabnya Rawail Bayan Tafsir Ayat Al-Ahkam Min Al-Qur’an, Muhammad Ali As-Sabuni mengatakan bahwa sekurang-kurangnya ada 4 hikmah yang terkandung dalam ibadah puasa termasuk di dalamnya pondok kilat. Hikmah tersebut adalah; Pertama, merupakan sarana pendidikan bagi manusia agar tetap bertakwa kepada Allah Swt, membiasakan diri untuk patuh terhadap perintah-perintahNya dan menghambakan diri kepadaNya. Kedua, merupakan pendidikan bagi jiwa dan membiasakan untuk tetap sabar dan tahan terhadap segala penderitaan dalam menempuh dan melaksanakan perintah Allah. Puasa menjadikan orang dapat menahan diri dari atau tidak menuruti segala keinginan dan hawa nafsunya. Ketiga, merupakan sarana untuk menumbuhkan rasa kasih-sayang dan rasa persaudaraan terhadap orang lain, sehingga terdorong untuk membantu dan menyantuni orang-orang yang melarat dan tidak berkecukupan. Keempat, dapat menanamkan dalam diri manusia rasa takwa kepada Allah dengan senantiasa melaksanakan perintah-perintahnya, baik dalam keadaan terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, dan meninggalkan segala yang dilarangnya.
Raja Midas hanyalah tokoh dalam legenda yunani. Namun begitu setiap mitos ataupun legenda selalu hadir secara simbolik yang di dalamnya mengandung muatan makna, pesan, dan kritik yang tidak pernah mati dari zaman ke zaman. Sebagaimana dikatakan oleh Sardar, bisa saja Midas itu berupa hegemoni sains dan teknologi modern yang telah berkembang secara otonom sehingga menjadi Malin Kundang. Boleh jadi Midas itu menjelma bagaikan gurita birokrasi yang melilit kita. Mungkin saja banyak di antara kita sebagai orang tua yang berperangai persis raja Midas karena demikian otoriternya, sehingga kreativitas anak-anak tidak tumbuh berkembang. Orang tua sepertinya menganggap bahwa dengan uang maka kebahagiaan dan masa depan anak bisa diciptakan.
Dan dari semua itu mungkin yang lebih mendekati karakter raja Midas adalah jika kita menjadi penguasa yang serakah dan tiran. Tipe inilah yakng pernah dikhawatirkan oleh suku Namlah (semut) ketika raja Sulaiman hendak datang berkunjung. “Kawan-kawan, mari kita minggir dan bersembunyi karena raja Sulaiman akan datang. Jika tidak, pasti kalian akan mati terinjak-injak. Raja Sulaiman dan rombongannya pasti akan menguras kekayaan kita ini.” Begitu pesan pimpinan mereka.
Mengetahui bahwa rakyat (semut) curiga terhadap Sulaiman, maka begitu berjumpa, Sulaiman meyakinkan mereka bahwa dia adalah raja yang taat kepada Tuhan. “Aku adalah raja yang selalu melindungi rakyat dan menegakkan keadilan sebagai yang diperintahkan Tuhan kepadaku,” tegas Sulaiman. “Jika aku mabuk harta dan pangkat, “lanjutnya, “maka kemenangan dan kebahagiaan sejati akan hilang. Tapi jika aku berpihak pada kebaikan dan kebenarn Tuhan, maka harta dan pangkat akan datang dan sujud di hadapanku.”
Kebenaran, keadilan dan kebaikan suci tetap hidup meskipun kadangkala diinterupsi oleh kezaliman struktural maupun kultural akibat ulah raja Midas. Sejarah masih terus bergulir. Puluhan “Raja Midas” akan mudah dijumpai di mana-mana. Mungkin juga bertahta dalam diri Anda sendiri atau, tanpa sadar, Anda telah berubah menjadi patung. Wallahu a’lam..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: