MEMBACA WARNING PAK DE KARWO

Tapi, ingat ! Anak-anak yang didik cerdas itu akan rusak jika tidak disertai bekal moral, sopan-santun, dan agama yang baik. Kecerdasan tidak ada gunanya kalau tidak bermoral. Untuk itu, kepada guru, orang tua, dan masyarakat, mari kita bersama menjaga anak kita untuk tetap bermoral mulia, sopan-santun, dan beragama secara kuat. (Jawa Pos, 7-8-2009).
Itulah sepenggal sambutan Gubernur Jawa Timur Pak De Karwo ketika memperingati Hari Anak Nasional (HAN) Jawa Timur yang bertempat di WBL Lamongan.

Mengkritisi Krisis Moral
Sejarah mencatat bahwa revolusi Inggris tahun 1688, revolusi Amerika tahun 1776 dan revolusi Perancis tahun 1789 meruapakan rentetan peristiwa yang mendasari paham anti terokrasi. Peristiwa bersejarah ini memperlihatkan sesuatu yang sama sekali belum terpikirkan oleh para pemikir keagamaan, yaitu munculnya gerakan sistemik untuk memisahkan kehidupan manusia dengan Tuhan. Faham ini sejalan dengan pandangan Aristoteles yang menganggap agama terpisah dari sistem kehidupan manusia.
Apa yang terjadi kemudian bahwa, ke-Esa-an Tuhan tetap eksis pada diri etiap pemeluk agama, tetapi perintahnya tidak dipatuhi. Di lain pihak, kehancuran komunisme di Eropa, melemahnya totalitarianisme di belahan dunia Timur dan pertumbuhan nasionalisme autoritarian di selatan, memberi kontribusi lahirnya paham ekstrimisme dan fundamentalisme. Paham-paham ini ditafsirkan menjadi pemicu timbulnya gerakan ekstrimisme, terorisme, sadisme dan anarkisme. Di saat gerkn seperti ini mendunia seketika itu pula semua orang terperangah seolah terbangun dari tidur yang panjang. Para pemikir, pemuka agama, pendidik, birokrat dan pengusa terkejut menyaksikan menipisnya akhlak bangsa-bangsa di dunia seperti di Indonesia. Perisai itu ternyata sudah rapuh dan tidak kokoh lagi. Tekanan sosial, ekonomi, budaya dan politik yang dipicu oleh materislisme, liberalisme dan kekuasaan (hubbud dunya) menjadikan orang lupa posisinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Adil.
Analisa ini dilandasi berbagai fakator kongkrit dari sebuah perlakuan manusia itu sendiri. sekarang ini dengan mudah disaksikan betapa murahnya harga nyawa manusia dibanding dengan harga seekor kucing, kendati HAM konon katanya sangat dihargai. Fenomena ini merupakan perubahan nyata semakin lemahnya nilai moral manusia.

Sumber Krisis Moral
Permasalahan krisis moral yang timbul saat ini ternyata sangat kompleks. Sebuah bangsa yang sedang membangun untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju kerap menjadi sebuah sasaran dari sebuah perubahan. Kenyataan ini menimbulkan pertanyaan serta hipotesis, apakah perubahan yang sedang terjadi meruapakan peluang atau sebaliknya sebagai ancaman. Jika dihitung dari rentang waktu perjalanan sejarah, maka bangsa-bangsa di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia rata-rata telah mencapai setengah abad memperoleh kemerdekaan terlepas dari kekuasaan kolonial tentunya membawa implikasi terhadap sikap dan akhlak sebuah bangsa.
Tetapi yang terjadi malah di luar dugaan. Bangsa yang tidak terlibat dalam revolusi industri dan tertinggal jauh dari negara-negara di belahan utara ini malah sedang mengalami krisis moral. Krisis tersebut kini telah merasuk ke berbagai komponen masyarakat mulai dari politisi, birokrat, pendidik, pemikir, pengusaha, penguasa hingga rakyat miskin. Jika krisis ini terus berlangsung, maka ia akan membawa akibat terhadap stabilitas sosial, politik, ekonomi, dan ruang kehidupan. Krisis akhlak dan moral sama artinya dengan krisis akal manusia.
Pada hakikatnya, hal ini tidak boleh terjadi di sebuah bangsa yang sedang melakukan berbagai perubahan, perbaikan dan pembangunan berbagai sumber daya, termasuk sumber daya manusia. Menurut Emmanuel Levinas seorang filosof Perancis, bahwa krisis akhlak berasal dari ideologi, kemajuan dan liberalisme, sebagai paham kebebasan. Akibatnya timbul kemajuan yang melampui batas toleransi kontrol manusia seperti perlombaan senjata nuklir, terorisme, ancaman perang dunia serta ancaman konflik yang berkepanjangan bahkan bagi bangsa Indonesia ancaman tersebut telah menjadi sebuah kenyataan yang amat sukar terselesaikan. Krisis semacam ini bukan saja merusak persatuan dan keastuan, lebih dari itu adalah pengingkaran terhadap ajaran agama. Akhlak adalah kata kunci dari sebuah peradaban.
Krisis jangan di pandang hanya sebatas nasib buruk yang sedang menimpa tanpa berusaha menghentikannya. Sekarang ini semua orang sedang berhadapan dengan perubahan zaman yang secara radikal akan merubah sistem hidup manusia. Selain itu, agaknya perlu direnungkan sejenak, mengapa berbagai persoalan yang timbul belum dapat terselesaikan dengan baik. Agaknya semua pihak perlu mengevaluasi diri agar bangsa ini terlepas dari berbagai kemelut, konflik dan secepatnya keluar dari berbagai krisis. Bukankah kemerdekaan bangsa ini dimulai dari niat ikhlas untuk membangun sebuah bangsa yang makmur dan memiliki peradaban serta akhlak mulia menuju perasatuan dan kesatuan bangsa.
Secara umum dapat disampaikan bahwa sumber krisis dapat disampaikan bahwa sumber krisis moral itu dapat dilihat dari penyebab timbulnya, yaitu:
Pertama, krisis akhlak terjadi karena longgarnya pegangan agama yang menyebabkan haknya pengontrol diri dari dalam (self control). Kedua, krisis akhlak terjadi karena pembinaan moral yang dilakukan orang tua, sekolah dan masyarakat kurng efektif, ketiga, krisis akhlak terji disebabkan karena derasnya arus budaya hidup materislistik, hedonisme dan sekularisme dan Keempat, krisis akhlak terjadi karena belum adanya kemauan yang sungguh dari pemerintah.

Pendidikan Agama: mengatasi Krisis Akhlak
Krisis akhlak yang semula hanya menerpa sebagain kecil elite politik, kini telah menjalar kepada masyarakat luas, termasuk kalangan pelajar.
Menghadapi fenomena di atas, dewasa ini yang seringkali dijadikan tuduhan kambing hitam kemerosotan moral adalah dunia pendidikan. Dunia pendidikan memang sedang menghadapi ujian berat sekaligus tantangan, untuk mengatasi krisis tersebut. hal ini bis dimengerti karena pendidikan berada pada garda terdepan dalam menyiapkan sumberdaya manusia yang berkualitas, dan secara moral memang harus berbuat demikian. Para pemikir pendidikan menyerukan agar kecerdasan akal diikuti dengan kecerdasan moral, pendidikan agama dan pendidikan moral harus siap menghadapi tantangan global. Pendidikan harus memberikan kontribusi yang nyata dalam mewujudkan masayarkat yang semakin berbudaya.
Untuk mengatasi krisis akhlak itu, dapat dilakukan dengan berbagai cara dalam bidang pendidikan yaitu; Pertama, pendidikan akhlak itu dapat dilakukan denganmenetapkan pendidikan agama baik di rumah, sekolah maupun masyarakat. Kedua, dengan mengintegrasikan antara pendidikan dan pengajaran. Hampir semua pakar pendidikan sepakat bahwa pengajaran hanya berisikan pengalihan pengetahuan, ketrampilan dan yang ditujukan untuk mencerdaskan dan memberikan ketrampilan. Sedangkan pendidikan tertuju kepada upaya membantu kepribadian, sikap dan pola hidup yang berdasar pada nilai-nilai yang luhur. Pada setiap pengajran sesungguhnya terdapat pendidikan.
Ketiga, pendidikan akhlak harus didukung oleh kerjasama kelompok dan usaha yang sungguh-sungguh dari orang tua, sekolah dan masyarakat. Keempat, sekolah harus beruapaya menciptakan lingkungan yang bernuansa religius, seperti pembiasaan melaksanakan shalat berjamaah, menegakkan disiplin, memelihara kebersihan, ketertiban, kejujuran, tolong-menolong dan sebagainya sehingga nilai-nilai agama menjadi kebiasaan, tradisi dan budaya seluruh siswa, dan Kelima, pendidikan akhlak harus menggunakan seluruh kesempatan , berbagai sarana termasuk teknologi modern. Kesempatan berkreasi, pameran, kunjungan, berkemah, dan sebagainya harus dilihat sebagai peluang membina akhlak.

( Penulis adalah Pecinta Tafaqquh fiddin di Perguruan Matholi’ul Anwar Simo Lamongan)

CATATAN:
TULISAN INI PERNAH DIMUAT DI JAWA POS, RADAR BOJONEGORO, MINGGU, 9 AGUSTUS 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: