PONDOK KILAT Vs KETAHANAN BUDAYA

Tidak enjoy rasanya, kalau memasuki bulan Ramadlan sekolah-sekolah kita tidak menyemarakkan bulan yang suci ini, termasuk di dalamnya mengadakan pondok kilat. Apakah masih relevan kegiatan pondok kilatan tersebut ? Untuk menjawab persoalan ini memang tidaklah gampang, sebab Arief Budiman pernah mencuatkan sebuah hipotesis bahwa semakin ilmu berkembang semakin agama tidak berfungsi (Ayu Sutarto, 2004, 131). Hipotesis ini perlu dibaca dan dikaji ulang. Yang jelas, untuk sementara, kemenangan sistem ekonomi kapitalis dan hedonis telah menggeser peran agama dalam membentuk paras kebudayaan global. Apalagi ditambah proses sekularisasi yang terjadi pada masyarakat Barat modern sejak abad pencerahan telah mengurangi fungsi dan peran lembaga keagamaan. Selanjutnya dalam era kapitalisme global ini, virus sekuler terus menjalar ke berbagai belahan bumi karena didorong oleh semakin canggihnya teknologi informasi. Gejala paling akhir yang terlihat adalah di negara-negara besar seperti Amerika, agama diletakkan dalam ruang privat sehingga menjauhkan kehidupan pribadi dengan institusi atau kekuatan yang mengatasnamakan agama.

*********
Generasi platinum yang dimaksud adalah generasi yang gizi mereka berkualitas tinggi, hidup berkecukupan dan serba di protek. Itu sebabnya jiwa mereka menjadi ringkih, dan loyo melawan kerasnya tembok kehidupan. Dan anak-pun shock, ketika melihat realitas di luar rumah ternyata tidak seindah yang mereka bayangkan.
Anak yang dibesarkan dengan ilmu saja (explicit knowledge) hanya berhasil survive di melieu yang santun. Hanya aman bekerja di bisnis keluarga, berada di lingkungan familiar, dan yang jalannya mulus tak berliku. Tetapi menjadi panik dan gamang ketika di kelilingi oleh intrik dan penyakit hierarkiologic dalam bekerja. Ketika dunia luar rumah menghalalkan segala cara maka anak jebol ketahanan jiwanya. Demikian hasil penelitian dari Handrawan Nadesul.
Bukan Cuma itu saja. Sebab kita sebagai pendidik juga merasakan bahwa rata-rata anak didik kita juga bukan tergolong serba bisa. Skill for life mereka rendah. Mencuci baju-pun ia tak mampu, apalagi menyetrika dan mengerjakan semua kegiatan harian yang tidak ada pembelajarannya. Level pengetahuan, kebiasaan dan ketrampilan yang tidak ada di buku teksnya, rata-rata anak kita sangat rendah sekali.

*********

Istilah Tacit knowledge diperkenalkan oleh ilmuan sekaligus filosof Machael Polanyi. Bentuk pengetahuan yang tersembunyi, tidak ada di buku, tak mudah ditransformasikan, selain hanya terpetik dari pengalaman karena sudah melakoninya sendiri. sejenis kemampuan memanah dan memancing kepiting, dan jangan lupa termasuk menjalankan puasa Ramadlan.
Tentu saja jenis pengetahuan ini sukar diukur dan dikodifikasikan. Ia merupakan bentuk-bentuk kebiasaan, ketrampilan dan kultur yang melebihi dari yang bisa diungkapkan. Tak ada di buku teks, bagaimana caranya naik sepeda ontel selain pengalaman setelah melakoninya sendiri.
Disinilah mayoritas kekurangan anak didik kita, mereka tak memiliki kemampuan yang tidak diberikan di sekolah. Ia tidak bisa menjahit (Jawa; dondom) kancing baju yang copot –padahal ini hal sepele–, menyalakan kompor atau menceplok telur. Ia juga tak berani menjadi berbeda (lateral thinking).
Sebenarnya banyak sekali ragam pengetahuan dan skill di ranah yang tersembunyi di balik kecerdasan formal yang tidak dikembangkan di sekolah. Padahal besar manfaatnya buat kehidupan mereka kelak. Ini tak cukup dengan hanya membuka cakrawala wawasan di luar ilmu yang sekolah berikan. Tetapi anak harus melakoninya sendiri sampai bisa.
Tacit knowledge merupakan sesuatu yang sukar dijabarkan dan dipelajarkan. Namun, disinilah nilai tinggi bagi yang memilikinya. Anak di desa-desa (tempo doeloe) belajar berenang sendiri di sungai, tanpa baca buku atau kadang ada teman sebayanya yang dengan suka rela mengajarkannya. Atau contohlah Suku Dayak yang melepas anak mereka di hutan, agar mereka terampil membela diri dan cekatan berburu. Tanpa itu hidup mereka tak semulus yang dilakoninya.
Kini tacit knowledge dinilai sangat penting karena di situlah kekayaan human capital akan diperoleh seorang pelajar.
Untuk melahirkan anak yang bukan hanya cerdas secara akademis, maka metodologi pendidikan yang jumud sudah seharusnya diinovasi. Bahkan kalau perlu, seluruh ilmu mendidik yang mutakhir seyognyanya diadopsi. Quantum learning dan lateral thinking dimanfaatkan termasuk neurolinguistic programming.
Kenapa metodologi pendidikan perlu direformasi ? Sebab perubahan zaman sekarang ini begitu cepat dan tiba-tiba, bukan lagi dalam hitungan tahun tetapi dalam hitungan hari, jam dan bahkan mungkin detik. Kota-kota telah berubah wajah menjadi desa buana (global village). Artinya, nyaris tiada satu kotapun dibelahan bumi ini, yang secara politik, ekonomi dan budaya terbebas dari pengaruh globalisasi dan dari jangkauan produk-produk budaya yang di import dari negara-negara maju. Selera hidup warga masyarakat, terutama masyarakat tradisional yang hidup di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, mengalami pergeseran yang sangat mengkhawatirkan.
Pergeseran nilai dan budaya
Pergeseran nilai dan budaya yang sangat mengkhawatirkan akhir-akhir ini dapat kita lihat dengan sangat jelas. Karena memang sudah menggejala di sekitar kita, yang antara lain ditandai; 1) Nilai moral lebih murah daripada nilai materi; 2) Tuhan terasa jauh dan uang terasa dekat; 3) Produk-produk budaya asing lebih digandrungi daripada produk-produk budaya sendiri; 4) Kepentingan agama, politik, dan ekonomi dicampuradukkan, sehingga batas-batasnya menjadi tidak jelas; 5) Budaya kekerasan sering digunakan sebagai pembenar untuk menyelesaikan pelbagai persoalan dalam masyarakat.
Mengacu kepada gejala-gejala negatif yang dikemukakan di atas, maka dapat diasumsikan bahwa sekarang ini sensibilitas agama dan budaya masyarakat (baca; pelajar) kita semakin melemah. Artinya nafsu amarah kita lebih dominan mempengaruhi kehidupan dibanding ketulusan religius dan keberadaban kita. Surga yang dijanjikan agama di alam akhirat nanti terkesan kurang menarik dibanding surga yang dapat diperoleh di dunia hari ini. Akibatnya, gaya hidup mudah berubah, cara berpikir sering berubah, pandangan hidup (way of life) berubah, sopan-santun berubah bahkan idiologipun juga sering berubah. Dari sini dapat diketahui bahwa kita ini sebagai bangsa yang dikenal sangat relegius, ternyata tidak lagi memiliki ketahanan budaya yang kokoh dan handal.
Disinilah letak pentingnya pondok kilat sebagai ujung tombak dan rujukan untuk menggali dan memanfaatkan produk-produk budaya Islam yang konstruktif dan bernilai. Melalui penggalian kembali produk-produk budaya islami, kita akan dapat membangun lagi ketahanan budaya yang telah compang-camping akibat kelalaian kita dalam memeliharanya dan juga akibat desakan dari budaya hedonis yang kian hari kian menguat dan menggurita. Dengan membangun budaya islami, bangsa ini diharapkan akan mampu mempertahankan identitas budayanya dan merespons berbagai gejala global untuk kepentingan eksisitensinya. Tanpa upaya yang sungguh-sungguh dan berkesinambungan, kita benar-benar akan menjadi mangsa budaya besar dan membuat kita sebagai bangsa yang lumpuh budaya.
Suka atau tidak, sekarang ini kita sudah masuk dalam perangkap kapitalisme global. Kapitalisme telah berhasil mengubah dan bahkan mengatur perilaku sosial, politik dan budaya kita. Padahal kapitalisme yang dijadikan rujukan dalam kehidupan tidak menyediakan sistem nilai yang pasti. Tata nilai yang selama ini ditawarkan kapitalisme adalah tata nilai yang bertumpu pada pilihan untung-rugi. Kehidupan yang dilandasi oleh konsumerisme tidak akan menumbuhkan pilihan dan keputusan yang benar-benar bebas dan tulus karena setiap pilihan dan keputusan selalu mengacu kepada standar nilai untung-rugi, dan alasan-alasan serba duniawi.

*********
Untuk sementara agama dan budaya terkesan telah mati kutu (kalau tidak boleh dikatakan gagal) menjawab tantangan dan kebutuhan zaman. Meskipun demikian, bagi sebagian orang, termasuk diri kita, agama dan budaya masih merupakan pilihan yang belum tergantikan untuk menata kehidupan yang berakhlak dan beradab. Artinya, kita masih berharap banyak dari peran dan manfaat yang diemban agama dan budaya. Menurut Kung sebagaimana dikutip Halim (2002, 135-136) dikatakan bahwa beberapa kriteria yang harus disandang agama dalam era globalisasi; Pertama, agama harus kembali kepada konsepsi teologis yang benar, bukan sebaliknya menjadi teologi yang konformis atau oportunis; Kedua, agama harus dikembangkan sebagai teologi yang bebas dan kritis; dan Ketiga, agama tidak membatasi diri untuk melayani sebagian umat, melainkan menjadi penerang jalan seluruh umat manusia. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: