SUNAN DRAJAT dan KEARIFAN LOKAL

Sunan Drajat terkenal akan kearifan dan kedermawannya. Ia menurunkan kepada para pengikutnya (baca; santri) sebuah kaidah untuk tidak saling menyakiti, baik melalui perkataan maupun perbuatan. Bapang den simpangi, ana catur mungkur, demikian petuahnya. Maksud petuah itu adalah jangan mendengarkan pembicaraan yang menjelek-jelekan orang lain, dan menghindari perbuatan yang bisa mencelakai orang lain.
Sunan memperkenalkan Islam melalui konsep dakwah bil hikmah, dengan cara-cara bijak, tanpa memaksa. Dalam menyampaikan ajarannya, Sunan menempuh lima (5) cara: Pertama, lewat pengajian secara langsung di masjid atau langgar. Kedua, melalui penyelenggaraan pendidikan di pesantren. Melalui pesantren itulah dia memberi fatwa, petuah dan kajian-kajian yang membahas berbagai problem yang melilit ummat.
Cara ketiga, melalui kesenian tradisional. Sunan Drajat kerap berdakwah lewat tembang Pangkur dengan iringan gamelan. Ia juga menyampaikan ajaran agama melalui ritual adat tradisional, sepanjang ritual tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Cara keempat, adalah dengan suri tauladan yang baik. Ia merupakan contoh yang sangat baik untuk anak yang berbakti dan taat kepada orang tua. Sunan memiliki sifat mikul duwur mendem jero yakni menjunjung derajat orang tua, masyarakat dan negara baik-baik, menyembunyikan aib dalam-dalam, dan mengangkat nama baik keluarga.
Bahkan ada ajaran Sunan yang selalu relevan dan evergreen yakni; wenehono teken marang wong kang wuto; wenehono pangan marang wong kang luweh; wenehono busono marang wong kang wudo; wenehono payung marang wong kang kudanan. (KH. Abd. Ghofur, Pengasuh Sunan Drajat, 2008).
Artinya; berilah tongkat pada orang yang buta; berilah makanan pada orang yang lapar; berilah pakaian pada orang yang telanjang dan berilah tempat berteduh bagi orang yang kehujanan.
Dalam konteks kekinian, ajaran ini bisa bermakna sebagai berikut; berilah petunjuk pada orang-orang yang bodoh, baik bodoh pada aspek skill maupun keilmuan lainnya; sejahterakan rakyat yang miskin, yang katanya di Indonesia tidak kurang dari 40 juta warga miskin; ajarkan budi pekerti pada orang yang belum tahu etika atau belum beradab dan berikanlah perlindungan pada orang-orang yang menderita atau ditimpa bencana.
Ajaran ini sangat supel. Siapapun dapat mengamalkan sesuai dengan tingkat dan kemampuan masing-masing. Dan yang kelima, adalah ajaran kesantunan. Diantaranya seperti berikut ini: wong urip kudu ngupaya boga; tuking boga saking nyambut karya; sregep makarya bisa gawe mulya tumraping kulawarga; tumrap wong sesomahan kudu amongsih; kulawarga kang apik lamun padha rukun lan darbe panjangka; amrih rahayuning jagad; sing sapa seneng urip tetanggan kelebu janma linuwih; tangga iku perlu dicedhaki nanging aja ditresnani.( M. Hariwijaya, 2006).
Artinya; orang hidup harus mencari nafkah; nafkah ada kalau bekerja; rajin bekerja dapat membuat kemuliaan keluarga; orang berumah tangga harus cinta-mencintai; keluarga yang baik selalu rukun, bersatu dan mencita-citakan kebahagiaan dunia; barangsiapa suka hidup bertetangga itu tergolong manusia yang arif; tetangga itu perlu didekati akan tetapi jangan dicintai.
Sunan juga sangat memperhatikan masyarakatnya. Ia kerap berjalan mengitari perkampungan masyarakatnya, khususnya pada malam hari. Sehingga penduduk merasa aman dan terlindungi dari gangguan makhluk halus yang konon merajalela sebelum dan pasca pembukaan hutan.
Demikian pula ketika usai melaksanakan shalat Ashar, Sunan juga berkeliling kampung sambil berzikir. Ia juga dengan telaten mengingatkan penduduk agar melaksanakan shalat Maghrib berjamaah.
“Berhentilah bekerja, jangan lupa shalat, demikian seruannya kepada warga yang dijumpainya. Ia juga menjenguk warga yang sakit, dan mengobatinya dengan menggunakan ramuan tradisional dan do’a.
Jika kita renungkan dari membaca jejak kanjeng Sunan ini, kita diingatkan akan firman Allah ; “Orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi, yang mereka dapatkan namanya tercantum di sisi mereka dalam Taurat dan Injil, yang memerintahkan yang ma’ruf, melarang hal yang munkar, menghalalkan at-Tayyibah, dan mengharamkan al-Khabaits, melepaskan dari mereka beban dan belenggu-belenggu mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya yang mendukungnya, yang menolongnya dan yang mengikuti cahaya yang diturunkan besertanya, orang-orang itulah yang berbahagia (QS, 7:157).
Di dalam ayat di atas, menurut para pakar tafsir ada 3 tugas para Rasul dan pengikut-pengikutnya. Tugas pertama ialah menyuruh yang ma’ruf dan melarang yang munkar. Hal ini berarti memperingatkan dan membetulkan orang yang berbuat munkar, dan mengajak orang beramal saleh. Tugas kedua ialah menerangkan tentang yang halal dan yang haram. Hal ini berarti menjelaskan syariat yang diturunkan oleh Allah Swt. Dan tugas ketiga –yang sering dilupakan orang, temasuk para ulama, maaf—ialah melepaskan manusia dari belenggu yang menindih kuduk mereka.
Banyak orang mengira, bahwa dakwah sudah berakhir setelah khutbah di masjid, setelah menyuruh orang berbuat baik, setelah melarang yang munkar, dan setelah menerangkan hukum taharah, junub, bab rukuk atau sujud.
Selama ini, pengajian-pengajian dianggap sudah berhasil, kalau masjid penuh dengan pengunjung, kalau sudah banyak orang membaca al-Qur’an, kalau MTQ sudah bertebaran ke seluruh kampung dan penjuru desa. Apalagi katanya, dengan dana dan biaya milyaran rupiah dihamburkan. Padahal pada saat yang sama, di gubuk-gubuk reyot, gelandangan merintih. Atau di tempat-tempat lain, banyak orang Islam tidak bisa melanjutkan sekolah karena tidak punya biaya. Sementara itu juga, tidak sedikit para wanita yang terpaksa ‘mengorbankan’ kehormatannya untuk memelihara selembar nyawa yang dimilikinya. Dalam kerangka inilah kita berbicara tentang pentingnya pembebasan para mustadh’afin (kaum lemah).
Islam, oleh banyak penulis sejarah, bukan saja dianggap sebagai agama baru, melainkan juga liberating force (suatu kekuatan pembebasan umat manusia). Segi inilah yang menyebabkan Islam, dahulu, begitu cepat menyebar di Indonesia. Padahal pada waktu itu masyarakat Indonesia ditindas oleh sekelompok kaum raja dan feodal. Pada waktu itu, rakyat harus membayar upeti kepada raja-raja, bahkan harus membanting tulang bagi mereka. Islam datang, melalui daerah-daerah pantai, mengajarkan persamaan dan pembebasan. Lalu orang-orang pun berpaling kepada agama baru ini. Di India, karena alasan itu juga, diberitakan bahwa ribuan, bahkan jutaan, kelompok Harijan –suatu kelompok outcast yang terasing dari kasta lainnya—berbondong-bondong masuk Islam. Hal ini sempat memusingkan Indira Gandhi dan tokoh-tokoh politik di India, sehingga terjadilah di sana pembunuhan besar-besaran terhadap kelompok Islam (Jalaludin Rakhmad, 1998).
Diakui atau tidak, memang sejak krisis yang menerpa Indonesia sejak tahun 1998 menjadikan deretan orang yang kesulitan hidup semakin fantastik angkanya. Kesulitan hidup terjadi bila kebutuhan pokok (basic needs) tidak terpenuhi. Bila ada sejumlah orang yang kelaparan dan ada segelintir orang yang hidup mewah, maka yang lapar boleh menuntut haknya dengan paksa. Ketika menafsirkan ayat :” Jika salah satu diantara kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah (Q.S. Al-Hujurat :9 ). Ibnu Hazm menyatakan bahwa orang lapar boleh menggunakan paksaan untuk meminta haknya dari orang kaya dan menyerangnya jika orang kaya itu menahan haknya. “Bila penyerang itu terbunuh, maka pembunuhnya harus membayar denda, dan jika ia berhasil membunuh orang yang diserang, yang terserang itu terkutuk dan mendapat laknat Allah karena ia tidak memenuhi hak orang lapar dan ia termasuk orang yang berbuat aniaya seperti dimaksud dalam ayat ini.”
Ibnu Hazm mungkin agak “ekstrem.” Tetapi ia berpijak pada satu asumsi bahwa kemiskinan hanya dapat diatasi dengan kesediaan orang kaya memberikan hak orang miskin yang diamanatkan oleh Allah kepadanya. “Dan nafkahlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya (Q.S Al-Hadid;7). Bahwa kemiskinan dan keterbelakangan adalah tanggung jawab kita bersama ditegaskan berulangkali, baik dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah, sebagian diantaranya : Pertama, menolong dan membela yang lemah, mustadh’afin adalah tanda-tanda orang taqwa (lihat QS. 2;197 atau 3;134 dan lain-lain). Kedua, mengabaikan nasib mustadh’afin, acuh tak acuh terhadap mereka, enggan memberikan pertolongan, akan menyebabkan ia menjadi pendusta agama dan salatnya akan membawa kecelakaan (QS. Al-Maun). Dan ketiga, membela nasib mustadh’afin merupakan amal utama yang mendapat pahala yang lebih besar daripada ibadah-ibadah sunnah. “Orang-orang yang bekerja keras untuk membantu janda dan orang miskin adalah seperti pejuang di jalan Allah atau (aku kira ia berkata) seperti yang terus-menerus salat malam atau terus-menerus puasa. (HR. Muslim ).
Sebagai kata akhir, bahwa yang diperlukan umat Islam kini bukan sekedar data yang kongkret. Atau bahwa kemiskinan adalah bencana sosial yang kini mengancam eksistensi umat Islam. Tetapi yang lebih mendesak adalah bisa mengaplikasikan pesan-pesan kanjeng sunan dalam kehidupan nyata. Semoga.

(Catatan; tulisan ini pernah dimuat di jawa pos radar bojonegoro, minggu, 6 September 2009)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: