MUDIK LEBARAN; Simbol Reintegrasi

Lebaran memang sebuah momentum di mana emosi kesenangan dibolehkan untuk diekspresikan dan ditolelir. Sepanjang emosi seperti itu secara langsung berhubungan dengan hakekat lebaran itu sendiri.
Dalam proses ritual perayaan lebaran, hubungan yang kuat antara patron unggul dan client muncul dengan jelas bersama ketundukan dasar antara keduanya. Pada hari ini pranata kehidupan sehari-hari yang menonjol menjadi runtuh untuk sementara waktu. Bahkan antara yang ‘in the have’ dan dhaif terkesan tidak berjarak.
Diakui atau tidak, ramadhan memang bulan untuk memajukan jiwa kehidupan masyarakat. Ia ditandai dengan rasa kebersamaan di antara anggota masyarakat. Apalagi dalam kehidupannya, manusia mempunyai banyak kebutuhan yang secara garis besarnya menurut Abraham Maslow dapat dikelompokkan pada lima kebutuhan pokok, yaitu; (a) kebutuhan fa’ali (makan, minum dan hubungan seksual);(b) kebutuhan akan ketenteraman dan keamanan;(c) kebutuhan akan keterikatan pada kelompok;(d) kebutuhan akan rasa penghormatan; dan (e) kebutuhan akan pencapaian cita-cita (aktualisasi).
Kebutuhan kedua tidak akan mendesaknya sebelum kebutuhan pertama terpenuhi. Bahkan seseorang dapat mengorbankan kebutuhan berikutnya, bila kebutuhan sebelumnya belum terpenuhi. Sebaliknya, seseorang yang mampu mengendalikan dirinya dalam kebutuhan pertama, akan dengan mudah mengendalikan kebutuhan-kebutuhannya yang berada pada posisi berikutnya.
Dalam berpuasa, dari segi hukum, seseorang berkewajiban mengendalikan dirinya berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan fa’ali tersebut dalam jangka waktu tertentu. Ketika berpuasa, yang bersangkutan juga sekaligus berusaha mengembangkan potensinya agar mampu membentuk dirinya sesuai dengan “peta” Tuhan dengan jalan mencontoh Tuhan dalam sifat-sifatnya. Dan karena itu, Rasul Saw dawuh; “Berakhlaklah (bersifatlah) kamu sekalian dengan sifat-sifat Tuhan.”
Kalau ditinjau dari segi hukum puasa, maka sifat Tuhan yang diusahakan untuk diteladani oleh yang berpuasa adalah: (1) bahwa Dia (Tuhan) memberi makan dan tidak (diberi) makan (QS 6;14); dan (2) Dia (Tuhan) tidak memiliki teman wanita (istri) (QS 6:101).
Kedua hal tersebut terpilih untuk diteladani karena keduanya merupakan kebutuhan fa’ali manusia yang terpenting. Keberhasilan dalam pengendaliannya mengantar kepada kesuksesan pengendalian kebutuhan-kebutuhan lainnya.
Namun seperti yang dijelaskan oleh Kanjeng Rasul, bahwa rasa lapar dan dahaga bukan tujuan puasa. “Sekian banyak orang-orang yang berpuasa yang yang tidak memperoleh hasil dari puasanya kecuali lapar dan dahaga,” demikian sabda Nabi.
Hal ini disebabkan karena yang bersangkutan tidak menghayati tujuan puasa yang sebenarnya, yaitu meneladani Tuhan dalam sifat-sifatNya yang berjumlah Sembilan puluh Sembilan itu. Sifat “Maha Pengampun” dan “Maha Pemaaf”, misalnya harus diteladani. Ini pulalah sebabnya mengapa dalam berpuasa agama menganjurkan agar kita banyak membaca do’a yang intinya menyebut-nyebut sifat Tuhan tersebut. Agar ia berkesan di dalam hati, sehingga kita pun memberi maaf kepada orang lain.
Demikian pula dengan sifat “Rahman” (Maha Pengasih) dan “Rahim” (Maha Penyayang). Sifat-sifat ini dituntut pula untuk diteladani sehingga rahmat dan kasih-sayang tadi terasa bagi seluruh makhluk Tuhan.
Seseorang yang berusaha meneladani Tuhan dalam sifat-sifatNya, digambarkan oleh filosof muslim Ibn Sina sebagai berikut:
“Seseorang yang bebas dari ikatan raganya, dalam dirinya terdapat sesuatu yang tersembunyi, namun dari dirinya terdapat sesuatu yang nyata. Ia akan selalu gembira dan banyak tersenyum. Betapa tidak, karena hatinya telah dipenuhi kegembiraan sejak ia mengenalNya. Dimana-mana ia hanya melihat satu saja; melihat kebenaran, melihat Yang Maha Suci itu.
“Semua dianggapnya sama, karena memang semua sama. Semua makhluk Tuhan yang wajar mendaptkan rahmat, baik mereka taat maupun mereka yang bergelimang dosa. Ia tidak akan mengintip-intip kelemahan orang, tidak pula mencari kesalahannya. Ia tidak akan marah atau tersinggung, walaupun melihat yang mungkar sekalipun. Karena jiwanya selalu diliputi rahmat kasih-sayang. Dan karena ia memandang sirr Allah (rahasia Tuhan) terbentang di dalam kodratNya.
“Apabila ia mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mengajak dengan lemah-lembut, tidak akan dengan kekerasan dan tidak pula dengan kecaman atau kritik. Ia akan selalu menjadi dermawan. Betapa tidak, sedangkan cintanya kepada benda tidak berbekas lagi. Ia akan selalu pemaaf. Betapa tidak, karena dadanya demikian lapang, sehingga mampu menampung segala kesalahan orang. Ia tidak akan mendendam. Betapa tidak, karena seluruh ingatannya hanya tertuju kepada Yang Satu itu (Allah Swt). Selamat mudik lebaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: