ARUS BALIK SEBAGAI KAMBING HITAM

Apa yang ditulis oleh Muhammad Muhibbudin pada opini Jawa Pos (23/9/2009) menarik untuk dicermati. Memang tidak dipungkiri bahwa arus balik ternyata juga membawa dampak-dampak yang bersifat negatif. Apalagi hampir mustahil pemerintah bisa mencegah problem sosial politik ini. Tapi barangkali ada baiknya kita menghidupkan kembali ghirah hidup wiraswasta. Sebab berwiraswasta mempunyai pengertian keberanian, keutamaan serta keperkasaan dalam memenuhi kebutuhan serta memecahkan permasalahan hidup dengan kekuatan yang ada pada diri sendiri. Dengan demikian, wiraswasta bukan hanya sekedar usaha partikelir atau kerja sambilan di luar dinas negara, melainkan sifat-sifat keberanian, keutamaan, keuletan dan ketabahan seseorang dalam usaha memajukan prestasi kekaryaan, baik di bidang tugas kenegaraan maupun institusi lainya dengan menggunakan kekuatan diri sendiri. Ini tidak berarti, bahwa orang wiraswasta mesti selalu berkarya sendirian tanpa partisipasi orang lain.

Ciri-ciri Manusia Wiraswasta
Secara umum dapat dikatakan, bahwa manusia wiraswasta adalah orang yang memiliki potensi untuk berprestasi. Dalam kondisi dan situasi yang bagaimanapun, manusia wiraswasta mampu menolong dirinya sendiri, khususnya di dalam mengatasi permasalahan hidupnya. Dengan kekuatan yang ada pada dirinya, manusia wiraswasta mampu berusaha untuk memenuhi setiap kebutuhan hidupnya. Di samping itu, manusia wiraswasta juga mampu mengatasi kemiskinan, baik kemiskinan lahir maupun kemiskinan batin tanpa menunggu atau merengek pertolongan dari institusi negara.
Manusia wiraswasta juga tidak suka bergantung kepada pihak lain di alam sekitarnya. Bahkan dalam setiap usaha memajukan kehidupan diri serta keluarganya, manusia wiraswasta tidak rela hanya menunggu uluran tangan dari pemerintah atupun pihak lainya di dalam masyarakat. Manusia wiraswasta juga tidak suka bergantung kepada alam, semisal: cuaca panas, dingin dan hujan ataupun keadaan dan kondisi alam lainnya. Manusia wiraswasta tidak mudah menyerah kepada alam. Justru manusia wiraswasta selalu berupaya untuk survive dari tekanan alam atau jika perlu ia berusaha untuk ‘menundukkan’ alam, di mana ia hidup dan berpijak.
Kalau kita membayangkan sepintas lalu mengenai ciri manusia wiraswasta seperti yang dikemukakan di atas, untuk sementara kita dapat berguman: betapa hebatnya ! Bagaimana mungkin kualitas manusia seperti itu dapat dicapai, itu semua hanyalah bayangan ideal. Hal yang sebenarnya adalah tidak seperti yang kita bayangkan sedemikian itu. Namun bagaimanapun juga, kualitas manusia semacam itu dapat dipelajari. Setiap orang mempunyai kemungkinan yang sama untuk dapat mencapai kualitas manusia semacam itu. Tercapai dan tidaknya kualitas manusia wiraswasta ditentukan oleh hal belajar seseorang. Apabila seseorang memiliki kemauan, ketekunan dan keuletan dalam hal belajar, niscaya pintu akan terbuka lebar bagi orang itu untuk mencapai kualitas manusia wiraswasta. Di sinilah letak pentingnya pendidikan manusia wiraswasta.
Untuk mencapai atau memiliki kualitas manusia wiraswasta, seseorang harus memiliki kekuatan sebagai modal. Sedang untuk memiliki modal kekuatan ini, orang harus belajar. Sehingga padanya terdapat sumberdaya manusia. Sumberdaya manusia terkandung di dalam pribadinya. Besar tidaknya sumberdaya manusia itu bergantung pada kuat tidaknya pribadi manusia itu. Dari dalam pribadi yang kuat, tumbuhlah motivasi dan potensi untuk maju dan berprestasi. Sebaliknya, dari pribadi yang lemah terpancar benih-benih sikap dan pikiran yang kerdil, picik dan miskin.
Memang tidak semua orang bisa mengenali dirinya sendiri. Manusia cenderung lebih banyak memperhatikan perbuatan dan prestasi orang lain. Sehingga mayoritas manusia jarang men-survey dan menilai (muhasabah) terhadap dirinya sendiri. Inilah sebabnya mengapa dikatakan, bahwa tidak semua orang dapat mengenal dirinya sendiri. Orang yang mampu mengenal dirinya akan menyadari, bahwa ternyata di dalam dirinya terdapat kelemahan sekaligus kekuatan pribadi. Pribadi yang lemah dilandasi oleh jiwa yang pesimis, statis, tergantung dan masa bodoh. Sedangkan pribadi yang kuat dilandasi oleh jiwa yang optimis, dinamis dan kreatif. Terus bagaimanakah ciri-ciri pribadi yang tangguh itu ? Kita hendaknya tidak membiarkan diri kita untuk dikuasai oleh jiwa yang kerdil. Sebab orang yang membiarkan dirinya terkuasai oleh jiwa kerdilnya, maka ia akan memperoleh kehidupan yang kerdil pula. Oleh karena itu orang hendaknya selalu belajar, agar dirinya terkuasai jiwa besar, yakni penuh dengan sifat optimistis, dinamis dan kreatif.
Sebab persoalan maju dan tidaknya kehidupan manusia sangat tergantung pada manusianya sendiri. Apakah ia memperlengkapi diri mereka dengan jiwa besar ataukah dengan jiwa kerdilnya. Sebagai orang tua, kita tentunya tidak mengharapkan kehidupan anak dan cucu kita full dengan penderitaan dan kemiskinan, hanya akibat lengahnya kita. Demikian pula, apabila kita mengaku sebagai kaum muda yang sedang belajar, tentunya kita tidak akan membiarkan pribadi kita tergerogoti oleh jiwa yang picik dan kerdil.
Melihat sekilas ulasan di atas maka arus balik yang dikhawatirkan oleh saudara Muhibbin akan bisa dieleminer sekecil mungkin. Sebab ciri manusia wiraswasta adalah mereka yang memiliki kepribadian yang kuat dan kokoh. Ia juga memiliki ciri-ciri seperti; mimiliki moral yang tinggi, memiliki sikap mental berwiraswasta, memiliki kepekaan terhadap lingkungan dan memiliki ketrampilan hidup (lifeskill).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: