MUDIK KAMPUNG; Simbol Solidaritas

Setiap orang sebenarnya mempunyai fitrah. Fitrah secara cultural bisa kita lihat ketika momen lebaran. Dimana orang berbondong-bondong pada mudik kampung. Disisi lain, lebaran juga mengandung nilai kritik atas kebobrokan antara kerakusan dan kemiskinan. Bisa juga kita sebut ketimpangan modernitas sistem pasar yang kapitalistik. Sehingga kerinduan dan kecintaan manusia yang nota bene sebagai makhluk sosial, menjadikan tradisi mudik sebagai cermin kerinduan spiritual manusia antara nalar pribadi dan nalar sosial ada dalam satu ikatan lahiriah. Faktor inilah yang bisa melepaskan ego intelektualitas seseorang, bahkan kesalehan keagamaannya. Dari sini muncul sebuah pertanyaannya, apakah maraknya sponsor politik terhadap pemudik, akan mengurangi keistimewaan makna fitrah kemanusiaan ini?
Untung rugi memang bukan hanya ‘milik dunia’ bisnis, tetapi untung rugi dalam memberikan sponsor mudik, tentu menjadi kalkulasi internal yang terkait dengan pendapatan. Apa itu pendapat angka konsumen bertambah, atau pendapatan suara dalam pemilu.
Padahal disisi lain, sebenarnya beban dan resiko kematian dalam setiap hari raya idul fitri bukan hanya terjadi pada yang menjalankan idul fitri ansich. Akan tetapi juga bisa terjadi kepada siapa saja, karena infrasruktur transportasi kita masih buruk, sehingga banyak mengalami kecelakaan. Kenapa mereka masih berani ‘menantang maut’ ? Karena inilah hari kemenangan secara teologis.Hari raya fitrah merupakan kemenangan bagi orang yang menjalankan ibadah puasa, khususnya kemenangan kaum tertindas (proletar). Lebaran memang sebuah momentum dimana emosi kesenangan dibolehkan untuk diekspresikan dan ditolelir, sepanjang emosi seperti itu secara langsung berhubungan dengan hakekat lebaran itu sendiri. Lihatlah semangat mereka untuk mudik, sekalipun dengan penuh rasa was-was dan harapan selama perjalanan, hanya ada satu kata yang selalu diucapkan dalam hati mereka ”kita harus berlebaran mudik (pulang kampung) dan bertemu keluarga.” Rasa dag-dig-dug dan keringat tidak menyurutkan semangat mereka untuk bertemu keluarga dan kampung halamannya.
Memang dalam proses ritual perayaan lebaran, hubungan yang kuat antara patron unggul dan client muncul sangat jelas bersama dengan ketundukan dasar antara keduanya. Namun pada hari ini, pranata kehidupan sehari-hari yang menonjol menjadi runtuh untuk sementara waktu. Bahkan antara yang ‘in the have’ dan dhaif terkesan tidak berjarak.
Diakui atau tidak, ramadhan memang bulan untuk memajukan jiwa kehidupan masyarakat. Ia ditandai dengan rasa kebersamaan di antara anggota masyarakat. Apalagi dalam kehidupannya, manusia mempunyai banyak kebutuhan yang secara garis besarnya menurut Abraham Maslow dapat dikelompokkan pada lima kebutuhan pokok, yaitu; (a) kebutuhan fa’ali (makan, minum dan hubungan seksual);(b) kebutuhan akan ketenteraman dan keamanan;(c) kebutuhan akan keterikatan pada kelompok;(d) kebutuhan akan rasa penghormatan; dan (e) kebutuhan akan pencapaian cita-cita (aktualisasi).
Hirarki kebutuhan kedua misalnya, tidak akan mendesaknya sebelum kebutuhan pertama terpenuhi. Bahkan seseorang dapat mengorbankan kebutuhan berikutnya, bila kebutuhan sebelumnya belum terpenuhi. Sebaliknya, seseorang yang mampu mengendalikan dirinya dalam kebutuhan pertama, akan dengan mudah mengendalikan kebutuhan-kebutuhannya yang berada pada posisi berikutnya.
Dalam berpuasa, dari segi hukum, seseorang berkewajiban mengendalikan dirinya berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan fa’ali tersebut dalam jangka waktu tertentu. Ketika berpuasa, yang bersangkutan juga sekaligus berusaha mengembangkan potensinya agar mampu membentuk dirinya sesuai dengan “peta” Tuhan dengan jalan mencontoh Tuhan dalam sifat-sifatnya. Dan karena itu, Rasul Saw dawuh; “Berakhlaklah (bersifatlah) kamu sekalian dengan sifat-sifat Tuhan.”
Sehingga dalam pandangan Qurays Shihab, kalau ditinjau dari segi hukum puasa, maka sifat Tuhan yang diusahakan untuk diteladani oleh orang yang berpuasa adalah: (1) bahwa Dia (Tuhan) memberi makan dan tidak (diberi) makan (QS 6;14); dan (2) Dia (Tuhan) tidak memiliki teman wanita (istri) (QS 6:101).
Kedua hal tersebut terpilih untuk diteladani karena keduanya merupakan kebutuhan fa’ali manusia yang terpenting. Keberhasilan dalam pengendaliannya mengantar kepada kesuksesan pengendalian kebutuhan-kebutuhan lainnya.
Namun seperti yang dijelaskan oleh Kanjeng Rasul, bahwa rasa lapar dan dahaga bukan tujuan puasa. “Sekian banyak orang-orang yang berpuasa yang yang tidak memperoleh hasil dari puasanya kecuali lapar dan dahaga,” demikian sabda Nabi.
Hal ini disebabkan karena yang bersangkutan tidak menghayati tujuan puasa yang sebenarnya, yaitu meneladani Tuhan dalam sifat-sifatNya yang berjumlah sembilan puluh sembilan itu. Sifat “Maha Pengampun” dan “Maha Pemaaf”, misalnya harus diteladani. Ini pulalah sebabnya mengapa dalam berpuasa agama menganjurkan agar kita banyak membaca do’a yang intinya menyebut-nyebut sifat Tuhan tersebut. Agar ia berkesan di dalam hati, sehingga kita pun memberi maaf kepada orang lain.
Demikian pula dengan sifat “Rahman” (Maha Pengasih) dan “Rahim” (Maha Penyayang). Sifat-sifat ini dituntut pula untuk diteladani sehingga rahmat dan kasih-sayang tadi terasa bagi seluruh makhluk Tuhan.
Seseorang yang berusaha meneladani Tuhan dalam sifat-sifatNya, digambarkan oleh filosof muslim Ibn Sina sebagai berikut:
“Seseorang yang bebas dari ikatan raganya, dalam dirinya terdapat sesuatu yang tersembunyi, namun dari dirinya terdapat sesuatu yang nyata. Ia akan selalu gembira dan banyak tersenyum. Betapa tidak, karena hatinya telah dipenuhi kegembiraan sejak ia mengenalNya. Dimana-mana ia hanya melihat satu saja; melihat kebenaran, melihat Yang Maha Suci itu.
“Semua dianggapnya sama, karena memang semua sama. Semua makhluk Tuhan yang wajar mendapatkan rahmat, baik mereka taat maupun mereka yang bergelimang dosa. Ia tidak akan mengintip-intip kelemahan orang, tidak pula mencari kesalahannya. Ia tidak akan marah atau tersinggung, walaupun melihat yang mungkar sekalipun. Karena jiwanya selalu diliputi rahmat kasih-sayang. Dan karena ia memandang sirr Allah (rahasia Tuhan) terbentang di dalam kodratNya.
“Apabila ia mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mengajak dengan lemah-lembut, tidak akan dengan kekerasan dan tidak pula dengan kecaman atau kritik. Ia akan selalu menjadi dermawan. Betapa tidak, sedangkan cintanya kepada benda tidak berbekas lagi. Ia akan selalu pemaaf. Betapa tidak, karena dadanya demikian lapang, sehingga mampu menampung segala kesalahan orang. Ia tidak akan mendendam. Betapa tidak, karena seluruh ingatannya hanya tertuju kepada Yang Satu itu (Allah Swt).
Inilah momentum lebaran (idul fitri) yang telah memberikan motivasi jutaan warga kampung negeri Indonesia tercinta ini. Betapa tidak, mereka harus rela bekerja keras dan bahkan harus rela tidak bertemu keluarga siang dan malam. Sebab mereka punya asa, yakni pada puncak dari bulan ramadhan ini, bisa bersama-sama berlebaran, bisa bertemu sanak keluarga dengan penuh suka dan duka. Sekalipun setelah lebaran usai, kehidupan mereka kembali seperti sebelumnya. Kekerasan sosial, ekonomi, politik, dan keagamaan kembali terjadi. Mengapa begitu mudah manusia lupa akan nilai-nilai silaturahimnya, lupa akan fitrah jatidiri dan eksistensinya sebagai manusia (human being). Selamat mudik kampung dan minal aidin wal faizin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: