TAMYAMSANG: Hidup Segan Matipun Sungkan

Barangkali itulah gambaran nasib mega proyek di kawasan Semperat Sumberwudi Karanggeneng Lamongan. Apa sebenarnya yang salah dari proyek yang digagas oleh mantan Bupati R. Muhammad Faried, S.H tahun 90-an itu.
Proyek ini awalnya bertujuan meningkatkan kehidupan rakyat Lamongan yang sebagian besar menjadi petani tambak. Proyek ini sekaligus sebagai upaya terobosan ekstensifikasi maupun intensifikasi pertanian. Sebab menurut data statistik, awal tahun 1996 terdapat 16,320 Ha areal sawah tambak yang mampu menghasilkan ikan segar 25.000 ton per tahunnya.
Selanjutnya dari areal itu, agar mampu menghasilkan yang lebih banyak lagi maka perlu diupayakan pemanfaatan keadaan alam. Diantaranya adalah upaya penanaman pohon pisang yang selama ini ditanam di pematang tambak dengan asal-asalan, diubah dengan pisang yang berkualitas dan mempunyai nilai jual tinggi seperti pisang Cavendish. Selanjutnya karena di daerah Lamongan juga banyak terdapat ayam bukan ras (buras) atau ayam kampung maka perlu dibudidayakan dengan lebih professional lagi. Yakni dibuatkan kandang di atas tambak sehingga sisa pakan dan kotoran ayam yang jatuh ke air bisa menjadi santapan ikan yang ada di tambak seperti ikan bandeng, tawes, tombro, udang, serta nila merah.
Kala itu bahkan pemerintah propinsi Oita Jepang melalui Direktur Hubungan Luar Negeri Mr. Akiyoshi sangat tertarik dengan pemberdayaan ekonomi rakyat melalui pengembangan tiga komoditas yaitu tambak, ayam dan pisang (tamyangsang) yang dilakukan Pemda Lamongan ini.
Menurut Akiyoshi, proyek semacam ini sudah barangtentu merupakan proyek yang dapat mengangkat perekonomian daerah, sekaligus meningkatkan kesejahteraan rakyat setempat. Dia juga mengungkapkan pengalamanya tentang proyek semacam ini. Menurut Akiyoshi, propinsi Oita juga pernah mengembangkan proyek semacam ini, tetapi mengalami kegagalan, yaitu pembudidayaan tambak garam. Namun setelah diganti dengan pembudidayaan tambak udang akhirnya tercipta udang-udang yang berkualitas nomor 1 di Jepang. Untuk itu Akiyoshi mengajak Bupati Faried untuk menyiapkan para pemuda Lamongan agar dapat menimba ilmu di Jepang. Semua beasiswa ditanggung pemerintah Jepang.
Itulah barangkali sekelumit lika-liku sejarah kemegahan mega proyek Tamyamsang. Namun yang menjadi ganjalan publik sekarang adalah, kenapa pemerintah sekarang seolah-olah ‘menelantarkan’ proyek ini ? Padahal semestinya, pemerintah dalam hal ini Pemda Lamongan bisa berbuat lebih banyak. Sehingga kelanjutan pembangunan proyek ini tetap eksis (istiqomah) dan survive, ekonomi pemerintah dan rakyat juga tidak bangkrut tergilas roda pasar bebas serta dampak negatif globalisasai yang kian menggila ini.
Sebagai warga Lamongan, kita juga seyogyanya secara sadar harus mampu membangun sikap dan perilaku masyarakat, agar tak hanya menjadi objek dan korban globalisasi, tapi harus dapat berpastisipasi sebagai subjek serta pengendali teknologi informasi ini. Masyarakat juga harus kita gugah nurani dan perilakunya menjadi manusia-manusia yang aktif, kreatif dan produktif bukan malah pasif, apatis dan konsumtif. Mereka harus kita arahkan menjadi manusia-manusia yang cerdas, pintar, berbudi mulia dan memiliki wawasan dan semangat kebangsaan yang kukuh.
Memang menjadikan sebuah proyek agar tetap langgeng dan bermanfaat untuk masyarakat tidaklah gampang. Ini (baca; tamyamsang) adalah buktinya. Sekalipun pada start awalnya banyak di respon positif dari berbagai pihak termasuk kalangan perguruan tinggi, tetapi nasibnya kini ternyata kembang-kempis. Atau menggunakan pepatah melayu dengan sedikit diplesetkan yakni, “hidup segan matipun sungkan”.
Dari sini kita sebenarnya bisa belajar dari pengalaman pemerintah Jepang. Jepang sebagaimana yang kita akui bersama adalah bangsa yang hebat, tapi ternyata dia juga bisa terpeleset dan gagal. Namun bukan Jepang kalau tidak bisa segera bangkit. Sehingga menurut hemat kita. Sebuah mega proyek tentunya, disamping perlu persiapan infrastruktur yang matang, yang tidak kalah pentingnya adalah penyiapan SDM yang mumpuni. Dalam hal ini ada baiknya kita menghidupkan dan menumbuhkan kembali ruh jiwa berwiraswasta. Sebab berwiraswasta mempunyai pengertian keberanian, keutamaan serta keperkasaan dalam memenuhi kebutuhan serta memecahkan permasalahan hidup dengan kekuatan yang ada pada diri sendiri. Dengan demikian, wiraswasta bukan hanya sekedar usaha partikelir atau kerja sambilan di luar dinas negara, melainkan sifat-sifat keberanian, keutamaan, keuletan dan ketabahan seseorang dalam usaha memajukan prestasi kekaryaan, baik di bidang tugas kenegaraan maupun institusi lainya dengan menggunakan kekuatan diri sendiri. Ini tidak berarti, bahwa orang wiraswasta mesti selalu berkarya sendirian tanpa partisipasi orang lain.
Secara umum dapat dikatakan, bahwa manusia wiraswasta adalah orang yang memiliki potensi untuk berprestasi. Dalam kondisi dan situasi yang bagaimanapun, manusia wiraswasta mampu menolong dirinya sendiri, khususnya di dalam mengatasi permasalahan hidupnya. Dengan kekuatan yang ada pada dirinya, manusia wiraswasta mampu berusaha untuk memenuhi setiap kebutuhan hidupnya. Di samping itu, manusia wiraswasta juga mampu mengatasi kemiskinan, baik kemiskinan lahir maupun kemiskinan batin tanpa menunggu atau merengek pertolongan dari institusi negara.
Manusia wiraswasta juga tidak suka bergantung kepada pihak lain di alam sekitarnya. Bahkan dalam setiap usaha memajukan kehidupan diri serta keluarganya, manusia wiraswasta tidak rela hanya menunggu uluran tangan dari pemerintah atupun pihak lainya di dalam masyarakat. Manusia wiraswasta juga tidak suka bergantung kepada alam. Justru manusia wiraswasta selalu berupaya untuk survive dari tekanan alam atau jika perlu ia berusaha untuk ‘menundukkan’ alam, di mana ia hidup dan berpijak.
Dalam Pandangan Avin Fadilla Helmi-Rista Bintara Megasari ada empat faktor-faktor yang mempengaruhi karakteristik wiraswasta. Pertama, lingkungan keluarga dan masa kecil. Beberapa penelitian berusaha mengungkap mengenai pengaruh lingkungan keluarga terhadap pembentukan semangat berwirausaha. Ternyata bahwa anak urutan kelahiran pertama lebih memilih untuk berwirausaha. Namun, penelitian ini perlu dikaji lebih lanjut. Selanjutnya pengaruh pekerjaan orang tua terhadap pertumbuhan semangat kewirausahaan ternyata memiliki pengaruh yang signifikan. Kedua, pendidikan. Faktor pendidikan juga tak kalah memainkan penting dalam penumbuhan semangat kewirausahaan. Pendidikan tidak hanya mempengaruhi seseorang untuk melanjutkan usahanya namun juga membantu dalam mengatasi masalah dalam menjalankan usahanya. Ketiga, Nilai-nilai Personal. Nilai-nilai personal yang akan mewarnai usaha yang dikembangkan seorang wirausaha. Nilai personal akan membedakan dirinya dengan pengusaha lain terutama dalam menjalin hubungan dengan pelanggan, suplier, dan pihak-pihak lain, serta cara dalam mengatur organisasinya. Dan keempat, Pengalaman Kerja. Pengalaman kerja tidak sekedar menjadi salah satu hal yang menyebabkan seseorang untuk menjadi seorang entrepreneur. Pengalaman ketidakpuasan dalam bekerja juga turut menjadi salah satu pendorong dalam mengembangkan usaha baru.
Sebagai kata akhir, publik masih berharap bahwa mega proyek ini perlu dihidupkan kembali dengan memberikan suntikan modal, manajemen usaha dan pemasaran yang menguntungkan kedua belah pihak. Semoga.
Tulisan ini pernah dimuat di Jawa Pos Radar Bojonegoro; Rabu Kliwon, 14 Okt 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: