MERINDUKAN KAMPUS DAERAH YANG ASPIRATIF & INSPIRATIF

Kualitas SDM terbukti menjadi faktor determinan bagi keberhasilan pembangunan dan kemajuan suatu bangsa/ daerah. Pengalaman negara-negara Asia seperti; Jepang, Korsel, Taiwan, Hongkong dan Singapura membuktikan kebenaran hal tersebut. Kelima negara yang di sebut sebagai pertanda “Kebangkitan Ekonomi Asia” itu, telah berhasil mendorong kemajuan ekonomi mereka secara spektakuler dan mengesankan. Tumpuan kemajuan ekonomi kelima negara tersebut bukan lagi pada kekayaan alam yang melimpah, melainkan pada kualitas SDM yang mereka miliki.
Bank Dunia melaporkan bahwa faktor yang menghasilkan keajaiban pembangunan Asia Timur adalah pendidikan yang mengalami peningkatan secara kualitatif dan kuantitatif. Laporan Bank Dunia itu menegaskan bahwa pengelolaan SDM yang baik, selain SDA, telah memberi konstribusi nyata terhadap kemajuan pembangunan di negara-negara Asia Timur.
Menurut visi kita, SDM yang perlu diwujudkan oleh kampus daerah –termasuk Unisda, dan yang lainnya– adalah SDM yang berkualitas paripurna, mencakup kualitas fisik-jasmaniah dan mental-rohaniah. Atau dengan istilah rumusan Undang-undang Pendidikan adalah manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa, cerdas, kreatif, terampil, sehat jasmani dan rohani, maju, mandiri dan berkepribadian Indonesia.
Memang harapan untuk menggapai insan yang paripurna sebagaimana yang diamanatkan Undang-undang di atas tidaklah segampang membalikkan telapak-tangan. Sebab, bangsa kita pada kenyataannya sangat rendah penguasaan pada Iptek-nya. Padahal untuk bisa menguasai Iptek, maka budaya Iptek harus menjadi bagian dari budaya bangsa kita. Budaya Iptek itu pula yang akan menjadi lahan tempat tumbuh suburnya masyarakat ilmiah.
Budaya Iptek dapat diartikan sebagai suatu cara pandang, sikap dan perilaku yang didasarkan pada wawasan dan kemampuan Iptek yang mendarah-mendaging dalam diri seseorang. Ciri yang menonjol dari seseorang yang berbudaya Iptek antara lain; selalu terdorong untuk menggali rahasia alam, berpikir logis dan rasional, menjunjung tinggi mutu dan keunggulan, suka bekerja keras dan selalu cenderung kepada kebenaran.
Budaya Iptek ini harus ditumbuhkembangkan dalam kehidupan masyarakat kampus. Wahananya adalah pendidikan dan penelitian. Proses pendidikan dan penelitian akan menghasilkan insan-insan pembangunan dan pembaharuan, karena dalam budaya Iptek menyatu dalam dirinya. Budaya Iptek menjadi nafas kehidupannya.
Budaya Iptek harus ditumbuhkembangkan sejak dini, sejak tingkat pendidikan dasar sampai Perguruan Tinggi (PT). Bekal dasar yang harus dikuasai dengan baik adalah penguasaan terhadap bidang ilmu sains, matematika dan bahasa. Kita mengamati bahwa penguasaan ketiga materi itu masih lemah di kalangan mahasiswa PT daerah. Kelemahan tersebut harus segera kita atasi, dengan cara menciptakan gairah dan semangat untuk mempelajari bidang ilmu yang sering menjadi momok itu. Metode perkuliahan harus dibuat semenarik mungkin agar gairah mahasiswa untuk belajar terus terpelihara.
Melalui upaya pengembangan Iptek yang dilandasi moral keagamaan yang kokoh, maka akan tumbuh kesadaran yang mendalam, bahwa dalam penciptaan langit dan bumi, pergiliran siang dengan malam, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang yang berilmu. Kesadaran itu sangat diperlukan, agar manusia dapat berfungsi dan berperan sebagai khalifah Allah di muka bumi (Khalifatullah fil Ardli).
Dalam upaya membangun SDM yang berwawasan Iptek dan Imtak, diperlukan langkah-langkah strategis yang menurut Prof. Hidayat Syarief ada lima hal; Pertama, tanamkan kecintaan terhadap Iptek. Kedua, ciptakan suasana dalam KBM yang kreatif dan inovatif. Ketiga, tumbuhkan daya juang (fighting spirit), profesionalisme dan wawasan keungguan. Keempat, tumbuhkan sikap hidup hemat, tekun, serta disiplin dan Kelima, tanamkan moral dan budi pekerti yang luhur.
Setelah pondasi SDM yang berwawasan Iptek dan Imtak tercipta maka harapannya adalah terwujudnya cita-cita keadilan sosial. Hal ini penting, sebab begitu kuat dan banyak aspirasi keadilan dalam al-Qur’an. Namun begitu lemah dan sedikit aspirasi itu di kalangan umat Islam Indonesia termasuk dunia kampus. Firman-firman yang dengan tegas membela nasib kaum lemah (mustadh’afin) dan menuntut pengorbanan kaum kuat, begitu sedikit menarik perhatian cendekiawan muslim dan pemimpin-pemimpin Islam (baca; penguasa daerah). Sehingga pembahasan tentang firman-firman itu dikalahkan oleh pembahasan ayat wudlu misalnya, yang mengahasilkan berjilid-jilid dan bermacam-macam buku fiqih.
Padahal cita-cita keadilan sosial itu merupakan bagian dari amal saleh. Telah diketahui bersama bahwa iman dan amal saleh itu akan membawa kehidupan bahagia dunia-akhirat. Ini berarti bahwa tindakan manusia itu serasi dengan keseluruhan lingkungannya, baik di dunia maupun di akhirat. Betapa ancaman kehancuran masyarakat manusia/ negara itu ditujukan jika di dalamnya terdapat gap antara si kaya dan si miskin. Kemudian si kaya tidak bersedia mengorbankan sebagian kekayaannya untuk kepentingan menegakkan keadilan sosial, tetapi malahan bertindak demonstratif dan hidup mewah.
Inilah barangkali pentingnya penghayatan keagamaan yang spiritual, aspiratif serta inspiratif. Atau dengan bahasa lugas, mantan Rektor ITS MUH. NUH, berpendapat bahwa dunia kampus –termasuk kampus daerah– bisa memerankan tiga hal untuk memerangi gap kemiskinan, yaitu; Pertama, mengikutsertakan keluarga kurang mampu sebagai mahasiswa melalui program keberpihakan.
Kita bisa membayangkan, kalau setiap PT daerah, yang di Kabupaten Lamongan saja, hampir setiap kecamatan ada perguruan tingginya, menyiapkan affirmative action itu, maka setiap tahun akan dilahirkan pejuang baru pemberantas kemiskinan dari keluarga miskin.
Kedua, dengan melakukan reorientasi konsentrasi pengembangan Tridarma PT yang lebih mengarah secara langsung pada pemberdayaan masyarakat berbasis kewilayahan. Setiap daerah (desa) miskin dipetakan untuk mengetahui persoalan dan potensi yang dimilikinya. Apabila setiap PT memiliki daerah miskin sebagai daerah binaan dan menjadi gerakan massal maka daerah-daerah miskin bisa dieleminir. Dan Ketiga, PT dengan tradisi riset dan pengembangan yang kuat dapat menghasilkan produk-produk keilmuan dan keteknologian yang mampu meningkatkan produktivitas, nilai tambah dan kinerja yang berujung pada peningkatan daya saing daerah. Tingginya daya saing daerah tentunya akan membuka kesempatan kerja baru, menurunkan pengangguran dan ujungnya dapat menekan angka kemiskinan.
Inilah barangkali harapan dan aspirasi publik yang perlu diagendakan dan dijalankan dengan serius oleh kampus di daerah. Itu tidak sulit direalisasikan jika ada kemauan yang tulus. Semoga.

Catatan; Tulisan ini pernah di muat Jawa Pos Radar Bojonegoro, Minggu, 15 Nop 2009?, dengan sedikit perubahan judul, ” Membangun Arah Kampus Daerah yang Inspiratif”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: