MERINDUKAN PIMPINAN DAERAH YANG BERJIWA RAHMAN-RAHIM

Mengawali tulisan ini akan saya ilustrasikan kisah sederhana tentang “Gajah yang menjadi raja di negeri kambing” seperti yang diceritakan oleh Prof. Kuntowijoyo dalam fabel-fabel politiknya, sebagai berikut:
“Suatu kali diceritakan bahwa posisi Raja di negeri Kambing mengalami kekosongan, setelah tidak ada satu ekor kambing-pun yang mau menjadi raja di negerinya sendiri, karena tanggung jawabnya sangat berat yaitu mengatasi ledakan penduduk juga mengantisipasi serangan dari negeri serigala, maka diputuskanlah untuk membuat pengumuman lowongan kerja untuk menjadi raja di negeri kambing, bagi semua hewan yang ada di hutan. Singkat kata, datanglah si kancil yang akhirnya di tolak karena kambing tidak butuh raja yang bisa berlari kencang. Akhirnya datanglah seekor gajah, hewan perkasa bertubuh besar dengan langkah kaki yang berat, kelihatan gagah, bangsa kambing terpesona dengan hewan tersebut. Akhirnya disepakati gajahlah yang akan menjadi raja di negeri mereka. Setelah gajah menjadi Raja dibentuklah dua seksi, yaitu seksi sosial yang serahkan kepada kambing sendiri yang tugasnya mengurusi orang jompo, fakir-miskin, yatim piatu, dan lain-lain. Dan seksi keamanan dipimpin oleh ipar sang raja sendiri. Setahun berlalu gajah-pun mulai mempertontonkan tabiat aslinya. Ia mulai serakah karena ternyata menjadi raja itu nikmat serta terjamin segala fasilitas hidupnya. Musim keringpun melanda, dan nampaknya ia tidak mau tahu, kalau mandi, air danau yang menjadi cadangan minum kambing habis dihamburkannya. Saat makan sang raja mampu menghabiskan rumput yang cukup untuk 25 ekor kambing. Untuk snack, raja mampu menghabiskan tiga keranjang mentimun. Raja-pun sering marah-marah kalau kebutuhannya tidak terpenuhi. Akhirnya para kambing-pun berkumpul, mereka tidak bisa berbuat apa-apa, mereka berencana eksodus besar-besaran mencari daerah baru untuk didiami, guna menghindari kedholiman sang raja tersebut. Akhirnya sang raja ditinggalkan rakyatnya, diapun mati bersama iparnya di negeri kambing yang tidak berpenghuni.”
Menurut pandangan Dadang M. Naser bahwa, gajah adalah representasi pemimpin yang tidak mempunyai watak problem solver, tapi bahkan menjadi part of problem. Sebab dia malah terlena dengan kehidupannya sendiri yang berpredikat sebagai raja. Dalam perspektif ESQ, diajarkan bahwa seorang pemimpin harus mampu mengambil keputusan yang tepat dengan mengoptimalkan potensi suara Tuhan yang dimilikinya. Yang dikenal dengan Asma’ul Husnah, yang tentunya semuanya harus dilandasi oleh dan karena Allah Swt. Dalam kisah di atas, Gajah adalah contoh pemimpin yang dalam mengambil keputusannya mengabaikan suara-suara Tuhan. Yaitu dia tidak Rahman (mengasihi), tidak Rahim (menyayangi), dia tidak As-Salam (mensejahterakan) dan juga tidak Muhaimin (memelihara) rakyatnya.
Inilah sebenarnya yang dirindukan masyarakat. Yakni bagaimana seorang pemimpin daerah (Bupati, Camat, Lurah/ Kades, dll) yang mempunyai kepribadian rahman-rahim. Sebab pada kenyataannya sekarang ini, seolah-olah masyarakat hakekatnya tiada pemimpin. Karena sebagian pemimpin daerah, mereka mayoritas adalah klas penguasa yang memeras tenaga lahir-batin terhadap klas di bawahnya. Tukang-tukang eksploitir manusia secara habis-habisan atas nama ’kesetiaan terhadap pemimpin’. Masyarakat tidak ubahnya kumpulan domba-domba, dimana srigala menjadi pemimpinnya. Suatu ironi terhadap kenyataan yang buruk sebagaimana dikatakan dalam syair: ”Waro’i syati yumhidhikbi ’anha fakaefa idharruhat laha dhiabun”. Artinya; seharusnya sang penggembala melindungi dombanya dari ancaman srigala, namun betapa pula jika sang penggembala sendiri adalah srigala ?
Orang yang bergelimang dengan dosa (baca; dosa sosial-politik) serta laku durjana akan menikmati kesenangan hidup dari merebut orang lain yang diperkosa. Yang kuat membinasakan yang lemah, yang gagah mengumbar nafsunya yang serakah. Orang mabuk ada dimana-mana. Mabuk karena minuman keras, mabuk karena kekayaan melimpah ruah hasil ’perampokan’ dan perampasan. Juga mabuk kekuasaan tanpa batas. Kekuasaan di tangan raja (otonomi daerah) tak ubahnya laksana kelewang tajam di tangan pemabuk, disamping melukai orang lain, dirinya sendiri juga akan terluka.
Memang kalau kita amati, dunia sekarang ini hampir tidak mengenal apa itu arti moral dan agama. Sebagian besar para pemuka agama dan penganjur moral kadang menjadikan kedudukan serta pengaruhnya untuk mengumbar hawa nafsunya, menyesatkan pengikutnya dan membiarkan mereka bertambah sesat sesesat-sesatnya. Semua ini lantaran pondasi agama dan moral mereka demikian rapuh hingga mudah saja diombang-ambingkan oleh kekuasaan politik dan harta benda (hedonisme dunia).
Sebagai bahan renungan, apa yang terjadi sekarang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan masa Rasul, bahkan modusnya lebih dahsyat. Ini misalnya bisa dilihat dari tulisan Muh. Attiyah Al-Abrosy dalam bukunya Azamatur Rasul. Dia melukiskan antara lain, bahwa apa yang disaksikan Rasulullah mengenai situasi ketika itu sebagai satu dunia dimana para penguasa, hakim-hakim dan para pemuka agama berkomplot menindas rakyat, memenangkan kaum yang kuat dan orang-orang kaya. Dunia yang demikian coraknya tidak menjumpai apa-apa kecuali ketakutan, kecemasan dan penderitaan. Di puncak kegelapan dan ketidakadilan inilah Allah membangkitkan seorang Nabi. Tugasnya sangat jelas, untuk merubah sama sekali wajah seluruh permukaan bumi dengan pancaran kebenaran, keadilan, kasih-sayang dan saling membantu.
Disisi lain memang ada ”teori egois” yang menjadi dasar falsafah dan paradigma sains modern. George Santayana menyimpulkan pandangan ini dalam kalimat singkat, ”dorongan untuk berbuat baik, hanyalah kemunafikan yang menipu diri……… galilah sedikit saja di bawah permukaan, Anda akan mendapatkan manusia yang rakus, kepala batu dan benar-benar mementingkan diri sendiri.” Jeremy Bentham bercertia tentang manusia yang perilakunya hanya dikendalikan oleh prinsip ekonomi. Prinsip pertama dalam ekonomi ialah setiap agen hanya digerakkan oleh kepentingan dirinya.
Namun belakangan, orang mulai meragukan teori ”manusia egois” ini. Setiap hari kita masih bisa menemukan orang yang masih ikhlas mengorbankan kepentingan dirinya. Dia bahkan tidak memperhatikan keselamatan dirinya ketika menolong orang lain. Orang kaya yang mendermakan hartanya untuk membantu orang miskin, atau beberapa orang pejabat –betapapun sedikit jumlahnya– yang hidup sederhana dan tidak mahu diajak kolusi.
Diakui atau tidak, rakyat saat ini memang sangat membutuhkan pemimpin yang paham isu-isu kemiskinan, baik kemiskinan kultural maupun struktural, global warning, climate change, illegal logging, ledakan penduduk, globalisasi, Hak Azasi Manusia, pengangguran, isu buruh, perusakan lingkungan, demokratisasi, sekularisme, gizi buruk, flu burung, flu babi, soal pendidikan, anak jalanan, freedom of speach, toleransi beragama, aliran sesat, dan seterusnya. Ini semua adalah serangkaian persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa kita saat ini. Ini sangat kontras dengan tempoe doeloe dimana kita hanya berkonsentrasi pada dua isu strategis yaitu bagaimana merebut kemerdekaan dari tangan penjajah dan yang kedua, mengisinya dengan beragam rencana pembangunan.
Dari sinilah sebenarnya kita mengharapkan akan lahir (terpilihnya) pimpinan daerah yang mempunyai kepribadian istiqomah bukan kepribadian nekrofil (kepribadian mayat) sebagaimana diungkapkan oleh Erich Fromm. Seperti mayat, meraka –para pemimpin– sudah kehilangan perasaan. Mereka bisa merusak dan merampas hak orang tanpa rasa risih.
CATATAN:
TULISAN INI PERNAH DIMUAT DI JAWA POS, RADAR BOJONEGORO; MINGGU, 10 JANUARI 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: