HIJRIYAH Vs MASEHI MUNGKINKAH DIGANDENGKAN ?

Di berbagai media massa banyak tulisan dan opini yang menyudutkan kalender milik orang Islam yang diibaratkan sedang mengalami sakit. Anda mungkin bertanya dimana letak penyakitnya ? Penyakit yang dimaksud adalah adanya perbedaan hari yang sangat parah setiap tahunnya, terutama saat Idul Fitri. Ini memang bisa dirasakan, kadang ada tiga versi Idul Fitri dan juga Idul Qurban. Lihatlah misalnya tahun ini, terjadi perbedaan dalam menentukan Idul Adha. Namun yang aneh adalah kenyataan, bahwa tiba-tiba golongan-golongan yang berbeda tanggal tersebut bersepakat pada tanggal tahun baru Islam tanpa adanya perbedaan. Seolah-olah versi kalendar yang satu bisa ‘menyusul’ versi kalendar yang lain. Aneh bin ajaib bukan ?
Kalau begini terus, apakah kalendar Hijriyah bisa menggantikan kalendar Masehi? Mungkin kalau hanya sekedar untuk menentukan hari raya masih bisa. Namun untuk menjadwalkan sesuatu yang bersifat global, urgen, dan presisi, kalender Hijriyah sepertinya masih belum bisa dipakai. Contoh masalah tersebut adalah penjadwalan ulang atau penentuan komet. Bayangkan kalau dalam menghitung ulang, setiap pihak punya versi kalender yang berbeda. Hancur dunia ini. Demikian tulisan Ismail Faruq.
Mungkin ada yang bertanya, “lantas kita harus memilih versi kalendar yang mana ? Sebab perbedaan yang ada sekarang karena ada pendapat bahwa penentuan harus dengan : 1)Melihat bulan dengan mata telanjang, dan 2)Memakai perhitungan matematis. Dua-duanya punya dalil baik dari Al-Quran maupun As-Sunnah. Dan mereka berdua sama-sama mengatakan, “kami mengikuti sunnah Nabi”. Jadi mana yang benar?
Sebagai bahan renungan, kenapa kalau kita duduk bersama kok bisa membikin Jadual shalat sepanjang masa, dan berlaku hingga hari kiamat ? Dan anehnya tidak ada pertentangan itu. Padahal ini kalau dilacak dalam sejarah perintah shalat, seharusnya waktu shalat (jawa, manjing) ditentukan dengan memakai bayangan tombak atau lainnya, sebagaimana Rasul melakukannya.
Jadi di dalam mengikuti Sunnah, ada kaidah “sarana yang berubah, dan tujuan yang tetap”. Nah, dalam kasus shalat, tujuannya tetap menentukan waktu shalat. Sarananya berubah, kalau dulu memakai tombak dan bayangan, kalau sekarang menggunakan jadwal shalat sepanjang masa yang diukur dengan jam atom Cesium yang hanya memiliki error 1 detik per 6000 tahun. Dan pemakaian jam atom Cesium ini juga disepakati umat, karena mereka memang memahami bahwa Allah telah menciptakan alam ini dengan sempurna, tanpa adanya keterlambatan sedikitpun.
Sehingga apa salahnya memakai metode yang sama untuk memprediksi pergerakan bulan? Mengapa gerakan bulan dianggap akurat untuk shalat, tapi tidak untuk hari raya? Ataukah bulan memiliki probabilitas yang tinggi untuk berleha-leha muncul setiap tahunnya?
Jadi kalau umat ini belum bisa mempersatukan kalendarnya sendiri, jangan harap bisa memiliki kemampuan untuk mempersatukan fraksi-fraksi yang ada dalam sebuah Pan- Islamisme (Persatuan Umat Islam ) sebagaimana pernah digagas oleh mendiang Jamaluddin al-Afgani. Umat ini seharusnya duduk bareng, bagaimana sebaiknya memperlakukan kalendar Hijriyah untuk kemaslahatan ummat. Ini penting, sebab selama ini gontok-gontokan idiologi yang lebih dikedepankan ketimbang esensi mengisi hijriyah itu sendiri..
Berikutnya yang perlu mendapatkan sorotan adalah terkait dengan mengisi tahun hijriyah itu sendiri. Di bawah ini akan penulis kutipkan puisi dan autokritik terhadap perilaku umat Islam yang kadang membingungkan minimal menurut pandangan Gus Mus.
//Kawan, sudah tahun baru lagi /Belum juga tibakah saatnya kita menunduk / memandang diri sendiri / Bercermin firman Tuhan / Sebelum kita dihisabNya (A. Mustofa Bisri, antologi Puisi Tadarus)//
Untuk tahun ini, khususnya tahun baru Hijriyah tidak seperti tahun lalu (2008) yang hampir bersamaan datangnya dengan tahun baru Masehi. Biasanya tahun baru Masehi disambut dengan hiruk- pikuk luar biasa. Sementara tahun baru Hijriyah yang sering disebut tahun baru Islam, tidak demikian. Tidak ada trek-trekan sepeda motor di jalanan. Tidak ada terompet. Tidak ada panggung-panggung hiburan di alon-alon.
Yang ada di sementara masjid, kaum muslimin berkumpul berjamaah salat Asar –meski biasanya tidak—lalu bersama-sama berdoa akhir tahun; memohon agar dosa-dosa di tahun yang hendak ditinggalkan diampuni oleh Allah dan amal-amal diterima olehNya. Kemudian menunggu salat Maghrib –biasanya tidak—dan salat berjamaah lalu bersama-sama berdoa awal tahun. Memohon kepada Allah agar di tahun baru dibantu melawan setan dan antek-anteknya, ditolong menundukkan hawa nafsu, dan dimudahkan untuk melakukan amal-amal yang lebih mendekatkan kepada Allah.
Memang agak aneh, paling tidak menurut saya, jika tahun baru disambut dengan kegembiraan. Bukankah tahun baru berarti bertambahnya umur? Kecuali apabila selama ini umur memang digunakan dengan baik dan efisien. Kita tahu umur digunakan secara baik dan efisien atau tidak, tentu saja bila kita selalu melakukan muhasabah atau efaluasi. Minimal setahun sekali. Apabila tidak, insyaallah kita hanya akan mengulang-ulang apa yang sudah; atau bahkan lebih buruk dari yang sudah. Padahal ada dawuh: “Barangsiapa yang hari-harinya sama, dialah orang yang merugi; barangsiapa yang hari ini-nya lebih buruk dari kemarin-nya, celakalah orang itu.”
Apabila kita amati kehidupan kaum muslimin di negeri kita ini sampai dengan penghujung tahun 1430, boleh jadi kita bingung mengatakannya. Apakah kehidupan kaum muslimin –yang merupakan mayoritas ini– selama ini menggembirakan atau menyedihkan. Soalnya dari satu sisi, kehidupan keberagamaan terlihat begitu hebat di negeri ini.
Kitab suci al-Quran tidak hanya dibaca di mesjid, di mushalla, atau di rumah-rumah pada saat senggang, tapi juga dilomba-lagukan dalam MTQ-MTQ. Bahkan pada bulan Ramadan diteriakan oleh pengerassuara-pengerassuara tanpa pandang waktu. Lafal-lafalnya ditulis indah-indah dalam lukisan kaligrafi. Malah dibuatkan museum agar mereka yang sempat dapat melihat berbagai versi kitab suci itu dari yang produk kuno hingga yang modern; dari yang berbentuk mini hingga raksasa. Akan halnya nilai-nilai dan ajarannya, juga sesekali dijadikan bahan khotbah dan ceramah para ustadz. Didiskusikan di seminar-seminar dan halqah-halqah. Bahkan sering dicuplik oleh beberapa politisi muslim pada saat kampanye atau rapat-rapat partai..
Secara ‘ritual’ kehidupan beragama di negeri ini memang dahsyat. Lihatlah. Hampir tidak ada tempat ibadah yang jelek dan tak megah. Dan orang masih terus membangun dan membangun mesjid-mesjid secara gila-gilaan. Bahkan di Jakarta ada yang membangun mesjid berkubah emas. (Saya tidak tahu apa niat mereka yang sesungguhnya membangun rumah-rumah Tuhan sedemikian megah. Tentu bukan untuk menakut-nakuti hamba-hamba Tuhan yang miskin di sekitas rumah-rumah Tuhan itu. Tapi bila Anda bertanya kepada mereka, insya Allah mereka akan menjawab, “Agar dibangunkan Allah istana di surga kelak”. Mungkin dalam pikiran mereka, semakin indah dan besar mesjid yang dibangun, akan semakin besar dan indah istana mereka di surga kelak.
(Terus terang bila teringat fungsi mesjid dan kenyataan sepinya kebanyakan mesjid-mesjid itu dari jamaah yang salat bersama dan beri’tikaf, timbul su’uzhzhan saya: jangan-jangan mereka bermaksud menyogok Tuhan agar kelakuan mereka tidak dihisab).
Tidak ada musalla, apalagi mesjid, yang tidak memiliki pengeras suara yang dipasang menghadap ke 4 penjuru mata angin untuk melantunkan tidak hanya adzan. Bahkan ada yang sengaja membangun menara dengan beaya jutaan hanya untuk memasang corong-corong pengeras suara. Adzan pun yang semula mempunyai fungsi memberitahukan datangnya waktu salat, sudah berubah fungsi menjadi keharusan ‘syiar’ sebagai manifestasi fastabiqul khairaat; sehingga sering merepotkan mereka yang ingin melaksanakan anjuran Rasulullah SAW: untuk menyahuti adzan.
Jamaah dzikir, istighatsah, mujahadah, dan muhasabah menjamur di desa-desa dan kota-kota. Terutama di bulan Ramadan, tv-tv penuh dengan tayangan program-program ’keagamaan’. Artis-artis berbaur dan bersaing dengan para ustadz memberikan ‘siraman ruhani’ dan dzikir bersama yang menghibur. Jumlah orang yang naik haji setiap tahun meningkat, hingga di samping ketetapan quota, Departemen Agama perlu mengeluarkan peraturan pembatasan. Setiap hari orang berumroh menyaingi mereka yang berpiknik ke negara-negara lain.
Jilbab dan sorban yang dulu ditertawakan, kini menjadi pakaian yang membanggakan. Kalimat thoyyibah, seperti Allahu Akbar dan Subhanallah tidak hanya diwirid-bisikkan di masjid-masjid dan mushalla-mushalla, tapi juga diteriak-gemakan di jalan-jalan. Label-label Islam tidak hanya terpasang di papan-papan sekolahan dan rumah sakit; tidak hanya di AD/ART organisasi sosial dan politik; tidak hanya di kaca-kaca mobil dan kaos-kaos oblong; tapi juga di lagu-lagu pop dan puisi-puisi.
Waba’du, jangan-jangan selama ini —meski kita selalu menyanyikan ”Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”—hanya badan saja yang kita bangun. Jiwa kita lupakan. Daging saja yang kita gemukkan, ruh kita biarkan merana. Sehingga sampai ibadah dan beragama pun masih belum melampaui batas daging. Lalu, bila benar, ini sampai kapan? Bukankah tahun baru ini momentum paling baik untuk melakukan perubahan? Demikian Gus Mus mengakhiri tulisan beliau. Dan Selamat Tahun Baru 1431 Hijriyah !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: