DEKONSTRUKSI FATALISME KEAGAMAAN Oleh; M. Syafi’I Anwar

Doktrin dan slogan “isy kariman au mut syahidan” yang populer diterjemahkan menjadi pilihan ”hidup mulia atau mati syahid” sebenarnya bukan fenomena baru. Pada 1970-an, sewaktu menjadi aktivis pemuda masjid, saya sering mendengar doktrin dan slogan itu dari para mentor pelatihan dakwah melalui forum usroh. Kenyataan menunjukkan, mereka yang terpengaruh oleh doktrin itu memang menjadi sangat militan dan memandang masalah secara hitam-putih, serta berorientasi pada sikap dan perilaku keagamaan yang fatalistik.
Jika sekarang slogan itu muncul kembali, tentu itu tidak terlepas dari konteks sosial- politik dan perkembangan kehidupan keagamaan sejak satu dekade terakhir. Runtuhnya kekuasaan orde baru telah menyuburkan kemunculan gerakan-gerakan trans nasional Islam, terutama dari Timur Tengah, yang militan dan punya orientasi keagamaan yang berbeda dengan kalangan mainstream Islam Indonesia, terutaman Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Itu bisa dilihat, misalnya dari slogan tersebut yang sering digunakan beberapa ormas Islam militan tertentu ketika berdemonstrasi dan menyampaikan aspirasi.
Namun, perlu dicatat, penggunaan slogan ”hidup mulia atau mati syahid” juga bukan monopoli dari kelompok-kelompok militan saja. Di Jakarta atau kota-kota besar yang lain, slogan itu juga ditempel di sejumlah masjid atau musala tertentu.
Bahkan, saya juga pernah melihat slogan itu dipasang di kaca belakang mobil mewah yang dikendarai anak-anak muda. Mungkin supaya lebih keren menggunakan bahasa Inggris : Be a Good Moslem or Die as a Syuhada ( Jadilah Muslim yang baik atau mati sebagai seorang syuhada). Dan, anak-anak muda yang menempelkan slogan itu di mobilnya juga tidak berjubah dan berjenggot, tapi pakai celana jins dan berambut gondrong.
Apakah slogan seperti itu berpengaruh terhadap perilaku keagamaan seseorang atau kelompok keagamaan ? Itu sangat bergantung kepada pemahaman dan aktualisasinya dalam kehidupan sehari-hari. Individu atau kelompok tertentu yang memahami doktrin tersebut sebagai ”ayat suci” secara parokial dan tidak kontekstual akan mudah mengimplementasikan dalam pandangan dan sikap keagamaan yang eksklusif, keras, dan militan. Tidak jarang pandangan dan sikap keagamaannya menjadi fatalistik dengan jalan menjauhi hidup duniawi dan sangat menggebu untuk melakukan jihad, sekalipun harus mengorbankan nyawa sendiri. Mereka percaya bahwa mati syahid jauh lebih mulia bila dibandingkan dengan hidup di dunia, tapi tidak ada artinya. Kelompk ini –meminjam termonologi ketua umum PP. Muhammadiyah Prof. Syafi’i Ma’arif—menjadikan doktrin itu sebagai ”teologi maut”. Mereka ingin cepat mati, tetapi tidak berani hidup.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: