Fenomena Kepribadian Mahasiswa Perspektif Psikologi Islam dan Barat ( Studi Mahasiswa FAI Unisda Lamongan )

ABSTRAK
Kepribadian berasal dari kata Bahasa Inggris Personality yang berasal dari kata Persona (Bahasa Latin) yang berarti kedok atau topeng (Jalaludin Rakhmat, 2001; 37).Topeng sering dipakai oleh pemain panggung untuk menggambarkan perilaku / pribadi seseorang yang baik ataupun yang buruk.
Misal seseorang yang berperilaku yang buruk, serakah, angkara murka akan ditopengkan dengan gambar raksasa. sedang pribadi seseorang yang berperilaku berbudi luhur, suka menolong, berani berkorban akan ditopengkan dengan gambar kesatria.
Hakekat hidup manusia menurut Carl Gustav Jung selalu memakai topeng untuk menutupi kehidupan batiniah, maka ia tidak akan pernah berlaku wajar sehingga tidak mengenal siapakah dirinya, apa bakat dan kemampuannya dan apa pula kelemahannya.
Fungsi batin terhadap pembentukan kepribadian batin atau hati nurani akan berfungsi sebagai hakim yang adil, sebagai pengontrol yang kritis sehingga manusia sering mengalami konflik batiniah yang menimbulkan rasa tanggung jawab seseorang, bertindak yang mendorong manusia untuk segera minta maaf apabila bersalah.Dikenalnya seseorang memiliki pribadi berarti tumbuhnya wibawa orang itu sendiri. Wibawa inilah yang diperlukan dalam setiap kehidupannya.
Adapun populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Agama Islam yang notabene sebagai pewaris tafaqquh fiddin. Pengumpulan data dengan tes dan non tes. Analisis data menggunakan statistik deskriptif (P=f/n).
Dari hasil penelitian diketahui 66,66 % mahasiswa FAI Unisda Lamongan kepribadiannya tergolong pribadi yang individualistik —tidak ingin menggangu atau tergganggu oleh orang lain—. Dan 33,33 % tergolong pribadi yang cenderung menyukai hubungan interpersonal, dan mampu berinteraksi dengan siapapun.

Kata Kunci: Kepribadian, psikologi Islam, psikologi Barat dan insan kamil.

MUQADDIMAH

“Barang siapa mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya” ( Muhammad Reyshahri; 142). Islam memang benar-benar menyuruh kita untuk mengenal diri kita masing-masing. Menyelami kepribadian kita dan benar-benar mengerti watak dan karakter diri kita, sebagaimana juga dengan diri orang lain, yang mana semua itu hanya semata agar kita akan mengenal siapa Pencipta dari itu semua. Subhanallah!
Dan untuk memahami dan menjelaskan tingkah laku kita sendiri dan orang lain, kita membutuhkan kerangka acuan. Dan sebagai seorang muslim, tentu saja kerangka acuan yang digunakan juga haruslah yang mencerminkan segi-segi Islami. Dan untuk menyusun teori-teori kepribadian yang berwawasan Islam, kita harus tetap memakai dan juga menguasai ilmu pengetahuan masa kini dan juga mampu merekonstruksikan ilmu-ilmu itu sehingga menjadi suatu yang selaras dengan wawasan dan ideal-ideal Islam. (Ismail Rajikh Al Faruqi ;126 )
Dan pada makalah kali saya akan menekankan kepribadian yang dilihat baik dari segi Ruhaniah dan segi Spiritual. Yang keduanya ini sama-sama terdapat pada Islam. Saya sengaja mengungkap kepribadian yang dilihat dari segi-segi diatas karena kepribadian ini tentunya berangkat dari keimanan dan keilmuan seorang individu, yang mana karakteristik manusia itu secara kental disebut oleh Murtadha Muthahari terdiri dari sifat kehewanan dan kemanusiaannya. Karakteristik khas dari kemanusiaannya ialah Iman dan Ilmu. Dalam hal ini juga, Al Ghazali bahkan menuturkan kalau konsep jiwa (yang membangun sosok manusia) dalam islam itu ada empat, yaitu: Al-Qalb, Ar-Ruh, An-Nafs (An-nafs al-ammarah bissu’, an nafs al-lawwamah, an nafs al-muthmain’nah) dan Al-Aql.

Kepribadian dalam Psikologi Islam
Pendapat Murtadha Muthahhari (Muthahhari, 1995; 37) mengenai struktur kepribadian menekankan unsur manusia diciptakan dari tanah (sisi material manusia) dan ditiupkan oleh Allah kedalamnya ruh-Nya (sisi immaterial manusia) seperti yang diungkapkan dalam Al-Qur’an As-Sajdah ayat 7-9.
Dan mengenai proses atau dinamika kepribadian, Muthahhari menunjukkan bahwa sesuai dengan unsur ciptaannya, manusia selalu berproses, berupaya meningkatkan diri ke arah ruh Allah mendekati tingkat ilahiah, atau jatuh terperosok ke tanah mendekati tingkat hewaniah. Karena manusia terdiri dari jasad, akal dan ruh. Maka itu tinggal dilihat saja mana yang lebih dominan yang dikembangkan oleh manusia itu sendiri. Seperti yang disebutkan dalam surat At Tiin ayat 4-6, dikatakan: “sesungguhnya manusia diciptakan Allah dalam keadaan sebaik-baiknya bentuk, tapi tanpa keimanan dan amal shaleh, manusia dapat terbalik menjadi serendah-rendahnya martabat.” Muthahhari dalam hal dinamika kepribadian ini berkata lebih lanjut, dan mengatakan bahwa unsur kemanusiaan manusia, yang memberi kepribadian dan karakter bagi manusia, memiliki sifat-sifat khusus, yaitu:
1. Unsur tersebut walaupun berhubungan dengan alam ini, tidak mempunyai kesesuaian dengan konstruksi fisik manusia; tidak dapat dirasa dan diraba.
2. Nilai-nilai kemanusiaan (insanniyyah), keutamaan dan kepribadian manusia ini tidak tercipta bersamaan dengan lahirnya manusia ke dunia ini, tetapi manusia itu sendiri yang menciptakannya (jadi bukan dibawa sejak lahir, tetapi melalui usaha dari manusia itu sendiri). Manusia berupa potensi, tergantung bagaimana mengaktualisasikan potensi tersebut, maka kelihatanlah bagaimana kepribadiannya.

Yang menarik dari Murtadha Muthahhari adalah, bahwa dia juga menyebutkan tentang Insan Kamil atau Manusia Seutuhnya. Yang kalau oleh Nietzsche disebut dengan Uebermensch (Superman). Dan menurut Muthahhari, untuk bisa mencapai Insan Kamil, seseorang harus dapat menginternalisasikan sifat-sifat Allah secara seimbang, kedalam dirinya. Dan dalam sejarah Islam contohnya adalah Rasulullah Muhammad s.a.w dan Imam Ali bin Abi Thalib a.s.
Ulasan yang banyak diatas dari Muthahhari itu adalah penjabaran dari karakteristik khas manusia yang membedakannya dengan hewan, yaitu Iman dan Ilmu. Iman merupakan kata kunci dan jawaban yang mendasar dalam memahami tentang Tuhan. Dan karena itu juga perjalanan mengenal Tuhan berarti manusia juga melakukan kembali atau napak tilas untuk mengarahkan dirinya kembali kepada esensi yang sebenarnya. Esensi manusialah yang dicari kembali. Apa yang membuat manusia nampak seperti manusia, dalam dunia psikologi dinamakan kepribadian. Karena manusia adalah makhluk yang telah bersaksi dan diberi potensi untuk ber Tuhan. Dan untuk itulah dalam iman secara implisit ditemukan ilmu. Tak mungkin ada iman tanpa ilmu. Dan tak mungkin kita Islam tanpa Iman dan Ilmu. Dan tak mungkin juga Kepribadian Islam tanpa Iman dan Ilmu.
Keyakinan (iman) telah menyulut qalbu dengan berbagai macam pertanyaan yang kadang skeptis. Sesungguhnya di dalam jasad manusia ada mudhghah (segumpal darah), apabila dia berfungsi dengan baik, maka baiklah seluruh tubuh dan apabila rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Dan mudhghah itu adalah Qalbu. Qalbu adalah hati nurani yang menerima limpahan cahaya kebenaran ilahiah, yaitu Ruh. Yaitu merupakan lokus di dalam wahana jiwa manusia yang merupakan perbuatan manusia yang cenderung kepada kebaikan dan keburukkan. Dan juga Qalbu itu menerangi dan memberikan arah manusia untuk bertindak berdasarkan keyakinan atau prinsip yang dimilikinya. Qalbu bisa menjadi titik sentral kecerdasan dan sekaligus titik sentral kebodohan manusia.
Ada beberapa potensi Qalbu yang terus menerus saling berebut kekuasaan, yaitu Fu’ad, Shadr dan Hawaa. Dan setiap potensi mempunyai fungsinya masing-masing mengatur perputaran antara diri manusia sebagai pribadi dengan lingkungannya, seraya memancarkan kualitas batinnya sambil berinteraksi dalam tiga dimensi yaitu: Allah, manusia dan alam.
1. Fu’ad
Merupakan potensi qalbu yang berkaitan dengan indrawi, mengolah informasi yang sering dilambangkan berada dalam otak manusia (fungsi kognitif). Potensi ini cenderung dan selalu merujuk kepada obyektifitas, mempunyai tanggung jawab intelektual yang jujur kepada apa yang dilihatnya dan jauh dari sikap kebohongan. Seperti apa yang ada di An-Najm ayat 11: “Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.”
2. Shadr
Merupakan potensi qalbu yang berperan merasakan dan menghayati atau mempunyai fungsi emosi. Potensi ini adalah dinding hati yang menerima limpahan cahaya keindahan, sehingga mampu menerjemahkan segala sesuatu serumit apa pun menjadi indah karyanya.
3. Hawaa
Merupakan potensi qalbu yang menggerakkan kemauan. Di dalammnya ada ambisi, kekuasaan, pengaruh dan keinginan mendunia. Potensi ini cenderung membumi untuk merasakan nikmatnya dunia yang fana. Potensi ini mendorong manusia untuk berbuat serakah dan menjauhi bersikap adil dan benar.
Ketiga potensi tersebut, berada didalam bilik-bilik qalbu yang bertugas dan berfungsi sesuai dengan perannya masing-masing. Dalam berhubungan dengan dunia luar atau menerima rangsangan, ketiga potensi tersebut akan memberikan respons dalam bentuk perilaku. Pada hakikatnya ketiga potensi tersebut akan bekerja sama dan saling mengisi. Hanya saja dalam bentuk yang nyata, tindakan dan perbuatannya sangat tergantung kepada potensi manakah yang paling dominan. Dari ini dapat dilihat struktur kepribadian manusia, yaitu sebagai berikut:
1. Satu Dimensi, yaitu penampakan perilaku atau respons kepada dunia luar yang hanya dikuasai atau didominasi oleh satu potensi, sehingga potensi lainnya kehilangan kekuatan, meredup atau kalah.
2. Dua Dimensi, yaitu persenyawaan dua potensi dan mengalahkan satu potensi lainnya. Sehingga, dalam struktur kepribadiannya akan terdapat persenyawaan dua dimensi yang terdiri dari Fusha (fu’ad dan shadr), Fuha (fu’ad dan hawaa) dan juga Shaha (shadr dan hawaa).
3. Tiga Dimensi, yaitu persenyawaan seluruh dimensi secara proporsional, dimana seluruh potensi memberikan kontribusi yang sama dan seimbang dalam memberikan respons kepada dunia luar. Dalam kenyataannya, kepribadian manusia akan mendayagunakan ketiga potensinya. Hanya saja diantaranya itu saling menggeser, tetapi tidak akan menghilang sama sekali. (Toto Tasmara, 2001; 94-96).
Bisa dilihat lingkup orientasi atau dimensi dari Qalbu. Dimana Fu’ad itu terdiri atas sikap yang penuh achievement, berorientasi ke depan, future outlook, penuh antipasi (mengapa), mempertanyakan ‘nanti bagaimana’, dan juga didasari atas logika dan intelektual. Sedangkan kalau Shadr itu terdiri atas sikap affiliation, melihat ke masa lalu, history/past, mempertanyakan alasan dan siapa, senantiasa membandingkan, rasa emosi. Dan untuk Hawaa bersumber pada kekuatan, yang dipikirkan hanyalah masa kini, berpola pikir actual/reality, yang dipertanyakan adalah relasi dan ‘apa’ juga ‘bagaimana nanti’, dan mengandalkan naluri/instink.
Ada satu hal lagi yang tidak bisa kita lupakan dalam menyusun bentuk kepribadian yang berdasarkan iman ini. Yaitu melihat dimensi Nafs. Yang merupakan saluran cahaya qalbu yang keempat setelah, Fu’ad, Shadr, dan Hawaa. Nafs sering dikatakan sebagai watak manusia, persona. Nafs itu sendiri merupakan totalitas dari ‘diri manusia’ itu sendiri. Didalamnya terhimpun dua kekuatan baik dan buruk. Nafs adalah muara yang menampung hasil olah Fu’ad, Shadr, dan Hawaa yang kemudian menampakkan dirinya dalam bentuk perilaku nyata dihadapan manusia lainnya.(Tasmara, 2001; 110-111). Dengan keterangan seperti Fu’ad, Shadr, dan Hawaa, maka keterangan Al-Ghazali mengenai konsep jiwa, bisa digabungkan. Yang mana menurut Al-Ghazali, Nafs itu terdiri dari 3 macam. An Nafs al-ammarah Bissu’ adalah nafs yang gelisah penuh amarah, yang bisa menjadi jiwa yang angkara, kalau menjadi tampungan bagi Fu’ad, Shadr yang rusak dan busuk. Sedangkan untuk Nafs al-Lawwamah adalah Nafs dimana Fu’ad ,Shadr, dan Hawaa yang negatif. Dan untuk Nafs al-Muthmain’nah disini dicirikan sebagai nafs yang ada pada diri itu bisa mempresentasikan perilaku ilahi dalam bentuk lurus, pandai memilah mana yang baik dan yang buruk.
Maka itu dapat dikategorikan ke dalam empat kepribadian Nafs, yang tampak di persepsi luar (dengan asumsi potensi Hawaa adalah positif), yaitu:
1. Saghafa Sa’adah adalah hamparan kebahagiaan akan tampak dalam kepribadian nafs, apabila Fu’ad dan Shadr berada dalam dimensi positif. Nafs akan mengeliarkan seluruh potensi yang positif tersebut dalam penampakan kepribadian yang mengalirkan energi saghafa sa’adah. Kepribadian yang menyebabkan bergairah, hidup memandang keluar dan segalanya menjadi indah. Kerinduan ingin berjumpa dengan Allah merupakan muatan cahaya yang berada dalam kepribadian ini. Alam dilihatnnya datar dan warna-warni, baginya hidup adalah siang tanpa malam, walaupun dia terus gelisah dan susah tidur. Penuh dengan canda karena ada sense of humor. Hidup baginya adalah perjalanan indah menuju Sang Kekasih. Dan betapapun sulitnya hidup yang dihadapi, dia terima dengan penuh cinta. Orang yang berkepribadian ini merasa kehilangan dimensi waktu dan tenggelam dalam keasyikan bercinta dengan Allah.
2. Saghafa Hazn
Manusia yang berkepribadian ini nampak murung, melankolis, menghadapi hidup dengan curiga penuh ketegangan, kehilangan dinamika, dan tidak ada “mood”. Dunia tampak menjemukan. Tidak ada nyanyian apalagi musik dan tarian, itu ibaratnya. Hidupnya tak beraturan dan berjalan tanpa tujuan. Pandangan dirinya bersifat penggalan karena waktu mengalir sangat lambat dan kehilangan orientasi. Orang tipe ini memandang dengan satu dimensi, tanpa persepektif dan kehilangan kemampuan untuk berinteraksi. Lebih senagn menyendiri, tiba-tiba saja dia menangis, memelas dan ingin dikasihani. Orang tipe ini mengalami enuresis dan eukopresis ‘suka mengompol’ dan buang air besar ditempat tidur. Hidupnya selalu membutuhkan kehadiran orang lain. Dalam dirinya ada keinginan untuk bersosialisasi yang tingi, tapi juga ada perasaan minder. Dia sering menghakimi diri sendiri. Dengan sadar, antara malu dan tidak, dia menarik diri dari pergaulan. Hidup baginya adalah lobang yang gelap tanpa warna dan kosong tanpa harapan, bagai jiwa tanpa cinta kasih. Dia adalah orang yang terisolir dan mengisolir dirinya sendiri. Baginya, perasaan tentang kenikmatan menjadi hilang, diganti dengan suasana yang kosong tanpa reaksi-reaksi. Sehingga kadang dia mengalami apathy mental yang berat, acuh dan tak bereaksi.
3. Saghafa Hammi
Adalah tipe kepribadian dengan setumpuk kebimbangan. Kandungan ‘sifat pengecut’ mencuat melebihi hazn. Bingung untuk mengambil keputusan dan merasa gamang berada sebuah lingkungan. Ibarat kepribadianya itu, walaupun tidak gelap seperti hazn, dia masih melihat harapan dan masih ada keinginan untuk ‘menikmatik indahnya dunia’, dia ingin mejadi bagian hidup yang mengalir, walau dia harus terperangkap dalam keraguan yang menggerogoti dirinya. Tipe ini, tidak berani marah dan juga tidak berani mengambil resiko. Baginya hidup lebih baik mengalah, hidupnya serba menanti dan kurang inisiatif.
4. Saghafa Majnun
Orang dengan kepribadian ini, hubungan dengan dunia lahir dan batin seakan terputus. Dia bertindak tanpa dorongan kesadaran yang jelas, sering berubah-ubah dan tidak konsisten. Bahkan, kadang dia tidak sadar akan dirinya sendiri. Sehingga, kadang dia tertawa dan menangis sendiri. Dia melakukan rekasi fisik dan psikis kendati tidak ada obyek yang mempengaruhinya, tidak ada sesuatu yang menjadi pemicunya. Dia masih menikmati segala perasaan tentang kenikmatan lahir batin (hedonalgis) tetapi jiwanya telah menjadi tirani dan lebih tidak peduli tindakannya. Dia ingin mendominasi, ambisius, tindakannya spontan, gampang bereaksi walaupun tanpa pikiran yang matang, dan ingin jadi pusat perhatian. Kepribadiannya terpecah mendekati shizoid paranoid. Sulit dipahami tindakan dan kemauannya karena sangat egosentris. Orang tipe ini adalah yang sakit secara rohani, serta kehilangan potensi Fu’ad dan Shadrnya. Dia berjalan mengikuti aliran waktu yang tidak dipahaminya sendiri. Baginya tindakan adalah segala-galanya, tanpa pertimbangan moral dan perasaan. Hidupnya haus dengan kekuasaan, keserakahan dan kekuatan. Karena merasa paling pandai dan berbakat, maka dia mudah tersinggung, pemberang, sangat sensitif dan perilakunya seperti orang yanh selalu siap menyerang. Cara bicaranya mengalir dan susah diinterupsi, penuh semangat tapi tidak beraturan. (Tasmara, 2001; 112-116)

Menarik sekali ucapan Rasulullah S.a.w tentang adanya tiga kepribadian yang dilambangakan dengan melihat karakter orisinil dari perilaku Yahudi, Nasrani dan Majusi.
1. Tipikal Kepribadian Yahudi sebagai simbolisasi dari kecerdasan, ketajaman intelektual dan kreatif. Dicampur dengan tipe kepribadian ambisius, licik, agresif dan materialistik. Dan tipe ini merupakan gabungan antara Fu’ad dan Hawaa.
2. Tipikal Nasrani sebagai simbolisasi persenyawaan antara Fu’ad dan Shadr yang bermuatan emosi, cinta, kebijakan dan kesabaran.
3. Tipikal Majusi sebagai simbul persenyawaan antara Shadr dan Hawaa yang bermuatan sebagai karakter yang bergelora panas membakar, berorientasi materi, hedonis, dan serba duniawi yang gemerlap.

Sebenarnya seluruh manusia terlahir dalam keadaan fithrah, suci bening, bercahaya Ilahi. Hanya karena pengaruh dominan yang menggores atau mempengaruhi qalbunya, maka fithrahnya akan terpengaruh. Maka, sejalan dengan hadith diatas, tampaklah bahwa potensi di dalam qalbu mempunyai kandungan atau muatan kepribadian masing-masing yang kemudian mengental dan menjadi bentuk keinginan yang ditampung oleh Nafs. Dan peran dari Nafs yang menampung berbagai keinginan dari potensi qalbu tersebut akan tercermin dalam bentuk sikap dan tingkah laku yang nampak, yang berhubungan dengan tiga dimensi yaitu, hubungan dengan Allah, Aku dan Alam.
1. Dimensi kepribadian Fuhasha (Fu’ad dan Hawaa tinggi, Shadr rendah)
Tipikal orang dengan dimensi Fuha, terkesan cerdas tapi arogan. Karena mengabaikan Shadr maka, nilai estetika, kesabaran, tenggang rasa tidak terdengar sama sekali. Cerdas penuh ambisi dan obsesi tapi hampa tanpa emosi. Bertindak lugas, obyektif dan berorientasi pada tujuan. Dan untuk memenangkan pertarungan, terkadang nilai dan norma kadang terabaikan. Hubungan antara diri dan lingkungannya adalah hubungan untuk saling mengalahkan dan saling menghindar, lalu menguasainya. Termasuk tipe ini adalah: militer, brokerage, olahragawan.
2. Dimensi Kepribadian Fushaha (Fu’ad dan Shadr tinggi, Hawaa rendah)
Kepribadian Fusha akan melahirkan nafs yang penyabar, merenung, tafakur, cerdas dan bijak. Tipikal orang Fusha adalah penyabar, lemah lembut dan cenderung mengalah. Dia mengalami dan merasakan segalanya dengan jiwanya. Dan karena mengabaikan Hawaa, maka tipe ini terkesan lamban, mudah ditekan dan dikuasai, menunggu dan selalu mencari harmoni. Caranya berhubungan dengan pihak luar, dilakukan melalui cara simpatik, persuasif, dan mencoba untuk selalu mencari kerja sama, saling mendekat. Termasuk didalamnya: para filsuf, teoretikal, pendidik, konsultan.
3. Dimensi kepribadian Shaha (Shadr dan Hawa tinggi, Fu’ad rendah)
Tipe kepribadian yang Shaha, akan menampakkan dirinya sebagai manusia yang egois dan ambisius, tanpa menimbangnya secara intelektual. Bisa mengabaikan masalah moral. Mereka cenderung malas berpikir dan serba ingin cepat. Tipikal Shaha adalah tipikal manusia yang exhibitionistic dan suka pamer. Senang pujian dan tepukan. Hubungan diri dengan lingkungannya bersifat mendekat kemudian menghindar. Disatu sisi, Shaha adalah kepribadian yang sopan-santun, arif dan mempunyai kapasitas keindahan. Mampu membuat khayalan dan imjinasi. Dengan memanfaatkan pengetahuannya di masa lalu, dia mampu membuat proyeksi-proyeksi intuitif. Kadang dia merasa serba bisa, sangat energik dan tak kenal waktu. Dia senang berfilsafat dan mendalami segala sesuatu dengan perenungan batin, sehingga terkesan tampil sebagai sosok manusia yang penyabar dan arif bijaksana. Termasuk dalam kategori tipe ini semisal: para artis, salesman, propagandis, dan lain-lain. (Tasmara, 2001; 118-122).

Menurut Murthada Munthahhari didalam bukunya “Karakter Agung Ali bin Abi Thalib”, manusia itu dapat dibedakan atas 4 tipe kepribadian, yaitu :
1. Kepribadian Yang Tidak Menarik/Tidak Menyenangkan tetapi juga Tidak Dibenci.
Orang sejenis ini tidak ada yang menyenangi tetapi juga tidak ada yang membencinya/memusuhinya. Kehadiran ataupun ketidakhadiran orang ini ditengah orang-orang lain, tidak membawa pengaruh apapun terhadap kumpulan orang lain tersebut. Orang ini secara phisik ada didalam kumpulan itu tetapi pada hakekatnya dia tidak ada. Dengan demikian orang sejenis ini sama sekali tidak mempunyai arti di dalam kehidupan masyarakat. Manusia yang berkepribadian sejenis ini jumlahnya paling banyak.
2. Kepribadian Yang Menarik atau Menyenangkan dan Tidak Ada Yang Membenci.
Orang sejenis ini selalu berusaha agar disenangi oleh semua orang, termasuk diantara orang-orang yang saling berbeda karakter, idealisme dan prinsip. Untuk itu orang ybs akan senantiasa menyesuaikan diri dan bersetuju serta membenarkan karakter, idealisme & prinsip yang dimiliki setiap orang lainnya meskipun saling berbeda bahkan saling bertentangan antara satu dengan lainnya. Kepribadian jenis ini seringkali dinilai sebagai kepribadian yang ideal, padahal jika diteliti lebih dalam, maka orang sejenis ini sesungguhnya merupakan orang yang tidak mempunyai karakter/idealisme/prinsip, atau jika dia memilikinya, maka dia merupakan seorang yang munafik. Jika orang sejenis ini yg tidak punyai karakter/idealisme/prinsip menjadi teman kita, maka sungguh tidak ada manfaatnya, karena pada hakekatnya dia hanya akan mementingkan dirinya sendiri, karena dia ingin semua orang menyenanginya semata-2 utk kepuasan dirinya sendiri. Sedangkan Jika orang sejenis ini yg munafik menjadi teman kita, maka sungguh sangat berbahaya, karena dia sangat berpotensi menjadi musuh didalam selimut yang menikam dari belakang. Manusia yang berkepribadian sejenis ini sekalipun jumlahnya tidak banyak, tetapi hampir dapat dijumpai pada setiap kelompok manusia.
3. Kepribadian Yang Dibenci dan Tidak Ada Tertarik atau menyenangi.
Orang sejenis adalah a-sosial dan sangat egoistis. Dia menilai semuanya diluar dirinya adalah buruk dan salah. Dia membenci semua orang dan semua orang membenci dirinya. Orang sejenis ini hidup dalam dunianya sendiri, sehingga meskipun dibenci oleh semuanya, dia kurang berbahaya dibandingkan jenis kepribadian ke-2, karena disamping dia menyendiri, maka keberadaannyapun mudah dikenali. Manusia yang berkepribadian sejenis ini jumlahnya sangat sedikit.
4. Kepribadian Yang Menarik/Menyenangkan tetapi Sekaligus Juga Dibenci.
Orang sejenis ini adalah tipe orang yang berpegang teguh pada karakter/ idealisme/prinsipnya. Dia menyenangi dan disenangi oleh orang lain yang mempunyai kesamaan karakter/ idealisme/prinsip. Tetapi pada saat yang sama dia juga membenci dan dibenci oleh orang lain yang mempunyai karakter/ idealisme/prinsip yang bertentangan dengannya.

Menurut Islam, Orang jenis ini dapat dibedakan atas orang yang karakter positif dan orang yang karakternya negatif. Penilaian atas positif-negatif dilakukan berdasarkan ukuran syariat & aqidah agama. Disamping itu orang sejenis ini juga dapat dibedakan dari sudut kualitas kepribadiannya, yaitu semakin tinggi kualitas ketertarikan/-kesenangan atas dirinya, maka makin tinggi pula kualitas kebencian terhadap dirinya, juga berlaku sebaliknya. Contohnya, semakin tinggi kualitas ketertarikan/kesenangan /kecintaan para pengikut seorang nabi bahkan sampai pengikutnya itu bersedia mengorbankan nyawanya demi keyakinan akan kebenaran nabi yang bersangkutan, maka semakin tinggi pula kualitas kebencian para musuh nabi yang bersangkutan sampai-sampai timbul keinginan untuk membunuhnya. Semua tokoh umat manusia baik yang Positif seperti para nabi, wali, para pemimpin yang adil, dan lain-lain maupun yang negatif semisal para kriminal, pemimpin kaum yang dhalim dan lain sebaginya adalah dari manusia yang berkepribadian jenis ini.

Manusia yang berkepribadian sejenis ini jumlahnya tergantung pada kualitas kepribadiannya baik ygang negatif maupun positif. Jumlah yang berkualitas tertinggi dari jenis ini sangat sedikit jumlahnya , yaitu diantaranya para nabi, imam, wali san sebagainya. Mereka inilah yang mewakili kualitas positif, sedangkantokoh-tokoh seperti: Qabil, Jenghis Khan, Hitler dan beberapa lainnya –yang mewakili kualitas negatif)–. Sedangkan yang berkualitas menengah dan rendah, meskipun tidak banyak tetapi hampir dapat ditemui pada setiap kelompok manusia.
Menurut Islam, manusia yang kepribadiannya sejenis ini dengan kualitas positif (berdasarkan ukuran syariat & aqidah Islam) merupakan jenis kepribadian yang ideal.

Kepribadian dalam Pandangan Psikologi Barat
Tipe-tipe kepribadian
Pada dasarnya, setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda satu sama lain. Penelitian mengenai kepribadian manusia sudah dilakukan par ahli sejak dulu kala. Kita mengenal Hippocrates dan Galenus (400 SM dan 175 M) yang mengemukakan bahwa manusia bisa dibagi menjadi empat golongan menurut keadaan zat cair yang ada dalam tubuhnya. (Alex Sobur, 2003;314).
1. Melancholicus (melankolisi), yaitu orang-orang yang banyak empedu hitamnya, sehingga orang-orang dengan tipe ini selalu bersikap murung atau muram, pesimistis dan selalu menaruh rasa curiga.
2. Sanguinicus (sanguinisi), yakni orang-orang yang banyak darahnya, sehingga orang-orang tipe ini selalu menunjukkan wajah yang berseri-seri, periang dan selalu gembira, dan brsikap optimistis.
3. Flegmaticus (flegmatisi) yaitu orang-orang yang banyak lendirnya. Orang tipe ini sifatnya lamban dan pemalas, wajahnya selalu pucat, pesimis, pembawaannya tenang, pendiriannya tidak mudah berubah.
4. Cholericus (kolerisi) yakni yang banyak empedu kuningnya. Orang tipe ini bertubuh besar kuat, namun penaik darah dan sukar mengendalikan diri, sifatnya garang dan agresif.
Mengacu kepada pendapat Hippocrates dan Galenus maka secara garis besar tipe kepribadian manusia tersebut ada sisi kekuatan dan kelemahannya, yaitu;

1. Melancholicus (melankolisi)
kekuatan:
setia, tekun, introvert, pemikir, analitis, serius, artistik dan musikal, filosofis dan puitis, rapi, perfeksionis, tertib terorganisir, ekonomis, suka diagram, bagan dan grafik, hati-hati, mendengar keluhan, menghindari perhatian.
kelemahan:
perasa, mudah sakit hati, mudah tertekan, citra diri rendah, menjadi musuh diri sendiri, merasa tidak aman, menunda-nunda, menghabiskan banyak waktu untuk perencanaan, mengajukan tuntutan yang tidak realistis.
2. Sanguinicus (sanguinisi)
kekuatan:
spontan, lincah, periang, ekstrovert, optimis, kreatif dan inovatif, mudah berteman, suka dipuji, suka humor.
kelemahan:
terlalu banyak bicara, mementingkan diri sendiri, daya ingat terbatas, tidak tertib dan tidak dewasa.
3. Flegmaticus (flegmatisi)
kekuatan:
tenang, ramah, pengamat, sabar, rendah hati, konsisten, simpatik dan baik hati, menyembunyikan emosi, tidak tergesa-gesa, tidak mudah marah, menghindari konflik
kelemahan:
sulit berkomunikasi, kurang bersemangat, malas, tidak menyukai hal-hal baru, kurang motivasi, tidak berpendirian, sulit berkata tidak, sulit mengambil keputusan.
4. Koleris yang kuat (seorang yang dinamis tapi sok berkuasa dan tak sabaran)
kekuatan:
suka bekerja keras, suka petualangan, persuasif, percaya diri, berbakat sebagai pemimpin, dinamis, aktif, berkemauan kuat dan tegas, bebas dan mandiri, bergerak cepat, mendelegasikan tugas.
kelemahan:
Tidak bisa rileks, selalu pada posisi yang memegang kendali, yakin kalau dia yang paling benar, tidak ada toleransi, suka memanipulasi, tidak tahu bagaimana cara menangani orang lain, sulit minta maaf, sulit mengakui kesalahan.

Namun dalam praktek keseharian hampir sulit mencari individu yang mempunyai satu tipe kepribadian. Yang sering kita jumpai adalah individu yang memiliki profil kepribadian yang unik yang merupakan pencampuran dari berbagai kekuatan dan kelemahan dari tiap-tiap tipe kepribadian dasar. Kebanyakan orang mempunyai jumlah total yang tinggi dalam satu tipe dasar, dengan watak sekunder dan watak lainnya serta beberapa ciri khas yang tersebar. Pencampuran tipe-tipe dasar tersebut akan menghasilkan:
1. Campuran Alami
* Sanguinis dan Koleris
Biasanya orang yang memiliki campuran ini berpotensi menjadi pemimpin besar.
* Melankolis dan Phlegmatis
Perpaduan kepribadian ini akan membentuk seorang pendidik.
2. Campuran Pelengkap
* Koleris dan Melankolis
Perpaduan kepribadian ini menghasilkan pebisnis yang handal.
* Sanguinis dan Phlegmatis
Biasanya orang yang memiliki pencampuran ini cenderung untuk bersikap santai, bersenang-senang dan ceria, namun agak malas dan buruk dalam pengelolaan uang.
3. Campuran Berlawanan
* Sanguinis dan Melankolis
Perpaduan tipe ini menghasilkan pribadi yang emosional dan tidak terkendali.
* Koleris dan Phlegmatis
Orang yang memiliki pencampuran ini sering mengalami konflik batin dalam dirinya.

Dengan mengetahui dan memahami tipe kepribadian yang membentuk watak dasar kita bisa mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan nilai-nilai positif dan mereduksi nilai-nilai negatif.
Eduard Spanger, ahli ilmu jiwa dari Jerman, mencoba mengadakan penyelidikan kepribadian manusia dengan cara lain. Ia mengadakan penggolongan tipe manusia itu terhadap nilai kebudayaan yang hidup di dalam masyarakat. Nilai kebudayaan itu dibaginya menjadi enam golongan, yaitu: politik, ekonomi, sosial, seni, agama dan teori. Berdasarkan hal tersebut, ia membagi kepribadian manusia menjadi enam golongan atau tipe, yaitu:
1. Manusia politik. Orang bertipe politik memiliki sifat suka menguasai orang lain.
2. Manusia ekonomi. Suka berkerja dan mencari untung merupakan sifat-sifat yang paling dominan pada tipe orang ini.
3. Manusia sosial. Orang bertipe sosial memiliki sifat-sifat suka mengambdi dan berkorban untuk orang lain.
4. Manusia seni. Jiwa orang yang bertipe seni selalu dipengaruhi oelh nilai-nilai keindahan.
5. Manusia agama. Bagi mereka, yang lebih penting dalam hidup ini ialah mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.
6. Manusia teori. Sifat-sifat tipe manusia ini, antara lain suka berpikir, berfilsafat, dan mengabdi pada ilmu. (Alex Sobur, 2003;315).

C.G. Jung , seorang ahli penyakit jiwa dari Swiss, membuat pembagian tipe manusia dengan cara lain lagi. Ia menyatakan bahwa perhatian manusia tertuju pada dua arah, yakni ke luar dirinya yang disebut extovert, ke dalam dirinya yang disebut introvert. Ke mana arah perhatian manusia itu yang terkuat keluar dirinya, itulah yang menentukan tipe orang itu. Jadi, menurut Jung, tipe manusia bisa dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu (Purwanto, 1998):
1. Tipe extrovert, yaitu orang-orang yang perhatiannya lebih diarahkan keluar dirinyta, kepada orang lain dan kepada masyarakat.
2. Tipe introvert, orang-orang yang perhatianya lebih mengarah pada dirinya, pada ”aku”-nya.
Orang yang tergolong tipe extrovert mempunyai sifat-sifat : berhati terbuka, lancar dalam pergaulan, ramah, penggembira, kontak dengan lingkungan besar sekali. Mereka mudah mempengaruhi dan mudah pula dipengaruhi oleh lingkungannya. Adapun orang-orang yang tergolong tipe introvert memiliki sifat-sifat: kurang pandai bergaul, pendiam, sukar diselami batinnya, suka menyendiri bahkan sering takut pada orang lain.
Crow dan Crow (Lester D. Crow & Crow,1962;36) menguraikan lebih terinci sifat dari kedua golongan tersebut sebagi berikut:
Extrovert Introvert
* Lancar dalam bicara * Lebih lancar menulis ketimbang bicara
* Bebas dari kekhawatiran atau kecemasan * Cenderung atu sering diliputi kekhawatiran
* Tidak lekas malu dan tidak canggung * Lekas malu dan canggung
* Umumnya bersifat konservatif * Cenderung bersifat radikal
* Mempunyai minat pada atletik * Suka membaca buku-buku dan majalah
* Dipengaruhi oleh data objektif * Lebih dipengaruhi oleh perasaan subjektif
* Ramah dan suka berteman * agak tertutup jiwanya
* Suka bekerja bersama orang lain * Lebih senang bekerja sendiri
* Kurang memperdulikan penderitaan dan milik sendiri * Sangat menjaga/berhati-hati terhadap penderitaan dan miliknya
* Mudah menyesuaikan diri dan luwes * Sukar menyesuaikan diri dan kaku dalam pergaulan

Heyman (1857-1930), seorang psikolog berkebangsaan Belanda mencoba membuat pembagian kepribadian manusia berdasarkan sifat psikis yang menurut pendapatnya merupakan sifat pokok dari jiwa manusia. Sifat psikis tersebut ialah emosionalitas, aktivitas dan sekunder fungsi (proses pengiring).

LAPORAN & ANALISIS HASIL PENELITIAN
Skor kepribadian Mahasiswa FAI sebagaimana dapat di lihat pada tabel berikut:
NO NAMA Smt JUMLAH SKOR KET.
0—5 6 —14 16 — 20
01 A. Hanafi II √
02 Munir II √
03 Mahrus II √
04 Tatik Kusumawati II √
05 Agus Kharis II √
06 M. Kholil II √
07 Afrias II √
08 Agus Santoso II √
09 Iswatun Khasanah II √
10 Toyibatus Sholihah II √
11 Mudah II √
12 Umi Lestari II √
13 Noni II √
14 Irda II √
15 Lely IV √
16 Eliya IV √
17 Muhlisin IV √
18 Arifah IV √
19 Nik’atin IV √
20 Nanang IV √
21 Sriyani IV √
22 Abd. Faqih IV √
23 Mardono IV √
24 Zumrotus S. IV √
25 Jamaluddin IV √
26 Zainul Arifin VI √
27 Khoirunnas VI √
28 Mahfudli VI √
29 Idatur Rohmah VI √
30 Sami’atun VI √
31 Harmawan VI √
32 Siti Aminatur Rohmah VI √
33 Siti Ulfatul Abdi VI √
34 Amaliyah VIII √
35 Arip Subowo VIII √
36 Endi Siswanto VIII √
37 Yoyok Suhartono VIII √
38 Zainul Umami VIII √ √
39 Latifatul Azizah VIII √
40 Marfuatul Khasanah VIII √
41 Ahmad Fauzan VIII √
42 Ahmad Zuhdi VIII √
Jumlah 28 14
Prosentase 66,66% 33,33%

Dari tabel di atas diketahui bahwa mayoritas mahasiswa FAI Unisda (66,66%) mempunyai kepribadian yang individualistik. Dalam istilah Crow dan Crow berarti kecenderungan mahasiswa FAI mempunyai tipe introvert. Dan sekitar 33,33 % lainnya mempunyai kepribadian yang humanistik atau ekstrovert. Mungkin ini menjadi tanda tanya, kenapa sebagian besar mahasiswa FAI berkepribadian introvert ? Penulis mencoba menengok secara komprehensif persoalan ini. Sebab kepribadian itu tercipta tidak dengan tiba-tiba tetapi melalui proses waktu yang lama. Manusia (baca; mahasiswa) itu banyak dipengaruhi oleh paling tidak tiga lembaga yang harus selalu bersinergi, yakni; dunia sekolah, orang tua dan milieu (teman/tokoh masyarakat). Apalagi kalau kita analisis lebih dalama ternyata dunia pendidikan kita juga kurang bisa mengembangkan 5H. Yakni Hand (ketrampilan), Head (intelegensi), Heart (psikologis), Humanity (kemanusiaan) dan Happy (kebebasan).
Dengan demikian, dalam bahasa sederhana bahwa kita tidak bisa ‘menonjok’ salah satu institusi yang paling bertanggung-jawab dalam membentuk pribadi seseorang. Tetapi sebaiknya semua pihak bisa bersinergis untuk menjadikan pribadi-pribadi mahasiswa –khususnya Unisda– yang berkualitas secara sains maupun qalbu.

KHATIMAH
Bahwa baik buruknya pribadi seseorang, sangat tergantung pada kadar simpanan pe¬mikiran dan keinginannya. Bagai¬mana cara berpikirnya dan bagai¬mana caranya memenuhi keingin¬an-keinginan pribadinya, itulah warna kepribadiannya, identitas pribadinya dan jati dirinya. Rasulullah Saw bersabda:
إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلاَإِلَى أَجْسَامِكُمْ وَلَكِنَّ اللهَ يَنْطُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk badan dan rupamu, tetapi langsung melihat niat dan keikh¬lasan dalam hatimu”. (HR Mus¬lim dalam Riyadhush Sholihin Imam Nawawi).
Jelaslah, bahwa pembentuk kepribadian dan ukuran-ukuran penilaian suatu kepribadian bu¬kanlah harta seseorang, bentuk rupanya, badannya atau hal-hal fisik lain yang hanya merupakan asesori atau sekedar menjadi kulit-kulit luar suatu kepribadian, melainkan isi dalam diri seseo¬rang, yakni cara berpikirnya dan sikap jiwanya. Itulah esensi kepribadian. Wallahhu a’lam

( Pernah dimuat majalah LPPM Unisda Volume 1 Edisi Januari – Juni 2009)

DAFTAR PUSTAKA

Crow, Lester D. & Slice Crow, 1962. Educational Psychology, American Book Company, New York.
Imam Nawawi, t.t. Riyadhush Sholihin.
Muthahhari, Murtadha. 1998. Perspektif Al-Quran tentang manusia dan agama. Mizan, Bandung.

Muthahhari, Murtadha. 1995. Manusia seutuhnya. Terj: Abdillah Hamid Ba’abud. Yayasan Pesantren Islam, Bangil.

Tasmara, Toto. 2001. Kecerdasan Ruhaniah (Trancendental Intelligence). Gema Insani Press, Jakarta.

Sobur, Alex, 2003. Psikologi Umum . Pustaka Setia, Bandung .

Rakhmat, Jalaluddin, 2001. Psikologi Agama . Mizan, Bandung.

LAMPIRAN :
TES KEPRIBADIAN DAN KECERDASAN SOSIAL

NAMA : …………………………………..………………………………………..
SEMESTER : ………………………………………………………………..…………..
FAKULTAS : ……………..……………………………………………………………..
————————————————————————————————————
Untuk mencoba mengukur apakah Anda tergolong pribadi yang menyenangkan atau tidak, jawablah pertanyaan ini !

Lingkarilah pilihan yang paling mendekati diri Anda !
1. Saat berkumpul bersama teman-teman…
A. Saya lebih suka menjadi pendengar dan tidak banyak bicara, saya akan berespon bila mana perlu dan diminta
B. Saya cenderung kurang menikmati suasana bersama teman-teman, bila saya boleh meilih saya lebih suka sendiri dan ini terasa lebih nyaman bagi saya
C. Saya tergolong orang yang cukup heboh bila sedang berkumpul, dan saya sangat menikmati kebersamaan itu
2. Bila bertemu dengan kawan-kawan lama (cukup dekat) yang sudah lama tidak berjumpa
A. Mereka nampak sangat gembira dengan kehadiran saya, demikian juga saya, dan kami akan terlibat perbincangan yang seru
B. Mereka nampak tidak kenal dan terkesan ragu-ragu saat berjuma dengan saya, walaupun saya tahu persis siapa teman-teman saya itu
C. Mereka tersenyum dan menyapa dengan ramah, setelah itu kami berbincang sekedar basa-basi dan kemudian kami saling berpisah begitu saja.

3. Tentang keakraban
A. Saya tergolong orang yang sulit dekat dengan orang lain, dan hanya beberapa orang saja yang dekat saya, dan mereka adalah orang-orang yang benar-benar memahami saya
B. Saya bisa berteman dengan orang model apapun dan saya relatif mudah akrab dengan orang
C. Saya cukup mengenal teman-teman saya, di mata saya mereka sama saja, tidak ada yang terlalu dekat, dan tidak ada yang terlalu jauh

4. Tentang kekaguman
A. Saya terkadang mengagumi teman saya yang memiliki kelebihan, dan itu membuat saya ingin dekat dengannya agar dapat mencontoh sisi baiknya
B. Saya mudah iri pada orang lain yang memiliki kelebihan yang saya harapkan ada pada saya, dan hal itu membuat saya merasa tidak nyaman bila bergaul dengan mereka
C. Setiap orang memiliki kelebihan dan kelemahan, begitupun dengan saya. Saya tidak mudah iri pada orang lain, namun saya juga bukan orang yang rendah diri

5. Tentang busaya kritik
A. Saya lebih suka mengkritik daripada memuji. Memuji bagi saya sangat mahal dan tidak banyak gunanya, dan akan lebih berguna bila ia tahu kelemahannya
B. Saya gampang memuji seseorang, bila memang saya merasa ada sesuatu yang saya kagumi darinya, tapi saya juga mudah menyampaikan kritik dan biasanya saya sampaikan kritik itu dengan selorohan (candaan) sehingga teman-teman saya jarang yang merasa sakit hati dengan saya
C. Alangkah indahnya bila kita dapat menerima orang lain apa adanya, baik itu kelebihan atau kelemahan. Tidak ada yang perlu di cela atau dipuji

6. Mensiptakan suasana pergaulan
A. Saya terkadang merasa bingung, apa yang harus saya katakan dan lakukan bila sedang bersama dengan teman-teman saya. Suasana seperti ini sangat tidak nyaman buat saya
B. Saya termasuk orang yang jarang menciptakan suasana, dan cenderung mengikuti apa saja suasana perbincangan bersama teman-teman saya, bila ada yang perlu ditanggapi ya ditanggapi
C. Saya termasuk orang yang memiliki ide-ide yang banyak dan menarik untuk dibicarakan bersama teman-teman

7. Konflik interest
A. Saya termasuk orang yang cenderung menghindari konflik dengan teman-teman saya, karena itu saya jarang mengkritik atau berbicara yang kasar, saya juga menghindari perbincangan yang menjurus pada hal-hal yang bersifat pribadi
B. Saya termasuk orang yang mudah menikmati suasana, dan mudah menyukai orang, dan saya jarang terlibat masalah dengan teman-teman saya
C. Saya termasuk orang yang emosional (mudah marah) dan cepat tersinggung. Karena itu saya kurang suka bersama dengan teman-teman yang kurang sreg bagi saya, karena saya sering terlibat konflik/masalah dengan mereka bila sedang bersama

8. Mental-emotional
A. Saya cenderung menghindari dari kebersamaan bila sedang tidak mood (pikiran bingung), saya lebih suka sendiri dan merenung. Bila sudah tenang, saya akan kembali bersama orang-orang di sekitar saya
B. Saya cenderung mudah menguasai emosi saya, walaupun saya sedang tidak mood (pikiran bingung) biasanya saya akan cerita pada teman-teman saya tentang suasana hati saya, dan mereka biasanya akan mensuport saya sehingga saya kembali tenang dan bisa tersenyum kembali
C. Bila sedang tidak mood (pikiran bingung), saya mudah kesal dengan orang dan orang pun biasanya jadi bingung dengan sikap saya

9. Panggilan jiwa (empati)
A. Saya jarang berpikir untuk menyenangkan hati orang lain, karena saya sendiri jarang merasa bahagia. Sulit buat saya untuk menghibur orang lain, sementara saya sendiri tidak bisa menghibur diri sendiri
B. Saya bisa memahami orang-orang yang sedang mengalami kesulitan atau masalah, dan saya tidak keberatan untuk bersamanya dengan mengambil sikap duduk dengan tenang
C. Saya selalu merasa terpanggil untuk menghibur orang lain yang sedang sedih atau mengalami masalah, dan berusaha semaksimalnya sampai ia lupa akan kesedihannya dan bisa kembali berpikir tenang dan realistis
10. Bila melihat orang lain sedang bahagia atau mencapai suatu keberhasilan
A. Saya ikut senang, suka rasanya bila melihat orang lain bisa berbahagia
B. Saya sering berpikir, seandainya saya bisa sebahagia dia dan seberuntung dia
C. Sikap saya wajar saja, sebab setiap orang memang ada waktunya untuk mendapatkan kebahagiaannya

SKOR TOTAL = …………………….

Metode Skor untuk masing-masing soal adalah sebagai berikut :
1. a=1 b=0 c=2
2. a=2 b=0 c=1
3. a=0 b=2 c=1
4. a=2 b=0 c=1
5. a=0 b=2 c=1
6. a=0 b=1 c=2
7. a=1 b=2 c=0
8. a=1 b=2 c=0
9. a=0 b=1 c=2
10. a=2 b=0 c=1

BILA JUMLAH NILAI YANG ANDA PEROLEH:
1. 0–5, berarti Anda tergolong pribadi yang cenderung kurang menikmati suasana dan kurang menyukai diri sendiri, otomatis juga kurang menyenangkan bagi orang lain. Anda kurang berminat untuk menjalin kontak sosial, karena Anda sendiri kurang mampu mengambil keuntungan (manfaat) atau memberikan sesuatu pada suatu interaksi sosial.
2. 6–14, Anda tergolong pribadi yang individualistik (tidak ingin menggangu atau tergganggu oleh orang lain). Anda tidak menghindari hubungan interpersonal, namun warna hubungan Anda terkesan tidak mendalam
3. 15–20, Anda tergolong pribadi yang cenderung menyukai hubungan interpersonal, Anda merasa nyaman dengan keberadaan diri, dan otomatis berusaha untuk membuat orang lain nyaman pada Anda. Anda mampu mengambil suatu manfaat dari sebuah interaksi, dan Andapun pada akhirnya berusaha untuk memberi dalam setiap interaksi.

—0000OOO00000—

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: