INOVASI KHUTBAH JUMAT (Respon dan Pandangan Jama’ah Shalat Jumat di Kabupaten Lamongan)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah.
Khutbah Jumat menduduki peran yang vital, baik bagi pembinaan kehidupan beragama maupun kemasyarakatan. Di samping itu, khutbah merupakan bentuk ibadah ritual yang berfungsi sebagai sarana untuk mencerdaskan umat, meningkatkan pengetahuan dan wawasan keagamaan, serta dapat menjadi sarana dakwah yang efektif dan efesien. Dengan kata lain, khutbah merupakan media yang sangat strategis untuk menyampaikan nasihat, gagasan dan informasi sosial keagamaan, atau untuk menawarkan ide-ide pembaharuan demi kemajuan ummat. Lebih-lebih perkembangan khutbah dewasa ini, dimana kehidupan modern dengan problem-problem kontemporernya kian menuntut agar para khatib dan muballigh mampu menjawab tantangan-tantangan aktual yang dihadapi oleh kaum muslimin.
Hanya masalahnya, apakah khutbah-khutbah yang dilaksanakan selama ini sudah berfungsi demikian ? Kalau kita berkata jujur dan objektif, kiranya dalam banyak hal tujuan tersebut belumlah tercapai. Khutbah pada umumnya masih jauh dari memuaskan. Baik dari segi pemilihan topik, penyajian materi, penyusunan naskah dan gaya bahasa atau segi pemanfaatan waktu dan penampilan para khatib.
Apalagi kalau dicermati lebih detil lagi, masih banyak fenomena yang muncul selama khutbah berlangsung yaitu sering terjadi perhatian para jama’ah terbagi-bagi. Ada yang tetap berkonsentrasi, ada yang pandangannya kosong, sama sekali tidak mendengarkan khutbah, dan tidak sedikit pula yang mengantuk. Bahkan yang lebih tragis adalah adanya fenomena umum di masjid-masjid kita, begitu khatib naik mimbar untuk berkhutbah, bersamaan itu pula jamaah bersiap-siap untuk mengantuk. Ada sebagian yang bertahan sambil sesekali menguap atau merubah posisi duduknya dengan mendekap kedua lututnya, tapi tidak tahan lama, akhirnya menyerah dan terkulai. Lucu memang, namun itulah pemandangan umum yang bisa disaksikan hampir di semua masjid.
Mengapa mereka mesti mengantuk, faktornya bisa bermacam-macam. Misalnya, suasana lingkungan masjid. Bangunan masjid di terik tengah hari dengan ruang yang teduh, besar dan lapang, sungguh ia nampak begitu sejuk dan nyaman. Bagi kelompok tertentu, itu sudah cukup membuat mereka kantuk. Apalagi ditambah dengan hembusan angin, dan tubuh para jamaah yang pada umumnya kelelahan sehabis kerja menjelang Jumatan. Jadi, tidak terlalu salah bila dikatakan, sejuknya masjid bisa membuat para jama’ah terkantuk-kantuk. Di samping itu, kalau kemudian Khutbah Jumat terkesan kurang bermanfaat, karenanya jamaahnya-pun banyak yang tertidur, maka kesalahan terbesar sering dialamatkan kepada para jamaah itu sendiri, yang dinilai kesadaran keberagamannya masih rendah.
Namun demikian, pada galibnya yang lebih sering dijadikan sasaran kesalahan adalah peran Khatibnya, yang dianggapnya tidak mampu membangkitkan gairah para jama’ah. Khatib dianggap tidak menarik, membosankan, lagi-lagi dia, materinya itu-itu saja, dan komentar minor lainnya. Belum lagi kalau kita menengok khutbah di kebanyakan masjid pedesaan yang masih tradisional, yang umumnya hanya mematok satu atau dua orang sebagai Khatib tetap, sehingga dari Jumat ke Jumat hanya orang-orang itu saja yang Khutbah. Kalau benar gaya lama seperti ini yang masih dipraktekkan, maka jangan heran kalau dikatakan Khatib sendirilah sebenarnya yang menjadikan jamaah enggan mendengarkan khutbah, sehingga mereka lebih senang kantuk. Dan janganlah disalahkan, kalau akhirnya banyak di antara jamaah yang sengaja datang Jumatan justru pada khutbah kedua hampir selesai.
Dengan mendasarkan realitas tersebut, maka penelitian ini berupaya mengungkapkan respon dan pandangan Jama’ah Shalat Jumat terhadap pemilihan topik dan penyajian materi sang Khatib dalam menyampaikan Khutbahnya di Kabupaten Lamongan.

B. Alasan Pentingnya Penelitian
Khutbah pada dasarnya mempunyai nilai-nilai keindahan dan kesenian, yang dalam khazanah kebudayaan Islam disebut fannul khitabah (seni berpidato). Karena dilihat dari segi isi bahasa dan teknik penyampaiannya, khutbah dapat digolongkan sebagai bagian dari seni retorika.
Karena khutbah ada kaitannya dengan seni berpidato, maka akan lebih baik kiranya bila seorang khatib menguasai teori-teori seni berpidato, khususnya segi pengaturan suara, dan seni akting atau penampilan. Dan tentunya, untuk menguasai semua ketrampilan itu dibutuhkan adanya bakat seseorang. Walaupun kenyataan di lapangan banyak terjadi, tanpa dukungan bakat yang istimewa pun seseorang dapat menjadi khatib atau muballigh yang terkenal, asalkan ia rajin menambah pengetahuan, ketrampilan dan memperbanyak pengalaman berbicara di depan umum. Hanya saja, bagi yang berbakat tentu akan lebih cepat dan lebih punya peluang untuk meraih kesuksesan sebagai orator yang mahir berbicara di hadapan jama’ah.

C. Identifikasi Masalah

1. Kenapa para jamaah mayoritas mengantuk ketika khutbah berlangsung ?
2. Kenapa tema-tema yang disampaikan para khatib kurang menarik ?
3. Apa saja keluhan para jamaah ?
4. Apakah khutbah juga ada seninya ?
5. Bagaimanakah sosok khatib yang ideal itu ?
6. Siapa yang patut menjadi khatib ?
7. Apa saja yang perlu disiapkan bagi khatib pemula ?
8. Apa yang sering dijadikan bahan sorotan bagi seorang khatib ?
9. Mungkinkah khutbah Jumat dengan dialogis ?
10. Apakah sang khatib juga perlu menggunakan bahasa yang efektif ?
11. Mana yang efektif menyampaikan khutbah dengan naskah atau tidak ?
12. Bagaimana gaya retorika yang baik itu ?
13. Apakah kriteria khutbah yang efektif itu ?
14. Apa yang dimaksud dengan cacar khutbah ?
15. Khutbah itu 10 menit ataukah 20 menit ?
16. Apa saja tema-tema yang sering disampaikan di masjid perkotaan dan pedesaan ?

D. Originalitas Penelitian
Penelitian ini memfokuskan pada respon dan tanggapan Jama’ah Shalat Jumat terhadap pemilihan topik dan penyajian materi sang khatib dalam menyampaikan khutbahnya di Kabupaten Lamongan, yang sepengetahuan penulis belum pernah dilakukan oleh peneliti lain. Bahkan kalau ada, justru dalam bentuk buku-buku khutbah, yang jika dikritisi masih sebatas memberikan materi khutbah itu sendiri, tetapi belum pernah menyentuh esensi persoalan yang terkait dengan jama’ah itu sendiri.
Dalam pengamatan penulis buku-buku yang beredar tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga katagori yang menonjol; Pertama, buku khutbah dengan tulisan pego semisal; ”Sautul Mimbar” karangan: K.H. Ahmad Harun Asrori dari Ngadirejo Temanggung Jawa Tengah; Kedua, buku khutbah dengan tulisan Bahasa Jawa, semisal; ”Khutbah Jumat Basa Jawi Mimbariyah” karangan: KH. Misbah Mustofa dan Ketiga, buku khutbah dengan tulisan Bahasa Indonesia, misalnya;”Khutbah Sepanjang Masa” terbitan Khalista Surabaya.

BAB II
PERUMUSAN MASALAH

A. Rumusan Masalah
1. Faktor-faktor apa saja yang mengakibatkan para jamaah mengantuk ?
2. Mungkinkah khutbah dengan quantum atau dialogis ?
3. Bagaimanakah ciri-ciri penyampaian khutbah yang kreatif dan inovatif itu ?

B. Definisi
1. Khutbah
Khutbah sering disamakan dengan ceramah, hanya saja khutbah cenderung mengarah pada persoalan yang sakral, berbeda dengan ceramah yang lebih luas cakupannya dan cenderung bersifat profan.
2. Inovasi
Inovasi searti dengan kata pembaharuan, perubahan (change) dan reformasi. Inovasi adalah tindakan memperkenalkan yang baru untuk menggantikan yang lama untuk variasi, menuju kondisi yang lebih baik, dan sebagainya. (P.J.S. Purwardarminto, 1996; 2889).
3. Respon
Menurut J. B. Watson, respon adalah reaksi obyektif dari individu terhadap situasi sebagai perangsang, yang wujudnya juga dapat bermacam-macam sekali, seperti; refleks pattela, memukul bola, mengambil makanan, menutup pintu, dan sebagainya ( Sumadi Suryabrata, 1995; 287).

C. Asumsi
Jika Khatib Jumat adalah figur-figur yang kreatif, simpatik, inovatif dan digilir secara terjadwal, niscaya jamaah akan memperoleh suguhan khutbah-khutbah yang menarik dan berkualitas, baik dari segi penampilan maupun materinya. Sehingga tidak ada alasan bagi jamaah mengantuk. Mereka yang biasanya kerepotan menahan kantuk akan berubah jadi bersemangat untuk menikmati alunan suara khatib dan tekun mengikuti kata demi kata, kalimat demi kalimat yang diucapkannya. Dengan begitu, suasana khutbah dan prosesi Jumatan pun akan terasa bergairah, hangat dan tidak menjemukan. Dan sebaliknya, jika sang khatib tidak seperti harapan para jama’ah maka bisa dipastikan para jama’ah semakin tidak menghiraukannya.

D. Batasan
Melihat begitu kompleksnya persoalan yang terkait pada Khutbah Jumat maka dalam penelitian ini difokuskan pada respon dan pandangan Jama’ah Shalat Jumat terhadap pemilihan topik dan penyajian materi sang khatib dalam menyampaikan khutbahnya di Kabupaten Lamongan.

E. Lingkup Penelitian
Fokus permasalahan yang menjadi lingkup penelitian ini adalah pada aspek sosok khatib yang ideal dan bagaimana agar materi khutbah itu tidak monoton tetapi bisa inovatif .

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pendahuluan

Khutbah teologis, kata Jung, adalah mitologem, serangkaian citra arketipal yang memberikan “gambaran yang agak tepat tentang transendensi yang tak terbayangkan” (1976:682). Jung berkata bahwa setiap ajaran agama (sistem doktrin atau ajaran) muncul pada satu sisi, atas dasar pengalaman yang batiniah, dan pada sisi yang lain, atas dasar kepercayaan pada pengalaman itu dan perubahan yang ditimbulkannya dalam kesadaran. Kepercayaan adalah formalisasi (kodifikasi) dari pengalaman relegius yang awal, yang timbul dari kontak dengan yang tak sadar. Bahwa arketip sama dengan dogma agama, menurut Jung, dapat ditunjukkan secara empiris.

B. Ritual Keagamaan
Jika doktrin adalah pernyataan simbolis, maka ritual adalah tindakan simbolis. Seperti simbol pada umumnya, Jung melihat ritual sebagai sesuatu yang secara spontan muncul dari, dan mengungkapkan, sumber tak sadar. Dalam ritual, kata Jung, orang meletakkan dirinya di bawah perintah agen yang abadi dan otonom di luar kesadaran dan kategorinya. Ritual bertindak seperti wadah yang menerima isi tak sadar. Banyak ritual, menurut catatan Jung, mempunyai maksud untuk menimbulkan efek baatiniah. Ritual, sebagai perantara simbolis antara tak sadar dan sadar, adalah cara yang aman untuk menghadapi tak sadar. Ritual membawa jiwa tak sadar kepada jiwa sadar. Tetapi, ritual melakukannya dengan tepat sehingga tak sadar tidak menguasai kesadaran. (Rakhmat, 2004, 221-222)
Secara umum, kesalehan dan seringnya mengikuti kegiatan agama, baik sendirian ataupun bersama, berhubungan dengan kesehatan mental yang lebih baik. Secara lebih spesifik menurut Rakhmat (2004; 226) yang mengutip hasil penelitian Koening sebagai berikut :

▪ Sejumlah besar penduduk Amerika (sekitar 20—40%) mengatakan bahwa agama ialah salah satu dari faktor penting yang membantu mereka mengatasi situasi hidup yang penuh stres.
▪ Penggunaan agama sebagai perilaku koping berkaitan dengan harga diri yang lebih tinggi dan depresi yang lebih rendah, terutama di kalangan orang-orang yang cacat fisik. Agama juga dapat meramalkan siapa yang akan atau tidak akan mengalami depresi.
▪ Komitmen agama yang taat (terutama keberagaman intrinsik) berkaitan dengan tingkat depresi yang lebih rendah, penyembuhan dari depresi yang lebih cepat, kesejahteraan dan moril yang lebih tinggi, harga diri yang lebih baik, locus control yang internal, perkawinan yang lebih bahagia, penyesuaian diri yang lebih cepat pada psien yang menderita dimensia atau kanker stadium terakhir.
▪ Pengunjung gereja atau sinagog yang rajin, berkaitan dengan 40—50% pengurangan risiko depresi, tingkat bunuh diri yang lebih rendah, tingkat kecemasan yang lebih rendah, tingkat alkoholisme dan penggunaan zat adiptif yang lebih rendah, dukungan sosial yang lebih tinggi, kebahagiaan, penyesuaian, dan kesejahteraan yang lebih besar, harga diri yang lebih tinggi, kepuasan hidup yang lebih tinggi; dan meramalkan perasaan yang positif dua belas tahun kemudian pada orang dewasa muda.
▪ Kegiatan agama sendirian, seperti sembahyang dan membaca Alkitab, berkaitan dengan kesehatan yang lebih besar, kepuasan hidup yang lebih tinggi, kecemasan mati yang lebih rendah, dan tingkat alkoholisme dan penggunaan obat yang lebih rendah pula.
▪ Intervensi psikoterapis untuk mengatasi depresi dan anxiety disorder yang mengintegrasika agama dengan psikoterapi mempercepat penyembuhan lebih tinggi dari teknik psikoterapi sekuler saja.

Di sisi lain, efek kepercayaan dan pengalaman agama pada kesehatan fisik sama dengan pada kesehatan mental. Pada umumnya, orang yang beragama lebih sehat daripada orang orang yang tidak. Secara lebih spesifik sebagai berikut:
▪ Pada tingkat tertentu penyaklit kronis, lelaki yang lebih relegius meng-anggap kemampuannya untuk berfungsi secara sosial lebih tinggi daripada orang yang relegius.
▪ Frekuensi kunjungan ke geraja dapat meramalkan tingkat ketidakmampuan fisik yang lebih rendah pada orang tua, pada satu, dua, atau tiga tahun berikutnya.
▪ Keberagaman meramalkan penyembuhan lebih cepat dari fraktur tulang pada (diukur dari berapa meter berjalan dan status ambulans pada saat keluar dari rumah sakit).
▪ Intensitas kepercayaan agama dan kehadiran di tempat ibadah berkaitan dengan tingkat sakit yang lebih rendah seperti dirasakan oleh pasien kanker stadium akhir.
▪ Keberagaman berkaitan dengan tingkah merokok yang lebih rendah.
▪ Kehadiran di gereja dan persepsi tentang pentingnya agama berkaitan dengan tekanan darah yang lebih rendah, baik sistolik maupun diastolik.
▪ Kehadiran di gereja (mingguan atau lebih sering) berkaitan dengan resiko serangan jantung yang lebih rendah. Ortodoksi keagamaan dan kehadiran ke gereja berkaitan dengan infarksi neokardial yang lebih sedikit dan tingkat kematian karena penyakit jantung koroner yang lebih rendah.
▪ Koping keagamaan berkaitan dengan tingkat kematian yang lebih rendah pada umumnya.
▪ Do’a penyembuhan terbukti menimbulkan komplikasi kardiovaskular yang lebih rendah setelah dimasukkan ke unit perawatan jantung, walaupun mekanisme efek ini (jika benar) belum diketahui.
▪ Kelompok agama tertentu punya tingkat kanker yang lebih rendah disebabkan oleh cara makan, gaya hidup, dan barangkali tingkata komitmen keagamaan; efek protektif ini nampaknya berlaku pada seluruh komunitas, mempengaruhi bahkan orang yang tidak seagama.
▪ Orang-orang yang lebih relegius tampaknya memiliki secara keseluruhan tingkat mortalitas lebih rendah pada lebih dari 80% penelitian yang meneliti hubungan antara agama dan kesehatan mental.

Dengan melihat data di atas dapat dikatakan bahwa efek agama pada kesehatan mental dan fisik pada keluarga yang relegius umumnya (1) punya keluarga yang lebih bahagia, (2) punya gaya hidup yang lebih sehat, (3) dapat mengatasi stres, (4) hidup lebih lama dan lebih sehat, (5) terlindungi dari penyakit kardiovaskular, (6) punya sistem imun yang lebih kuat, dan (7) lebih sedikit menggunakan jasa rumah sakit.

C. Penggerak Tingkah Laku
Menurut Ahmad Mubarok dalam buku psikologi dakwah (2002; 78-104) dikatakan, sebenarnya tingkah laku menusia dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya adalah : faktor personal, situasional, biologis dan sosiopsikologis.
a. Faktor Personal (biologis)
Bahwa motif biologis sangat dominan dalam mempengaruhi tingkah-laku manusia, terutama dianut oleh teori psikoanalisanya Freud. Teori ini sekalipun pun dikritik banyak pihak namun dalam beberapa hal dapat membantu seorang khatib memprediksi tingkah laku jama’ah. Karena pada dasarnya manusia memang makhluk biologis yang mempunyai syahwat atau keinginan-keinginan. Motif biologis yang mempengaruhi perilaku manusia dapat dibagi menjadi dua; Pertama, kebutuhan makan, minum dan istirahat. Betapapun suatu khutbah Jumat itu baik, tetapi jika jam’ahnya sudah lapar, maka konsentrasinya akan terpecah. Secara psikologis orang yang lapar pikirannya cenderung didominir oleh makanan. Kedua, Kebutuhan Seksual. Setiap manusia yang normal pasti memiliki kebutuhan seksual. Kebutuhan tersebut dalam tingkat tertentu bahkan dapat mendominir pikiran orang sehingga segala sesuatu yang merangsang inderanya diterjemahkan kepada hal-hal yang sensual.

b. Faktor Situasional
Jika kita berada di lapangan kemudian menemukan sebuah bola maka secara reflek kita menendang bola tersebut, tetapi jika bola itu kita temukan di dalam masjid misalnya, maka dorongan untuk menendang bola itu tidak ada atau kurang. Kecenderungan itu terjadi pada seorang pemain bola maupun bukan. Perilaku itu bukan didorong oleh faktor personal, tapi oleh faktor situasional, yaitu bahwa suasana di lapangan bola mendorong untuk menendang bola, sedang suasana masjid justru mendorong untuk tidak menendang bola. Itulah contoh pengaruh situasional yang mempengaruhi tingkah laku.
Menurut teori psikologi sosial, faktor situasional yang mempengaruhi tingkah laku manusia dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu; aspek-aspek obyektif dari lingkungan itu sendiri dan lingkungan psikososial dimana seseorang hidup. (Mubarok, 2002; 88)

c. Faktor Sosiopsikologis
Faktor sosiopsikologis adalah faktor karakteristik yang disebabkan oleh proses sosial yang dialami oleh setiap orang. Dan karakteristik ini mempengaruhi tingkah lakunya. Banyak teori tentang hal ini, tapi pada dasarnya ada yang bersifat afektif, kognitif dan konatif (kebiasaan).

D. Teori penyampaian dan penerimaan khutbah

Ahmad Mubarok (2002; 108) menjelaskan model proses psikologis penyampaian dan penerimaan khutbah sebagai berikut:

sensasi berpikir
Sistem Komunikasi
Intra Personal, sbb ;
1. penerimaan stimulus
2. pengolahan informasi
persepsi 3. penyimpanan informasi memori
4. menghasilkan kembali-
suatu informasi

Dikatakan oleh Mubarok (2002; 108) menurut ilmu komunikasi, suatu informasi diterima orang melalui tahap-tahap yaitu: (1) penerimaaan stimulus informasi, (2) pengolahan informasi, (3) penyimpanan informasi, dan (4) menghasilkan kembali suatu informasi. Proses bagaimana orang menerima infromasi, mengolahnya, menyimpan dan menghasilkannya kembali, dalam psikologi komunikasi disebut sebagai Sistem Komunikasi Intra Personal. Proses ini meliputi sensasi, persepsi, memori dan berpikir.

BAB IV
TUJUAN PENELITIAN
A. Tujuan Umum
1. Sebagai bahan pengetahuan dan ketrampilan praktis tentang tugas dan peranan khatib, yang materinya selain bersumber dari kepustakaan, juga hasil dari pengamatan dan penelitian (risearch).
2. Untuk memberikan kesegaran dan rangsangan bagi tumbuhnya kreatifitas khatib dan semua kalangan yang bergerak di bidang dakwah untuk melakukan pembaharuan dan kemajuan.

B. Tujuan Khusus
1. Untuk memperoleh gambaran tentang faktor-faktor yang mengakibatkan para jamaah mengantuk.
2. Ingin mengetahui beberapa alternatif yang memungkinkah khutbah dengan quatum atau dialogis.
3. Ingin mengetahui khutbah yang kreatif dan inovatif.

BAB V
METODE PENELITIAN

A. Flow Chart kegiatan penelitian

B. Metode dan Instrumen pendataan
1. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, untuk memberikan jawaban atas gambaran mengenai keberadaan khutbah Jumat.
2. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran dokumentasi (data skunder), yaitu mempelajari berbagai jenis dokumen yang relevan dengan tujuan penelitian ini, adapun data primernya dilakukan dengan wawancara yang mendalam dengan para ketua takmir masjid dan khatib-khatib yang terlibat langsung dalam aktivitas khutbah Jumat.
3. Kuesioner dilakukan terhadap para jamaah yang terlibat langsung dalam aktivitas Shalat Jumat.

C. Metode analisis data dan validasi
Untuk menganalisis data yang diperoleh, penulis menggunakan teknik analisis deskriptif. Adapun validasinya menggunakan validitas internal dan validitas eksternal.

2 Balasan ke INOVASI KHUTBAH JUMAT (Respon dan Pandangan Jama’ah Shalat Jumat di Kabupaten Lamongan)

  1. Nur Aminul Chakim mengatakan:

    Asalamualaikum Wr.Wb.
    saya mahasiswa semester 4 pagi, boleh minta tipsnya gak pak,,, giman caranya tulisan kita bisa masuk di wordpress… terimakasih sebelum dan sesudanya. wasalam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: