DAG, DIG, DUG, PASCA UN

Usai sudah perhelatan Ujian Nasional (UN) SMA/SMK/MA dan SMP/MTs. Namun bukan berarti persoalan yang menyangkut dunia pendidikan kita telah beres semua. Lihatlah seambrek pertanyaan minor yang terkait dengan dunia persekolahan kita. Persoalan-persoalan tersebut seperti; sumbangan apa yang telah diberikan oleh sekolah kepada pemenuhan tugas-tugas perkembangan remaja (baca: siswa) serta terhadap emansipasinya ? Bantuan apa yang diberikan oleh sekolah terhadap penerimaan fisik remaja serta peran jenisnya ? Bantuan apa yang diberikan pada remaja untuk melepaskan ‘ketergantungan’ dari orang tua, untuk ekonomi mandiri, mencari pekerjaan, membuat hubungan baik dengan teman-teman sebaya ? Juga bantuan apa yang diberikan sekolah pada remaja dalam mencari pengisian waktu luang yang baik, untuk mengembangkan kemampuan kreatifitasnya dalam musik, drama, dan pendidikan jasmani ?
Rasanya untuk mengatasi problem klasik itu saja, sekolah-sekolah kita banyak yang ‘kedodoran’. Apalagi setiap tahun sekolah juga menghadapi ‘hantu’ yang bernama UN. Maka lengkap sudah problem yang dihadapi oleh dunia persekolahan kita dewasa ini.
Padahal bagi anak yang sudah bersekolah, maka lingkungan yang setiap hari dimasukinya selain lingkungan rumah adalah sekolahnya. Anak yang sudah duduk dibangku SLTP dan SLTA umumnya menghabiskan waktu sekitar 7-8 jam sehari di sekolahnya. Ini berarti bahwa hampir sepertiga dari waktunya setiap hari dilewatkan mereka di sekolah. Tidak mengherankan kalau pengaruh sekolah sebenarnya cukup besar terhadap perkembangan jiwanya.
Pengaruh sekolah itu tentu diharapkan positif terhadap perkembangan jiwa mereka, karena sekolah adalah lembaga pendidikan. Sebagai lembaga pendidikan, sebagaimana halnya dengan keluarga, sekolah juga mengajarkan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat di samping mengajarkan berbagai ketrampilan dan kepandaian kepada para siswanya. Akan tetapi, seperti halnya dengan keluarga, fungsi sekolah sebagai pembentuk nilai (value) dalam diri anak sekarang ini banyak menghadapi tantangan. Khususnya karena sekolah berikut segala kelengkapannya tidak lagi merupakan satu-satunya lingkungan setelah lingkungan keluarga, sebagaimana yang pernah berlaku di masa lalu. Terutama di kota-kota besar, sekarang ini sangat terasa adanya banyak lingkungan lain yang dapat dipilih remaja selain sekolahnya: pasar swalayan, pusat perbelanjaan, taman hiburan, atau bahkan sekedar warung di tepi jalan di seberang sekolah atau rumah salah seorang teman yang kebetulan sedang tidak ditunggui orang tuanya, mungkin saja merupakan alternatif yang lebih menarik daripada sekolah itu sendiri. Apalagi seringkali motivasi belajar siswa memang menurun akibat dari adanya berbagai hal di sekolah.
Salah satu faktor yang sering dianggap menurunkan motivasi para siswa adalah materi pelajaran itu sendiri dan guru yang menyampaikan materi pelajaran sering dikeluhkan oleh para siswa sebagai membosankan, terlalu sulit, tidak ada manfaat untuk kehidupan sehari-hari, terlalu banyak bahannya untuk waktu yang terbatas, dan sebagainya. Akan tetapi lebih utama dari faktor materi pelajaran, sebenarnya adalah faktor guru.
Mengenai guru ini, sebuah penelitian di Banda Aceh beberapa tahun lalu mengungkapkan kenyataan tentang pendapat siswa tentang cara guru menyampaikan pelajaran. Ternyata rata-rata siswa menyatakan bahwa metode penyampaian guru kurang menarik, sulit dipahami dan terlalu cepat (34,09%). Dan selebihnya mengatakan bahwa jarang ada komunikasi personal antara guru-murid.
Problem sekolah vs peserta didik (siswa), ternyata juga melanda sampai ke negeri Piramida. Ini terbukti dengan hasil penelitian Doktor Musthafa Fahmi yang bekerja sama dengan Jurusan Bimbingan Konseling sebuah Fakultas Pendidikan untuk mengetahui problematika yang dialami oleh para siswa-siswi sebuah sekolah SMU di kota Kairo. Ada 243 siswa dan siswi yang dijadikan sebagai responden. Mereka menjawab sekitar 264 pertanyaan yang dibagi menjadi sebelas bidang yaitu: problem kesehatan jasmani, ekonomi, waktu luang, gender, adaptasi sosial, emosi, agama, keluarga, pendidikan dan pekerjaan, tugas sekolah (PR) serta metode-kajian.
Dari sebelas bidang problem tersebut, hemat kita, yang agak relevan dengan UN adalah bidang Tugas Sekolah dan Pendidikan-Pekerjaan. Untuk Tugas Sekolah, beberapa hal yang menjadi keluhan responden di Mesir: Pertama, saya tidak bisa menghabiskan waktu yang cukup belajar, saya tidak tahu bagaimana cara belajar yang efektif; saya menemukan kesulitan pada tugas-tugas yang bersifat wawancara; saya merasa gelisah (dag-dig-dug) setiap kali menghadapi ulangan(ujian); dan kelima, saya tidak suka pada salah satu mata pelajaran.
Adapun lima problem paling menonjol yang terkait dengan Pendidikan-Pekerjaan yaitu: pertama, setelah berhenti sekolah, saya ingin segera mendapatkan pekerjaan; saya membutuhkan nasehat khusus tentang apa yang harus saya lakukan setelah tamat SMU dan saya bingung soal pertemuan seorang pemuda dengan seorang pemudi.
Masih terkait dengan UN. Bahwa sebenarnya yang membuat khawatir tentang hasil UN bukan hanya sekolah an sich, tetapi juga wali murid, siswa, dan bahkan anggota Dewan yang terhormat. Kenapa mereka pada khawatir ? Pasalnya rata-rata hasil uji coba (try out) yang dilaksanakan dibeberapa daerah belum mencapai target kelulusan 100 persen siswa. Bahkan kalau boleh dibuat rata-rata hasilnya masih di sekitar kisaran 20 – 30 persen.
Dari sini, sebenarnya kita bisa mafhum kalau ada sedikit noda UN yang hampir merata di berbagai daerah, termasuk yang terjadi di Kebalen Bojonegoro sebagaimana diberitakan Koran ini (Radar Bojonegoro,31/3/10). Kita berharap, ke depan Kemendiknas mempunyai kebijaksanaan yang lebih humanis dalam UN ini. Misalnya seperti rezim Gus Dur tempo dulu, Unas tetap jalan tapi tidak dijadikan barometer kelulusan siswa. Semoga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: