KEMISKINAN SEBAGAI KOMODITAS PILKADA

Menurut data Bank Dunia, dewasa ini, tidak kurang dari 500 juta manusia hidup dalam dalam apa yang disebut oleh Bank Dunia sebagai absolute Poverty (kemiskinan mutlak). Lebih menyedihkan lagi, masyarakat yang miskin mutlak itu mayoritas adalah kaum muslimin. Dan yang lebih kontradiktif lagi adalah ternyata kemiskinan umat Islam tersebut bertolak-belakang dengan kemewahan sang pemimpin daerahnya.
Sehingga menurut laporan Stoddard, umat Islam sekarang ini tidak memiliki pemimpin yang efektif. Bahkan hampir semua negara muslim, kata Stoddard, tak memiliki pemimpin yang efektif, seorang pemimpin yang dapat menumbuhkan gerakan pembaruan social. Lalu, kita pun bertanya. Jika benar pernyataan Stoddard di atas, lalu jenis pemimpin apakah yang efektif untuk kepala daerah itu ? Dan kepemimpinan yang bagaimanakah yang dapat berpengaruh besar pada perubahan masyarakat tersebut ?
Memang, sekarang ini sebenarnya, umat Islam –termasuk masyarakat Islam daerah– sangat menanti dan mendambakan sang pemimpin yang bisa berempati dengan derita mereka. Pemimpin yang bisa dan mau memberi makan mereka di saat kelaparan. Pemimpin yang mau mendaki bukit terjal, yaitu: “memberi makan pada saat kepayahan kepada anak yatim, karib kerabat, dan orang miskin yang bergelimang debu” (al-Balad; 13-15).
Berkenaan dengan ini, dalam kitab Irsadul Ibad ada satu kisah teladan yang perlu kita renungkan. Suatu saat bertemulah dua malaikat. Keduanya bercakap-cakap di dekat ka’bah pada musim haji. Salah satu dari Malaikat itu bertanya kepada yang lain: Berapa orang yang haji tahun ini ? Sekian ratus ribu. Terus berapa orang yang diterima hajinya diantara mereka ? Tidak ada satupun yang diterima hajinya, kecuali hanya satu orang. Padahal satu orang inipun belum melaksanakan hajinya. Sebab orang ini ketika sudah cukup ONH-nya dan akan berangkat haji, ternyata dia melihat janda miskin dengan beberapa anak yatim yang amat membutuhkan bantuan. Maka dia serahkan seluruh bekal ONH-nya kepada janda dan anak-anak yatim itu. Sehingga dia terpaksa mengurungkan niatnya untuk berangkat haji. Justru karena itulah, Allah malah menerima hajinya.

Cara Islam membebaskan mustad’afin
Lalu apakah yang ditawarkan Islam (baca; Rasulullah) dalam membebaskan kelompok masyarakat tertindas ini ? Adapun yang telah dilakukan oleh Rasul untuk membela kelompok masyarakat tertindas antara lain: Pertama, membangkitkan harga diri rakyat kecil dan dhu’afa. Kenapa beliau membangkitkan harga diri mereka terlebih dulu ketimbang kelompok lainnya ? Sebab mereka adalah kelompok masyarakat yang paling sering termarginalkan, direndahkan, dicaci dan dimaki. Untuk menumbuhkan harga diri kaum muslimin dhu’afa ini, Rasul memilih hidup di tengah para hamba sahaya dan orang-orang miskin. Sehingga ia digelari abul masakin (Bapak orang-orang miskin). Kalau beliau masuk masjid, beliau pasti memilih kelompok orang miskin, dan di sanalah beliau duduk. Digembirakannya mereka, dipeluknya mereka, hingga kadang-kadang Rasul tertawa terbahak-bahak bersama mereka. Ini beliau lakukan bukan karena untuk mencari simpati mereka, karena ada ‘maksud-maksud’ tertentu. Tetapi benar-benar dengan ketulusan hati beliau. Dan bayangkan, pada suatu hari beliau berdoa di muka orang banyak: “ Ya Allah, hidupkan aku sebagai orang miskin, matikan aku sebagai orang miskin, dan bangkitkan aku di hari kiamat bersama kelompok orang miskin pula.” Begitu akrabnya beliau dengan mereka, sehingga Ibnu Umar, seorang anak kaya masa itu, berkata: “Aku sedih, lantaran aku tidak termasuk kelompok mereka.” Anak orang kaya itu sedih, karena ia tak termasuk orang miskin yang begitu dimuliakan Rasul. Rasul dalam hal ini sangat berhasil menanamkan satu sikap, bahwa kemiskinan bukanlah berarti kehinaan.
Begitu sungguh-sungguhnya Rasul menghormati kaum fuqara, sehingga sebagian ulama, menganggap kefakiran ini sebagai kebajikan. Dan ini bisa kita lihat pada banyak khazanah pesantren yang mengkhususkan mengupas tuntas tentang bab fadlul faqri wal fuqara (keistimewaan kefakiran dan orang-orang fakir). Dan memang Rasul amat sangat memperhatikan nasib mereka yang dianggap rendah oleh masyarakat tersebut.
Dengan strategi inilah, Rasul Saw mengangkat derajat orang miskin, orang lemah, dan orang tertindas. Dari sini, sangat kelihatan bahwa Rasul ingin mengajarkan kepada kita, bahwa untuk membela mereka yang lemah, miskin dan tertindas, kita harus membangkitkan dulu harga diri mereka sebagai manusia. Sehingga para ahli sosiologi berpendapat, bahwa dalam suatu masyarakat yang tertindas akan berimplikasi terjadinya proses dehumanisasi kaum lemah. Orang miskin dianggap menjadi miskin karena mereka bodoh, malas, atau tolol. Seorang yang tahu agama, mungkin menganggap kemiskinan itu sebagai akibat ‘kutukan’ Tuhan. Pokoknya, kemiskinan dan keterbelakangan dicaci, terutama oleh mereka yang dikaruniai harta yang melimpah.
Kedua, sebagai pemimpin orang kecil, dan sebagai pembebas kaum mustadh’afin, Rasul memilih hidup seperti mereka. Ia hidup sederhana. Karena ia tahu, sebagian besar pengikutnya juga menderita. Ditahannya rasa lapar berhari-hari, karena ia mengerti bahwa sebagian besar pengikutnya juga mengalami kelaparan. Sehingga Umar bin Khattab pernah meneteskan air matanya karena terharu melihat rumah Rasul yang hanya dilengkapi dengan ghariba (wadah air dari kulit) dan roti yang sudah menghitam. Ia memilih hidup sederhana, bukan karena ia mengharamkan yang halal, melainkan karena ingin merasa dekat dengan mereka yang paling miskin. Dia sebagai pemimpin, tak ingin membuat jarak dengan mereka.
Inilah kepemimpinan Rasulullah. Beliau tak hanya memilih menjadi pemimpin yang membebaskan manusia dari perbudakan kepada berhala menuju penghambaan kepada Allah Ta’ala, melainkan juga membebaskan manusia menuju tauhidul ummah, menuju kesatuan ummat yang berdasarkan keadilan dan persamaan.
Saat ini, ketika kita sering terpukau oleh kemewahan dunia, tatkala orang miskin berteriak menunggu pembelanya, kita sangat membutuhkan pemimpin semacam beliau. Sebab pemimpin Islam ialah pemimpin yang memihak rakyat kecil, bukan pemimpin yang elitis. Pemimpin umat Islam ialah mereka yang memilih hidup sederhana, karena tahu bahwa sebagian umat Islam seharusnya tak hanya menyemarakkan masjid, melainkan juga menggembirakan dhu’afa dan fuqara.
Sebagai kata akhir ada baiknya kita merenungkan wasiat Rasulullah berikut ini: “Bila masyarakat sudah membenci orang-orang miskin, dan menonjol-nonjolkan kehidupan dunia, serta rakus dalam mengumpulkan harta, maka mereka akan ditimpa empat bencana: zaman yang berat, pemimpin yang lalim, penegak hukum yang khianat, dan musuh yang mengancam. Membaca wasiat ini, kita dapat belajar bahwa munculnya kesulitan ekonomi, banyaknya pemimpin yang lalim, timbulnya pengkhianatan oleh penegak hukum, dan pekanya negara akan gangguan luar, adalah disebabkan oleh diabaikan nasib orang-orang miskin dan kegilaan menumpuk-numpuk kekayaan. Apalagi kalau sudah menjadikan kemiskinan sebagai komoditas politik. Semoga Allah melepaskan kita dari semua itu.

CATATAN; TULISAN INI PERNAH DIMUAT DI JAWA POS (RADAR BOJONEGORO) MINGGU, 23 MEI 2010, DENGAN SEDIKIT EDITAN DARI DEWAN REDAKTUR “PILIH PEMIMPIN YANG MEMBELA ORANG MISKIN”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: