PINANGAN SANG NAHKODA LAMONGAN

Empat calon pasangan Bupati dan Wakil Bupati sudah berjanji di depan para Dewan yang terhormat. Bahwa mereka semua sanggup mensejahterakan masyarakat Lamongan, lahir maupun batin (Radar Bojonegoro, 5/5/10). Dan memang sebentar lagi –tepatnya pada 23 Mei 2010–, Lamongan akan menggelar Pemilukada. Di sanalah seorang figur pemimpin akan ditentukan. Karena posisi pemimpin daerah juga memiliki fungsi yang strategis. Sehingga hanya mereka yang tangguh, sabar dan ulet saja yang boleh memimpin daerah.
Memilih pemimpin kadang gampang susah. Karena pada dasarnya, setiap orang yang ingin mendapatkan dukungan akan bersikap baik-baik kepada setiap orang yang ingin mendapatkan dukungan. Apalagi menjelang pemilihan Bupati seperti sekarang ini, semua sikap itu akan sama: ramah, murah senyum, dan gampang gaul dengan siapa saja. Inilah yang menjadikan pemilihan gampang-gampang susah. Terus bagaimanakah sebaiknya memilih pemimpin daerah yang baik dan benar itu ?
Memang menjalani hidup di dunia ini, bagaikan menempuh perjalanan di tengah laut lepas. Ada rasa senang, jenuh, menempuh bahaya, dan ada batas akhirnya. Orang yang menempuh perjalanan panjang, tentu harus menyiapkan perbekalan yang cukup. Hanya orang nekad dan kepepetlah yang berani berangkat tanpa persiapan yang matang.
Di atas kapal, ia harus mengikuti aturan yang telah ditentukan pemilik kapal. Tidak boleh bertindak sesuai selera sendiri karena kapal bukan wilayah bebas aturan. Dan agar arah perjalanan bisa stabil, tak boleh ada dua nahkoda di dalamnya. Nahkoda itulah yang mengemudikan laju kapal, di bantu beberapa orang kepercayaan. Di tangan nahkoda itulah tumpuan arah perjalanan dan kenyamanan penumpang diamanatkan. Sebab tidak ada jaminan, nasib baik akan selalu berpihak selama dalam perjalanan lancar.
Biasanya, dalam mengarungi samudra, tak lepas dari gangguan-gangguan, baik dari terjangan ombak ganas yang bisa memecahkan kapal, batu karang yang cadas dan tajam yang bisa membanting kapal hingga hancur-lebur, hujan badai yang bisa menyengsarakan dan menyesatkan arah kapal, ataupun serangan para perompak yang dikenal bengis dan tak tahu tata karma.
Mengingat besarnya resiko yang bakal dihadapi, tidak semua orang boleh menjadi nahkoda. Karena bisa berakibat fatal. Semua rencana yang sudah disusun matang akan berantakan bila sewaktu-waktu musibah datang. Seorang nahkoda harus orang yang benar-benar mumpuni dalam bidangnya. Selain memiliki kesabaran dan keuletan tinggi, jam terbang yang panjang. Pengetahuan kelautan yang memadahi, ia juga harus lulus dalam fit and proper test. Karena di tangan dialah nasib para penumpang dan kapal akan bergantung. Apalah artinya seorang nahkoda yang tangguh menghadapi badai, namun mentalnya kropos. Karena dia hanya akan membawa sengsara penumpangnya lahir dan batin.
Kemahiran nahkoda mengemong anak buahnya, menjadi titik utama dalam menentukan keberhasilan perjalanan. Disinilah bisa terlihat, betapa keberadaan pemimpin amat dibutuhkan. Lebih-lebih dalam menghadapi masa-masa sulit yang bisa membahayakan kapal dan bisa membahayakan penumpangnya. Di sana juga akan tampak ketegaran jiwanya, kemurnian hati, dan pengorbanan demi selamatnya kapal dan para penumpang.
Seorang nahkoda yang baik adalah yang memiliki falsafah delapan sifat-sifat alam: laksana samudra, laksana matahari, laksana air, laksana api, laksana matahari, laksana bulan, laksana bintang, laksana angin dan laksana gunung (Abdul Wahid Asa, 2002).
Falsafah samudra bermakna, seorang pemimpin harus berpandangan luas, mampu menampung hal-hal yang tidak baik dan mengeluarkan yang baik. Falsafah air memiliki arti seorang pemimpin harus selalu memberikan kesegaran dan menghilangkan dahaga anak buah dengan memberikan perhatian terhadap kesejahteraan dan kebutuhannya.
Laksana api memiliki arti, seorang pemimpin harus memberikan kehangatan dan dapat membakar semangat anak buahnya, serta membasmi ketidakbenaran dan keatidakadilan. Laksana matahari berarti seorang pemimpin harus menjadi sumber energi bagi lingkungannya.
Seperti bulan berarti, seorang pemimpin harus senantiasa memberikan penerangan di saat gelap. Laksana bintang bermakna, pemimpin harus dapat dipedomani untuk menjadi petunjuk arah tujuan yang benar, serta selalu memberi harapan yang benar.
Falsafah laksana angin bermakna, seorang pemimpin haruslah mampu bergerak dan berada dimana-mana. Sedangkan laksana gunung bermakna, seorang pemimpin harus memiliki keateguhan dan kokoh dalam pendirian, serta tidak mudah digoyang oleh apapun.
Sebagai bahan kajian, sebagaimana dikatakan Eugene Staley (Nurcholis Madjid, 1998), bahwa tolok-ukur pembangunan yang berhasil di negara-negara yang sedang membangun, termasuk Lamongan ialah, Pertama, tingkat produksi dan pendapatan yang lebih tinggi dan merata. Kedua, kemajuan dalam pemerintahan sendiri yang demokratis, sekaligus tanggap terhadap kebutuhan dan kehendak rakyat. Ketiga, pertumbuhan hubungan sosial demokratis, termasuk kebebasan yang meluas, kesempatan-kesempatan untuk pengembangan diri dan penghormatan kepada kepribadian individu, dan Keempat, tidak mudah terkena komunisme dan totalitarianisme hanya karena alasan-alasan tersebut di atas.
Dalam perspektif Islam, syarat pemimpin diantaranya adalah harus bisa diterima (acceptable), mencintai dan dicintai umatnya, mendoakan dan didoakan oleh umatnya. Sebagaimana wasiat Rasulullah: “Sebaik-baiknya pemimpin adalah mereka yang kamu cintai dan mencintai kamu, kamu berdoa untuk mereka dan mereka berdoa untuk kamu. Seburuk-buruk pemimpin adalah mereka yang kamu benci dan mereka membenci kamu, kamu melaknati mereka dan mereka melaknati kamu.” ( H.R. Muslim).
Kedua, Pemimpin harus mengutamakan, membela dan mendahulukan kepentingan umat, menegakkan keadilan, melaksanakan syariat, berjuang menghilangkan segala bentuk kemungkaran, kekufuran, kekacauan, dan fitnah, sebagaimana Firman Allah dalam Surat Al-Maidah: 8: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan jangalah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Sehingga menurut hasil penelaahan para pakar muslim dikatakan bahwa, ada empat sifat yang harus dipenuhi oleh para Nabi, termasuk calon pemimpin daerah, yaitu; (1) Al-Shidq, yakni kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap serta berjuang melaksanakan tugasnya. (2) Al-Amanah, atau kepercayaan yang menjadikan dia memelihara sebaik-baiknya apa yang diserahkan kepadanya, baik dari Allah maupun dari orang-orang yang dipimpinnya, sehingga tercipta rasa aman bagi semua pihak. (3) Al-Fathanah, yaitu kecerdasan yang melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi persoalan yang muncul seketika sekalipun. (4) At-Tabligh, yaitu penyampaian yang jujur dan bertanggung jawab, atau dapat diistilahkan dengan keterbukaan. (Quraish Shihab, 2000).
Mudah-mudahan dalam pemilukada nanti ditemukan sosok pemimpin yang bisa menjadikan Lamongan Baldatun Toyyibatun Warubbun Ghafur, amin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: