REFORMASI MENDESAK PAI DUNIA KAMPUS

Maraknya kasus mafia hukum (Markus), baik yang terjadi di daerah maupun pusat mengingatkan penulis pada gagasan almarhum Guru Besar Harun Nasution (1996;388). Harun pernah melemparkan gagasan tentang reformasi yang holistik pada pengajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang seharusnya bisa diarahkan kepada, Pertama, memperdalam rasa keagamaan dengan pendekatan spiritual dan intelektual. Kedua, ibadah sebagai didikan mahasiswa untuk memperindah jiwa, disamping berpengetahuan tinggi, tidak merasa takabbur, tetapi sadar, bahwa di atasnya masih terdapat zat yang lebih mengetahui dan berkuasa dari mana manusia mana pun. ketiga, memperluas pengetahuan tentang agama Islam secara global, dalam aspek sejarah, kebudayaan, hukum, teologi, filsafat, mistik, dan lain-lain. Di sini akan dijumpai keterangan rasional mengenai ajaran-ajaran agama, yang dapat mempertebal keyakinan terhadap agamanya. Keempat, memperdalam toleransi bermadhab dan toleransi beragama dan Kelima, mendalam rasa dedikasinya terhadap masyarakat.
Dari pemikiran Harun tersebut, maka kiranya Pendidikan Agama Islam yang diajarkan di Perguruan Tinggi Daerah seharusnya berbenah diri. Sebab jangan-jangan apa yang selama ini kita berikan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Mantan mahasiswa jadi lupa ketika jadi pejabat atau pemimpin daerah. Dia akan menjadi korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Lantas PAI yang pernah dipelajari itu dikemanakan ? Inilah tatangan kita bersama.
Apalagi dalam surat al-Ra’du; 13, terdapat isyarat tentang reformasi: “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikuti bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung meraka selain Dia.”
Reformasi dalam perspektif Islam adalah sunnatullah, terutama yang menyangkut peradaban manusia. Berbagai masalah kehidupan manusia selalu bergerak menuju perubahan seiring dengan gerak waktu dan ruang. Dalam gerak perubahan itu, ada yang tetap dan yang tidak tetap.
Reformasi PAI di PT, dalam konteks visi, misi, dan strategi barangkali perlu dibaca dengan cara orientasi dan reformulasi menuju rekonstruksi. Artinya, ada upaya-upaya yang dilakukan secara sistematis untuk mengevaluasi tentang apa yang sudah dilaksanakan. Jadi, kiranya perlu semacam studi kritis tentang proses belajar mengajar PAI di PT daerah selama ini.

Reformasi Intelektual dalam Konteks Misi
Misi intelektual adalah mencari kebenaran sejauh yang ditemukan oleh manusia. Oleh karena itu, intelektual harus berpihak kepada kearifan, keadilan dan kemanusiaan. Pendidikan intelektual semestinya diarahkan untuk membentuk manusia beriman dan beramal kreatif. Pendidikan yang menyadarkan mahasiswa terhadap potensi insaniah yang dianugerahkan oleh Allah Swt. Dengan harapan potensi yang berupa indera, intuisi, akal dan potensi-potensi ragawi yang lain dimanfaatkan semaksimal mungkin, minimal untuk membela kodrat dirinya sendiri, baik secara spiritual ataupun material.
Pendidikan intelektual yang merangsang potensi jiwa dan jasmani agar bergerak dan kreatif mencari peluang-peluang kehidupan yang empiris dalam rangka memahami makna yang transendental. Bukan model pendidikan yang memompa otak dengan berbagai informasi keilmuan, namun tidak pernah turun sampai ke hati untuk diseleksi. Dan hati yang kosong dari makna spiritual adalah hati yang mudah di serang oleh berbagai penyakit materialisme yang mengarah pada ateisme terselubung.
Pendidikan manusia seutuhnya adalah pendidikan yang berorientasi misi spiritual sebagai fondasi untuk mendirikan kerangka pendidikan empiris yang di dalam terminologi al-Quran terdapat dalam formula iman dan amal. Arah pendidikan semacam ini lebih dekat dengan cita-cita Quran, yang oleh Iqbal (1966;1) dikatakan bahwa, “Quran adalah kitab yang lebih mengutamakan ‘amal’ daripada gagasan. Lebih mengutamakan masalah ‘praktis’ daripada ‘teroritis’. Lebih mengutamakan kerja ‘konkret’ daripada berbicara yang ‘muluk-muluk’. Lebih mengutamakan ‘berbuat segera’ daripada membikin ‘rapat terus’. Sehingga menurut Imam Al-Ghazali, meskipun seseorang membaca seratus ribu kali masalah keilmuan dan mengkajinya pula, tetapi tidak mengamalkannya, maka tidak akan berguna baginya, kecuali dengan amalnya itu.
Apa yang diungkapkan oleh Iqbal dan Al-Ghazali adalah fakta empiris, bahwa kerja kreatif jauh lebih menentukan daripada segunung gagasan. Kualitas manusia lebih banyak ditentukan oleh jumlah kerjanya, bukan jumlah cita-cita dan gagasannya. Dengan demikian reformasi intelektual semestinya diarahkan pada pendidikan kreatif bukan pasif. Siswa dan mahasiswa jangan dikurung di dalam ruang kelas, tetapi digiring ke luar ruang agar perangkat jiwanya mengalami pencerahan terhadap realitas sosial dan dinamika amal.
Oleh karena itu wajar jika kurikulum, motode, dan pengajaran perlu dipertanyakan. Jangan-jangan kurikulumnya tidak mampu menyentuh substansi permasalahan ? Atau mungkin metodenya lebih banyak berbau teoritis daripada praktis ? Atau bisa saja pengajar atau dosennya yang tidak memiliki disiplin yang memadai atau pendekatannya yang salah ? Atau mungkin saja sarana dan prasarana yang tidak memenuhi syarat, sehingga tidak merangsang civitas akademika untuk kreatif menghidupkan nilai-nilai Islam di lingkungan kampus.

Reformasi Akhlak dalam Konteks Strategis
Akhlak atau perilaku merupakan tujuan utama PAI. Selama akhlak mulia tidak diupayakan untuk dilaksanakan, maka secara esensial PAI telah gagal total alis Gatot. Proses belajar yang bersifat normatif dan verbal tidak menjamin perilaku mahasiswa untuk menjadi terpuji, mulia, arif, dan menjadi manusia yang baik. Manusia yang terlatih menghayati dan mengamalkan agamanya secara perlahan tapi pasti.
Oleh karena itu, latihan beragama perlu digalakkan dalam bentuk uswah hasanah di lingkungan civitas akademika di kampus. Upaya strategis dalam hal akhlak karimah yang bersifat uswah hasanah ini merupakan konsekuensi logis dari pengamalan nilai-nilai ajaran Islam yang merujuk pada al-Qur’an dan Hadis.
Sebab Pendidikan Agama Islam selama ini terkesan lebih mengutamakan nilai-nilai pengajaran yang bersifat pengetahuan daripada nilai-nilai pendidikan yang bersifat penghayatan dan pengamalan. Akibatnya kapasitas intelektual normatif memadai, namun tidak didukung oleh rasa makna beragama yang tercermin pada perilaku hidup sehari-hari. Sehingga kita sering menyaksikan perilaku mahasiswa Program S1, S2 dan bahkan S3, yang kurang terpuji, baik ketika dikampus, asrama, tempat kos, ataupun di lingkungan masyarakat. Keangkuhan intelektual masih terlihat pada sikap mereka ketika berbaur dengan masyarakat sekitarnya. Kondisi seperti ini memang memprihatinkan. Kecerdasan ternyata tidak mampu merangsang kesadaran spiritual sebagai makhluk yang lemah, yang tidak mampu menggapai semua jagad pengetahuan dan ilmu.
Dari sini dapat disimpulkanan bahwa, Pertama, reformasi PAI semestinya berawal dari paradigma spiritual yang bercorak rasional, begitu pula disiplin ilmu yang non-PAI yang rasional perlu dilandasi nilai spiritual. Kedua, proses penalaran atau intelek semestinya berpihak kepada kebenaran dan kemanusiaan dan ketiga, perilaku terpuji atau uswah hasanah dari civitas akademika perlu dibina agar terwujud dalam lingkungan kampus. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah, pertama, jumlah SKS untuk PAI yang rata-rata di Perguruan Tinggi hanya 2 Sks, perlu ditambah, dalam hal ini Unisda sudah melakukannya, yakni dari 2 Sks menjadi 7 Sks. Kedua, dosen-dosen PAI dan non PAI perlu di-trining dalam rangka menyatukan visi, misi dan strategi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: