HIKMAH ‘VISUM’ LUNA-ARIEL dan CUT TARI

Visum yang dimaksud dalam tulisan ini adalah video mesum, demikian komedian Butet Kertaredjasa membuat akronim. Kemudian dimana letak hikmahnya dari visum ini ? Sebab justru tiga aktor yakni Ariel, Luna dan Cut Tari ini menjadi bulan-bulanan media pada minggu-minggu ini. Dan bahkan beritanya banyak menyita perhatian begitu banyak orang, mulai dari kalangan rakyat kecil sampai presiden semua ikut mengomentarinya. Memang kadang tanpa disadari, pergeseran nilai-nilai sosial keagamaan yang terjadi di masyarakat telah banyak mereduksi masyarakat itu sendiri tentang bagaimana berlaku seks yang benar. Termasuk bagaimana mempertahankan konsensus nilai seksual yang telah ada. Kehidupan individualistik, materialistik, serta perkembangan industri yang spektakuler, terutama di bidang komunikasi, senantiasa memberikan ruang yang cukup luas untuk melemahkan norma-norma seksualitas yang ada. Mungkinkah ini sebuah proses pergeseran nilai seksualitas yang belum selesai atau anomie nilai-nilai seksual.
Obsesi perdebatan sekarang adalah apakah pergeseran itu adalah sebuah pencarian konsep baru mengenai realitas seks itu sendiri, ataukah sebuah anomie yang mewabah di masyarakat kita saat ini. Kalau itu adalah proses pergeseran, maka yang mengalami pergeseran itu sebenarnya di kelas masyarakat yang mana. Pada kelas atas, kelas menengah ataukah kelas bawah. Pada kelompok laki-laki ataukah wanita. Dan kalau itu anomie, sampai sejauh mana anomie ini melanda masyarakat kita sekarang ini.
Menurut Burhan Bungin, sampai saat ini memang belum ada penelitian ilmiah yang dapat digunakan sebagai jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas. Namun, jika dibenarkan, walau perlu diragukan kebenarannya, maka bisa membantu menunjukkan pergeseran konsep seks normatif di masyarakat, terutama yang terjadi pada masyarakat perkotaan. Pergeseran yang dimaksud itu terus bergerak sesuai dengan pesatnya perubahan yang terjadi. Ia bisa melalui sarana-sarana hedonik dan komoditas yang dapat diatur melalui saluran lain di luar perkawinan yang lebih bebas dan tidak mengikat. Dan, pergeseran ini selalu menggunakan porno sebagai cara lain untuk mengekspresikan seks sebagai sarana hedonik itu sendiri. (Burhan Bungin, 2003).
Sehingga Talcott Parson, dalam konsep sibernetikanya menjelaskan ada keterkaitan sistem budaya, sistem sosial, sistem kepribadian dan sistem organis. Selanjutnya, Parson memberikan contoh bahwa perubahan pada nilai dan sistem budaya akan berakibat pada perubahan sistem sosial. Perubahan pada tingkat ini akan berakibat berubahnya sistem kepribadian dan organisme aksi masyarakat.
Melihat konsep sibernitas seperti yang disampaikan Parson tersebut, serta kondisi tingkah laku seks yang terjadi di masyarakat kota, maka bisa dihopetetiskan bahwa perubahan pada tingkah laku seksual yang tampak di masyarakat kota, seperti memahami seks sebagai aktivitas manusia bebas dengan menggunakan saluran-saluran di luar perkawinan, serta tindak pelecehan seks lainnya, menunjukkan adanya pergeseran pada tingkat nilai. Pergeseran ini berakibat terhadap sistem sosial. Di mana konflik nilai seks tejadi dimana-mana, yang pada akhirnya berimplikasi pada masyarakat kearah anomie yang berkepanjangan.
Dari sini kita teringat dengan ramalan Alvin Toffler. Bahwa selama abad industri, manajemen arus informasi antara lain menjadi perhatian utama, serta meta informasi menjadi kunci kendali di berbagai bidang. Revolusi informasi ini sangat erat kaitannya dengan demansifikasi ekonomi dan peningkatan diversifikasi masyarakat. Semakin terdiferensiasi ekonomi, maka semakin banyak informasi yang dipertukarkan untuk mempertahankan integrasi sistem.
Setuju dengan yang dikatakan oleh Toffler, bahwa pada saat ini peranan media massa sebagai media informasi dalam menyampaikan pesan-pesan perubahan masyarakat begitu urgen. Namun disisi lain juga ada efek domino yang dibawa oleh media massa, baik elektronik dan cetak, yakni tidak saja bersifat positif, namun juga bersifat negatif. Bahkan justru pesan-pesan positifpun kadang kala dimodifikasi atau dipelintir menjadi negatif.

Hikmah Fenomena ‘Visum’

Selanjutnya hikmah/ pelajaran apakah yang bisa kita petik dari fenomena visum ini ? Menurut Dodi Reza Alex Noerdin setidaknya ada tiga hal, antara lain: Pertama, ternyata kita belum bisa memilah dan memilih, mana persoalan yang dianggap penting dan mana yang tidak. Media-media, terutama infotaiment, sangat sibuk memberitakan kasus ‘visum’. Betul bahwa berita ‘visum’ menarik, tapi pelajaran apa yang bisa dipetik oleh publik, terutama bagi remaja dan anak-anak selain malah membuka peluang untuk menirukan adegan yang ada dalam ‘visum’ tersebut. Apalagi bagi remaja dan anak-anak dampaknyapun bahkan sangat negatif.
Kedua, ternyata bangsa kita lebih mesum dibandingkan dengan bangsa lain. Di AS kita sulit mendapatkan visum yang dibintangi selebriti papan atas. Video-video dengan rate xxx yang dibintangi Nicole Kidman, Megan Fox, Angelina Jolie, Kate Winslet, Paris Hilton atau bahkan Madonna, misalnya, kalau pun ada, hanyalah potongan-potongan pendek dari full-scene film-film romantis kategori dewasa. Tampilannya tak sevulgar visum yang melibatkan artis-artis kita. Kasus perselingkuhan bintang golf Tiger Woods dengan pacar-pacar gelapnya, juga Bill Clinton dengan staf Gedung Putih, hanya menghebohkan di berita, tak pernah ada fotonya, apalagi videonya.
Dan ketiga, beredarnya visum telah membuka kedok kemunafikan kita yang katanya begitu taat agama, menjunjung tinggi nilai-nilai moral, dan sudah memiliki Undang Undang Antipornografi. Apa boleh buat, ternyata kita tidak lebih jujur dan munafik daripada orang-orang Barat yang kerap kita tuduh tak punya malu. Kita sebut mereka tak punya malu, padahal bisa jadi karena mereka lebih jujur. Mereka tak mengingkari seks pra-nikah, bahkan di antara mereka ada yang membolehkan aborsi dan hubungan sesama jenis. Kita tuduh mereka bermoral dekaden, padahal kalau mau jujur mungkin perilaku serupa juga kita lakukan. Buktinya, baru-baru ini, Komnas Perlindungan Anak melansir hasil penelitian yang mencengangkan, 62,7 persen siswa SMP ternyata sudah tidak perawan alias biasa berhubungan seks, dan 21% siswa SMU pernah melakukan aborsi.
Melihat fenomena ini rasanya masuk akal jika belakangan ini banyak beredar visum yang pelakunya anak-anak seusia SMP atau SMU. Padahal di SMP maupun SMU mereka juga belajar agama, terbiasa menyebut-nyebut nama Allah dan tentu berlagak seperti masih perawan atau perjaka dalam ucapan dan tindakan-tindakan mereka sehari-hari.
Dan yang tidak kalah menarik fenomena visum bagi orang daerah ini adalah tumbuhnya kesadaran dari semua pihak dan stakeholder bahwa persoalan nilai-nilai keagamaan itu bukan hanya monopoli Kiai, Bunyai, Ustadh, Ustadhah dan rohaniawan saja, melainkan semua pihak. Ini terbukti dengan gencarnya pihak sekolah yang bekerja sama dengan pihak terkait termasuk kepolisian untuk men-swiping HP para pelajar, sekalipun menurut laporan Koran Radar Anda belum ditemukan bukti download visum tersebut.
Sebagai kata akhir, kiranya kita perlu mengkampanyekan gerakan moral bersama yang melibatkan semua komponen anak bangsa. Di antara muatan dari gerakan ini adalah perlunya ditanamkan pendidikan akhlak dan etika terutama bagi peserta didik. Semoga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: