Lulus Sekolah, lalu lanjut kemana ?

Mayoritas masyarakat kita sekarang ini telah terjebak dalam peradaban pasar. Penggunaan konsep efisiensi, cost-benefit analysis, untung-rugi, portfolio, return of investment dan sebagainya, menjadi bagian dari keseharian kita, terutama melalui iklan yang ditayangkan di berbagai media massa (Imam, 2003). Fenomena ini ternyata juga berimplikasi terhadap warna dunia pendidikan dan pembelajaran kita. Ekonomi, uang, dan profit adalah kosa kata yang sangat mempengaruhi pilihan. Dalam diri masyarakat telah tumbuh pilihan yang sangat diskriminatif. Sekolah, jurusan atau fakultas yang dipercaya dapat menghasilkan uang diposisikan sebagai sekolah, jurusan atau fakultas favorit. Sebaliknya, yang tidak menghasilkan uang dianggap sebagai pilihan yang membuang-buang waktu dan uang atau menunda pengangguran. Bidang-bidang ilmu yang dapat menghasilkan uang mendapat perlakuan yang terhormat dan ‘dibeli’ dengan harga mahal, tetapi bahasa, sastra, seni dan agama (FAI) diprasangkai tidak membawa rezeki maka dipinggirkan.
Inilah potret buram dunia pendidikan kita sekarang ini, yang vis to vis dengan produk peradaban pasar. Lima produk gelombang peradaban yang oleh Appadurai masing-masing dinamakan; etnoscapes, mediascapes, technoscapes, financestapes dan idioscapes ikut memicu laju peradaban pasar. Gelombang ini begitu perkasa, sehingga mereka bukan hanya dapat mempengaruhi gaya hidup tetapi juga mengubah tata pikir dan tata kehidupan. Etnoscapes terkait dengan migrasi berbagai kelompok etnis dari satu negeri ke negeri lain. Dari satu benua ke benua lain, atau dari satu pulau ke pulau lain. Mereka bukan hanya menularkan informasi baru tetapi juga kebudayaan dan cara hidup baru yang notabene kadang tidak segaris dengan budaya ketimuran. Mediascapes terkait dengan penyebaran informasi melalui berbagai media seperti surat kabar, majalah, stasiun televisi dan film yang memiliki banyak peminat dan mencuatkan citra-citra baru (Appadural dalam Unchapher, 1995).
Kemudian bagaimana sikap kita terhadap gempuran gelombang peradaban yang demikian derasnya menggerus budaya kita tersebut ?
Para ulama dan cendekiawan muslim telah mempunyai pendapat bahwa ajaran agama Islam yang sudah selayaknya wajib kita berikan kepada anak-anak kita sedini mungkin. Terutama soal-soal adabul Islam dan akhlaqul fadhilah ( kesopanan-kesopanan Islam dan budi yang luhur) sesuai dengan ajaran agama Islam yang dirintis oleh Nabi Muhammad Saw. Sebab jika sejak kecil anak-anak itu sudah dibiasakan mengamalkan sopan-santun dan budi yang luhur, maka jiwa anak tersebut bagaikan tanah yang subur untuk ditanami benih-benih Islam. Dan selanjutnya ajaran-ajaran Islam akan dapat berkembang subur di dalam jiwa anak-anak kita.
Muhyi Hilal Sarhan telah mengemukakan dan membagi apa-apa yang seharusnya diberikan kepada anak-anak khususnya dalam soal kesopan-santunan dan budi luhur ini, antara lain:Pertama, Kesopanan Jiwa. Yang meliputi semua kesopanan dan budi luhur yang dapat menjunjung martabat manusia, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat, seperti sifat benar, terpercaya, sabar, berani (dalam berbuat benar), murah hati, dapat menepati janji, mempunyai rasa malu, dan lain-lain. Kedua, kesopanan bermasyarakat. Yang dimaksud dengan kesopanan bermasyarakat disini ialah mengenai tindak-tanduk, sikap dan perilaku seseorang yang ada hubungannya dengan orang lain dalam kehidupan bersama sebari-hari yang meliputi: a) kesopanan makan. Anak perlu dilatih dan dididik mengenai etika makan, seperti harus makan dengan tangan kanan, sebelum makan membaca “basmalah”, sesudah makan “alhamdulilah”, jangan terlalu banyak makan, membiasakan dengan makanan yang sederhana. b) kesopanan berpakaian. Anak-anak selalu dididik berpakaian yang bersih dan rapi, tidak berlebihan, berpakaian yang sopan dan sebagainya. c) kesopanan berbicara. Anak-anak perlu dibiasakan berbicara sopan-santun, jangan mencaci-maki, jangan bicara kotor, dan seterusnya. d) kesopanan berkawan. Anak-anak selalu dibimbing menghormati kawan-kawannya, jangan sampai bersikap sombong, jangan suka mencela, dibiasakan untuk suka memberi, jangan mengambil hak milik orang lain tanpa ijin, bersikap ramah terhadap kawan, mempunyai rasa persamaan dan persaudaraan, bersikap jujur kepada teman-temannya dan sebagainya. e) kesopanan tingkah-laku. Membiasakan mereka berbuat bersih, aktif, dan tidak malas, dibiasakan untuk tidak suka memerintah kepada temannya, ada rasa tanggung jawab, dan tidak membiasakan berlaku yang berbahaya dan tidak wajar. Tidak suka menyakiti pihak lain, baik kepada orang maupun binatang, membiasakan berbuat baik kepada orang lain, baik berupa pertolongan dan sejenisnya, maupun berupa pemberian. f) kesopanan kepada orang tua, guru dan lainnya. Mengarahkan pendidikannya agar mempunyai rasa taat dan sayang kepada orang tuanya, gurunya dan orang lain. Kita perlu menunjukkan jasa-jasa mereka kepada anak-anak tersebut, penderitaan dan perjuangan mereka untuk membela kepentingan anak-anak itu.
Disamping semua itu tadi, perlu kiranya anak-anak itu kita kenalkan dengan nama-nama tempat yang ada hubungannya dengan agama Islam, misalnya: masjid, musallah, surau, suara adzan, makkah, madinah, nabi Muhammad, Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, dan lain-lain.
Terus sekarang yang perlu didiskusikan adalah metode dan strategi apa yang cocok untuk memasukkan hal-hal tersebut. Sebab anak-anak kita tidak selalu mau disuruh mendengarkan keterangan-keterangan atau nasehat. Dalam pandangan Talhah Hasan (2003) metode efektif yang dimaksud paling tidak ada ada tiga hal. Pertama, Pemberian Teladan. Pemberian teladan ini banyak memberi kesan bagi jiwa anak-anak dan lebih banyak memberikan keberhasilan di dalam mendidik anak-anak. Sebab seperti yang sudah kita maklumi, bahwa anak-anak itu suka meniru, suka berlaku imitatif, terutama kepada orang-orang yang dekat dengannya, yang dalam hal ini tentunya para orang tua dan guru-gurunya.
Seyed Muhammad Qutub, mengatakan dalam tulisannya yang berjudul “Manhajut Tarbiyatul Islamiyah” bahwa memberi teladan atau contoh dalam pendidikan adalah suatu cara yang terbaik dan memudahkan memberi hasil yang baik di dalam kehidupan anak-anak. Kedua, dengan permainan. Mainan disini berarti barang-barang yang digunakan untuk permainan anak-anak. Permainan mempunyai fungsi yang vital dan baik sekali di dalam memberikan suluhan dan didikan agama. Kita dapat mengenalkan anak-anak itu bentuk-bentuk rumah ibadah dari tanah, dari balok-balok atau apapun yang bisa digunakan sebagai media permainan mereka.
Abbas Karoroh mengemukakan tentang pentingnya permainan bagi anak sebagai berikut: “……. Permainan mempunyai kesan dan pengaruh yang mendalam dan jauh bagi kehidupan anak-anak. Karenanya Rasul Saw juga berpesan: “ barang siapa mempunyai anak kecil (kanak-kanak) maka dia harus dapat bermain seperti anak-anak itu” (al-Hadis).
Dan ketiga, dengan nasehat dan cerita. Cara ini akan memberikan perbendaharaan yang sangat baik bagi anak-anak, untuk menanamkan budi dan nilai yang luhur di dalam jiwa mereka. Dengan sendirinya yang dimaksud cerita disini adalah cerita yang baik-baik dan yang sesuai dengan keadaan mereka. Seperti cerita kepahlawanan, cerita seorang yang baik budi kepada orang lain dan sebagainya. Termasuk cerita-cerita dalam al-Quran dan yang lain dengan catatan disederhanakan sebegitu rupa agar dapat dimengerti oleh anak-anak itu sendiri.
Sebagai kata akhir, negeri ini telah mengalami infiltrasi budaya asing yang demikian parah dan hampir tidak lagi kita sanggup menangkis penjarahan budaya oleh negara-negara kaya. Produk-produk budaya lokal bertekuk lutut kepada kekuatan produk-produk budaya global. Di depan kita hanya ada dua pilihan, bertahan atau tenggelam. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: