Gus Dur, Sang Nomor Satu

Oleh
Indra J. Piliang
The Indonesian Institute

Gus Dur telah tiada. Ketika hendak menjalani operasi gigi, keadaannya memburuk. Keterangan dokter kepresidenan menyebut Gus Dur mengalami komplikasi. Komplikasi yang memang menjadi bagian dalam hidupnya. Sakit gigi yang sulit disembuhkan di usianya yang sepuh. Gus Dur, dunia menyambut kepergiannya dengan banyak diskusi dan testimoni. Serta tentu tahlilan di kalangan ummat Nahdliyin dan upacara keagamaan lain.

Apa yang bisa dipersembahkan untuknya selain catatan? Tahun ini, bangsa Indonesia kehilangan sosok-sosok raksasa di dunianya. Tiga yang memiliki karakter tak biasa adalah WS Rendra, Mbah Surip dan Gus Dur. Dari ketiga sosok itu, Gus Dur yang nomor satu di berbagai bidang: politik, pemerintahan, opini, buku, seni, budaya dan bahkan sepakbola. WS Rendra juga nomor satu di dunia puisi. Mbah Surip menjadi sosok yang juga nomor satu di bidang tarik suara dengan nuansa seni yang kental dengan ketidakbiasaan.

Saya tidak mengenal Gus Dur secara pribadi. Hanya termasuk dalam kerumunan orang yang pernah menjumpainya, baik secara sengaja, maupun tidak sengaja. Pertama kali saya bertemu muka adalah sekitar tahun 1994. Waktu itu, Fahri Hamzah – kini politisi PKS di DPR RI – mengajak saya ke rumah Gus Dur. Kami naik bis kota ke sana dari kostan di Jalan Margonda Raya, Depok. Fahri bertubuh kurus dan kusam, sebagaimana saya. Di Ciganjur itu, kami melihat Gus Dur dan kolega dekatnya bersendagurau, antara lain Mohammad Sobary. Sepulang dari sana, saya tidur di kost-an Fahri. Saya di kasur, Fahri di tikar.

Ketertarikan itulah yang membuat saya mencari buku-buku Gus Dur. Yang paling saya ingat adalah pembelaannya tentang kultur demokrasi di tingkat lokal. Terus terang, saya tidak tertarik kepada pandangan-pandangan keagamaannya. Yang justru memunculkan ketertarikan itu adalah pandangannya atas tribalisme di Indonesia, sesuatu yang kemudian juga menjadi ketertarikan saya ketika bekerja di CSIS. Pengetahuannya yang luas tentang Aceh, Papua, Bali dan lain-lainnya, barangkali turut masuk ke dalam sel-sel pikiran saya untuk juga menjadi terpengaruh.

Untuk hal-hal yang berkaitan dengan humanisme, Gus Dur jagonya. Ia adalah seorang penabrak pakem apapun di dunia politik. Jelang pemilu 1997, Gus Dur ikut menjadi “juru bicara” kehadiran Siti Hardiyanti Indra Rukmana di panggung politik. Tetapi dengan kemampuan untuk bisa diterima semua orang, Gus Dur juga menjadi sosok yang memberikan semangat kepada kehadiran Megawati Soekarnoputri, sekalipun banyak dengan sentilan-sentilan.

***

Semua orang bisa dengan mudah menelusuri jejak-jejaknya yang begitu kuat. Ia mengubah nama Irian Jaya menjadi Papua. Ketika saya datang dalam Sidang Dewan Adat Papua Pertama di Sentani, Jayapura, pada 2002, Gus Dur begitu banyak disebut. Theys Hiyo Eluay waktu itu baru saja terbunuh dan saya menapaktilasi dari tempat Theys diculik, sampai tempat Theys ditemukan tewas. Saya berkenalan dengan Victor Kaisiepo, Thom Beanal, Thaha Al Hamid dan pimpinan PDP lainnya dalam acara yang bergemuruh itu. Suku-suku dari pegunungan turun di tengah penjagaan aparat keamanan yang super-ketat. Gus Dur dielu-elukan dalam kesempatan itu, sekalipun sudah disingkirkan dari panggung politik.

Ketika menjadi Presiden RI dalam fase singkat, 1999-2001, Gus Dur melakukan tindakan-tindakan fenomenal. Status Daerah Operasi Militer di Aceh dicabut. Sekalipun begitu, di masa Gus Dur juga muncul konflik berdarah di Sambas, Poso dan Ambon. Pikiran kalangan masyarakat sipil waktu itu adalah konflik itu muncul dari pergerakan kepentingan di kalangan militer. Beragam spekulasi muncul, seiring dengan pernyataan-pernyataan kontraversial Gus Dur yang diucapkan setiap hari Jumat atau setiap pergi ke luar negeri.

Demonstrasi oleh kalangan Islam begitu sering ketika Gus Dur menjadi presiden, bahkan sampai di Istana Negara. Istana memang berubah menjadi pesantren tidak resmi, yakni dengan banyaknya kalangan yang menggunakan kain sarung di dalamnya. Gus Dur memang dikelilingi oleh kawan-kawan dekatnya yang membentuk Forum Demokrasi pada waktu Orde Baru. Mereka antara lain Marsilam Simanjuntak, Bondan Gunawan, Djohan Effendi dan Mohammad Sobari. Tentu Gus Dur juga dikelilingi oleh kelompok NU yang paling berpendidikan: Mohammad Mahfud MD, Khofifah Indar Parawansa, Muhammad Fadjroel Falaakh dan Muhammad AS Hikam.

Saya sempat ikut berkantor di Istana, ketika menjadi semacam Tim Asistensi dalam bidang ekonomi. Hanya tiga bulan. Yang menarik, selama bekerja di sana, uang honor kami disebut sudah diambil oleh seseorang yang entah siapa. Jadi, barangkali Tim Asistensi Gus Dur inilah yang menjadi pihak tanpa gaji, sekalipun bekerja. Intrik-intrik memang menjadi bagian utama dalam pemerintahan kala itu, mengingat Gus Dur sedang membersihkan otak dari kekuasaan yang sudah begitu lama mencengkram Indonesia: Istana Negara. Desakralisasi dan dekonstruksi menjadi tema yang banyak diulas oleh para ahli waktu itu.

Ketika Gus Dur jatuh, saya bergabung dengan sejumlah pihak yang mempersiapkan prosesi: Kembali ke Pergerakan Rakyat. Gus Dur dijemput oleh kawan-kawan muda dan tuanya, setelah beberapa lama menghuni Istana bahkan setelah dijatuhkan. Megawati Soekarnoputri tidak langsung bisa masuk Istana Negara, setelah dilantik menjadi Presiden oleh MPR RI. Pada saat menjelang kejatuhan itu, sudah beredar mimpi Gus Dur kehilangan sandalnya. Bahkan beredar rumor bahwa Gus Dur tirakatan di pantai laut selatan. Beberapa kali Gus Dur memang pergi ke maqam para wali, terang-terangan, tidak sembunyi-sembunyi. Saya pernah dengar informasi yang disampaikan kepada Rizal Sukma oleh Mahfud MD bahwa Paspampres memarahi pengikut Gus Dur di salah satu maqam. Kenapa? Pengikut Gus Dur itu memutarkan kaset yang seolah-olah wali yang menghuni maqam itu dan meminta Gus Dur tidak mundur dari jabatannya. Kebenaran cerita itu saya tidak tahu, mungkin Pak Mahfud bisa becerita dalam buku yang belum juga dia tulis soal detik-detik kejatuhan Gus Dur.

***

Terakhir, saya berjumpa sosok Gus Dur secara dekat di Gedung PBNU tahun 2008. Waktu itu saya mengisi semacam refleksi politik di kalangan anak-anak muda NU. Gus Dur diturunkan dari mobil dinasnya oleh Paspampres yang menjaganya. Yang menarik, simbol yang tidak pernah dipakai Gus Dur selama bertahun-tahun hadir di lehernya. Semacam tasbih putih. Menurut info yang saya dapat dari kalangan yang memakainya, tasbih putih itu memiliki medan energi yang entah apa. Herannya, banyak kalangan yang memakai tasbih putih itu, baik di kalangan menteri – bahkan sampai presiden, juga kalangan pengusaha dan anggota parlemen. Saat itu juga saya berpikir: Gus Dur tidak lagi dikendalikan oleh dirinya, tetapi oleh tasbih itu. Pikiran nakal, tentunya, bukan dalam artian harfiah, sebagaimana Gus Dur banyak becanda tentang apapun.

Sekalipun saya mengaguminya – bahkan dalam banyak perdebatan saya dianggap terlalu Gus Dur-ian –, saya tidak pernah berdekatan fisik dan berdialog langsung dengannya. Kalaupun beberapa kali hadir di sekitarnya, paling saya hanya memperhatikan banyolan-banyolannya. Beberapa kali saya diundang oleh mahasiswa-mahasiswa pro-Gus Dur, termasuk ke Madura, Banten dan Jombang. Saya senang sekali berjalan beberapa jam dengan mobil, lalu masuk ke lingkungan kampus yang kecil dengan mahasiswa sedikit, lalu berdiskusi bebas tentang apapun.

Kini, Gus Dur telah tiada. Ia nomor satu di bidangnya. Di bidang apapun. Ia pelanggar tabu. Ia pembela kebenaran, darimanapun kebenaran itu datang. Saya kira, Gus Dur adalah manusia terbesar yang pernah dilahirkan di alam Indonesia moderen. Ia bisa menggenggam tampuk kekuasaan secara sangat manusiawi. Ia menjadikan Angkatan Laut sebagai Panglima TNI, sekaligus juga mewakili visi besar Indonesia yang belum juga terbangun: dunia maritim dan kemaritiman. Kebesaran Gus Dur melebihi kekuasaan yang dia genggam. Ia menjadikan segalanya menjadi sederhana, tidak lagi menakutkan.

Konon, ketika “konflik” sipi-militer dianggap akan meledak di Indonesia, satu-satunya yang ditakuti oleh TNI hanyalah Gus Dur. Kenapa? Megawati pasti takut melihat bedil menghadap kepadanya. Amien Rais akan kelenger ditodongkan pistol. Sultan Hamengkubuwono X pasti surut selangkah. Gus Dur: jangankan pistol, meriampun pasti tidak ditakutinya. Kenapa? Ya, karena Gus Dur tidak bisa melihat.

Begitulah inti kehidupan Gus Dur. Bukan hanya dewi keadilan menjadi buta di tangan Gus Dur, bahkan kekuasaanpun menjadi buta. Gus Dur memegang kekuasaan, tanpa sekalipun menyentuhnya! Selamat jalan, Gus Dur. Selama jalan manusia terbesar Indonesia di zaman moderen ini. Anda adalah manusia yang mendahului zaman anda…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: