RAMADHAN, jadikan Love Family Full

Pendahuluan
Ada yang sangat menarik ketika kita menonton film “click!” yang dibintangi Adam Sandler, “Family comes first”, begitu kata-kata terakhir kepada anaknya sebelum dia meninggal… Kenapa ungkapan ini muncul dari Sandler ? Tidak lain karena dia saking sibuknya mengejar kesuksesan, sampai-sampai ia tidak sempat meluangkan waktu untuk anak dan istrinya. Bahkan tidak sempat menghadiri hari pemakaman ayahnya sendiri, keluarganya-pun berantakan, istrinya yang cantik menceraikannya, anaknya jadi nggak kenal siapa ayahnya sediri.
Melihat fenomena ini, maka menarik menelaah kembali dawuhnya junjungan kita Nabi Muhammad Saw yang mengatakan “Bukan termasuk umatku orang yang tidak menghormati yang tua dan tidak menyayangi yang kecil”. Bahkan Nabi sangat mengecam pemuka Arab yang tidak pernah mencium anaknya dan mengatakan bahwa cinta telah tercerabut dari jantungnya. Dia juga berkata,”Orang yang paling baik di antara kamu ialah orang yang paling penyayang terhadap keluargaku.”
Kasih sayang tidak boleh disimpan saja di dalam hati. Kasih sayang harus dikomunikasikan. Karena itu Nabi mengungkapkan kasih-sayangnya tidak saja secara verbal (dengan kata-kata), tetapi juga dengan perbuatan. Ketika dia berkhutbah, dia melihat Hasan dan Husain yang berlari dengan pakaian yang menarik perhatian. Dia turun dari mimbarnya, mengangkat mereka, dan meneruskan khutbah dengan kedua anak itu dalam pangkuannya. Dan dia berkata, “Mereka adalah penghulu para remaja di surga.” Ketika bersujud, dia memanjangkan sujudnya hanya karena tidak ingin mengganggu Hasan dan Husain yang berada di atas punggungnya.
Pada suatu hari Umar menemukan Nabi merangkak di atas tanah, sementara dua orang anak kecil berada di atas punggungnya. Umar berkata, “Hai anak, alangkah indahnya tungganganmu itu.” Yang ditunggangi menjawab, “alangkah indahnya para penunggangnya !” Suasana seperti ini menunjukkan keakraban Nabi dengan cucu-cucunya. Dia mencintai mereka dan dengan jelas mengungkapkan kecintaan itu. Ketika Mu’awiyah berlaku kasar terhadap anaknya, Al-Ahnaf memberikan nasihat kepadanya, “Wahai Amirul Mukminin, anak-anak itu buah hati kita, tonggak kehidupan kita. Langit yang melindungi mereka dan bumi yang tempat mereka berpijak. Jika mereka marah, senangilah mereka. Jika mereka meminta sesuatu, berilah. Jangan memperlakukan mereka dengan kasar; nanti mereka menghindari keberadaanmu dan mengharapkan kematianmu.”
Banyak di antara kita secara fitri menyayangi anak-anak kita, tetapi seringkali kasih-sayang itu tersembunyi. Anak-anak baru mengenal kecintaan orangtua mereka justru ketika orangtua itu sudah meninggal dunia. Seringkali kita tidak mampu mengkomunikasikan kecintaan kita. Untuk pertumbuhan kejiwaan mereka yang sehat, mereka memerlukan siraman cinta orangtua mereka.
Apa yang terjadi bila anak kekurangan atau tidak pernah merasakan kasih sayang orang tuanya ? Sebelum menjawab pertanyaan itu secara psikologis dan sebelum kita menghayati perintah Islam untuk mengungkapkan kasih sayang ini, marilah kita simak puisi Dorothy Law Notle, berjudul “Children Learn What They Live” sebagai berikut:
Anak-anak belajar dari kehidupannya:” Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki; jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi; jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri; jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri; jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar menghargai; jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan; jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan; jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya; jika anak dibesarkan dengan kasih-sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan (Jalaluddin Rakhmad, 1998).
“Jika anak dibesarkan dengan kasih-sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan,” ujar Dorothy Law Nolte. Nabi Muhammad saw ketika ditegur orang mengapa mencium putranya, ia berkata; “Man la yarham la yurham (Siapa yang tak menyayangi, ia tak akan disayangi).” Bila orang tua gagal mengungkapkan rasa sayang kepada anak-anaknya, mereka tak akan mampu mencintai orang tua mereka. Dalam pergaulan sosial, mereka pun tak akan mampu mencintai atau menyayangi orang lain.
Karena itu, Islam sebagai agama yang membawa misi “rahmatan lil alamin” mewajibkan orang tua untuk mengekspresikan kasih-sayang mereka kepada keluarganya. “Orang yang paling baik di antara kamu ialah yang paling penyayang kepada keluarganya,” Kata Rasulullah. Dalam al-Qur’an dikatakan, memelihara kasih-sayang dalam keluarga adalah perintah kedua setelah taqwa: Bertaqwalah kamu kepada Allah, tempat kamu saling bermohon, dan peliharalah kasih-sayang dalam keluarga. (QS. 4:1). Kasih sayang adalah hak anak yang harus dipenuhi oleh orang tuanya.
Dari uraian singkat ini kita bisa melihat bahwa jika kebutuhan psikologis dan sosiologis dapat dipenuhi secara memadai, maka akan mendatangkan keseimbangan, keutuhan dan integrasi pribadi. Individu yang bersangkutan dapat merasa gembira, harmonis, dan menjadi orang yang produktif. Yang dengan demikian seseorang dapat bekerja secara gembira untuk kepentingan masyarakat dan kepentingan diri sendiri. Dan sebaliknya, jika kebutuhan kasih-sayang tidak terpenuhi, maka tidak ada kepuasan dalam hidup seseorang, dia dapat frustasi, serta terhalang dan terhambatnya pertumbuhan serta perkembangan sikap positif terhadap lingkungan masyarakat dan dirinya. Sehingga menjadi orang yang merasa tidak berarti dalam hidupnya. Padahal sekarang ini banyak ditemukan orang tua yang super sibuk karena berkarir. Lalu apa yang sebaiknya mereka lakukan ?
“Manfaatkanlah waktu yang ada. Pertama, janganlah mempunyai anak bila Anda tidak punya waktu untuk mereka. Kedua, jika Anda punya waktu, perhatikanlah waktu itu dengan serius. Ramadhan inilahmomentum yang tepat untuk saling memahami, untuk mendukung perilaku kecil yang Anda setujui dari tingkah laku anak Anda. Jauh lebih baik lagi bila Anda memberikan dukungan itu segera ketika hal-hal kecil itu terjadi.” Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: