MEMBUNUH, BUNUH DIRI DAN MASALAH PENDIDIKAN AGAMA

Akhir-akhir ini kita sering disuguhi berita-berita yang kadang tidak rasional, semisal anak membunuh orang tuanya sendiri, sebagaimana peristiwa Blora berdarah yang diberitakan oleh Radar Bojonegoro (JP,10/10/’10). Atau bunuh diri yang menempati posisi ketiga penyebab kematian di kalangan remaja. Padahal, remaja dan orangtua kadang menganggap remeh masalah ini, lantaran meyakini tidak akan terjadi pada keluarga mereka. Dengan kata lain, masalah pembunuhan dan juga bunuh diri sebenarnya menjadi masalah yang cukup berbahaya selain dari narkoba. Oleh karena itu, penulis ingin meninjau masalah ini dari segi problem kenakalan anak dan remaja serta penyakit masyarakat dalam arti keseluruhan.
Ada banyak faktor yang menimbulkan kenakalan anak dan penyakit masyarakat dengan berbagai persoalan yang melingkupinya. Umpamanya problem rumah tangga, problem lingkungan, problem ekonomi, problem psikologis, problem pendidikan, baik yang bersifat agama maupun umum. Oleh karena itu penanggulangannya tidak bisa ditangani secara parsial, tetapi sudah seharusnya ditinjau dan ditangani dari berbagai aspek yang berlainan dan komprehensif.
Dalam uraian yang singkat ini, penulis akan mencoba meninjau problem ini dari perspektif pendidikan Islam. Dengan harapan semoga uraian ini dapat menjelaskan bagaimana seharusnya peranan pendidikan agama dalam memecahkan problem anak (baca; peserta didik) dan mencegah penyakit masyarakat yang kelihatanya sudah akut tersebut.
Fungsi Agama
Agama Islam datang ke dunia ini tiada lain adalah untuk membimbing manusia agar mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, tujuan sebenarnya dari agama Islam adalah membina manusia agar baik dan sehat, baik fisik-jasad maupun psikis-mental. Dan intisari ajaran hampir semua agama, selalu berkisar pada masalah baik dan buruk. Yaitu perbuatan mana yang baik dan membawa kebahagiaan, dan perbuatan mana yang bersifat buruk dan jahat yang membawa kepada kemudaratan dan kesengsaraan. Untuk itu agar kebahagiaan yang hakiki bagi manusia bisa tercapai, maka perbuatan baik harus dikerjakan, dan perbuatan buruk harus dijauhi dan ditinggalkan.
Jika kita terima bahwa ajaran-ajaran Islam berpusat pada soal baik-buruk dan budi pekerti luhur, maka dapatlah diambil kesimpulan bahwa tujuan pendidikan Islam, baik di sekolah-sekolah umum maupun di sekolah agama, seharusnya membina manusia yang baik dan berbudi pekerti luhur. Sebab esensi dan ruh pendidikan Islam seharusnya merupakan pendidikan moral. Dari sini menjadi jelas bahwa pendidikan moral yang perlu ditekankan di tingkat TK, SD, SLTP maupun SLTA, yaitu ketika jiwa anak didik masih relatif bersih dan belum dikotori oleh masyarakat sekitarnya. Sebab pada saat itulah jiwa anak didik masih lunak dan mudah dibentuk sesuai dengan ajaran-ajaran agama. Pendidikan moral yang dilakukan sesudah anak didik menjadi besar dengan jiwa serta mentalnya yang sudah mulai dikotori oleh masyarakat sekitarnya, sulit akan membawa hasil seperti yang diharapkan.
Dalam pendidikan moral, yang esensial dari pendidikan Islam, terletak pada peran pendidikan agama dalam upaya mencegah hal-hal yang bersifat destruktif. Seperti membunuh, bunuh diri ataupun bentuk-bentuk lain dari kenakalan remaja dan penyakit-penyakit masyarakat yang bersumber pada jiwa yang tidak bersih. Untuk itu seharusnya anak didik perlu dilatih sejak kecil untuk cinta kepada kebaikan serta hal-hal yang baik. Dan benci kepada kejahatan serta hal-hal yang tidak baik. Selanjutnya juga perlu dilatih mengerjakan hal-hal yang baik dan dilatih menjauhi perbuatan-perbuatan buruk dan jahat. Dengan latihan seperti ini, kemudian ditambah dengan latihan ibadah dan pengetahuan tentang halal, haram, sunnah dan seterusnya, barulah anak didik, menurut pendapat penulis, tidak akan mudah digoda oleh hal-hal yang tidak baik dalam masyarakat. Tanpa latihan dan didikan moral, sebagaimana sekarang, kalangan anak, remaja, bahkan kalangan dewasa, akan mudah sekali dapat digoda oleh hal-hal yang merugikan dan merusak kehidupan dalam masyarakat. Dan akan mudah sekali untuk dibawa hanyut oleh arus-arus yang tidak baik yang terdapat dalam masyarakat.
Tetapi dalam pada itu dalam pandangan Guru Besar Harun Nasutian (1996; 427) bahwa pendidikan moral itu saja tidaklah merupakan obat yang ampuh dan mujarab untuk mencegah bahaya kenakalan remaja dan penyakit-penyakit masyarakat lainnya. Usaha dari segi pendidikan agama ini harus dijalankan bersama-sama (baca; komprehensif) dengan usaha dari segi-segi lain oleh lembaga-lembaga masyarakat yang ada hubungannya dengan problem ini.
Jelas kiranya bahwa usaha pencegahan yang dikemukakan di sini, ialah usaha yang berjangka panjang. Usaha yang berjangka singkat atau instant, kelihatannya tidak dapat diberikan lewat pendidikan agama, apalagi kalau yang dimaksudkan dengan itu ialah pendidikan moral. Sebab semua bentuk pendidikan memerlukan waktu yang tidak singkat.
Sehingga dalam pandangan Prof. Zakiah Daradjat, dikatakan secara garis besar konsep pendidikan agama bagi anak dibagi menjadi tiga pokok yaitu : Pertama, Keluarga sebagai dasar pembinaan dan pendidikan agama pada usia remaja. Adapun pelaksanaan pendidikan agama di dalam keluarga meliputi antara lain : keteladanan orang tua dalam kehidupan sehari-hari yang mencerminkan keimanan dan ketaatan beribadah, perlakuan terhadap anak sesuai dengan ketentuan agama. Kedua, Pengaruh lingkungan terhadap pendidikan agama pada usia remaja. Melihat betapa pentingnya pembinaan agama pada usia remaja menjadikan kita harus benar-benar mampu mendidik, membina, dan mengusahakan supaya kehidupan di lingkungan remaja tidak terlepas dari segi-segi dan nilai-nilai agama. Dan Ketiga, Fungsi pendidikan agama bagi kehidupan dan masa depan remaja; 1) memberikan bimbingan dalam hidup; 2) sebagai penolong dalam kesukaran dan 3) sebagai penentram batin.
Oleh karena itu, masih menurut pandangan Ibu Daradjat, sesungguhnya kebutuhan kejiwaan para anak dan remaja banyak dipengaruhi oleh lingkungan dimana ia tinggal. Adapun kebutuhan-kebutuhan yang akan mendorong serta mengendalikan perbuatan dan tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari. Kebutuhan-kebutuhan tersebut antara lain: 1) kebutuhan akan rasa kasih sayang; 2) kebutuhan akan rasa aman; 3) kebutuhan akan rasa harga diri; 4) kebutuhan akan rasa ingin mengenal dan 5) kebutuhan akan rasa sukses.
Antara pengajaran dan pendidikan moral.
Kelihatannya sistem pendidikan agama kita, sebagaimana halnya dengan pendidikan umum kita, telah dipengaruhi oleh trend pendidikan Barat yang lebih mengutamakan pengajaran daripada pendidikan moral. Yang dimaksud dengan pengajaran adalah memasukkan pengetahuan-pengetahuan ke dalam otak atau akal anak didik. Dengan bahasa lain, hanya transfer of knowledge saja. Inilah yang ditemukan di masyarakat Barat. Bahkan di sana telah dijumpai pendapat dan praktek melepaskan ilmu pengetahuan dari nilai-nilai moral (free value). Ilmu pengetahuan dicari dan dimajukan semata-mata untuk kepentingan pengetahuan, tanpa memperhatikan apakah ilmu pengetahuan akan membawa efek-efek yang tidak baik bagi anak didik dan bagi masyarakat . Soal efek baik atau buruk, kata sarjana-sarjana ilmu pengetahuan Barat, bukanlah soal mereka. Itu adalah soal kaum moralis. Soal mereka hanyalah ilmu pengetahuan tanpa memikirkan soal moral.
Trend ini tampaknya telah mempengaruhi sistem pendidikan kita, termasuk pendidikan agama sendiri. Cobalah kita tengok model sistem pendidikan Islam kita, yang ditekankan adalah pemberian pengetahuan-pengetahuan keagamaan pada peserta didik, dan ini menggejala di dunia persekolahan kita mulai dari tingkat TK, SD, SLTP, SLTA sampai PT. Pendidikan yang diajarkan pada umumnya mengambil pengajaran cara-cara menjalankan shalat, mulai dari soal wudlu sampai ke hal-hal yang membatalkan wudlu dan shalat. Cara-cara menjalankan puasa, haji serta zakat, apa yang halal dan haram dalam Islam, hukum-hukum fiqih, sifat-sifat Tuhan, rukun iman dan Islam dalam tauhid, dan sebagainya-dan sebagainya. Dan ini masih diperparah lagi dengan model penilain dan evaluasinya. Yakni anak didik dinilai bukan atas budi pekerti dan kepribadiannya, tetapi atas dasar pengetahuan (kognitif) tentang hal-hal yang diajarkan itu dan bukan pada aspek afeksi dan kesalehannya dalam beribadah sehari-harinya. Tentang akhlak yang diajarkan pun, kelihatannya, penilaianya diberikan atas pengetahuan anak didik tentang nilai-nilai akhlak yang diajarkan Islam dan bukan tentang keadaan anak didik memakai atau tidak memakai akhlak-akhlak baik itu dalam pergaulan sehari-hari.
Melihat dari semua ini, maka kita menjadi mafhum, kalau ‘kebrutalan’ (baca; membunuh dan bunuh diri dan narkoba) itu juga sebenarnya datang dari sistem pendidikan kita yang kurang proporsional meletakkan ruh pendidikan moral pada rel yang tepat. Oleh karena itu, hemat penulis, sudah sewajarnya dan selayaknya kurikulum pendidikan moral direformasi terlebih dahulu. Dan selanjutnya yang tidak kalah penting adalah pengamalan doa ini “Ya Allah Sehatlah Tubuh Kami, Cerdaskanlah Otak Kami, Bersihkanlah Hati Kami dan Indahkanlah Akhlak Kami, Amin…”. Inilah doa yang selalu dibaca dan diamalkan setiap hari di Perguruan Matholi’ul Anwar Simo Lamongan.

(Catatan; TULISAN INI PERNAH DIMUAT JAWA POS, RADAR BOJONEGORO; MINGGU, 31 OKTOBER 2010)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: