Pemberdayaan Mahasiswa Sebagai Agent of Change dalam Kegiatan KKN: Pendekatan Sosial

ABSTRAK
KKN menjadi sarana yang cukup efektif dalam rangka saling memberi dan menerima (take and give). Bagi mahasiswa sendiri KKN dapat memperdalam pengertian, penghayatan dan pengalaman mahasiswa tentang cara berfikir dan bekerja interdisipliner dan lintas sektoral. KKN juga berguna untuk pendidikan, penelitian dan pembangunan pada umumnya lebih-lebih untuk daerah pedesaan pada khususnya. Dengan KKN mahasiswa juga akan merasakan sendiri terhadap kesulitan yang dihadapi masyarakat dalam pembangunan, serta keseluruhan konteks masalah pembangunan. Selain itu, dapat mendewasakan alam pikiran mahasiswa dalam setiap penelaahan dan pemecahan masalah yang ada di masyarakat secara pragmatis ilmiah. Inilah sebabnya, Dikti masih menganggap KKN sebagai program intrakurikuler, yang memiliki bobot SKS tertentu yang bersifat wajib dilaksanakan oleh perguruan tinggi di Indonesia.
KKN dapat membentuk sikap (attitude), rasa cinta, serta kepedulian sosial (empati) dan tanggungjawab mahasiswa terhadap kemajuan masyarakat, memberikan keterampilan kepada mahasiswa untuk melaksanakan program pengembangan dan pembangunan. KKN juga dapat membentuk dan membina mahasiswa agar menjadi seorang inovator, motivator dan problem solver, serta memberikan pengalaman dan keterampilan kepada mahasiswa sebagai kader pembangunan.
Pemerintah juga dapat memberikan pembekalan, karena KKN bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dan mahasiswa itu sendiri. Dapat mengajarkan mahasiswa bersosialisasi dan cepat tanggap terhadap lingkungan sekitar.
Kata Kunci: KKN, Mahasiswa dan masyarakat desa.
Muqaddimah
Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu bentuk pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Secara ideal, penyelenggaraan KKN seyogyanya dapat menjangkau tiga sasaran utama. Pertama, sebagai wahana pembelajaran bagi para mahasiswa (peserta KKN) untuk mengaplikasikan berbagai teori yang diperolehnya selama dalam perkuliahan, sesuai dengan disiplin ilmunya masing-masing. Kedua, KKN dapat memberikan nilai tambah dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Dan ketiga, KKN merupakan media untuk membangun kemitraan antara lembaga perguruan tinggi yang bersangkutan dengan masyarakat, termasuk di dalamnya sebagai upaya untuk membangun citra sekaligus dapat dijadikan sebagai ajang promosi perguruan tinggi yang bersangkutan.
Namun dalam prakteknya, tidak mustahil ketiga sasaran KKN tersebut di atas dapat melenceng dari harapan semula, sehingga setelah KKN berakhir, justru para mahasiswa peserta KKN tetap saja tidak memperoleh pembelajaran diri yang berarti. Begitu pula, kualitas kehidupan masyarakat di lokasi KKN tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Bahkan, di mata masyarakat bisa saja citra perguruan tinggi malah semakin merosot. Dengan demikian, penyelenggaraan KKN boleh dikatakan mengalami kegagalan atau tidak efektif.
Tentu saja, banyak faktor yang menyebabkan penyelenggaraan KKN menjadi tidak efektif. Di antara sejumlah faktor penyebab kegagalan penyelenggaraan KKN, salah satunya adalah berkenaan dengan kemampuan para mahasiswa peserta KKN dalam melakukan pendekatan sosial dengan masyarakat setempat. Oleh karena itu, dalam tulisan ini penulis akan berupaya memaparkan tentang : Apa itu pendekatan sosial ? Bagaimana tahapan-tahapan (fase) yang harus dilalui dalam pendekatan sosial itu ? Dan bagaimana pula proses interaksi sosial yang terjadi dalam KKN ? Namun sebelum mengupas persoalan tersebut, akan diketengahkan sekilas tentang latar belakang diadakanya KKN oleh Perguruan Tinggi di Indonesia termasuk oleh Unisda, perubahan paradigma KKN, serta prinsip dan tujuan pelaksanaan KKN. Dengan tulisan ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan dan pertimbangan,bagi para mahasiswa yang hendak mengikuti program KKN pada tahun-tahun yang akan dating.
Background KKN
Kuliah Kerja Nyata (KKN ) merupakan salah satu kegiatan dalam pendidikan tinggi yang diselenggarakan berdasarkan UUD 1945 dan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional juncto Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi. Pendidikan pada dasarnya merupakan proses pendewasaan dan kemandirian manusia secara sistematis, agar siap menjalani kehidupan secara bertanggung jawab. Menjalani kehidupan secara bertanggungjawab berarti berani mengambil keputusan yang bijaksana sekaligus berani menanggung segala konsekuensi yang ditimbulkannya.
Demi cita-cita yang mulia itu, pendidikan di PerguruanTinggi dilaksanakan dengan cara membekali dan mengembangkan religiusitas, kecakapan, ketrampilan, kepekaan dan kecintaan mahasiswa terhadap pemuliaan kehidupan umat manusia pada umumnya dan masyarakat Indonesia pada khususnya. Pembekalan dan pengembangan hal-hal tersebut terangkum dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU. Sisdiknas) pada pasal 20 ayat 2 dinyatakan: “Perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat”. Pada pasal 24 ayat 2 disebutkan: “Perguruan tinggi memiliki otonomi untuk mengelola sendiri lembaganya sebagai pusat penyelenggaraan pendidikan tinggi, penelitian ilmiah, dan pengabdian masyarakat”.
Ketiga aspek dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut dilaksanakan dengan proporsi yang seimbang, harmonis, dan terpadu dengan harapan agar kelak para lulusan Perguruan Tinggi dapat menjadi manusia yang berilmu pengetahuan, memadai dalam bidang masing-masing, mampu melakukan penelitian, dan bersedia mengabdikan diri demi kemaslahatan umat manusia pada umumnya dan masyarakat Indonesia pada khususnya. Untuk mempraktekkan ilmu dan menerapkan hasil penelitian yang dilakukan oleh civitas akademika, maka perlu suatu media yang mendukung.
Kuliah Kerja Nyata (KKN) adalah suatu kegiatan intrakurikuler wajib yang memadukan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan metode pemberian pengalaman belajar dan bekerja kepada mahasiswa, dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. KKN juga merupakan wahana penerapan serta pengembangan ilmu dan teknologi,yang dilaksanakan di luar kampus dalam waktu, mekanisme kerja, dan persyaratan tertentu. Oleh karena itu, KKN diarahkan untuk menjamin keterkaitan antara dunia akademik-teoritik dan dunia empirik-praktis. Dengan demikian akan terjadi interaksi sinergis, saling menerima dan memberi, saling asah, asih, dan asuh antara mahasiswa dan masyarakat.
Perubahan Paradigma KKN
Reformasi nasional telah membawa dampak perubahan pada berbagai aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Perubahan terjadi pula dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional terutama terkait dengan adanya perubahan-perubahan mendasar yaitu dengan ditetapkannya otonomi daerah. Sebagai dampak dari pelaksanaan otonomi daerah terjadi perubahan paradigma baru dalam pembangunan. Pertama, terjadinya pergeseran otoritas pelaksanaan pembangunan dan alokasi anggaran dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah dan semangat bottom up planning dalam pembangunan. Kedua, memberikan peluang lebih besar kepada pemerintah daerah dalam kewenangan menentukan arah dan tujuan pembangunan berdasarkan potensi dengan segala permasalahan dan keterbatasan daerah masing-masing.
Kegiatan KKN masa lalu lebih menempatkan mahasiswa sebagai komponen yang pasif karena mahasiswa hanya melaksanakan program yang telah direncanakan oleh pengelola KKN. Oleh karena itu perubahan paradigma dalam pelaksanaan kegiatan KKN di Unisda adalah suatu keharusan dan telah diwujudkan dengan penyelenggaraan KKN ke desa-desa di sekitar daerah Kabupaten Lamongan, Tuban dan Bojonegoro.
Melalui KKN, mahasiswa akan memperoleh pengalaman belajar dan bekerja dalam kegiatan pembangunan masyarakat sebagai wahana penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi secara lebih nyata. Sehingga KKN merupakan media penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi di masyarakat secara sistematis dalam program pemberdayaan masyarakat. KKN juga diharapkan menjadi pendorong pengembangan riset terapan secara mutualistik dalam rangka membantu menyelesaikan permasalahan di masyarakat. Kegiatan KKN diharapkan dapat mengembangkan kepekaan rasa dan kognisi sosial mahasiswa. Terlebih bagi pemerintah daerah dan masyarakat setempat, kegiatan KKN dapat membantu percepatan proses pembangunan serta membentuk kader penerus kegiatan pembangunan.
Prinsip Dasar dan Pelaksanaanya
1. Prinsip Dasar
Sejalan dengan perubahan paradigma tersebut, maka KKN yang dilaksanakan oleh Perguruan Tinggi tentunya berpijak pada prinsip-prinsip :
a. Keterpaduan aspek Tri Dharma Perguruan Tinggi
Aspek pendidikan dan pengajaran, dan pengabdian kepada masyarakat yang berbasis penelitian menjadi landasan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan tolok ukur evaluasi.
b. Pelestarian Tri Gatra
KKN dilaksanakan untuk mencapai pengembangan kepribadian mahasiswa (personality development), pemberdayaan masyarakat (community empowerment) dan pengembangan institusi (institutional development).
c. Empati-Partisipatif
KKN dilaksanakan untuk menggerakkan masyarakat dalam pembangunan melalui berbagai kegiatan yang dapat melibatkan, mengikutsertakan, dan menumbuhkan rasa memiliki masyarakat terhadap pembangunan. KKN dilaksanakan secara interaktif dan sinergis antara mahasiswa dan masyarakat. Konsekuensinya, keterlibatan kedua belah pihak dalam setiap kegiatan mutlak diperlukan. Keterlibatan itu dimulai sejak perencanaan program kegiatan lapangan, pelaksanaan, dan pengusahaan pendanaan. Untuk itu para mahasiswa dan pengelola KKN harus mampu mengadakan pendekatan sosio-kultural terhadap masyarakat sehingga lebih kooperatif dan artisipatif.
d. Interdisipliner
KKN dilaksanakan oleh mahasiswa yang berasal dari berbagai disiplin ilmu di lingkungan universitas dan pelaksanaannya dikoordinasikan oleh LPPM. Dalamoperasionalnya mahasiswa mengembangkan mekanisme pola pikir dan pola kerja interdisipliner untuk memecahkan permasalahan yang ada di lokasi KKN.
e. Komprehensif-Komplementatif dan berdimensi luas
KKN berfungsi sebagai pengikat, perangkum, penambah dan pelengkap kurikulum yang ada. Dengan demikan diharapkan mahasiswa peserta KKN mampu mengaktualisasikan diri secara profesional dan proporsional.
f. Realistis-Pragmatis
Program-program kegiatan yang direncanakan pada dasarnya bertumpu pada permasalahan dan kebutuhan nyata di lapangan, dapat dilaksanakan sesuai dengan daya dukung sumber daya yang tersedia di lapangan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
g. Environmental development
KKN dilaksanakan untuk melestarikan dan mengembangkan lingkungan fisik dan sosial untuk kepentingan bersama.

Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut di atas, maka diharapkan mahasiwa KKN mampu mengidentifikasi permasalahan yang ada di masyarakat dan mencari penyelesaiannya sesuai dengan sumber daya yang dimiliki. Dengan harapan, masyarakat mampu berswadaya, berswakelola, dan berswadana dalam pembangunan.

2. Prinsip Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan KKN dilakukan dengan karakteristik sebagai berikut :
a. Co-creation (gagasan bersama): KKN dilaksanakan berdasar pada suatu tema dan program yang merupakan gagasan bersama antara universitas (dosen, mahasiswa, Pusat Studi) dengan pihak Pemerintah Daerah, mitra kerja dan masyarakat setempat.
b. Co-financing co-funding (dana bersama): KKN dilaksanakan dengan pendanaan bersama antara mahasiswa pelaksana, universitas dengan pihak Pemerintah Daerah, mitra kerja dan masyarakat setempat, disesuaikan dengan tema dan program yang telah disepakati.
c. Flexibility (keluwesan): KKN dilaksanakan berdasarkan pada suatu tema dan program yang sesuai dengan situasi dan kebutuhan Pemerintah Daerah, mitra kerja dan masyarakat dalam proses pembangunan di daerah. Mahasiswa dapat memilih tema pelaksanaan KKN yang ditawarkan universitas sesuai dengan keinginannya.
d. Sustainability (berkesinambungan): KKN dilaksanakan secara berkesinambungan berdasarkan suatu tema dan program yang sesuai dengan tempat dan target tertentu.
e. KKN dilaksanakan berbasis riset (Research based Community Services).

Tujuan dan Sasaran
1. Tujuan
Sebagaimana lazimnya KKN di Perguruan Tinggi, maka tujuan dari pelaksanaan KKN Unisda adalah :
a. Meningkatkan empati dan kepedulian mahasiswa.
b. Melaksanakan terapan IPTEKS secara teamwork dan interdispliner.
c. Menanamkan nilai kepribadian :
– Nasionalisme dan jiwa Pancasila.
– Keuletan, etos kerja dan tangung jawab.
– Kemandirian, kepemimpinan dan kewirausahaan.
d. Meningkatkan daya saing nasional.
e. Menanamkan jiwa peneliti
– Eksploratif dan analisis.
– Mendorong learning community dan learning society.
2. Sasaran
Pada dasarnya kegiatan KKN diarahkan kepada 3 (tiga) sasaran, yaitu :
a. Mahasiswa
1. Memperdalam pengertian, penghayatan,dan pengalaman mahasiswa tentang:
a. Cara berfikir dan bekerja interdisipliner dan lintas sektoral.
b. Kegunaan hasil pendidikan dan penelitian bagi pembangunan pada umumnya dan pembangunan daerah pedesaan pada khususnya.
c. Kesulitan yang dihadapi masyarakat dalam pembangunan serta keseluruhan konteks masalah pembangunan pengembangan daerah.
2. Mendewasakan alam pikiran mahasiswa dalam setiap penelaahan dan pemecahan masalah yang ada di masyarakat secara pragmatis ilmiah.
3. Membentuk sikap dan rasa cinta, kepedulian sosial, dan tanggung jawab mahasiswa terhadap kemajuan masyarakat.
4. Memberikan ketrampilan kepada mahasiswa untuk melaksanakan program-program pengembangan dan pembangunan.
5. Membina mahasiswa agar menjadi seorang innovator, motivator, dan problem solver.
6. Memberikan pengalaman dan ketrampilan kepada mahasiswa sebagai kader pembangunan.

b. Masyarakat (dan Pemerintah)
1. Memperoleh bantuan pikiran dan tenaga untuk merencanakan serta melaksanakan program pembangunan.
2. Meningkatkan kemampuan berfikir, bersikap dan bertindak agar sesuai dengan program pembangunan.
3. Memperoleh pembaharuan-pembaharuan yang diperlukan dalam pembangunan di daerah.
4. Membentuk kader-kader pembangunan di masyarakat sehingga terjamin kesinambungan pembangunan.
c. Perguruan tinggi
1. Perguruan tinggi lebih terarah dalam mengembangkan ilmu dan pengetahuan kepada mahasiswa, dengan adanya umpan balik sebagai hasil integrasi mahasiswa dengan masyarakat. Dengan demikian, kurikulum perguruan tinggi akan dapat disesuaikan dengan tuntutan pembangunan. Tenaga pengajar memperoleh berbagai kasus yang dapat digunakan sebagai contoh dalam proses pendidikan.
2. Perguruan tinggi dapat menjalin kerjasama dengan instansi pemerintah atau departemen lainnya dalam melaksanakan pembangunan dan pengembangan IPTEKS.
3. Perguruan tinggi dapat mengembangkan IPTEKS yang lebih bermanfaat dalam pengelolaan dan penyelesaian berbagai masalah pembangunan.

Pendekatan Sosial
Yang dimaksud dengan pendekatan sosial di sini adalah upaya dari Perguruan Tinggi, khususnya para mahasiswa peserta KKN selaku pelaksana utama dalam KKN untuk dapat mengintegrasikan diri (meleburkan diri) ke dalam berbagai kegiatan masyarakat agar dapat diterima dan berperan-serta dalam berbagai kegiatan masyarakat di tempat KKN ( Akhmad Sudrajat, 2008).
Pendekatan sosial dilakukan dalam seluruh rangkaian pengelolan kegiatan KKN, baik pada tahap perencanaan, pelaksanaan, maupun pada tahap evaluasi. Dalam tahap perencanaan, pendekatan sosial dilakukan dengan berusaha melibatkan masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam penyusunan rencana atau program kegiatan KKN. Dengan pelibatan (partisipasi) masyarakat dalam perencanaan, kita dapat mengidentifikasi berbagai ekspektasi, kebutuhan dan permasalahan nyata yang dihadapi masyarakat, sehingga kita dapat menyusun action plan yang lebih tepat dan realistis. Semakin banyak masyarakat yang dilibatkan tentunya akan semakin baik. Di samping itu, keterlibatan masyarakat dalam perencanaan dapat membawa efek psikologis kepada mereka untuk sama-sama memikul tanggung jawab dalam mengimplementasikan rencana-rencana yang telah dibuat.
Pendekatan sosial dalam tahap pelaksanaan, terutama dilakukan oleh peserta KKN dengan cara membangun komunikasi dan hubungan sosial yang harmonis untuk secara – secara bersama mengimplementasikan setiap rencana yang telah disusun. Dibandingkan dengan tahapan KKN yang lainnya, justru pada tahap pelaksanaan inilah pendekatan sosial memegang peranan penting dan harus banyak dilakukan oleh para peserta KKN. Sedangkan pendekatan sosial dalam tahap evaluasi berkaitan erat dengan partisipasi masyarakat untuk memberikan data yang obyektif atas kegagalan dan keberhasilan kegiatan KKN.
Kegagalan dalam melakukan pendekatan sosial dapat berdampak terhadap kegagalan penyelenggaraan KKN itu sendiri. Sebagus apapun program yang dirancang, jika tanpa didukung pendekatan sosial yang memadai tampaknya hanya akan menghasilkan kesia-sian saja. Oleh karena itu, betapa pentingnya penguasaan tentang pendekatan sosial dari setiap mahasiswa (peserta KKN).
Fase-fase Pendekatan Sosial
Menurut Kartika Wangsarahardja sebagaimana dikutip oleh Sudrajat (2008), dikatakan bahwa untuk tercapainya pendekatan sosial yang baik, perlu dilakukan tahapan-tahapan pendekatan sosial, sebagai berikut :
1. Pembukaan Hubungan
Agar pelaksanaan KKN berjalan efektif dan efisien perlu dukungan dan partisipasi masyarakat. Oleh karena itu, mahasiswa dan dosen pembimbing perlu membuka hubungan dengan masyarakat. Dalam tahapan ini mahasiswa beserta dosen pembimbing dapat mengadakan diskusi atau loka-karya dengan semua pihak strategis di masyarakat tentang rencana kerja.
Selain terjadi saling memperkenalkan diri, dari pihak peserta KKN perlu pula memperkenalkan tentang pengertian, maksud dan tujuan Kuliah Kerja Nyata kepada masyarakat, sehingga masyarakat memperoleh pemahaman yang tepat dan memiliki kepedulian terhadap kegiatan KKN. Pada tahap ini perlu dibicarakan pula hal-hal teknis yang berkaitan dengan pelaksanaan KKN.
Selesai tahap ini, rencana atau program yang telah disiapkan sebelumnya perlu segera disesuaikan dengan berbagai perkembangan yang terjadi, sekaligus ditata dan dijajaki kemungkinan-kemungkinan realisasinya.
2. Pemeliharaan Hubungan
Hubungan yang telah terjalin melalui tahapan sebelumnya, selanjutnya perlu dipelihara dan dijaga agar suasana KKN tetap berjalan kondusif. Kehangatan dan keakraban serta saling percaya dengan masyarakat terus dipelihara melalui kegiatan komunikasi secara formal maupun informal. Dalam pemeliharaan hubungan, komunikasi informal dapat memberikan hasil yang jauh lebih efektif. Oleh karena itu, peserta KKN, baik secara individual maupun kelompok seyogyanya dapat mengembangkan komunikasi informal dengan seluruh lapisan masyarakat, misalnya pada saat di warung, shalat berjamaah di masjid atau dalam bentuk-bentuk kegiatan informal lainnya.

3. Pembinaan Hubungan
Pembinaan hubungan terutama dilaksanakan oleh pengelola KKN (lembaga atau tim yang ditunjuk oleh perguruan tinggi yang bersangkutan) pada saat mengadakan pemantauan (monitoring) dan evaluasi terhadap rencana dan pelaksanaan kegiatan yang telah disetujui pihak-pihak strategis. Pada tahap ini dapat terjalin hubungan kerja sama antara Perguruan Tinggi dengan masyarakat yang tidak hanya sebatas pada masa KKN, akan tetapi sangat dimungkinkan pula untuk menjalin kerja sama lanjutan yang mutualisme, setelah masa KKN berakhir. Pembinaan hubungan ini dimaksudkan untuk semakin memperkokoh hubungan kerjasama yang telah terjalin.
4. Mengakhiri Hubungan
Sejalan dengan berakhirnya masa KKN, maka secara formal hubungan kerja sama antara peserta KKN dengan masyarakat pun berakhir. Kendati demikian, tidak menutup kemungkinan (bahkan sangat dianjurkan) untuk terjadinya hubungan lanjutan yang bersifat interpersonal dengan masyarakat setempat.
Pada tahap ini peserta KKN berpamitan dengan masyarakat, baik secara formal maupun personal. Secara formal biasanya dilakukan secara seremonial dalam bentuk acara khusus pelepasan peserta KKN oleh masyarakat setempat. Dalam hal ini, perwakilan dari lembaga Perguruan Tinggi diharapkan dapat hadir, sekurang-kurangnya dihadiri oleh Dosen Pembimbing. Sedangkan secara personal, pamitan dilakukan antar-individu (interpersonal) dalam suasana yang tidak formal. Jika tidak memungkinkan untuk pamitan dengan seluruh masyarakat, paling tidak peserta KKN berpamitan dengan tokoh-tokoh masyarakat dan orang-orang yang telah berjasa memberikan bantuan dan dukungannya selama kegiatan KKN berlangsung.
Pengakhiran hubungan yang baik ditandai oleh adanya kesan positif dari kedua belah pihak. Kesan akhir positif hanya akan diperoleh manakala tahapan – tahapan pendekatan sosial sebelumnya dapat dilalui dengan baik, yang disertai dengan karya-karya nyata yang dihasilkan selama kegiatan KKN berlangsung.

Proses Interaksi Sosial
Kegiatan KKN pada dasarnya merupakan kegiatan interaksi sosial yang melibatkan berbagai pihak. Dalam kegiatan KKN, kita akan menjumpai berbagai bentuk interaksi sosial, yang secara garis besarnya dapat diklasifikasikan ke dalam tiga pola atau bentuk interaksi sosial, yaitu : (1) interaksi individu dengan individu; (2) interaksi individu dengan kelompok; dan (3) interaksi kelompok dengan kelompok. (Jalaluddin Rakhmat; 1985)
Interaksi individu dengan individu dapat terjadi antara peserta KKN dengan peserta KKN atau peserta KKN dengan anggota masyarakat. Sedangkan interaksi individu dengan kelompok dapat terjadi antara peserta KKN dengan kelompok KKN atau peserta KKN dengan kelompok masyarakat. Sementara interaksi kelompok dengan kelompok dapat terjadi antara kelompok KKN dengan kelompok masyarakat atau lembaga perguruan tinggi dengan kelompok masyarakat. Bagi Rakhmad, interaksi sosial antara peserta KKN dengan masyarakat, baik secara individual maupun kelompok terdapat beberapa peran yang dijalankan oleh peserta KKN, antara lain :
1. Komunikator; bertugas untuk mengkomunikasikan segenap program KKN yang akan dilaksanakan kepada masyarakat terkait, agar mereka yakin dan mau perpartisipasi aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan KKN. Oleh karena itu, peserta KKN seyogyanya dapat menguasai berbagai teknik komunikasi dan mampu menerapkannya secara tepat dan bijak diantaranya : (a) teknik persuasif; yaitu teknik berkomunikasi untuk mempengaruhi orang lain dengan cara membujuk secara halus dan tidak menyinggung perasaan; (b) teknik informatif; yaitu teknik komunikasi dalam bentuk info khabar yang dapat mengurangi ketidakpastian atau suatu teknik komunikasi agar komunikan (pihak yang menerima informasi) dapat mengambil keputusan secara tepat; (c) teknik instruksi; yaitu teknik komunikasi yang cenderung bersifat perintah yang harus dilaksanakan dan jika tidak dilaksanakan akan terkena sanksi. Dalam berinteraksi dengan masyarakat, peserta KKN tentunya akan lebih tepat menggunakan teknik persuasif dan informatif, serta diusahakan sedapat mungkin untuk menghindari penggunaan teknik instruksi.
2. Fasilitator; bertugas membantu dan memberi kemudahan kepada masyarakat untuk dapat memberdayakan dan mengembangkan dirinya. Dalam menjalankan perannya sebagai fasilitator, pada dasarnya peserta KKN bertindak sebagai pendidik melalui pendekatan andragogi (pendidikan orang dewasa) dengan menekankan pada upaya-upaya pemecahan masalah yang dihadapi pada saat sekarang. Teknik – teknik pembelajaran yang dilakukan dapat berbentuk simulasi, game, diskusi, studi kasus dan teknik-teknik pembelajaran sejenisnya yang tidak bersifat “menggurui”. Dari peran fasilitator ini pula diharapkan dapat menghasilkan kader-kader pembangunan daerah, yang dibentuk melalui kegiatan pelatihan kader.
3. Motivator; bertugas memberikan dorongan kepada masyarakat agar dapat berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan di daerahnya.
4. Inovator; bertugas mengembangkan berbagai pembaharuan untuk kepentingan kemajuan masyarakat. Dalam hal ini, peserta KKN bertindak sebagai agen perubahan (agent of change)
5. Mediator; bertugas untuk menjembatani kepentingan masyarakat dengan pihak ketiga. Dalam pelaksanaan KKN sangat mungkin ditemukan masalah-masalah atau kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang karena alasan kewenangan dan kemampuan tidak mungkin dilakukan oleh para peserta KKN, maka dalam hal ini peserta KKN dapat menghadirkan pihak ketiga untuk diminta bantuannya. Misalkan, untuk masalah kesehatan dapat meminta bantuan dari Dinas Kesehatan, atau masalah pendidikan dari Dinas Pendidikan, dan sebagainya. (Jalaludin Rakhmad, 1985).
Peran-peran tersebut dapat dilakukan secara simultan, pada saat yang bersamaan mungkin bertindak sebagai fasilitator, sekaligus juga merangkap sebagai motivator, komunikator, atau peran-peran lainnya. Kesuksesan pendekatan sosial sangat ditentukan oleh sejauh mana para peserta KKN dapat mewujudkan peran-peran tersebut secara baik. Dengan menjalankan peran-peran tersebut, maka proses perubahan (pembangunan) yang terjadi di masyarakat melalui kegiatan KKN akan tampak lebih mengedepankan prinsip “dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat”
Dalam berinteraksi dengan masyarakat, peserta KKN seyogyanya dapat membaca dan memahami sikap masyarakat terhadap kegiatan KKN. Di dalam masyarakat sangat mungkin ditemukan sikap terhadap kegiatan KKN yang beragam (termasuk sikap terhadap peserta KKN), ada yang cenderung positif, acuh tak acuh atau bahkan negatif.
Berhadapan dengan masyarakat yang memiliki sikap positif tentunya akan relatif lebih mudah untuk didekati dan diajak bekerja sama dalam mensukseskan berbagai program yang telah dicanangkan. Namun, sebaliknya berhadapan dengan masyarakat yang cenderung acuh tak acuh atau bahkan negatif diperlukan ekstra keras untuk mendekatinya. Untuk mendekati masyarakat yang acuh tak acuh atau negatif, diperlukan komunikasi yang lebih intensif dengan disertai kesabaran yang tinggi dengan tetap menunjukkan sikap empati dan simpati terhadap mereka. Dalam hal ini, tampaknya peserta KKN akan lebih banyak diuji tentang sejauhmana tingkat kecerdasan sosialnya.
Oleh karena itu, hemat penulis ada beberapa hal yang layak untuk diperhatikan oleh para peserta KKN dalam mengintegrasikan diri dengan masyarakat setempat, diantaranya adalah:
1. Dekati semua tokoh masyarakat setempat yang memiliki pengaruh kuat di masyarakat, baik tokoh formal maupun non formal, untuk “meminjam” pengaruhnya guna kepentingan kesuksesan pelaksanaan KKN.
2. Perlu disadari bahwa pendekatan sosial yang dilakukan bukan untuk kepentingan sesaat dan hanya untuk sementara waktu, yakni hanya pada waktu KKN berlangsung, tetapi diupayakan agar dapat memiliki kepentingan untuk waktu jangka panjang,
3. Tanamkan keinginan untuk mengenal warga masyarakat lebih jauh dan berniat untuk menambah saudara, dengan siapa pun tanpa pandang bulu. Jangan mengambil tindakan alieanasi (pengasingan diri) yang bersifat eksklusif.
4. Menghargai dan menghormarti sistem nilai yang berlaku di masyarakat setempat, meski mungkin nilai-nilai itu tidak selaras dengan nilai yang dianut oleh peserta KKN.
5. Menjaga netralitas dalam konflik yang berkembang di masyarakat. Jika kebetulan ditempatkan di suatu lokasi KKN yang sedang berkembang konflik, tidak perlu menunjukkan keberpihakan kepada salah satu pihak, walau pun mungkin peserta KKN akan ditarik-tarik sedemikian rupa untuk berpihak. Peserta KKN tetap dalam posisi netral. Jika memungkinkan kembangkanlah hal-hal positif dari suasana konflik yang berkembang.
6. Menjaga penampilan diri, sikap dan perilaku. Senantiasa berpakaian secara santun, hindarkan pembicaraan yang bersifat mengkritik dan dapat menyinggung perasaan masyarakat, terutama yang menyangkut keyakinan serta tata nilai masyarakat setempat.Bersikaplah rendah hati ramah, dan empati terhadap siapapun, dimana pun dan pada saat kapan pun.
7. Di samping berupaya meleburkan diri dengan masyarakat setempat, proses pengintegrasian secara internal dalam kelompok peserta KKN pun harus dilakukan. Berikan kesempatan kepada setiap anggota kelompok KKN untuk berkontribusi sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya. Siapa pun dan latar belakang disiplin ilmu apa pun pada dasarnya memiliki kedudukan dan tanggung jawab yang sama dalam kelompok. Jalankan komunikasi dan koordinasi internal serta kelola (manage) kelompok sedemikian rupa hingga benar-benar dapat menjadi satu tim KKN yang kompak dan cerdas,
Ihtitam
1. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut diharapkan dapat tercapai pendekatan sosial yang memungkinkan masyarakat untuk memberikan dukungan serta bersedia berpartisipasi dalam setiap kegiatan yang telah direncanakan, sehingga pada gilirannya setiap tujuan dan sasaran dari adanya kegiatan KKN kiranya dapat terwujudkan dengan baik.
2. Pendekatan sosial merupakan hal yang amat penting untuk dilakukan guna menunjang keberhasilan kegiatan KKN. Oleh karena itu, penyelenggaraan KKN perlu didasari oleh pendekatan sosial yang tepat dan memadai, baik pada saat perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi.
3. Pendekatan sosial dilakukan melalui tahapan-tahapan yang sistematis, meliputi tahapan : (1) pembukaan hubungan; (2) pemeliharaan hubungan; (3) pembinaan hubungan; dan (4) mengakhiri hubungan. Dalam kegiatan KKN terdapat beberapa pola atau bentuk interaksi sosial yaitu : (1) interaksi individu dengan individu; (2) interaksi individu dengan kelompok; dan (3) interaksi kelompok dengan kelompok.
4. Interaksi sosial antara peserta KKN dengan masyarakat ditandai oleh adanya beberapa peran dari peserta KKN yang harus diwujudkan secara baik. Dalam interaksi sosial, akan ditemukan sikap masyarakat yang beragam terhadap kegiatan KKN, ada yang cenderung positif, acuh tak acuh atau bahkan negatif yang perlu didekati secara tepat dan dipahami oleh para peserta KKN.
5. Hal-hal yang layak diperhatikan oleh para peserta KKN dalam mengintegrasikan diri dengan masyarakat, meliputi : (a) keinginan untuk menjadi bagian integral dari masyarakat setempat; (b) pendekatan sosial bukan untuk kepentingan sesaat; (c) menghargai dan menghormarti sistem nilai yang berlaku di masyarakat setempat; (d) berusaha mendekati semua tokoh masyarakat setempat yang memiliki pengaruh kuat; (e) menjaga netralitas dalam konflik yang berkembang di masyarakat; (f) menjaga penampilan diri, sikap dan perilaku di masyarakat dan (g) menjadi tim KKN yang kompak dan cerdas.

DAFTAR BIBLIOGRAFI:

Agraha Suhandi. 1993. Pola Hidup Masyarakat Indonesia. Bandung : Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran.
Anas Rasyid. 2006. Metode Pemecahan Masyarakat . Jakarta: LPM Universitas Trisakti.
Gerungan, WA. 1977. Psychologi Sosial. Bandung : Eresco.
Jalaluddin Rakhmat. 1985. Psikologi Komunikasi. Bandung : C.V. Remaja Karya.
Kartika Wangsarahardja. 2006. Penyuluhan Kepada Masyarakat . Jakarta: LPM Universitas Trisakti.
LPPM Unisda, 2010, Buku Panduan KKN Unisda. Lamongan; Unisda Press.
Sudrajat, Akhmad; http://makalahkumakalahmu.wordpress.com
Yuni Retna Dewi. Teknik Komunikasi Pada Proses Pendekatan Masyarakat. Jakarta: LPM Universitas Trisakti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: