MISTISISME BENCANA; Perspektif Orang Jawa

Dalam bulan-bulan ini, hampir semua media massa baik cetak maupun elektronik dengan sangat gencar memberitakan berbagai bencana yang melanda di berbagai daerah di Indonesia. Bencana itu terjadi bukan hanya di darat, tapi juga di laut, dan bahkan di udara. Sehingga kalau kita melihatnya hanya dari sisi media ansich , seolah-olah tidak ada tempat untuk berlindung di bumi pertiwi yang kita cintai ini. Terus bagaimana sebenarnya bencana-bencana yang demikian dahsyat dan memilukan ini dalam perspektif orang Jawa ?
Menurut Permadi, menjelang siklus tujuh puluh tahunan, –periodesasi Sriwijaya-Majapahit dan Indonesia—dikatakan bahwa bumi nusantara (entah benar atau tidak), tidak akan pernah damai dan sejahtera dalam pengertian yang hakiki. Apalagi selama ini banyak orang mengabaikan ajaran agama dan moralitas. Dan kemudian masih ditambah dengan tidak adanya upaya untuk taqarrub kepada penciptanya, Padahal dalam perspektif Jawa, dikatakan bahwa manusia, alam dan kuasa adikodrati merupakan kesatuan integral yang tidak terpisahkan satu dari yang lain. Kehidupan dan nasib manusia ditentukan oleh alam, dan itu diterima sebagai kehendak ilahi yang menentukan nasibnya. Manusia yang menghendaki kesejahteraan di dalam hidupnya harus menciptakan suasana harmoni. Karena itu orang Jawa harus peka dan tanggap terhadap segala peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Suara ilahi dapat berbicara pada segala waktu, tempat dan keadaan.
Suara ilahi dapat berbicara melalui peristiwa alam, misalnya, gempa bumi, gerhana, gunung meletus, dan banjir. Seluruh gejala alam ini dapat diterima sebagai kuasa adikodrati yang menggunakan alam sebagai alatnya untuk berbicara kepada manusia. Apa yang terjadi dari gejala alam yang spektakuler tersebut akan dianggap sebagai rangkaian nasib dan takdir yang tidak terelakkan oleh masyarakat Jawa. Suara ilahi dapat pula berbicara melalui cara-cara lain, seperti melalui mimpi, dan melalui perintah atau nasihat raja atau pujangga. Media lain yang juga sangat mempengaruhi masyarakat Jawa dalam hal ini adalah ‘takhayul’. Buku primbon pun menjadi semacam buku pegangan wajib bagi orang Jawa dalam menafsirkan segala sesuatu dalam kehidupan.
Dan hal inilah yang menjadi salah satu faktor ketertarikan Clifford Geerts untuk meneliti ‘keistimewaan’ orang Jawa. Diantara kesimpulan hasil penelitiannya di Mojokuto –nama samaran Mojokerto? –, dikatakan bahwa, mistisisme Jawa selalu terkait dengan delapan persoalan, yakni: Pertama, Dalam hidup keseharian manusia, perasaan ‘baik’ dan perasaan ‘buruk’, ‘kebahagiaan’ dan ‘ketidakbahagiaan’, adalah bersifat natural dan tidak dapat terpisahkan. Tidak seorang pun dapat bahagia senantiasa, dan juga tidak ada seorang pun yang akan terus menerus tidak bahagia. Segala sesuatunya berjalan bergantian hari demi hari. Tujuan kehidupan bukanlah untuk menghindari ketidakbahagiaan ataupun memaksimalkan kebahagiaan, melainkan meminimalkan keduanya sekecil mungkin agar pribadi dapat mencapai perasaan kepenuhan yang sejati. Tujuan kehidupan adalah ‘tentrem ing manah’ —kedamaian dalam hati. Kedua, Dibawah permukaan atau dibelakang perasaan manusia sesungguhnya terdapat sebuah perasaan murni yang bernilai, yaitu rasa —yang merupakan diri pribadi yang sesungguhnya dari manusia (aku) dan juga merupakan manifestasi dari Gusti Allah di dalam pribadi manusia. Kebenaran dasar bagi kaum priyayi terwujud dalam rumusan: rasa = aku = gusti. Ketiga, Tujuan religius seorang manusia seharusnya adalah untuk menemukan dan merasakan rasa yang pokok ini di dalam dirinya. Hasil dari penemuan ini akan memberikan kuasa spiritual yang dapat digunakan untuk kebaikan ataupun kejahatan dalam dunia ini. Keempat, Untuk mendapatkan ‘pengetahuan’ tersebut akan rasa, seseorang harus memiliki kehendak yang tulus (murni), harus memusatkan diri kepada diri yang di ‘dalam’ untuk satu tujuan fokus ini. Disiplin yang perlu dilakukan untuk tujuan ini adalah berpuasa, tetap terjaga dan tidak melakukan hubungan seksual. Semedi merupakan usaha sejangka waktu tertentu untuk memisahkan diri dari dunia untuk tujuan ini. Kelima, Sebagai tambahan bagi disiplin rohani dan meditasi, studi empiris mengenai kehidupan emosional manusia, psikologi metafisikal juga akan menolong untuk mengerti dan mengalami rasa. Keenam, Karena semua orang mempunyai perbedaan dalam kemampuan melakukan disiplin rohani, dan kenyataan bahwa tidak semua orang mampu melakukannya, maka adalah mungkin untuk menilai pribadi menurut kemampuan rohani dan keberhasilan mereka. Sistem ranking yang dapat diterapkan dalam relasi antara guru-murid agar guru dapat memiliki murid-murid yang lebih berkembang; di sisi lain, murid yang berkembang pun dapat melanjutkan pembelajarannya dengan lebih baik. Ketujuh, Pada tingkatan tertinggi dari pengalaman dan keberadaannya, semua orang adalah satu kesatuan dan tidak ada individualitas, karena rasa, aku dan Gusti merupakan ‘sesuatu yang kekal’ —satu dalam diri semua orang. Sekalipun pada level empiris semua orang dan bangsa memiliki banyak perbedaan, namun pada dasarnya semua orang adalah sama. Hanya beberapa tokoh suci saja, semisal Gandhi, Yesus, dan Muhammad, yang mendapatkan simpati secara universal dalam hal ini. Dan kedelapan, karena tujuan dari semua orang seharusnya adalah untuk mengalami rasa, sistem keagamaan, kepercayaan dan prakteknya hanya bermakna kepada tujuan it. Hal keagaamaan hanya bernilai baik dalam kaitannya dengan pencapaian akan rasa. Hal ini mengarahkan kepada pandangan relativisme ketika semua orang dibebaskan untuk menemukan agama atau kepercayaan yang cocok bagi dirinya sendiri dalam menemukan rasa. Toleransi mutlak dalam masyarakat Jawa pun kemudian diterima dan dipraktekkan secara luas (Clifford Geertz; 310-312).
Ternyata, mistisisme bukan hanya monopoli orang Jawa. Sebab menurut Sherry Anderson dan Paul Ray dalam buku The Cultural Creatives, menyajikan hasil sigi tentang paramuda Amerika. Dalam pandangan kedua peneliti ini, paramuda Amerika terbagi menjadi tiga kelompok budaya. Kelompok pertama adalah kaum modernis, sebanyak 48 persen, dan yang merupakan kelompok budaya terbesar di Amerika. Kelompok Kedua, golongan tradisional. Jumlah mereka sekitar 25 persen dari populasi remaja Amerika. Kelompok ketiga adalah kelompok kreator budaya. Jumlah mereka kurang dari 5 persen dari remaja Amerika pada awal 1960-an, namun sekarang malah meningkat menjadi 26 persen.
Sebagai kata akhir, ada baiknya kita merenungkan kembali sikap kita selama ini, khususnya kepada alam raya dan lebih spesial kepada kaum mustad’afin. Bahwa selama kita masih bersikap arogan, haus kekuasaan, jabatan dan harta, maka tunggulah azab Allah yang datang seketika tanpa aba-aba. Sehingga Rasulullah mewanti-wanti kepada kita semua bahwa: “Sesungguhnya kalian ditolong dan diberikan rezeki, karena jerih payah dan perjuangan kaum dhu’afa (Al-Hadits).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: