STOP WABAH SEKS BEBAS KE DAERAH, MUNGKINKAH ?

Fenomena nge-Sex pra nikah ternyata masih selalu menjadi isu hangat di negeri tercinta ini. Buktinya, baru-baru ini Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melansir hal tersebut. Menurut Komandan BKKBN Sugiri Syarif dikatakan, bahwa 51 persen remaja di Jabodetabek telah melakukan seks pra nikah. Ini artinya dari 100 remaja, 51 sudah tidak perawan. Sebenarnya berita ini tidak yang ter-gress, sebab beberapa tahun lalu juga dilansir tentang fenomena gunung es ini. Lihat misalnya, seks pra nikah yang dilakukan remaja di Surabaya tercatatl 54 persen, di Bandung 47 persen, dan 52 persen di Medan.
Pertanyaannya kemudin, masih relevankah membicarakan nilai-nilai virginitas di zaman digital seperti sekarang ini. Atau mungkinkah men-STOP wabah seks bebas ini agar tidak masuk ke daerah-daerah termasuk ke kampung-kampung kita tercinta ini ? Inilah yang mau diurai dalam tulisan yang singkat ini.

Televisi Sebagai Pendulum Seks ?
Jujur kita katakan, bahwa memang ada bebarapa hal positif yang bisa disebutkan sehubungan dengan televisi. Namun dari hari kehari semakin banyak indikasi ilmiah yang menegaskan bahwa lebih banyak dampak negatif dari acara televisi melalui berbagai tayangannya, terutama bagi anak-anak dan remaja. Sehingga Nicolas Van Rogh, ketua Badan Nasional Pendidikan Anak dan Pakar Televisi di Amerika serikat menyatakan: “Kadang-kadang televisi bisa menjadi musuh bagi anak-anak, meski kadang bisa menjadi hadiah yang menyenangkan. Karena menonton berbagai program acara yang tidak karuan, dapat menghabiskan porsi terbanyak waktu anak-anak, menghilangkan banyak waktu bermanfaat yang dapat digunakan untuk belajar, bermain dan tidur.”
Tidak berbeda dengan Van Rogh, dalam pandangan Akhmad (2008) dikatakan bahwa waktu yang dihabiskan oleh anak-anak untuk menonton televisi cukup memprihatinkan. Dari beberapa penelitian didapatkan bahwa anak menonton televisi rata-rata tidak kurang dari 3 jam sehari. Bahkan ada penelitian lain yang mengatakan bahwa anak-anan dalam sehari tidak kurang dari 7 jam waktu yang digunakan untuk menonton televisi. Apa yang mereka dapatkan selama 3-7 jam tersebut. ‘Pelajaran’ apa saja yang mereka perolah. Walaupun mereka menonton kartun tetapi tema dan perilakunya menggambarkan perilaku orang dewasa. Ambil contoh: Naruto, Sinchan, Doraemon dan beberapa film lain yang isinya semuanya memperlihatkan kekerasan dan perilaku yang tidak pantas dilakukan oleh seorang anak kecil. Mereka semua mengajarkan bahwa permasalahan yang ada penyelesaiannya adalah melalui kekerasan, entah itu berantem, main pukul, kata-kata kasar yang semuanya mudah ditiru oleh anak-anak.
Namun demikian mencari tontonan yang bermutu dan cocok untuk anak sangat sulit. Sangat minimalnya tontonan yang menonjolkan perilaku yang baik. Dan yang jelas film tersebut hampir semua produk import yang tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Alangkah indahnya kalau suatu film lebih menonjolkan sikap untuk menghargai temannya, tontonan yang membuat anak kreatif, bagaimana berinteraksi dengan teman sebaya, dengan orang tua serta bagaimana menyelesaikan masalah sehari-hari dengan bijak. Kita membayangkan bagaimana film itu menampilkan perilaku seorang anak sesuai budaya bangsa kita, mereka mengajarkan komunikasi dengan orang lain dengan sopan, memberikan senyuman serta memberikan salam hormat dan lain-lain.
Anak merupakan kelompok yang paling rawan terhadap bahaya televisi. Mengapa? Anak merupakan kelompok yang mudah untuk menyerap informasi apa saja dan tidak dapat memfilter atau membedakan mana informasi yang baik dan mana informasi yang kurang baik. Data dari majalah anak-anak Kidia mencatat bahwa hanya 15% tontonan yang baik untuk anak-anak selebihnya sangat berbahaya. Dan lebih parah lagi bahwa jumlah jam menonton televisi lebih besar dibandingkan dengan jam pelajaran yang ada di sekolah.
Masih menurut Akhmad, bahwa banyak mudharat (bahaya) dari Televisi kita, antara lain: Pertama, Hidup konsumtif, anak merupakan sasaran yang empuk bagi produsen produk tertentu. Produk-produk tertentu yang diiklankan ditelevisi cepat sekali mendapatkan respon dari anak. Anak-anak tidak tahu apakah orang tua punya uang atau tidak yang penting mereka punya seperti yang ada di televisi atau meniru yang ada di televisi. Kedua, Pengaruh terhadap sikap dan perilaku, seorang anak belum bisa membedakan mana sikap yang baik serta perilaku yang mana yang diperbolehkan serta yang cocok dengan nilai-nilai yang ada dalam keluarga atau lingkungan. Televisi lebih banyak menonjolkan gaya hidup yang berbeda dengan budaya atau nilai-nilai yang dianut oleh orang tuanya. Maka bila tidak ada pendampingan maka sikap serta perilaku yang diperlihatkan adalah seperti yang ada di layar televisi. Akhirnya hal tersebut menimbulkan konflik dalam keluarga. Yang menakutkan bila sikap dan perilaku ini akan terbawa sampai remaja dan dewasa. Ketiga, Mempengaruhi perkembangan otak, menonton televisi dapat mempengaruhi mind set seorang anak. Pola pikir mereka adalah seperti apa yang mereka sering tonton setiap hari dan hal ini akan mempengaruhi pikirannya. Keempat, Mengurangi kreatifitas, anak-anak yang terlalu banyak menonton televisi dapat mengurangi kreatifitas karena waktu yang ada lebih banyak untuk menonton televisi yang bisa dikatakan pasif. Berbeda dengan anak yang kreatif yang senang bongkar pasang mobil-mobilan atau, menggambar, ataupun permainan lain yang sangat bermanfaat karena tangan ikut bergerak serta berpikir. Kelima, Meningkatkan obesitas, masalah obesitas bagi anak-anak dianggap belum merupakan masalah yang berat. Berbeda dengan bangsa Jepang, Amerika dan Eropa obesitas merupakan suatu masalah yang utama seperti anak yang bergizi buruk. Media televisi berperanan juga untuk membuat anak menjadi gemuk. Mengapa? Selain waktu yang ada lebih banyak digunakan untuk duduk tetapi kebiasaan ngemil saat menonton televisi ikut berperanan terjadinya obesitas. Keenam, Merenggangkan hubungan keluarga, anak yang terbiasa menonton televisi lebih jarang berkomunikasi dengan anggota keluarga lainnya. Dan ketujuh, Malas belajar, anak yang asyik menonton televisi membuat keasyikan sendiri yang akhirnya membuat anak malas untuk belajar. Apalgi kalau sudah ada tontonan favorit mereka maka anak-anak akan semakin manjauh dari belajar.
Itulah beberapa pengaruh negatif yang dapat muncul dari media Televisi. Oleh karena itu, kita harus hati-hati, karena media tersebut bagi anak anak dapat mengubah pola pikir. Apa yang seharusnya dilakukan oleh orang tua? Hemat kita, sudah seharusnya sebagai orang tua untuk memberikan pendampingan kepada anak ketika menonton acara televisi.

Pengendalian Sosial
Pengendalian sosial diartikan sebagai suatu mekanisme untuk mencegah penyimpangan sosial serta mengajak dan mengarahkan masyarakat untuk berperilaku dan bersikap sesuai norma dan nilai yang berlaku. Dengan adanya pengendalian sosial yang baik diharapkan mampu meluruskan anggota masyarakat yang berperilaku menyimpang atau membangkang.
Adapun metode yang dapat dilakukan untuk mengendalikan sosial masyarakat, dalam hal ini seks pra nikah antara lain; Pertama,. Pengendalian Lisan (persuasif). Pengendalian lisan diberikan dengan menggunakan bahasa lisan guna mengajak anggota kelompok sosial untuk mengikuti peraturan yang berlaku. Kedua, Pengendalian Simbolik. Pengendalian simbolik merupakan pengendalian yang dilakukan melalui gambar, tulisan, iklan, dan lain-lain. Seperti: Spanduk, Poster, atau Rambu Lalu Lintas. Dan Ketiga, adalah Pengendalian Kekerasan (Koersif). Pengendalian melalui metode kekerasan merupakan suatu tindakan yang dilakukan untuk membuat si pelanggar jera dan membuatnya tidak berani melakukan kesalahan yang sama.
Sebagai ihtitam kita berharap, bahwa kalau para khatib sudah mengkhutbahkan nilai-niali moral di masjid-masjid, maka harapan kita institusi keluarga, dunia persekolahan dan masyarakat-pun jangan tinggal diam melihat sisi moral remaja ini. Tetapi harus bergandengan tangan untuk membentengi akhlak-moral remaja kita dengan nilai-nilai yang baik dan mulia. Kita yakin dan percaya jika semua elemen bangsa ini bersatu padu memberantas penyakit moral remaja ini pasti bisa. Semoga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: