ARAH KIBLAT MADRASAH, SUDAH BETULKAH ?

Oleh; Ali Shodikin

Madrasah adalah salah satu jenis lembaga pendidikan Islam yang berkembang di Indonesia yang diusahakan, disamping masjid dan pesantren. Meskipun madrasah pernah berkembang pada abad ke-11 dan 12, atau periode pertengahan sejarah Islam, khususnya di wilayah Baghdad seperti madrasah Al-Nizamiyah. Sehingga kehadiran madrasah di Indonesia tampaknya merupakan fenomena modern pada awal abad ke-20. Karena urgennya lembaga Islam ini, sehingga NU, Muhammadiyah, dan organisasi Islam lainnya memiliki bagian atau seksi khusus dalam rangka pendirian madrasah-madrasah di berbagai daerah. Dengan corak masing-masing yang berbeda, madrasah-madrasah itu menandai satu perkembangan pendidikan Islam yang tidak lagi terbatas pada pengajaran ilmu-ilmu agama. Meskipun madrasah-madrasah dalam organisasi-organisasi Islam itu dijadikan wahana pencetakan kader-kader yang mendukung masing-masing organisasi, tetapi perkembangannya cukup memberi warna pada corak keberagamaan, wawasan ilmu pengetahuan, dan ketrampilan umat Islam Indonesia yang lebih progresif. Dengan mendirikan madrasah, umat Islam agaknya telah memberikan respons yang cukup tepat terhadap kebijakan pendidikan pemerintah Hindia Belanda kala itu. Sehingga pendidikan Islam di satu sisi tidak terlalu tertinggal, dan di sisi lain tetap mempertahankan ciri-ciri keislamannya secara kuat.
Namun dalam perjalanannya, madrasah juga menghadapi tantangan dan perubahan zaman yang merupakan suatu proses aktual yang tidak pernah hilang selama manusia masih hidup di muka bumi ini. Keharusan ini dimungkinkan karena manusia pada dasarnya adalah makhluk kreatif sebagai sunnatullah atas cipta, rasa dan karsa yang diberikan Sang Maha Pencipta kepada kita. Proses kreatif ini, sekaligus merupakan modal positif dalam upaya mengantarkan dirinya untuk meninggalkan keterbelakangan ( underdevelopment of backwardness), baik di bidang sosial budaya, politik, ekonomi dan lain sebagainya. Untuk itu, maka perubahan itu dapat di nalar menurut asumsi positive thinking, karena berdampak positif bagi kemajuan peradaban manusia sendiri. Bahkan sejak manusia mulai mengenal lingkungan dan kebudayaan, perubahan justru menjadi satu kebutuhan.
Sisi yang menjadi persoalan sekarang adalah, bahwa perubahan yang berlangsung sangat gencar ini tidak bisa sepenuhnya membawa dampak positif khususnya bagi madrasah. Di dalamnya juga terkandung dampak-dampak negatif bagi lingkungan madrasah sendiri. Bahkan Lebih dari itu perubahan tersebut juga bisa merubah dan ‘merusak’ pranata sosial yang telah mapan di masyarakat sekalipun.
Aspek negatif yang demikian ini, tidak pernah bisa dihindari secara sempurna oleh bangsa manapun juga, apalagi bangsa-bangsa yang sedang dalam masa-masa transisi seperti yang sedang dialami bangsa Indonesia. Dari agraris ke industrial, di tengah perkembangan dunia yang demikian pesat. Dalam situasi masyarakat seperti demikian, biasanya akan terjadi perubahan struktural dan kultural serta keterkejutan budaya secara tidak sejalan, atau bahkan saling berbenturan, sehingga terjadi apa yang dikatakan Durkheim sebagai anomie terhadap perangkat nilai yang berlaku.
Dalam konteks inilah, maka bagaimana sebaiknya madrasah termasuk di dalamnya Ma’arif NU dan lembaga Muhammadiyah memposisikan dirinya yang natabene sebagai lembaga pendidikan Islam dalam menghadapi perubahan struktural dan kultural di masyarakat saat ini ?

Mengkiblatkan Posisi Madrasah
Berpijak pada kenyataan bahwa negara Indonesia yang dihuni oleh sekitar 85 % komunitas muslim, maka tidak terhindarkan lagi bahwa keberadaan dan eksistensi madrasah sangatlah jelas. Sebagai sosok lembaga yang menuntun peserta didik (murid) secara kuat dengan azas normatif, maka pada masa yang akan datang lembaga madrasah semakin berat tanggung jawabnya kepada masyarakat.
Menurut hemat kita, dalam memenuhi target jangka pendek, madrasah harus mampu memberikan arahan dan menuntun anak didiknya secara massal untuk menjadi umat beragama Islam yang toleran, mampu menghadapi dan menjalani perubahan. Sedangkan untuk jangka panjang, penekananya adalah bahwa lembaga pendidikan Islam harus mampu melahirkan cendekiawan muslim (ulama). Dan bagi pendidik dan orang tua haruslah konsisten menunjukkan kemampuan dalam mengarahkan dan menuntun anaknya agar menjadi generasi berkemajuan dunia atas landasan keakhiratan. Untuk menjawab tantangan ini semua, maka lembaga pendidikan Islam bagaimanakah yang kita butuhkan ?
Dalam menjelaskan kelembagaan untuk masa datang tersebut, kiranya masih tetap perlu dihindari kerangka idealis, mengingat penetapan-penetapan aspeknya senantiasa tidak terlepas dari kebijakan dan penerapan politik pendidikan di negeri ini. Namun demikian, batas kesederhanaan yang dianut adalah batas yang dapat menempatkan lembaga pendidikan Islam sekurang-kurangnya setara dengan perkembangan persoalan di sekitar masalah kehidupan sosial keagamaan masyarakat.
Sisi pertama yang cukup menantang adalah masalah kualifikasi tenaga kependidikan. Aspek tersebut menuntut kepada para pengampu lembaga pendidikan Islam masa sekarang dan masa mendatang adalah mereka yang tidak hanya sekadar menguasai ajaran agama secara tekstual, tetapi juga kontekstual dan juga bisa merespon perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kian gencar ini. Dalam hal ini sasaran peninjauan utama adalah lembaga-lembaga yang memproduk tenaga kependidikan Islam (baca; Fakultas Agama Islam atau IAIN/ STAIN).
Dari sini kita bisa menyadari kenapa Pemprop. Jatim (baca; Gus Ipul) begitu gencar dan antusias untuk memberdayakan guru-guru Madrasah Diniyah dengan menggandeng beberapa Perguruan Tinggi termasuk Unisda Lamongan. Upaya ini dapat dipandang sebagai proses transformasi pendidikan Islam dalam upaya untuk memenuhi tuntutan dan perkembangan zaman. Untuk merealisasikan gagasan ideal tersebut maka untuk tahun ini saja Gus Ipul menargetkan seluruh Jatim di target 1000 guru Madrasah Diniyah bisa mengenyam pendidikan tinggi.
Sisi lainnya, adalah bahwa para pengampu yang qualified tersebut, harus membuktikan kemampuannya dengan menghindarkan proses pembelajarannya pada semata-mata pencapaian target kognitif. Sebab, aspek afektif dan psikomotorik merupakan penentu tersosialisasinya ajaran-ajaran moral dan budi pekerti pada perkembangan perilaku anak didik, yang notabene sebagai calon ulama, calon pendidik, dan calon pemimpin bangsa dan agama di masa yang akan datang. Dalam konteks ini, maka keberadaan para pengampu di setiap jenjang pendidikan, memiliki tuntutan tanggung jawab moral yang lebih berat dibanding tanggung jawab kedinasan. Sekalipun jabatannya memang untuk mencari nafkah sebagaimana juga profesi lain (Nasution, 1992;132), tetapi keberadaannya dilingkari oleh tanggung jawab untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang sangat jelas dan tegas menunjukkan sasaran keimanan, ketakwaan dan akhlakul karimah. Untuk lebih terangnya mari kita baca pasal 3 Undang-undang Sisdiknas tahun 2003 yang berbunyi sebagai berikut; “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
Untuk itu, maka tantangan-tantangan dan amanat undang-undang tersebut sudah sewajarnya harus terlebih dahulu dijawab dalam bentuk eksen yang konkrit. Sebab jika persoalan tersebut tidak teratasi, maka di duga inovasi-inovasi dalam mengantarkan masyarakat beragama Islam pada umumnya, akan lebih tertanggulangi. Bukankah kita selama ini berasumsi, bahwa perubahan itu perlu dan menjadi wujud perbaikan kualitas hidup yang harus dicapai umat manusia. Tetapi perubahan seringkali justru malah memberi dampak negatif dalam masyarakat. Dan itu lebih dikarenakan oleh ketidaksiapan masyarakat itu sendiri, sehingga terjadi keterkejutan-keterkejutan yang paradoks dengan nilai budaya dan keyakinan itu sendiri.
Dalam konteks tersebut, maka kelemahan-kelemahan lain yang dinilai masih di sandang lembaga madrasah dan melemahkannya dalam menjawab tantangan yang di bawa zaman, perlu segera dibenahi dan diantisipasi. Arahnya menurut hemat penulis bukan untuk bersaing, tetapi sepenuhnya untuk memenuhi dan melaksanakan tanggung jawab untuk melahirkan manusia-manusia yang bijaksana, cendekia dan bermoral. Ini sekaligus sebagai antisipasi madrasah agar tidak semakin termarginalkan dalam percaturan global, dalam Indonesia modern dan Indonesia industrial.
Sebagai kata pamungkas, penting untuk diperhatikan bahwa suatu ciri utama dan pertama pendidikan madrasah adalah pembinaan jiwa agama dan akhlak anak didik. Inilah yang menjadi identitas sebenarnya dari pendidikan madrasah yang perlu diperhatikan oleh para pengelola, stakeholder dan guru lembaga pendidikan Islam itu sendiri. Pendidikan dan pengajaran dalam madrasah harus diarahkan kepada pembinaan keyakinan agama, sehingga hidupnya selalu berpedoman kepada ajaran Islam. Di samping itu, perlu disadari bahwa tujuan hidup seorang muslim adalah bahagia dunia, dan bahagia di akhirat nanti. Serta terhindar dari segala dosa yang akan membawa kepada kemurkaan Allah Swt. Semoga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: