ASA GUS IPUL PADA DUNIA PESANTREN

Oleh; Ali Shodikin

Kita berdoa, mudah-mudahan dhurriyah dari KH. Soefyan Abdul Wahab ini bisa meneruskan apa yang sudah diwariskan oleh beliau. Dan kita semua mendukung dari belakang. Kita juga mendoakan dan sekaligus berharap agar lulusan-lulusan pesantren ini agar menjadi orang-orang yang natinya berbakti kepada bangsa, negara dan agama. Amin ya robbal alamin. (Cuplikan Tausyiyah Wakil Gubernur Jatim Gus Ipul di Haul Pesantren Matholi’ul Anwar Simo Lamongan).
Sadar atau tidak, kita sekarang ini sudah memasuki era digitalisasi. Sehingga sudah selayaknya paradigm dunia pendidikan tak terkecuali dunia pesantren juga berbenah diri dalam rangka mencerdaskan ummat manusia dan memelihara persaudaraan. Dan pemikiran ini sudah disadari oleh badan PBB, UNESCO, yang merekomendasikan “empat pilar pembelajaran” untuk memasuki era global ini. Yaitu program pembelajaran yang diberikan hendaknya mampu memberikan kesadaran kepada masyarakat, sehingga mau dan mampu belajar (learning to know or learning to learn). Bahan belajar yang dipilih hendaknya mampu memberikan suatu pekerjaan alternative kepada peserta didik/santri (learning to do), mampu memberikan motivasi untuk hidup ke masa depan (learning to be). Pembelajaran tidak cukup hanya diberikan dalam bentuk ketrampilan untuk dirinya sendiri, tetapi juga ketrampilan untuk hidup bertetangga, bermasyarakat, berbangsa dan hidup dalam pergaulan antar bangsa-bangsa dengan semangat kesamaan dan kesejajaran (learning to live together). Pertanyaan kemudian, apakah pesantren sudah mengajarkan amanat badan PBB itu dan bagaimana implementasi empat pilar tersebut ke dalam dunia pesantren ? Inilah yang akan diurai dalam tulisan yang singkat ini.

Mengaca Dunia Pesantren
Jujur kita katakan, bahwa pesantren merupakan garda terdepan dalam menanggulangi virus budaya Barat yang notabene banyak yang tidak cocok dengan budaya ketimuran. Sehingga dengan bahasa sederhana keefektifan pesantren dalam membentuk karakter bangsa sudah tidak perlu digugat lagi. Sebab banyak alumni pesantren yang berperan dalam berbagai peristiwa besar di negeri ini. Karena itu tidak mengherankan kalau seorang menteri agama tanpa tedeng aling-aling mengatakan bahwa eksistensi pesantren, di tengah-tengah krisis moral yang terjadi di berbagai tempat termasuk bangsa kita saat ini tetap signifikan. Pesantren yang secara historis mampu memerankan dirinya sebagai benteng pertahanan dan penjajahan, kini seharusnya dapat memerankan dini sebagai benteng pertahanan dari impenialisme budaya yang begitu kuat menghegemoni kehidupan masyarakat, khususnya di perkotaan.
Pesantren menjadi bengkel moral dari penyakit masyarakat dan merupakan benteng anti NARKOBA yang kini kian marak meracuni kaula muda perkotaan. Untuk itu pesantren dituntut tetap survive sebagai “transmisi atau agen akhlakulkarimah” untuk “memfilter” keluar-masuknya budaya demi terimple-mentasinya akhlakulkarimah dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Pesantren diharapkan akan tetap menjadi pelabuhan bagi generasi muda agar tidak terseret dalam arus modernisme yang menjebaknya dalam kehampaan spiritual.
Keberadaan pesantren sampai saat ini membuktikan keberhasilannya menjawab tantangan zaman. Namun demikian akselerasi modernitas yang begitu cepat menuntut pesantren untuk tanggap secara cepat pula, sehingga eksistensinya tetap relevan dan signifikan. Masa depan pesantren ditentukan oleh sejauh mana pesantren memformulasikan dirinya menjadi pesantren yang mampu menjawab tuntutan masa depan dengan tanpa kehilangan jati dirinya.
Secara konkrit banyak sekali santri-santri yang berprestasi gemilang dalam event nasional maupun internasional. Tentunya keunggulan ini terletak pada kemampuan pesantren menggabungkan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. Dari pesantren sejatinya lahir manusia paripurna yang mengiringi masyarakat bangsa ini menapaki modernitas tanpa kehilangan akar spiritualitasnya. Hal ini seiring dengan firman Allah dalam surat A1-Hadiid ayat 25 yang mengisyaratkan bahwa penanaman Imtaq lebih didahulukan sebelum berinteraksi dengan Iptek. Allah SWT berfirman: : “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa”. (QS. Al-Hadiid. 25)
PKn mewakili pendidikan karakter ?
Menurut hemat kita, kurikulum pendidikan di Indonesia masih belum menyentuh aspek pembangunan karakter, meskipun ada pelajaran pancasila, kewarganegaraan dan semisalnya. Tetapi itu masih sebatas teori dan tidak dalam tataran aplikatif. Padahal jika Indonesia ingin memperbaiki mutu SDM dan segera bangkit dari ketinggalannya, maka indonesia harus merombak sistem pendidikan yang ada saat ini. Padahal kehandalan pendidika karakter tidak perlu diragukan lagi. Lihatlah misalnya hasil studi Marvin Berkowitz dari University of Missouri St. Louis, menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukan penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik.Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif, dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Dengan pendidikan karakter, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. Sebuah buku yang baru terbit berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins, et.al, 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada karakter, yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya, akan mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah, dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi tinggi akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan, tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya. Pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan, walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah di dalam keluarga. Kalau seorang anak mendapatkan pendidikan karakter yang baik dari keluarganya, anak tersebut akan berkarakter baik selanjutnya. Namun banyak orang tua yang lebih mementingkan aspek kecerdasan otak ketimbang pendidikan karakter. Selain itu Daniel Goleman juga mengatakan bahwa banyak orang tua yang gagal dalam mendidik karakter anak-anaknya entah karena kesibukan atau karena lebih mementingkan aspek kognitif anak. Namun ini semua dapat dikoreksi dengan memberikan pendidikan karakter di sekolah. Namun masalahnya, kebijakan pendidikan di Indonesia juga lebih mementingkan aspek kecerdasan otak, dan hanya baru-baru ini saja pentingnya pendidikan budi pekerti menjadi bahan pembicaraan ramai. Ada yang mengatakan bahwa kurikulum pendidikan di Indonesia dibuat hanya cocok untuk diberikan pada 10-20 persen otak-otak terbaik. Artinya sebagian besar anak sekolah (80-90 persen) tidak dapat mengikuti kurikulum pelajaran di sekolah. Akibatnya sejak usia dini, sebagian besar anak-anak akan merasa ‘bodoh’ karena kesulitan menyesuaikan dengan kurikulum yang ada. Ditambah lagi dengan adanya sistem ranking yang telah ‘memvonis’ anak-anak yang tidak masuk 10 besar (The Best Teen), sebagai anak yang kurang pandai. Sistem seperti ini tentunya berpengaruh negatif terhadap usaha membangun karakter, dimana sejak dini anak-anak justru sudah ‘dibunuh’ rasa percaya dirinya (PD). Rasa tidak mampu yang berkepanjangan inilah yang akan membentuk pribadi tidak PD, sehingga akan menimbulkan stress berkepanjangan. Pada usia remaja biasanya keadaan ini akan mendorong remaja berperilaku negatif. Maka, tidak heran kalau kita lihat perilaku remaja kita yang senang tawuran, terlibat kriminalitas, putus sekolah.
Sebagai ihtitam kita berharap, bahwa usaha mendiknas dalam upaya membangun karakter peserta didik ini bukan hanya sebagai slogan. Tetapi lebih dari itu bisa diimplementasikan dengan jalan misalnya mencangkok apa yang telah dilakukan oleh dunia pesantren. Kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah kesadaran semua pihak untuk bisa bergandengan tangan untuk mensukseskan cita-cita mulia ini. sebab, pendidikan karakter atau budi pekerti plus adalah suatu yang urgent untuk dilakukan. Kita yakin dan percaya jika semua elemen bangsa ini bersatu padu pasti bisa. Semoga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: