DAPATKAH AGAMA MENANGGULANGI PENYAKIT SOSIAL ?

Oleh; Ali Shodikin

Kalau hanya mendengar dan membaca laporan media massa baik elektronik maupun cetak terkait dengan angka kriminalitas seolah-olah kita tidak bisa membedakan mana yang kota dan mana yang desa. Kota dan desa sekarang ini ternyata hampir tidak ada bedanya secara signifikan. Penggunaan obat-obat terlarang, alkoholisme, hubungan seks di luar pernikahan dengan segala implikasinya seperti: keruntuhan rumah tangga, aborsi, bayi-bayi tanpa mengenal ayah, penyakit AIDS, perjudian, kemiskinan, perampokan, pembunuhan dan lain-lain, ternyata juga sudah merambah ke desa. Inilah isu-isu yang kesemuanya dikatagorikan oleh masyarakat, khususnya kelompok moralis, sebagai penyakit sosial yang harus ditanggulangi bersama.
Banyak orang sekarang ini meragukan kalau tidak boleh dikatakan pesimis dengan janji-janji manis pemerintah untuk mengatasi penyakit patologi sosial tersebut. Orang lalu berpaling kepada agama untuk mendapat jawaban dan solusi yang cepat, efektif dan yang tak kalah pentingnya adalah yang bisa menentramkan jiwanya.

Faktor Agama
Sejak lahirnya agama dipermukaan bumi ini, berbagai berbagai penyakit sosial merupakan garapan utamanya. Untuk itu, tentu saja bagi kaum agamawan, terapi yang paling ampuh adalah kembali kepada nilai-nilai agama. Namun mereka yang tidak, atau belum meyakini keampuhan peran agama, selalu mencari jalan keluar lain untuk mengatasi penyakit ini.
Dunia Barat, menurut Prof. Alwi Shihab (1999) sebenarnya adalah bangsa yang paling bertanggung jawab terkait pengikisan pengaruh agama melalui kebangkitan rasionalisme sekuler era pencerahan (enlightenment), mulai menyadari dampak negatif dari keberhasilan rasionalisme minus agama tersebut. Pemisahan gereja dari negara yang merupakan buah era pencerahan ini, oleh sebagian kelompok dinilai terlalu kaku diterapkan. Akibatnya, ruang lingkup agama untuk menanggulangi masalah penyakit sosial tidak seluas masa dulu.
Kendati hasil empiris sebagaimana dikatakan Jalaludin Rakhmad yang mengutip Koeing (1999) dalam bukunya The Healing Power of Faith, bahwa keluarga yang relegius umumnya: (1) punya keluarga yang lebih bahagia, (2) punya gaya hidup yang lebih sehat, (3) dapat mengatasi stress, (4) melindungi dari dan menyembuhka depresi, (4) hidup lebih lama dan lebih sehat, (5) terlindungi dari penyakit kardiovaskular, (6) punya sistem imun yang lebih kuat, dan (7) lebih sedikit menggunakan jasa rumah sakit.
Demikian pula program rehabilitasi sosial yang dikomandani oleh kelompok agamawan sebenarnya juga cukup mengesankan, namun pengambil keputusan (baca; pemerintah) selama ini enggan memberi peluang lebih besar bagi institusi keagamaan, seperti: gereja, sinagog, ataupun masjid. Sebagai bahan renungan, dalam perspektif APBD 2011 Lamongan, sebagaimana diungkapkan oleh Komisi D, dimana 600 lembaga pendidikan agama, termasuk di dalamnya lembaga yang di kelola oleh Ma’arif NU maupun lembaga Muhammdiyah hanya dianggarkan 700 juta saja. Bandingkan dengan 1 jalan poros yang dianggarkan 1,3 milyar. Ini belum dengan biaya Persela yang malah lebih fantastik, yakni tidak kurang dari 14 milyar. Kenapa begitu jomplang alokasi dana, untuk persoalan yang bersifat hedonis vs sakral-ukhrawi ini ? Dalih klasik adalah “ tidak seiring dengan esensi konstitusi yang menetapkan pemisahan agama dari negara”.
Karena itu, hemat penulis, penyakit sosial yang menunjukkan angka mengerikan dewasa ini sudah selayaknya membuat sadar para pengambil keputusan, tak terkecuali pimpinan daerah (Bupati), para akademisi, dan pekerja-pekerja sosial yang semula enggan berpaling kepada faktor agama, sudah seharusnya bergegas mengakui peran positif agama. Sebab kalau good will pemerintah tidak berpihak kepada persoalan etika, kita menjadi khawatir penyimpangan moral seperti yang dilaporkan oleh komandan BKKBN akan lebih dahsyat dan tidak akan terbendung lagi. Untuk mengingatkan memory kita, mari dilihat kembali kasus yang menghebohkan beberapa bulan lalu, sebagaimana dilaporan Ketua BKKBN Sugiri Syarif, bahwa 51 persen remaja di Jabodetabek telah melakukan seks pra nikah. Ini artinya dari 100 remaja, 51 sudah tidak perawan. Padahal sebenarnya berita ini tidak yang ter-gress, sebab beberapa tahun lalu juga dilansir media tentang fenomena gunung es ini. Lihat misalnya, seks pra nikah yang dilakukan remaja di Surabaya tercatatl 54 persen, di Bandung 47 persen, dan 52 persen di Medan.
Bagaimana dengan negara yang dianggap sebagai Kampium Demokrasi Dunia, Amerika Serikat. Ternyata menurut survey yang dilakukan oleh Richard Freeman dari Harvard University, yang mengambil sampel salah satu kota kecil di negara bagian Connectikut AS, bahwa siswa SMU 72 % dari mereka minum-minuman keras, sebagian bahkan melakukannya di hadapan orangnya. Selain itu, 40 % dari mereka sering mabuk, 24 % menghisap marijuana, dan 18 % menggunakan obat terlarang lainnya. Angka ini cenderung meningkat terus sesuai dengan peningkatan umur mereka.
Momentum di USA ini tampaknya digunakan oleh kelompok agamawan untuk mendapatkan dukungan dana dari pemerintah guna membiayai program-program yang berkaitan dengan usaha penanggulangan penyakit sosial ini. Namun sampai sejauh mana pemerintah responsif terhadap himbauan kelompok agamawan banyak terpulang kepada tingkat keberagaman, garis partai pemegang kekuasaan, dan kecenderungan masyarakat setempat. Negara bagian Ohio misalnya, memprakarsai pemberian bantuan finansial kepada mahasiswa yang akan mengambil mata kuliah agama.

Tanggung jawab kolektif
Imam Sarraj Wahhaj, seorang pemuka Islam Afro-Amerika dari Brooklyn, mengatakan, bahwa sebagai bangsa, kita bagaikan penumpang-penumpang sebuah kapal yang sedang berlayar di tengah lautan. Sebagian di antara kita sedang berusaha untuk merusak kapal ini dengan segala macam cara seperti aborsi, hubungan seksual di luar pernikahan, hubungan seksual antara ayah dan anak, atau ibu dan anak, dan antara saudara, usaha melegitimasi pernikahan sejenis kelamin, homoseksual, penyalahgunaan obat terlarang, alkoholisme, perilaku rasisme, pembunuhan dan kriminalitas lainnya. Apabila kita tidak berhasil mencegah perusak-perusak kapal ini maka kita semua akan mengalami nasib yang sama. Kita akan tenggelam dan akan di kenang oleh sejarah sebagai bangsa yang tidak bermoral dan bertanggung jawab. Mari, sebagai pemegang kitab-kitab suci (ahlul kitab) kita kembali kepada kita suci kita masing-masing. Taurah, Injil, dan al-Qur’an menuntun kita sekalian untuk meluruskan yang menyimpan, memperbaiki yang keliru, serta menasehati mereka yang lupa.
Dari apa yang diutarakan di atas, baik kasus Amerika maupun yang terjadi di negara kita tercinta, sudah sewajarnya bagi umat beragama di Indonesia khususnya, agar bisa belajar dari pengalaman dunia Barat. Teristimewa dalam mengantisipasi tantangan-tantangan yang dapat menggerogoti persatuan ummat. Sebab lambat laun tantangan-tantangan di atas akan menampilkan dirinya diantar kita. Tanpa kewaspadaan, kebijakan dan komitmen keagamaan dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut, kita mungkin akan mengalami hal yang serupa, yakni keredupan keimanan.
Karena korelasi agama dan pencegahan penyakit sosial (patologi sosial) sangat erat, maka keberhasilan upaya kita untuk menanggulangi penyakit sosial yang kita hadapi bersama terpulang pada komitmen masing-masing ummat terhadap ajaran agamanya. Dengan bekal komitmen ini, yang dibarengi dengan kerja sama antar pemuka agama, penyakit sosial di Indonesia Insya Allah dapat kita tanggulangi bersama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: