MENSTERILKAN PERGURUAN TINGGI DAERAH DARI VIRUS NII

Statemen Rektor Unisda Lamongan di Radar Bojonegoro (30/4), yang menyatakan bahwa kampus Unisda dijamin tidak akan disusupi faham NII menarik untuk diulas kembali. Sebab sebagaimana di tulis oleh Chahib Mustofa bahwa beberapa mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi korban brain washing kelompok NII (Jawa Pos,29/4). Melihat fenomena ini, maka sebenarnya ada beberapa agenda yang perlu diantisipasi oleh PTS Daerah dalam menghadapi masalah pelik ini. Yakni menyangkut masalah demografi, kemajuan Ipteks, ekonomi, ekologi, dinamika sosial-kultural, kendala politik-idiologi serta kondisi internal-eksternal yang menjadi masalah masing-masing PTS (Jazim Hamidi, 1998).
Dari sekian banyak persoalan yang melingkupi kampus daerah maka dalam ulasan ini difokuskan pada tantangan sosial-kultural. Ini menjadi penting, sebab kondisi mentalitas bangsa berkorelasi kuat dengan kondisi kultural yang sudah lama berakar dalam masyarakat vs pengaruh “budaya pendatang”. Dan tampaknya penetrasi kultural pendatang biasanya jauh lebih superior mempengaruhi kondisi struktural, cara bergaul, mengambil keputusan, membangun institusi keluarga dan merancang masa depan. Sayangnya, modus-modus kultural pendatang yang tanpa makna (meaningless) dan bahkan tidak jelas orientasinya justru “dikultuskan”, terutama di kalangan mahasiswa.
Realitas kultural yang memprihatinkan ini tidak sulit ditemukan mobilitasnya sehari-hari di Perguruan Tinggi. Dan NII adalah bukti riil bahwa ternyata PT juga bisa ‘kecolongan’. Ini suatu tamparan sekaligus tantangan bagi kompetensi PT daerah untuk menyelamatkan agen pembaharuannya. Dalam hal ini pola pembinaan mahasiswa menjadi hal yang sangat urgen untuk diperhatikan, khususnya pembinaan BEM/UKM. Sebab UKM/BEM adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Tujuan Pendidikan Nasional pada umumnya dan Perguruan Tinggi pada khususnya, sehingga tujuan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) harus sesuai dengan Visi dan Misi Universitas. Oleh karena itu Ormawa pada esensinya adalah ‘tangan panjang Universitas’ untuk ikut mendidik mahasiswa dari aspek ‘soft skills’. Idealnya Ormawa mempunyai kurikulum, punya tujuan yang ingin dicapai dalam rangka mendukung Visi dan Misi Perguruan Tinggi (PT) tersebut. Yaitu pendidikan ‘soft skills, pendidikan karakter, pendidikan budi pekerti, pendidikan akhlak’ (lewat kegiatan ekstra/ko kurikuler), bukan sekedar ‘tempat kumpul-kumpul, pelarian atau sebagai senjata agar boleh tidak berprestasi atau waktu studi yang panjang’. (Haryanto, 2010).
Peningkatan soft skill mahasiswa melalui pembinaan pada kegiatan akademis maupun nonakademis perlu dilakukan secara optimal di perguruan tinggi. Namun dalam dataran implementasinya, proses pembinaan dalam aspek soft skill ini berjalan kurang seimbang. Pembelajaran aspek akademik berupa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni sebagai hard skills dirasakan mendominasi sistem perkuliahan kita. Sementara, peningkatan soft skill baik dalam proses pembelajaran maupun dalam bentuk pembinaan organisasi kemahasiswaan dirasakan kurang mendapat perhatian yang seksama dari berbagai pihak. Hemat kita, untuk mengoptimalkan peningkatan soft skill mahasiswa ini, perlu dilakukan beberapa upaya nyata, di antaranya, adanya kebijakan yang melegalisasi pelaksanaan kegiatan kemahasiswaan yang berbasis soft skill, penyususun program pengembangan soft skill secara sistematis, dan desiminasi soft skill dilakukan dengan sinergi yang melibatkan semua pihak.
Sebagaimana dalam Keputusan Mendikbud Nomor: 155/U/1998) tentang Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi Pasal 1 berbunyi; 1. Organisasi kemahasiswaan intra perguruan tinggi adalah wahana dan sarana pengembangan diri mahasiswa ke arah perluasan wawasan dan peningkatan kecendekiawanan serta integritas kepribadian untuk mencapai tujuan pendidikan tinggi. 2. Tujuan pendidikan tinggi adalah : a. Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian. b. Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan tarap kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional. Dan pada Pasal 2 berbunyi Organisasi kemahasiswaan di perguruan tinggi diselenggarakan berdasarkan prinsip dari, oleh dan untuk mahasiswa dengan memberikan peranan dan keleluasaan lebih besar kepada mahasiswa.
Dan pada pasal 2 inilah sebenarnya kadang bisa ‘disalah tafsirkan’ oleh mahasiswa. Ini bisa kita tengok kasus BEM UGM Yogyakarta yang ternyata visi, dan misi rektor berhadap-hadapan dengan ‘kepentingan’ BEM itu sendiri.
Sebagai pamungkas, ada baiknya melirik pandangan mantan rektor Unisma M. Tolhah Hasan. Dikatakan bahwa dengan maraknya NII ada baiknya pola kepemimpinan PTS seyognya mempunyai kriteria sebagai berikut; Pertama, terbuka dan peka terhadap realitas lingkungan; Kedua, mempunyai daya antisipasi yang baik terhadap masa depan; Ketiga, memiliki komitmen terhadap tujuan PTS. Keempat, inovatif-kreatif. Kelima, memiliki integritas moral (ikhlas, jujur, adil, menjaga kerukunan). Keenam, mampu mengambil keputusan dan pemecahan masalah yang terbaik dari berbagai alternatif. Ketujuh, tidak mengutamakan elitisme tetapi justru berorientasi pada fungsionalitas kepemimpinan. Semoga.

Mawar simo, 2 mei 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: