ULAT BULU dan PERTARUHAN NASIB PETANI DESA

Ulat bulu menjadi momok yang menakutkan akhir-akhir ini. Fenomena ini tentunya tidak berdiri sendiri. Sebab dalam teori ekosistem di sebutkan, jika ada satu saja dari mata rantai makanan yang hilang atau dihilangkan, maka jawabannya hanya ada dua. Rantai makanan itu akan musnah, sekaligus berimplikasi pada mata rantai makanan yang lain yang akan tidak terkendali. Sebagai misal, jika ular sawah sudah sering diburu, maka hama tikus akan merajalela. Atau jika katak sudah pada di ‘halalkan’ maka wereng, nyamuk dan sebangsanya akan tidak terkendali kualitas dan kuantitasnya. Pada taraf inilah sebenarnya bukan hanya nasib petani an sich yang dipertaruhkan dan dirugikan tetapi hampir semua dari kita akan merasakan akibat dari merusak ekosistem tersebut.
Terus bagaimana dengan ulat bulu akhir-akhir ini yang hampir semua pulau jawa sudah di serang ? Untuk menjawab secara empiris fenomena ini sebenarnya tidak terlalu sulit, sebab ini bisa kita tilik dari jumlah habitat burung yang mulai musnah sehingga wabah ulat, tak terkecuali ulat bulu menjadi luar biasa perkembangannya. Kalau sudah begini rata-rata yang bisa kita lakukan hanyalah sebatas berkeluh-kesah. Sekalipun ini tidak akan menyelesaikan persoalan krisis pangan ini.
Hemat kita, untuk mengatasi hama ulat dan ancaman krisis pangan saat ini, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan, antara lain pada aspek teknis, yang meliputi, pengetahuan, perbenihan, intensifikasi pertanian, manajemen stok pangan, dan manajemen sumberdaya. Pengetahuan merupakan kata kunci (keyword) untuk mengatasi segala masalah. Dengan pengetahuan yang mumpuni maka ketika terjadi perubahan iklim maupun ledakan serangan hama tanaman, petani tidak langsung melakukan tindakan resque. Ini bukan berarti tidak boleh, tetapi tak ubahnya seperti pemadam kebakaran. Hal ini sepatutnya tidak akan terjadi ketika kita sudah bisa mendapatkan pengetahuan yang memadahi.
Hal berikutnya, pembenihan. Pada masa Orde Baru kita mengenal istilah VUTW (Varitas Unggul Tahan Wereng). Kalau hal ini dirasa baik, kenapa sekarang tidak dilanjutkan. Apalagi dengan banyaknya ilmuwan sekarang ini, sangat memungkinkan untuk mengembangkan benih yang tahan berbagai hama. Langkah selanjutnya adalah manajemen stok pangan. Untuk menjaga kestabilan bahan pangan (Sembako) intervensi negara (Pemda) kadang sangat dibutuhkan, sehingga bahan pangan bisa tersedia sepanjang tahun.
Dan yang tidak kalah pentingnya adalah manajemen sumberdaya alam, terutama air. Bojonegoro dan Lamongan, pada umumnya dikenal sebagai daerah yang airnya sangat melimpah. Ini berarti memberikan kesempatan kepada kita untuk bisa mengelola kelimpahan air ini sehingga bisa dimanfaatkan saat terjadi el nino atau masa kekeringan.
Di samping yang di sebutkan di atas masih ada aspek lain yang juga perlu perhatikan yakni faktor sosiologis. Ini menyangkut hubungan antar manusia, seperti sistem tolong menolong dan partisipasi petani. Sistem ini kita kenal dengan istilah gotong royong. Gotong royong merupakan warisan yang luar biasa manfaatnya. Apalagi permasalahan pangan adalah masalah kita bersama yang hanya bisa diatasi dengan nilai-nilai kebersamaan. Kebersamaan dan partisipasi petani sangat dibutuhkan untuk menjamin keberlanjutan pasokan bahan pangan. Oleh karena itu sudah selayaknya petani perlu dan wajib mendapat apresiasi dari Pemda setempat baik berupa insentif harga, kemudahan akses, dan yang tidak pentingnya adalah proteksi negara atas serbuan barang import yang bisa mematikan nasib petani.
Ketahanan Pangan Desa
Membaca berbagai kejadian yang sering melanda para petani, seperti serangan hama ulat maupun wereng, ada baiknya kita menggalakkan kembali lumbung desa. Sekalipun kadang hal ini agak musykil. Sebab mayoritas dari kita mengandalkan Bulog. Padahal, ide lumbung desa ternyata sudah berumur tak kurang dari seratus tahun. Inisiatif mengembangkan bangunan lumbung desa ini asal-muasalnya dimulai pada tahun 1902 oleh seorang Belanda, bernama Messman. Ketika itu, ia menjabat sebagai Residen Cirebon dan Sumedang Jawa Barat. Gagasan ini dipicu oleh kekhawatiran Messman akan kemungkinan terjadinya kerawanan pangan di daerah yang dipimpinnya. Dalam pemikirannya, apabila para petani memiliki stok padi atau jagung yang cukup, maka pada masa-masa paceklik kebutuhan pangan mereka akan tetap tercukupi.
Tenyata inisiatif Messman ini bersinergi dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda, sehingga kemudian terdapat sebuah institusi khusus yang membina lumbung desa secara intensif, yakni Dienst Voor Volkscreditwiysen atau Dinas Perkreditan Rakyat. Institusi ini bernaung di bawah Departemen Pemerintahan Dalam Negeri Pemerintah Hindia Belanda kala itu.
Dan ternyata gagasan ini masih berlanjut sampai negara Indonesia merdeka. Ini bisa dilihat misalnya pada tahun 1969 pemerintah mengeluarkannya Inpres Bantuan Pembangunan Desa (Bangdes). Dengan adanya Inpres ini lumbung desa, baik yang dibangun atas prakarsa dan swasembada desa maupun bantuan pemerintah, pesat bermunculan di berbagai pelosok dan banyak diantaranya masih bertahan hingga paruh awal tahun 90-an. Sehingga menurut catatan Direktorat Jenderal Pembangunan Desa (Ditjen Bangdes), pada tahun 1993-1994 terdapat tidak kurang 12.655 lumbung desa, sekalipun masih terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Madura.
Kenapa ini perlu digalakkan kembali ? Sebab lumbung desa sebenarnya merupakan model perangkat ketahanan pangan masyarakat desa yang cukup efektif. Namun seiring dengan masuknya model-model kelembagaan lain yang terlebih dahulu berkembang di daerah perkotaan (baca; Bulog), eksistensi lumbung desa makin menyurut. Padahal daya tahan keberadaan lumbung desa sebetulnya terletak pada kehidupan sosial dan semangat gotong royong yang mendarah daging pada warga masyarakatnya. Sehingga di beberapa daerah, lumbung desa juga dikenal sebagai lumbung paceklik, yang umumnya ditujukan untuk membantu mengatasi kerawanan pangan bila muncul paceklik, sebagai bank padi atau jagung sehingga bisa membantu meringankan warga masyarakat yang terkena musibah.
Sebagai kata akhir, pada prinsipnya kejadian krisis hama ulat atau wereng tidak selalu membawa bencana tetapi bisa memacu dan meningkatkan semangat solidaritas sesama masyarakat. Bahkan kita juga bisa menengok dan mengambil kembali warisan luhur yang telah didharmabaktikan oleh nenek moyang kita. Semoga.

Cangro, 23 april 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: