MENGGUGAT MASA ORIENTASI SISWA YANG JAUH DARI PESAN RELEGIUS

Oleh; Ali Shodikin

Tidak ada warisan kepada anak-cucu yang lebih berharga daripada akhlaq yang mulia (al-Hadis) .
Sebentar lagi gegap-gempita dunia persekolahan kita akan di mulai. Ini artinya dunia pendidikan kita akan menggeber lagi ajaran tahun baru. Dan yang selalu tidak ketinggalan adalah pelaksanaan Masa Orinetasi Siswa Baru. Tujuan MOS adalah untuk membantu siswa baru mengenal lingkungan sekolah agar bisa menyatu dengan warga sekolah. Sekaligus agar mereka siap untuk mengikuti kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Dan satu lagi yang sering dilupakan adalah upaya membentuk karakter siswa sehingga jangan digunakan untuk hal yang negatif. Demikian yang selalu dipesankan Mendiknas Muhammad Nuh dalam berbagai kesempatan. Dasar pemikiran ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pemikiran badan PBB, UNESCO. Menurut badan PBB ini, ada empat rekomendasi yang mereka sebut sebagai “empat pilar pembelajaran” untuk memasuki era global ini. Yaitu program pembelajaran yang diberikan hendaknya mampu memberikan kesadaran kepada masyarakat, sehingga mau dan mampu belajar (learning to know or learning to learn). Bahan belajar yang dipilih hendaknya mampu memberikan suatu pekerjaan alternative kepada peserta didik (learning to do), mampu memberikan motivasi untuk hidup ke masa depan (learning to be). Pembelajaran tidak cukup hanya diberikan dalam bentuk ketrampilan untuk dirinya sendiri, tetapi juga ketrampilan untuk hidup bertetangga, bermasyarakat, berbangsa dan hidup dalam pergaulan antar bangsa-bangsa dengan semangat kesamaan dan kesejajaran (learning to live together). Pertanyaannya kemudian, apakah dunia sekolah kita sudah menyiapkan piranti agar peserta didiknya tidak menjadi mercusuar yang hanya mengkilat di menara gading ? Dan yang lebih berat lagi bagaimana sekolah-sekolah daerah bisa mengimplementasi empat pilar amanat PBB tersebut ? Inilah yang akan diurai dalam tulisan yang singkat ini.

Mengacu Dunia Pesantren
Jujur kita katakan, bahwa pesantren merupakan garda terdepan dalam menanggulangi virus budaya Barat yang notabene banyak yang tidak cocok dengan budaya ketimuran. Sehingga dengan bahasa sederhana keefektifan pesantren dalam membentuk karakter bangsa sudah tidak perlu digugat lagi. Sebab banyak alumni pesantren yang berperan dalam berbagai peristiwa besar di negeri ini. Karena itu tidak mengherankan kalau seorang menteri agama tanpa tedeng aling-aling mengatakan bahwa eksistensi pesantren, di tengah-tengah krisis moral yang terjadi di berbagai tempat termasuk bangsa kita saat ini tetap signifikan. Pesantren yang secara historis mampu memerankan dirinya sebagai benteng pertahanan dan penjajahan, kini seharusnya dapat memerankan dini sebagai benteng pertahanan dari impenialisme budaya yang begitu kuat menghegemoni kehidupan masyarakat, khususnya di perkotaan.
Pesantren menjadi bengkel moral dari penyakit masyarakat dan merupakan benteng anti Narkoba yang kini kian marak meracuni kawula muda perkotaan. Untuk itu pesantren dituntut tetap survive sebagai “transmisi atau agen akhlakulkarimah” untuk “memfilter” keluar-masuknya budaya demi terimplementasinya akhlakul-karimah dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Pesantren diharapkan akan tetap menjadi pelabuhan bagi generasi muda agar tidak terseret dalam arus modernisme yang menjebaknya dalam kehampaan spiritual.
Dan keberadaan pesantren sampai saat ini telah membuktikan keberhasilannya menjawab tantangan zaman. Namun demikian akselerasi modernitas yang begitu cepat menuntut pesantren untuk tanggap secara cepat pula, sehingga eksistensinya tetap relevan dan signifikan. Masa depan pesantren ditentukan oleh sejauh mana pesantren memformulasikan dirinya menjadi pesantren yang mampu menjawab tuntutan masa depan dengan tanpa kehilangan jati dirinya.
Secara konkrit banyak sekali santri-santri yang berprestasi gemilang dalam event nasional maupun internasional. Tentunya keunggulan ini terletak pada kemampuan pesantren menggabungkan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. Dari pesantren sejatinya lahir manusia paripurna yang mengiringi masyarakat bangsa ini menapaki modernitas tanpa kehilangan akar spiritualitasnya.
MOS yang berkarakter
Menurut hemat kita, pelaksanaan MOS selama ini masih belum menyentuh aspek pembangunan karakter. Hal-hal yang mendasar, semisal: berdoa sebelum dan sesudah KBM jarang dilakukan, shalat Dhuha-pun sulit dilakukan, dan apalagi jamaah shalat Dhuhur. Alasan klasik sekolah adalah, fasilitas dan infrastruktur sekolah yang tidak memadahi. Padahal kalau ada goodwill pihak sekolah pasti bisa. Semisal anak-anak di suruh membawa sajadah dan peralatan shalat sendiri-sendiri. Saya yakin dan haqqul yakin, peserta didik tentu tidak keberatan. Tapi ini ternyata jarang dilakukan. Padahal ini penting, sebab jika kita ingin memperbaiki mutu SDM dan segera bangkit dari keterpurukan, maka Indonesia harus mengevaluasi sicara integral sistem MOS yang ada saat ini. Sebab kehandalan pendidikan karakter tidak perlu diragukan lagi. Lihatlah misalnya hasil studi Marvin Berkowitz dari University of Missouri St. Louis, menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukan penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik. Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif, dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Dengan pendidikan karakter, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.
Sebagai ihtitam kita berharap, bahwa pelaksanaan MOS tidak hanya sebagai usaha rutinitas yang harus dilaksanakan sesuai petunjuk mendiknas. Tetapi lebih dari itu bisa diimplementasikan dengan jalan misalnya mencangkok apa yang telah dilakukan oleh dunia pesantren. Kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah kesadaran semua pihak untuk bisa bergandengan tangan untuk mensukseskan tujuan MOS yang mulia ini. Sebab, pendidikan karakter atau budi pekerti plus adalah suatu yang urgent untuk dilakukan. Kita yakin dan percaya jika semua elemen bangsa ini bersatu padu pasti bisa. Semoga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: