CHILD ABUSE ORANG TUA TERHADAP ANAK

ketika membaca Radar Bojonegoro (7/2), penulis cukup lama berpikir tentang logika orang tua yang sangat emosi sehingga dia tega menghabisi anaknya yang apalagi masih tergolong anak di bawah umur. Memang kekerasan adalah kata yang biasa diterjemahkan menjadi penganiayaan, penyiksaan atau perlakuan salah. Istilah Child Abuse atau kadang Child Maltreatment adalah istilah yang digunakan untuk menyebut kekerasan terhadap anak. Sebagaimana dikatakan Galles bahwa kekerasan terhadap anak merupakan perbuatan yang disengaja yang menimbulkan kerusakan atau bahaya terhadap anak secara fisik maupun emosional (Huraerah, 2005).  Maka disinilah sebenarnya sering dikatakan bahwa keluarga adalah jiwa masyarakat dan tulang punggungnya. Kesejahteraan lahir batin yang dinikmati oleh suatu bangsa, atau sebaliknya, kebodohan dan keterbelakangannya adalah cerminan dari keadaan keluarga-keluarga yang hidup pada masyarakat bangsa tersebut. Berangkat dari asumsi inilah maka tulisan yang singkat ini ingin mengupas, bagaimana menjadikan pranata sosial terkecil ini kokoh  dan tangguh dalam menghadapi hantaman dan goncangan arus sosial yang notabene kadang kurang berpihak pada keluarga ?

 

Keluarga Tiang Negara  

Islam memberikan porsi yang sangat vital terhadap pembinaaan keluarga, perhatian yang sepadan dengan perhatiannya terhadap kehidupan individu serta kehidupan umat manusia secara keseluuhan. Bahkan Allah pun menganjurkan agar kehidupan keluarga menjadi bahan pemikiran setiap insan dan hendaknya darinya dapat ditarik pelajaran berharga. Menurut pandangan al-Qur’an, kehidupan kekeluargaan, disamping menjadi salah satu tanda dari sekian banyak tanda-tanda kebesaran Ilahi, juga meruakan nikmat yang harus disyukuri. (Qurays Shihab, 2002;253).

Diantara tanda-tanda kebesaran-Nya adalah menjadikan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri (manusia) supaya kamu cenderung dan merasa tenteram terhadapnya dan dijalinnya rasa kasih dan sayang (antara kamu sepasang). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir (QS 30:21).

Demi terpeliharanya kehidupan keluarga yang harmonis dan dapatnya unit terkecil dari satu negara itu menjalankan fungsinya dengan baik, Islam melaui syariatnya menetapkan sekian banyak petunjuk dan peraturan. Sebab kehidupan keluarga, apabila diibaratkan sebagai satu bangunan, maka demi terpeliharanya bangunan itu dari hantaman bagai dan goncangan gempa, maka ia harus didirikan di atas satu fondasi yang kuat dengan bahan bangunan yang kokoh serta jalinan perekat yang lengket. Fondasi kehidupan keluarga adalah ajaran agama. Disertai dengan kesiapan fisik dan mental calon-calon ayah dan ibu. Bagi yang belum siap fisik, mental dan finansialnya, dianjurkan untuk bersabar dan tetap memelihara kesucian diri agar tidak terjerumus ke lembah kehinaan.

Memang, al-Quran menegaskan dalam hal kehidupan rumah tangga, bahwa: Bila kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah karena boleh jadi kamu tidak senang terhadap mereka, tetapi Allah menjadikan dibalik itu kebajikan yang banyak (QS 4:19).

Itulah gambaran dari kekuatan fondasi bangunan kehidupan keluarga. Sedangkan kekokohan bahan-bahan bangunannya tercermin antara lain dalam kewajiban memperhatikan buah perkawinan terhadap anak-anak sejak masih dalam kandungan sampai masa dewasanya.

Ketika anak masih dalam kandungan, ibu diperintahkan untuk memperhatikan kesehatannya. Karena, kesehatan ibu mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin. Bahkan ada kewajiban agama yang digugurkan (baca: ditangguhkan) pelaksanaanya seperti puasa, apabila pelaksanaannya diduga mengganggu kesehatan janin. Anak yang lahir dianjurkan untuk disambut dengan penuh kesyukuran, yang tentunya tersirat di dalamnya kepuasan orang tua melihat bayinya lahir dalam keadaan sempurna. Penyambutan dilakukan dengan upacara ‘aqiqah dan pemberian nama yang baik. Setelah menginjak remaja, orang tua diwajibkan mendidik anaknya sebaik mungkin.

 

 

 

Perekat Keharmonisan Keluarga

Adapun jalinan perekat bagi bangunan keluarga adalah hak dan kewajiban yang disyariatkan Allah terhadap ayah, ibu, suami dan istri serta anak-anak. Terlalu banyak peraturan dan tuntutan itu untuk disinggung dalam kesempatan ini. Namun, yang jelas, bahwa hak, kewajiban, serta peraturan yang ditetapkan itu tidak lain tujuannya kecuali untuk menciptakan keharmonisan dalam hidup berumah tangga yang pada akhirnya menciptakan suasana aman, bahagia dan sejahtera bagi seluruh komponen masyarakat bangsa.

   Keluarga adalah ‘umat kecil’ yang memiliki pimpinan dan anggota, mempunyai pembagian tugas dan kerja, serta hak dan kewajiban masing-masing anggotanya. Ini juga sebenarnya tidak jauh beda dengan “Umat besar” atau negara, disana juga ada hak dan kewajiban pada warganya. Dalam pandangan Prof. Qurays dikatakan bahwa al-Qur’an menamakan satu komunitas sebagai umat, dan menamakan ibu yang melahirkan anak keturunan sebagai umm. Kenapa demikian ? Agaknya karena ibu yang melahirkan itu dan yang di pundaknya terutama dibebankan pembinaan anak dan kehidupan rumah tangga merupakan tiang ummat, tiang negara dan bangsa.

Keluarga adalah sekolah tempat putra-putri bangsa belajar. Dari sana mereka mempelajari sifat-sifat mulia, seperti kesetiaan, rahmat, dan kasih-sayang, ghirah (kecemburuan positif) dan sebagainya. Dari kehidupan keluarga, seorang ayah dan suami memperoleh dan memupuk sifat keberanian dan keuletan sikap dan upaya dalam rangka membela sanak keluarganya dan membahagiakan mereka pada saat hidupnya dan setelah kematiannya.

Keluarga adalah unit terkecil yang menjadi penyokong, pendukung dan sekaligus pembangkit lahirnya bangsa dan masyarakat. Selama pembangkit itu mampu menyalurkan arus yang kuat lagi sehat, selama itu pula masyarakat bangsa akan menjadi sehat, dan kuat pula. Memang keluarga mempunyai andil yang besar bagi bangun-runtuhnya suatu masyarakat. Walaupun harus diakui pula bahwa masyarakat secara keseluruhan dapat mempengaruhi pula keadaan para keluarga.

Suatu keluarga, sebagaimana halnya bangsa, tidak dapat hidup tenang dan bahagia tanpa suatu peraturan, kendali dan disiplin yang tinggi. Kepincangan dalam menerapkan peraturan mengakibatkan kepincangan dalam kehidupan. Memimpin rumah tangga aalah satu tanggung jawab, demikian juga memimpin bangsa.

Kepemimpinan suatu bangsa tidak mungkin mencapai sukses apabila langkah pemimpin-pemimpin daerah, mulai tingkatan Lurah, Camat, Bupati bahkan Gubernur jika tidak searah dengan kepemimpinan pusat Jakarta. Demikian pula, kepemimpinan di setiap wilayah atau daerah juga tidak akan pernah mencapai sukses apabila langkah-langkah keluarga bertentangan/ berkelindang dengan langkah pemimpin daerah itu. Dari sini kita bisa melihat keterkaitan yang erat antara langkah keluarga dengan langkah seluruh bangsa dalam satu komunitas yang namanya negara. Dan demikian pula telah terbukti betapa keluarga merupakan tulang punggung bagi tegaknya suatu bangsa.

Bagaimana mungkin suatu bangsa akan bangkit tegak, apabila anggota masyarakat bangsa itu tidak memiliki kemampuan dalam berbagai bidang kehidupan. Termasuk disini jangan dinafikan terkait dengan tanggung jawab dunia pendidikan. Sebab pendidikan juga bermula dari setiap keluarga.

Dan kepemimpinan, betatapun kecilnya, pasti membutuhkan perhitungan yang matang dan tepat. Jangankan mengelola satu bangsa, atau bahkan keluarga kecil. Mengurus satu perjamuan kecil pun mengharuskan adanya perhitungan. Perlu adanya kalkulasi, semisal keseimbangan dan keserasian antara jumlah undangan, kapasitas ruangan, serta konsumsi dan waktu penyelenggaraan. Persoalan ini sudah tidak asing lagi bagi kita semua. Hanya sayang seribu sayang, dalam persoalan keluarga ia sering terlupakan. Padahal agama menekankan pentingnya perhitungan dan keseimbangan itu. Semoga.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: