GURU SEBAGAI PENEBAR AJARAN UKHUWAH BASARIYAH

Oleh : Ali Shodikin

 

Sesungguhnya pendidikan bukanlah soal main-main. Pendidikan terkadang merupakan upaya yang serius untuk melestarikan nilai-nilai hidup tertentu, baik dalam lingkup pribadi, keluarga maupun masyarakat. Pendidikan juga bisa menjadi media untuk mempertahankan bahkan menegakkan keyakinan seseorang atau kelompok dari gangguan fihak lain, yang tidak mungkin dilakukan kecuali dengan media tersebut. Karena itulah tidak jarang suatu kegiatan pendidikan didahului atau disertai upaya kajian filosofis mengenai dasar tempat berpijak dan tujuan yang hendak dicapai melalui kegiatan itu. Tidak terkecuali dalam pendidikan Islam sendiri.

Sehingga Abdul Rasyid Abdul Azis Salim mengatakan bahwa dalam konteks pendidikan Islam, ibadah mempunyai dampak positif terhadap perkembangan peserta didik antara lain : mendidik untuk berkesaran berpikir, melalui adanya planning (niat) yang ikhlas, serta ketaatan sesuai dengan cara dan bentuk yang dilakukan oleh Rasulullah Saw; mendidik untuk melaksanakan ukhuwah islamiyah  melalui shalat berjamah, ibadah haji. Dengan melakukan kewajiban itu manusia akan memperoleh rasa persamaan, persatuan, dan solidaritas.

Dengan bahasa sederhana, guru sebenarnya harus bisa mengemban trilogi peserta didik dalam kehidupan. Trilogi yang dimaksud adalah hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan alam makro kosmos (alam semesta). Namun dalam tulisan ini akan penulis fokuskan pada hubungan manusia dengan sesama manusia.

Sebagai makhluk sosial (social animal) manusia hidup saling membutuhkan, tolong-menolong dan berhubungan dengan yang lainnya. Dalam interaksi sosial, manusia bebas berbuat dan merdeka berkehendak, sebatas dengan hak dan kewajibannya. Tanpa adanya upaya mengganggu kebebasan dan kemerdekaan orang lain “hurriyatika muqayyadatun bi hurriyatil akhar”. Untuk menciptakan suasana yang penuh ukhuwah, dibutuhkan seperangkat aturan yang di sebut dengan norma atau kaidah kehidupan. Norma tersebut harus dikristalisasi pada undang-undang suatu negara agar dapat diamalkan manusia secara keseluruhan.

Dalam Islam, sumber utama undang-undang kehidupan adalah Al-Quran dan Al-Hadis. Di dalamnya termaktub seperangkat prinsip dan aturan yang membawa kemaslahatan dunia akhirat. Bahkan ketika berada di Madinah Rasulullah Saw pernah memformulasikan undang-undang Islam yang merupakan konstitusi pertama kali tercipta di dunia. Di dalam konstitusi Nabi (piagam Madinah) terdapat tujuh prinsip dasar, yaitu: pertama, adanya persatuan umat dan pembebasan dari belenggu orang atau negara lain. Kedua, mengakui hak-hak asasi manusia (former condition). Ketiga, adanya persatuan seagama, misalnya: mengakui hak orang lain, menentang kebatilan, melindungi yang lemah, setia kawan, teguh terhadap jalan yang benar, segala perselisihan harus dikembalikan pada hukum Allah dan Rasulnya. Keempat, toleransi beragama serta menghargai dan memberi kebebasan pada umat agama lain untuk memeluk agama selain Islam, walaupun kelompok minoritas. Kelima, negara merupakan tanggung jawab bersama, tanpa mengenal ras, suku, dan agama. Keenam, pemberian hukuman kepada yang bersalah tanpa membeda-bedakan kelompok mayoritas maupun minoritas, agama dan sebagainya dan ketujuh menjunjung tinggi asas perdamaian (Muhaimin, 2000).

Dalam buku al-Islam wa audha’una al-qauniyah, Abdul Qodir Audah (1973) menyatakan dua belas prinsip masyarakat Islam, yaitu:

  1. Adanya persamaan yang merata
  2. Keadilan yang ditegakkan diberbagai dimensi kehidupan
  3. Kemerdekaan yang seluas-luasnya, baik bidang spiritual maupun material
  4. Persaudaraan yang mendalam
  5. Persatuan yang kuat
  6. Saling membantu dan membela
  7. Memelihara kesopanan dan kehormatan
  8. Menjunjung akhlak yang mulia dan sifat yang utama
  9. Mempunyai rasa memiliki bersama (istikhlaf) segala materi yang diciptakan oleh Allah Swt
  10. Meratakan kekayaan di antara sesama manusia
  11. Saling mengasihi sesama makhluk dan saling berbuat baik
  12. Memegang teguh prinsip musyawarah

 

Di sinilah menurut hemat penulis perlu adanya sosialisasi yang berkelanjutan kepada seluruh elemen bangsa terlebih khusus para guru untuk merealisasikan program-program yang mulia ini. Sebab setiap ia mengajar, ia perlu melaksanakan hal-hal yang bersifat rutin. Bertanya kepada kelas, menerangkan pelajaran dengan suara baik dan mudah ditangkap serta ia sendiri dapat memahami pertanyaan-pertanyaan atau pendapat muridnya. Guru juga harus pandai berkomunikasi dengan murid-muridnya. Setiap saat ia siap memberikan bimbingan atas kesulitan yang dihadapi para siswa. Pekerjaan ini hanya mungkin dilakukan apabila berbadan sehat dan memiliki kepribadian yang menarik.

Dalam suasana di dalam kelas, dimana siswa bermacam-macam latar belakang minat dan kebutuhannya maka ia harus sanggup merangsang murid-muridnya belajar. Menjaga disiplin kelas, melakukan supervisi belajar dan memimpin murid-murid belajar. Sehingga pengajaran berjalan baik dan memberikan hasil yang memuaskan.

Dalam melaksanakan tugasnya, ia perlu mengadakan kerja sama dengan orang tua murid, dengan badan-badan kemasyarakatan dan sekali-kali membawa murid-murid mengunjungi objek-objek yang kiranya perlu diketahui murid dalam rangka kurikulum sekolah. Dan ia perlu pula mengundang seorang ahli dari masyarakat untuk memberikan ceramah atau latihan-latihan dalam ketrampilan tertentu. Selain melaksanakan tugas profesinya di sekolah, guru wajib pula berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan masyarakat serta memperbaiki peranan dan kualifikasi profesionalnya. Demikianlah begitu uniknya pekerjaan seorang guru, dan betapa luasnya tugas kewajiban yang harus dijalankannya. Betapa banyaknya hubungan-hubungan yang perlu dibina dan dipupuknya, serta betapa ia harus menghadapi masalah-masalah baik pribadi maupun sosial. Namun demikian, pada akhirnya masyarakat mengakui bahwa pekerjaan guru adalah suatu pekerjaan mulia dan telah merangsang banyak pemuda yang berminat terjun ke dalamnya.

Guru memerlukan keahlian khusus

Jabatan guru dikenal sebagai suatu pekerjaan profesional, artinya jabatan ini memerlukan suatu keahlian khusus. Sebagaimana orang menilai bahwa dokter, insinyur, ahli hukum dan sebagainya sebagai profesi tersendiri, maka guru pun adalah suatu profesi tersendiri. Pekerjaan ini tidak bisa dikerjakan oleh sembarang orang tanpa memiliki keahlian sebagai guru. Banyak orang yang pandai berbicara tertentu, namun orang demikian belum dapat disebut sebagai seorang guru. Ada perbedaan mendasar antara guru profesional dengan guru yang bukan profesional. Misalkan seorang petani sayur-sayuran, yang bukan profesional tidak akan mengerti bagaimana cara menanam sayur-sayuran secara baik, bagaimana menggunakan pupuk dan tidak mengetahui bagaimana memelihara tanaman itu agar tumbuh subur. Sebaliknya seorang petani sayuran yang profesional dia mengetahui dengan jelas tentang masalah penanaman sayur-sayuran itu, sehingga hasil kebun sayurannya akan lebih baik daripada petani yang pertama.

Demikian pula halnya seorang guru profesional, oleh karena dia menguasai betul seluk-beluk pendidikan dan pengajaran serta ilmu-ilmu yang lainnya. Tambahan lagi dia telah mendapatkan pendidikan khusus untuk guru dan memiliki keahlian khusus yang diperlukan untuk jenis pekerjaan ini maka sudah dapat dipastikan bahwa hasil usahanya akan lebih baik.

Untuk itulah Oemar Hamalik memberikan syarat yang ketat bagi seorang guru. Karena pekerjaan guru adalah pekerjaan profesional, maka untuk menjadi guru harus pula memenuhi persyaratan yang berat. Beberapa diantaranya ialah :

  1. Harus memiliki bakat sebagai guru
  2. Harus memiliki keahlian sebagai guru
  3. Memilliki kepribadian yang baik dan terintegrasi
  4. Memiliki mental yang sehat
  5. Berbadan sehat
  6. Memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas
  7. Guru adalah manusia yang berjiwa Pancasila dan
  8. Guru adalah seorang warga negara yang baik ( Oemar Hamalik, 2001; 118).

Dari delapan syarat tersebut, yang perlu mendapatkan perhatian khusus yakni guru harus memiliki keahlian sebagai guru. Ini penting, sebab setiap guru profesional harus menguasai pengetahuan yang mendalam dalam spesialisasinya. Penguasaan pengetahuan ini merupakan syarat yang penting di samping keterampilan-keterampilan lainnya. Oleh sebab dia berkewajiban menyampaikan pengetahuan, pengertian, keterampilan, dan lain-lain kepada murid-muridnya. Selain dari itu guru harus menguasai tentang hal-hal berikut:

  1. Apakah ia memahami tentang bagaimana merumuskan tujuan mengajar ?
  2. Sejauh manakah ia memahami tentang proses-proses belajar yang dilakukan oleh siswa ?
  3. Sejauh manakah ia memahami cara menyampaikan pelajaran kepada murid ?
  4. Apakah ia mampu memilih dan menggunakan alat-alat bantu pendidikan ?
  5. Mampukah ia memberikan pelayanan terhadap perbedaan-perbedaan individual siswa ?
  6. Apakah ia mampu memberikan bimbingan dalam membantu siswa mengatasi kesulitan dan masalah-masalahnya ?
  7. Apakah ia memiliki kemampuan tentang menyusun dan menggunakan alat-alat evaluasi kemajuan belajar siswa ?
  8. Apakah ia mampu melakukan kerja sama yang baik dengan orang tua murid ?
  9. Apakah ia selalu berusaha memperbaiki peranan profesionalnya ?
  10. Apakah ia selalu berusaha memperbaiki mutu profesionalnya ?

 

Tegasnya, seorang guru di samping menguasai spesialisasi pengetahuannya, dia juga harus menguasai dengan baik ilmu-ilmu keguruan pada umumnya dan didaktik pada khususnya.

Tanggung Jawab Guru

Di sisi lain guru juga mempunyai tugas dan tanggung jawab yang tidak ringan. Tanggung jawab tersebut adalah:

  1. Guru harus mengajak muridnya belajar
  2. Turut serta membina kurikulum sekolah
  3. Melakukan pembinaan terhadap diri siswa (kepribadian, watak dan jasmaniah )
  4. Memberikan bimbingan kepada murid
  5. Melakukan diagnosis atas kesulitan-kesulitan belajar dan mengadakan penilaian atas kemajuan belajar
  6. Menyelenggarakan penelitian
  7. Mengenal masyarakat dan ikut berpartisipasi aktif
  8. Menghayati, mengamalkan dan mengamalkan Pancasila
  9. Turut serta membantu terciptanya kesatuan, persatuan bangsa dan perdamaian dunia
  10. Turut menyukseskan pembangunan, dan
  11.  Bertanggung jawab meningkatkan peranan profesioan guru (Oemar Hamalik, 2001; 127-133).

Khusus pada poin nomor sembilan perlu mendapatkan perhatian lebih. Sebab disamping melakukan kegiatan belajar mengajar, guru juga dituntut bertanggung jawab mempersiapkan peserta didiknya menjadi warga negara yang baik. Pengertian yang baik ialah antara lain memiliki rasa cinta persatuan dan kesatuan sebagai bangsa. Perasaan demikian dapat tercipta apabila para peserta didik saling menghargai, mengenal daerah, masyarakat, adat istiadat, seni budaya, sikap, hubungan-hubungan sosial, keyakinan, kepercayaan, peninggalan-peninggalan historis setempat, keinginan dan minat dari daerah-daerah lainnya di seluruh Nusantara. Dengan pengenalan, pemahaman yang cermat maka akan tumbuh rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Mereka akan menghormati, menjunjung tinggi, bersimpati, serta toleransi terhadap masyarakat dari daerah lainnya. Di lain pihak, guru berusaha mencegah timbulnya gejala atau tindakan yang cenderung bersifat kedaerahan atau kesukuan (suubiyah), yang kemungkinan timbulnya kecenderungan perpecahan dan pertentangan dan rasa antipati, hal-hal mana akan merusak pertumbuhan rasa cinta persatuan dan kesatuan bangsa.

 

Mendidik siswa ke arah ini bukanlah pekerjaan mudah. Bukanlah pula semata-mata melalui pelajaran yang diberikan ansich. Melainkan banyak metode dan usaha yang bisa ditempuh oleh guru. Disamping membaca buku-buku yang relevan, mengadakan studi perbandingan, serta yang tidak kalah pentingnya adalah sikap guru sendiri (keteladanan).

Guru harus pula turut bertanggung jawab mengembangkan kesadaran  internasonal   dalam  diri siswa.  Para  siswa   perlu juga perlu menyadari, bahwa persahabatan antar bangsa sangat diperlukan guna memupuk perdamaian dunia. Untuk itu dalam diri mereka harus ditanamkan pengertian dan apreasiasi terhadap masyarakat lain, terhadap kebudayaannya, aspirasinya, sistem pemerintahannya, cara hidup, dan sumbangannya terhadap dunia lain. Sehingga akan menumbuhkan kesadaran atau saling bergantungan baik dalam ekonomi, politik dan budaya. Untuk mencapai tujuan-tujuan ini, sekolah mempunyai peranan yang penting melalui bermacam kegiatan pengajaran, seperti membaca, percakapan, bermain, dan bekerja. Pada hakikatnya, sekolah merupakan tangga pertama tempat memupuk dan mengembangkan persahabatan, hidup berdampingan, dan perdamaian dunia yang kekal abadi. Semoga.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: