BERTENGKAR ITU JELEK; Win Win Solution MTA

Oleh; Ali Shodikin
Pendahuluan
Harian Radar Bojonegoro menurunkan berita yang cukup mencolok tentang demo warga Ngambon Bojonegoro. Demontrasi ini dilakukan karena para warga merasa tuntutannya tidak diindahkan oleh jamaah Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA) Cabang Ngambon (Radar Bojonegoro, 17/5). Padahal sebagaimana dapat kita ketahui di wibesite MTA bahwa pendirian MTA dilatarbelakangi oleh kondisi umat Islam pada akhir dekade 60 dan awal dekade 70. Sampai pada waktu itu, umat Islam yang telah berjuang sejak zaman Belanda untuk melakukan emansipasi, baik secara politik, ekonomi, maupun kultural, justru semakin terpinggirkan. Kala itu, Ustadz Abdullah Thufail Saputra, seorang mubaligh yang karena profesinya sebagai pedagang mendapat kesempatan untuk berkeliling hampir ke seluruh Indonesia, kecuali Irian Jaya, melihat kondisi umat Islam di Indonesia yang semacam itu disebabkan karena umat Islam di Indonesia kurang memahami Al-Quran. Oleh karena itu, sesuai dengan sabda Nabi SAW bahwa umat Islam tidak akan bisa menjadi baik kecuali dengan apa yang telah menjadikan umat Islam baik pada awalnya, yaitu Al-Quran.
Kembali kepada persoalan MTA vs Warga Ngambon, pertanyaan yang cukup menggelitik adalah benarkah perpecahan itu merupakan takdir atau azab ? Dan kenapa perpecahan yang bersifat khilafiyah selalu dan selalu berulang dan berulang ? selanjutnya adakah solusi yang mendamaikan kedua belah pihak ( win win solution ) ? Inilah yang menurut hemat penulis perlu dan penting untuk dikupas dalam artikel ini.

Perpecahan; Taqdir atau Azab ?
Diakui atau tidak, memang sepanjang sejarah umat Islam selalu bertengkar. Bahkan ada yang meyakini bahwa perpecahan sudah menjadi taqdir yang tidak dapat diubah. Bukankah dalam menjalankan agama pun kita terpecah menjadi berbagai mazhab seperti; Imam Syafi’i, Hambali, Maliki dan Imam Hanafi. Ini masih belum ditambah dalil pembenar, seperti ayat yang menunjukkan dalil perpecahan. Yakni surat al-An’am ayat 65: Dia Maha Kuasa untuk mengirimkan azab kepadamu dari atas atau dari bawah kakimu, atau dijadikannya kamu menjadi beberapa golongan, dan sebagian mendatangkan bahaya kepada yang lain. Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan keterangan-keterangan supaya mereka mengerti. Para mufasir kemudian meriwayatkan hadis yang menceritakan tiga permohonan Nabi Muhammad Saw. Dua dikabulkan dan satu tidak. Yang tidak dikabulkan ialah permohonan Nabi agar ummat Islam tidak saling mencelakakan atau tidak saling berpecah.
Di samping itu, ada hadis yang sangat populer untuk menjustifikasi perpecahan yakni hadis yang artinya sebagai berikut : “ Orang Yahudi sudah terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, orang Nasrani sudah terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan akan terpecah umatku menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semua masuk neraka kecuali satu golongan saja, yang selamat adalah Ahlussunnah Wal jamaah.
Sekalipun demikian, bukan berarti surat Al-An’am 65 itu sebagai pembenar dan dalil perpecahan umat Islam. Hemat kita, perpecahan bukan harus diterima begitu saja (taken for granted), tetapi harus diselesaikan dengan melakukan introspeksi pada perilaku kita. Lalu bagaimana dengan hadis bahwa Allah tidak mengabulkan permohonan Nabi yang ketiga ? Pertama, bukankah ada hadis lain yang menerangkan bahwa doa Nabi selalu dikabulkan oleh Allah ? Mengapa kali ini Allah tidak memperkenankannya ? Kedua, bila hadis ini dianggap sahih, maka perpecahan harus dianggap bakal terjadi di kalangan kaum muslim, tetapi tidak boleh diartikan selalu terjadi. Ketika Nabi menyebutkan bahwa diantara umatnya ada yang taat dan ada yang maksiat, Nabi sedang menunjukkan alternatif. Kita dapat melakukan perbuatan yang membawa kepada perpecahan, seperti juga perbuatan yang membawa persaudaraan. Jadi alternatif itu selalu ada, dan kita selalu diberikan kebebasan untuk memilihnya. (Jalaluddin Rakhmat, 1998)
Dan diantara kebebasan memilih adalah apa yang terjadi di dunia kampus. Kami melihat sekarang ini banyak kalangan mahasiswa yang nota bene Muhammadiyah (IRM) dan mahasiswa NU (PMII) yang tidak lagi berdebat tentang mana yang sunnah dan mana yang bid’ah. Justru mereka berdiskusi tentang islamisasi sains, ekonomi, politik, kebudayaan dan masyarakat. Yang menjadi persoalan bukan bagaimana cara berhaji yang sah, tetapi bagaimana menghadapi para pejabat yang naik haji dengan hasil merampas uang rakyat ( baca; korupsi). Mereka juga tidak lagi mempersoalkan berapa jumlah rakaat shalat tarawih yang di sunnahkan, tetapi berapa orang karyawan yang belum mau melakukan shalat tarawih. Mereka juga tidak lagi mendebatkan soal perbedaan ta’rif faqir dan miskin, tetapi bagaimana meningkatkan kualitas hidup keduanya.
Dari sinilah kalau ditarik mundur perspektif benang merah sejarah, bahwa sebenarnya konflik mazhab itu lahir dari kepentingan politik praktis. Sehingga tidak heran kalau mazhab-mazhab fiqih juga selalu berkembang sejalan dengan perkembangan sistem politik. Dan momentum kesadaran bermazhab ini sudah dimulai dari Sahabat Ibnu Mas’ud. Betul, Ibnu Mas’ud sempat kecewa betul ketika mendengar khalifah Usman shalat Zhuhur dan Ashar sebanyak masing-masing empat rakkaat di Mina. Sahabat Utsman dianggap telah meninggalkan sunnah Rasullulah.Tetapi, Ibnu Mas’ud shalat berjamaah di Mina dibelakang Usman, ia shalat seperti shalatnya Usman. Ketika orang mempertanyakanya hal itu, Ibnu Mas’ud berkata,’’bertengkar itu semuanya jelek!”
‘Pertengkaran’ antara MTA dengan masyarakat Ngambon ini sebenarnya bukan hal baru, sebab sebagaimana ditulis Sekretaris Umum MTA, Yoyok Mugiyatno pada April tahun silam di halaman Opini Jawa Pos dengan judul “Beda Boleh, Putus Silaturahmi Jangan”. Ini berarti kalau tidak hati-hati dalam mengelola khilafiyah, apa yang dikhawatirkan Sekjen MTA bisa benar-benar menjadikan kenyataaan.

Sambung Tali Persaudaraan
Satu hari Rasulullah bertanya kepada para sahabatnya. “Maukah kalian saya tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya dari shalat dan puasa ? “Tentu saja ya Rasulullah, jawab mereka. Rasulullah menjawab, “Engkau damaikan orang-orang yang bertengkar.” Menyambungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang berpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam dan mengukuhkan ukhuwa h di antara mereka adalah amal saleh yang besar pahalanya. “ Barang siapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizkinya, hendaklah ia menyambungkan persaudaraan”.
Namun demikian, tawaran Rasulullah Saw. ternyata apikasinya di lapangan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Menurut beberapa hasil studi mutakhir dikatakan, bahwa biang kerok perpecahan ummat Islam paling tidak ada dua faktor. Pertama, pemahaman yang formalistik. Dan sejarah telah membuktikan bahwa mereka yang menafsirkan teks-teks Al-Qur’an dan Hadis dengan sangat kaku dan formalistik adalah kaum Khawarij. Dan faktor kedua adalah Patuh Ritual tetapi minim Ukhuwah. Kaum Khawarij rata-rata berpegang pada Al-Qur’an dan Hadis dalam kerangka pemikiran mereka dan tidak menghormati pemahaman kelompok lain. Sehingga tidak heran kalau kita mendengar ada fatwa halal darahnya atau mengkafirkan sesama muslim. Padahal mengtakfirkan sesama muslim juga larangan keras agama. Mendiang Nurcholish Madjid masih menambahkkan satu lagi yakni fanatisme sempit. Menurut Cak Nur fanatisme membabi buta ini kalau tidak tertangani dengan baik dan profesioanal maka bisa menjadi bahaya sosial paling besar. Ingat bangsa NAZI yang mengklaim dirinya adalah suku/ ras yang terbaik di dunia. Sehingga bangsa NAZI bisa dengan seenaknya membantai manusia-manusia yang tak berdosa tanpa merasa melanggar HAM.

Penutup
Sebagai kata pamungkas, kita patut mengapresiasi gagasan dan ide Kapolres Bojonegoro AKBP Rakhmat Setyadi yang mengajak dialog multipihak. Seperti dari unsur Majelis Ulama Indonesia (MUI), Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) dan Bupati. Sebab kita meyakini bahwa perpecahan tidak sama dengan perbedaan pendapat. Orang dapat berbeda pendapat tanpa harus berpecah-belah. Lihatlah bagaimana Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal yang banyak berbeda pendapat, tetapi mereka saling menyayangi dan menghormati. Bahkan tak satupun riwayat yang menyebutkan bahwa mereka satu dengan yang saling mengkafirkan. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: