JADIKAN RAMADLAN KAMPUNG KEDAMAIAN

Pak De Karwo yang nota bene Gubernur Jawa Timur melarang sweeping tempat hiburan malam bagi Ormas-ormas Islam selama Ramadan. Sebab, tugas untuk penertiban sudah menjadi kewenengan aparat penegak hukum. Jangan sweeping. Tidak boleh. Soal penertiban serahkan saja kepada aparat penegak hukum, kan sudah ada polisi dan Satpol PP. Demikian himbauan sang Gubernur terhadap Ormnas Islam. Himbauan ini sangat bisa dipahami sebab aksi-aksi main hakim sendiri oleh sebagian kecil Organisasi Keagamaan yang sudah tidak terhitung jumlahnya baik secara kualitas maupun secara kuantitas menggunakan ‘dakwah’ kekerasan.
Memang tidak gampang menjadikan masyarakat yang relegius luar dalam. Di tengah-tengah gencarnya virus hedonisme yang menjalar dan mendarah daging seperti sekarang ini. Apalagi hakikat kehidupan dunia ialah bahwa ia sangat menarik dan menggiurkan. Tetapi juga sangat bersifat sementara dan jangka pendek (‘ajilah). Maka bagi mereka yang memusatkan perhatiannya hanya kepada kehidupan duniawi ia akan mendapatkan kekecewaan dan kepedihan hidup. Sedangkan Allah menyeru manusia untuk memasuki. Sehingga ada sebagian mufassir yang menyatakan bahwa dalam kitab suci Al-Quran sendiri terdapat ajaran yang agaknya merupakan asal-muasal ketidakdamaian hidup manusia dan kericuhannya. Ajaran dan doktrin itu ialah yang berada di sekitar ‘kejatuhan’. Yaitu kejatuhan Adam dan Ibunda Hawa dari Surga ke dunia karena melanggar larangan Tuhan memakan buah pohon Khuldi. Doktrin tersebut selayaknya termuat di berbagai dalil al-Quran. “Tuhan berfirman : Turunlah kamu (Adam dan Hawa). Sebagian darimu akan menjadi musuh sebagian yang lain. Dan bagimu di bumi tempat tinggal dan kesenangan yang lain. Dan bagimu di bumi tempat tinggal dan kesenangan sementara. Tuhan berfirman : Di bumi itu kamu hidup, di situ pula kamu mati, dan di situ kamu akan dikeluarkan. (Al-A’raf; 25-26).
Dari sini, hemat kita bisa ditarik pelajaran bahwa baginda Adam dan Ibunda Hawa adalah dua manusia yang menjadi ayah dan ibu umat manusia. Karena melanggar larangan Tuhan, Ia menerima hukuman diusir dari Surga. Dan mendapat kutuk bahwa kehidupan mereka di bumi akan merupakan sesuatu yang tak damai, dan penuh permusuhan. Manusia kehilangan hidup damainya yang abadi di dalam alam surgawi digantikan dengan kehidupan duniawi yang bersifat sementara.
Inilah sesungguhnya sifat kehidupan di bumi ini, ricuh dan singkat. Keterangan lebih khusus juga ditemui di dalam kitab suci di berbagai tempat. Kelengkapan doktrin-doktrin itu selanjutnya mengatakan sebagaimana terbaca, misalnya di dalam surat Taha yang terjemahannya sebagai berikut: “Tuhan berfirman: Turunlah kamu semua dari sini (Surga), sebagian kamu menjadi musuh sebagian lainnya. Maka, jika datang kepadamu petunjuk dari-ku maka siapa saja yang mengikuti petunjukku itu. Ia tidak akan sesat dan tidak akan sengsara. Dan barangsiapa berpaling dari ajaran-ku, maka sesungguhnya baginya ialah kehidupan yang sesak (rupeg). Dan kami akan membangkitkannya di hari kiamat dalam keadaan buta. Padahal dahulu aku dalam keadaan melhat ? (Tuhan) berfirman, begitulah, telah datang kepadamu ajaran-ku, kemudian kamu melupakannya. Maka demikianlah hari ini kamu terlupakan. Begitulah kami membalas orang yang berlebihan dan tak percaya kepada ajaran Tuhannya. Dan sungguh, siksa di hari kemudian itu lebih hebat dan lebih pedih (Taha; 124-128).
Doktrin semakna juga terdapat di tempat-tempat lain. Khususnya di dalam surat al-Baqarah ayat 37- 40. Doktrin ini menyatakan bahwa kutukan Tuhan kepada manusia berupa kesengsaraan hidup di muka bumi ini bukanlah sesuatu yang tidak mungkin di cabut olehnya. Dengan kasihnya, Allah menunjukkan kepada manusia jalan mengatasi kerupegan hidupnya. Yaitu dengan mengikuti petunjuk yang diberikannya kepada umat manusia melalui utusan-utusan atau rasul-rasulnya yaitu ajaran agama. Kehidupan sengsara hanya dialami oleh mereka yang berpaling dari ajaran-ajaran Tuhan.

Kampung Perdamaian
Memang hakikat kehidupan dunia ialah bahwa ia sangat menarik dan menggiurkan. Tetapi bersifat sementara dan jangka pendek (‘ajilah). Maka, bagi mereka yang memusatkan hanya kepada kehidupan duniawi akan mendapatkan kekecewaan dan kepedihan hidup. Sedangkan Allah menyeru manusia untuk memasuki negeri perdamaian (Darussalam). Hal ini jelas dapat dipahami dalam surat Yasin ; 25-26. “Sesungguhnya perumpamaan hidup di dunia hanyalah bagaikan air hujan yang kami turunkan dari lagit. Kemudian berpadu dengan tumbuhan bumi yang menjadi makanan manusia dan binatang. Sehingga tatkala bumi mulai berhias dirinya nampak indah menarik. Dan penghuninya menyangka bahwa mereka mempunyai kekuasaan atas bumi itu. Tiba-tiba datang perintah kami di malam atau siang hari. Kemudian kami jadikan bumi itu gundul seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu apapun hari kemaren. Demikianlah kami menjelaskan ayat-ayat kami untuk kaum yang berpikir. Dan Allah menyeru kepada negeri perdamaian serta menunjukkan siapa saja yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.

Ihtitam
Sekalipun mewujudkan kampung damai tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun bukan berarti menjaga toleransi umat beragama dengan baik tidak bisa diwujudkan. Hemat kita kalau ada komitmen yang kuat oleh masing-masing umat beragama dan Ormas Islam kami yakin bisa. Apalagi ini berkaitan dengan momentum Ramadan. Dan sekali lagi, kalau kita memperhatikan himbauan orang nomor 1 di Jawa Timur ini maka benang kusut intoleransi umat beragama sedikit akan terurai. Lihatlah bagaimana bijaknya kalau, misalnya, warung yang tetap dibuka pada siang hari tetep diberi kerudung. Termasuk warung warga non muslim juga harus menjaga tolerasi. Dan yang tidak kalah pentingnya juga terhadap tempat hiburan malam yang nekad beroperasi selama Ramadan juga harus bisa menjaga perasaan umat yang sedang berpuasa. Dan kalau sudah melebihi ambang batas toleransi maka dilaporkan ke aparat yang berwajib. Tentu harapan kita Bapak polisi akan bertindak professional dengan tidak tebang pilih.
Akhirnya, Selamat menjalankan ibadah puasa dan kampung damai yang dicita-citakan umat beragama segera terealisasi dengan sebenar-benarnya. Semoga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: