RUNTUHNYA MORAL PELAJAR DAERAH

oleh; Ali Shodikin*

Miris hati ini rasanya ketika membaca Radar Bojonegoro (19/12), yang memberitakan tentang sejumlah pelajar di Madrasah Tsanawiyah di daerah Babat tepatnya 9 Pelajar yang minum-minuman keras ketika perkemahan di Tuban untuk memperingati Tahun Baru Hijriyah. Yang apalagi notabene sekolah berbasis Islam. Pertanyaannya kemudian, kenapa para pelajar sekarang cenderung sangat berani menerabas larangan agama dan apakah mereka tidak mengerti/ tidak tahu bahwa perbuatan seperti MOLIMO katagori larangan yang tidak bisa ditawar ? Kemudian bagaimana tindakan preventifnya agar para pelajar kita tidak terjerumus dalam jurang kemaksiaatan ?
Manusia tak terkecuali pelajar yang terbimbing secara benar pasti menyadari bahwa dirinya dan jiwanya telah meyakini bahwa Allah sebagai Tuhannya. Bahkan sebelum eksistensinya sebagai manusia dan pelajar dilahirkan ke dunia ini. Kalau sudah demikian rupa keyakinannya terhadap pencipta, pemelihara dan pelindungnya maka sifat berutang dari penciptaan dan eksistensinya adalah sangat menyeluruh dan bersenyawa. Sehingga seorang pelajar merasa berada dalam suatu keadaan kehilangan (fana’) sama sekali. Karena ia tidak memiliki dirinya sendiri. Ia melihat bahwa setiap sesuatu di sekitarnya dalam dirinya dan dari dirinya adalah apa yang dimiliki sang Pencipta. Dan kalau sudah memiliki kesadaran yang sedemikian tinggi maka seorang pelajar akan merasa harus ‘membayar kembali’ dengan dirinya dan harus ‘mengembalikan’ dirinya kepada-Nya yang memilikinya secara mutlak. Sekalipun menanamkan hal-hal demikian tidak mudah bahkan hampir mustahil, tetapi kita harus selalu punya sifat optimis (raja’).

Tujuan Pengajaran
Melihat fenomena akhir-akhir ini, seperti pelajar yang suka tawuran, minum-minuman keras dan fenomena yang terbaru yang menggegerkan dunia pendidikan Jawa Timur yakni arisan pelajar untuk memboking PSK dan lain-lain. Nyatalah yang menjadi tugas utama dan pertama seorang pendidik yaitu membentuk pelajar yang punya susila plus cakap, membentuk warga negara yang demokratis dan menjadikan mereka orang-orang yang bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air (Ngalim Purwanto, 1995).
Dari sekian banyak tujuan pendidikan tersebut hemat kita yang perlu mendapatkan skala prioritas dan perhatian semua pihak adalah menjadikan pelajar yang punya susila. Mungkin dalam benak kita muncul berbagai pertanyaan semisal, apakah yang dimaksud dengan pelajar yang bersusila itu ? Dapatkan kesusilaan atau watak itu dididik ? Mengapa pendidikan kesusilaan itu penting dan urgen ? Dengan cara bagaimana kita dapat mendidik kesusilaan atau watak itu ? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang terkait dengan kesusilaan.
Namun menurut hemat kita, pelajar yang bersusila adalah pelajar yang dalam kesehariannya senantiasa menuruti dan sesuai dengan koridor serta kaidah dan norma-norma kesusilaan yang sedang berlaku.
Kita katakan norma kesusilaan yang sedang berlaku, sebab setiap zaman orang berubah-ubah pandangan tentang baik dan buruk (etika). Yang dahulu berlaku, mungkin sekarang sudah dianggap sebagai suatu hal yang bersifat feodal. Tetapi, kita harus ingat bahwa tidak semua yang kolot dan kuno itu mesti buruk. Dan sebaliknya segala yang baru itu mesti baik. Pandangan orang demikian itu sangat tidak tepat bahkan bisa menyesatkan. Sebab kenyataannya, masih banyak sekali tingkah laku dan adat-istiadat yang dahulu yang masih dianggap baik, sekarangpun ternyata tetap masih baik dan bahkan masih relevan. Yang begini ini menurut hemat kita perlu dilestarikan dan dipertahankan. Sebaliknya, banyak hal baru yang sebenarnya tidak baik dan tidak sesuai dengan adat istiadat atau pandangan hidup bangsa kita, yang sebenarnya tidak perlu kita kembangkan dan bahkan harus kita buang jauh-jauh dari bumi kita tercinta Indonesia.
Selanjutnya, dapatkan watak itu dididik ? Atau lebih jelas lagi dapatkah anak/pelajar dididik menjadi pribadi yang berwatak susila ? Prof. Heymas seorang Psikoklog Belanda meragukan akan berhasilnya pendidikan watak. Namun demikian, menurut hemat kita, betapapun susahnya membina watak pelajar, kita harus optimis pasti BISA. Imam Al-Ghazali juga berpendapat demikian. Anak harus kita didik agar mempunyai kemauan yang keras untuk melakukan segala sesuatu yang baik dan menjauhi segala sesuatu yang buruk. Anak juga harus dididik supaya berperasaan yang halus. Ini berarti dengan perasaanya itu anak dapat mencintai segala yang baik dan membenci segala sesuatu yang buruk.
Dengan bahasa sederhana dan gampang, kita tidak boleh membiarkan pertumbuhan pelajar kita sekehendaknya ( Jawa; semahu guwe). Pelajar wajib kita bimbing, kita bina dan kita arahkan agar watak dan kepribadiannya tidak menyimpang dan menerjang dari norma susila, lebih-lebih hukum-hukum agama.
Satu hal lagi yang juga sangat menggelitik pikiran kita yakni, kenapa pendidikan kesusilaan itu sangat urgen ? Pertanyaan ini kita munculkan, sebab ada sebagian orang yang beranggapan, bahwa bukankah ada yang lebih penting lagi daripada mengurusi kesusilaan itu sendiri. Yakni mendidik pelajar menjadi orang yang berilmu pengetahuan yang tinggi dan pandai mengurus negara, pandai mengatur tentang dunia perteknikan (technical skill) yang justru sangat penting bagi kemajuan dan kebesaran sebuah bangsa dan negara ?
Sebenarnya pertanyaan penting atau tidak, atau mana yang harus didahulukan, dalam tulisan yang singkat ini tidak diulas. Namun yang perlu dimengerti dan disadari oleh semua pihak bahwa kesusilaan bukan hanya berarti bertingkah-laku sopan-santun, bertindak lemah-lembut, taat dan berbakti kepada orang tua saja, melainkan lebih luas lagi dari itu. Selalu bertindak jujur, konsekuen, bertanggung jawab, cinta bangsa dan sesama manusia, mengabdi kepada rakyat dan negara, punya kemauan yang membaja, berperasaan halus, dan lain-lain. Ini semua juga termasuk norma-norma yang harus kita kembangkan dan kita tanamkan kepada benak dan sanubari pelajar kita sejak dini.
Sebagai kata akhir, ada baiknya kita juga perlu mengintrospeksi, mawas diri dan bila dirasa perlu mengevaluasi model pengajaran kita. Sebab pada umumnya para guru atau pendidik mayoritas lebih mementingkan dan memfokuskan pendidikan intelektual (IQ), dan memompakan sains kepada otak peserta didik ansich sehingga kadang-kadang kurang menghiraukan sisi pendidikan yang lain. Padahal pendidikan yang terabaikan tersebut ternyata maha penting, yakni pendidikan kesusilaan, etika dan moral. Lebih-lebih pendidikan Spiritual (ESQ). Sebab semakin pendidikan ESQ ( Emotional Spiritual Qoestion) itu dijauhkan dari pribadi pelajar bisa dipastikan anak didik kita tidak bisa meniru filosofi tanaman padi, dimana padi itu semakin berisi maka semakin merunduk. Semoga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: