TANTANGAN DUET NAHKODA NU LAMONGAN

Oleh : Ali Shodikin

Alhamdulilah duet nahkoda Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama Lamongan sudah terpilih. Yakni KH. Abdul Madjid (Gus Madjid) dan Ust Drs.Bi’in Abdussalam ( Radar Jawa Pos,8/9). Ia akan memimpin NU kota soto ini masa khidmat 2013-2018. Dalam banyak kesempatan tokoh-tokoh NU semisal KH. Muchit Muzadi sering mengibaratkan NU laksana kereta api. Arah yang akan dituju sudah jelas. Jalur yang dilalui juga sudah jelas. Aturan untuk menjadi masinis juga sudah ada ketentuannya. Hanya butuh peneguhan komitmen. Dan yang terakhir ini sering terabaikan.
Contoh riil terkait dengan komitmen adalah persoalan khittah. Hampir duapuluh sembilan tahun sejak khittah NU diputuskan selalu ada dinamika naik-turun. Memang harus disadari, pelaksanaan program tidaklah semudah menaruh harapan. Tidak gampang memang menerapkan khittah secara utuh. Karena khittah menyangkut seluruh aspek kehidupan dalam NU. Dari pemikiran, sikap hingga urusan politik. Tidak terkecuali PCNU Lamongan. Apalagi pada periode sebelumnya nahkodanya ditengarahi ada disharmoni kalau tidak boleh dikatakan retak antara unsur Syuriah vs Tanfidliyah.
Dari sini, menurut hemat kita ada beberapa agenda yang mendesak yang harus segera dibenahi dan diselesaikan oleh Gus Madjid dan Ust Biin dalam waktu dekat ini, yakni : Pertama, meminimalkan personalia komponen yang bisa mengakomodir ‘kedua kubu’. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah kehati-hatian dalam merekrut calon-calon pengurus baru yang ‘terlibat’ dalam kegiatan politik praktis. Ini penting. Sebab menurut muktamar Donohudan Solo disebutkan bahwa pengurus NU dalam semua level tidak boleh terlibat langsung dalam kegiatan politik praktis. Kenapa ini menjadi penting ? Sebab kenyataan di lapangan membuktikan bahwa perjalanan khittah selama ini semakin kabur. Khittah selalu diartikan sesuai dengan keinginan orang yang menyatakan. Sehingga ada kelakar dari Kiai Muchid Muzadi, bahwa implementasi khittah bukan semakin mendekat atau semakin menjauh tapi justru semakin mbulet.
Kedua, penyelamatan aset-aset NU yang demikian besar. Namun kenyataannya ternyata sedikit yang dapat diselamatkan kalau tidak boleh dikatakan’gagal’ dikembalikan ke pangkuan NU. Ini juga penting, sebab sebagaimana kita ketahui bersama, ada beberapa aset NU Lamongan yang ‘dikuasai’ oleh segelintir orang. Dan ini mestinya harus bisa dikembalikan ke rahim NU seperti semula.
Ketiga, kepada para calon pengurus NU juga kita harapkan agar senantiasa bermuhasabah nafs (introspeksi) diri. Amanat organisasi, mabda’ organisasi, AD/ART, program dan lain-lain agar dilaksanakan dan diterapkan secara jujur dan adil untuk kepentingan bersama. Dan bukan untuk kepentingan perorangan dan kelompok. Hal ini menjadi urgen agar kepengurusan ini bisa terhindar dari timbulnya pertentangan dan perpecahan internal.
Keempat, konsolidasi internal hendaknya dijadikan pilihan menu utama. Yang tentunya tetap harus mengedepankan unsur solidaritas, kolektivitas, kolegialitas dan kebersamaan sederajat. Sehingga tidak mudah terjadi pergeseran, apalagi saling pecat satu sama lain. Yang ini semua kalau dirunut akibat persaingan antar pengurus yang tidak sehat.
Kelima, disiplin organisasi sebagai sebuah mekanisme berjalannya antar masing-masing individu atau kelompok di dalam organisasi hendaknya dijalankan dengan konsekuen dan keikhlasan.
Dan yang tidak kalah pentingnya adalah agenda yang Keenam yakni budaya musyawarah musawah (persamaan) dan menghargai pendapat pihak lain. Musawah ini hendaknya ‘dihidupkan’ kembali. Kenapa ? Tidak lain agar segala permasalahan hendaknya bisa diselesaikan dengan cara musyawarah yang jujur dan mengedepankan kepentingan bersama dan kebersamaan. Kalau keputusan musyawarah sudah sedemikian rapi, maka hendaknya juga semua komponen bisa menghormati dan melaksanakan secar jujur dan bertanggung jawab.
Sebelum mengakhiri tulisan ini, ada baiknya menelaah kembali sembilan butir Pedoman berpolitik Warga NU yang dicetuskan dalam Muktamar NU XVIII di Krapayak Yogyakarta tahun 1989 sebagai berikut :1. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama mengandung arti keterlibatan warga negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara secara menyeluruh sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945; 2. Politik bagi Nahdlatul Ulama adalah politik yang berwawasan kebangsaan dan menuju integritas bangsa dengan langkah-langkah yang senantiasa menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan untuk mencapai cita-cita bersama, yaitu terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur lahir dan batin dan dilakukan sebagai amal ibadah menuju kebahagiaan di dunia dan kehidupan di akhirat; 3. Politik bagi Nahdlatul Ulama adalah pengembangan nilai-nilai kemerdekaan yang hakiki dan demokratis, mendidik kedewasaan bangsa untuk menyadari hak, kewajiban, dan tanggung jawab untuk mencapai kemaslahatan bersama; 4. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama haruslah dilakukan dengan moral, etika, dan budaya yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, ber-Kemanusiaan yang adil dan beradab, menjunjung tinggi Persatuan Indonesia, ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan ber-Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia; 5. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama haruslah dilakukan dengan kejujuran nurani dan moral agama, konstitusional, adil, sesuai dengan peraturan dan norma-norma yang disepakati serta dapat mengembangkan mekanisme musyawarah dalam memecahkan masalah bersama; 6. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama dilakukan untuk memperkokoh konsensus-konsensus nasional dan dilaksanakan sesuai dengan akhlaq al karimah sebagai pengamalan ajaran Islam Ahlussunah Waljamaah; 7. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama, dengan dalih apa pun, tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan kepentingan bersama dan memecah belah persatuan; 8. Perbedaan pandangan di antara aspirasi-aspirasi politik warga NU harus tetap berjalan dalam suasana persaudaraan, tawadlu’ dan saling menghargai satu sama lain, sehingga di dalam berpolitik itu tetap terjaga persatuan dan kesatuan di lingkungan Nahdlatul Ulama; 9. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama menuntut adanya komunikasi kemasyarakatan timbal balik dalam pembangunan nasional untuk menciptakan iklim yang memungkinkan perkembangan organisasi kemasyarakatan yang lebih mandiri dan mampu melaksanakan fungsinya sebagai sarana masyarakat untuk berserikat, menyatukan aspirasi serta berpartisipasi dalam
Akhirnya, Selamat dan Sukses untuk nahkoda NU Lamongan. Dipundak mereka berdua maju mundurnya NU Lamongan di amanahkan. Kita yakin beliau berdua mampu mengemban kepercayaan warga NU LA dengan jujur dan ikhlas yang sebenar-benarnya. Semoga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: