DIMENSI PSIKOLOGIS SHALAT BERJAMAAH*)

15 Oktober 2008

oleh :Ali Shodikin

SHALAT berjamaah dalam Islam sangat ditekankan. Prof.Dr.TM.Hasbi Ash Shiddieqy (1983) dalam bukunya yang berjudul Pedoman Shalat mengutip beberapa hadist Nabi Muhammad SAW mengenai keutamaan shalat berjamaah dan juga ancaman bagi mereka yang enggan mendatangi shalat berjamaah, antara lain:

Barang siapa berwudhu dan menyempurnakan wudhunya kemudian pergi shalat fardhu lalu mengerjakan shalat itu beserta imam (berjamaah), maka ia akan diampuni dosanya.” (HR.Ibnu Khuzaimah dari Utsman).

“Shalat berjamaah itu lebih utama dari shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.” (HR.Malik dan Muslim dari Ibnu Umar).

“Barang siapa bershalat shubuh di dalam jamaah, maka ia telah dalam tanggungan Allah.” (HR.Ibnu Majah dari Samurah Ibnu Jundud).

“Barang siapa mendengar seruan (adzan), dan tidak ia memenuhinya, maka tidak ada shalat baginya.” (HR.Ibnu Mundzier dari Ibnu Abbas).

“Barang siapa mendengar seruan (adzan), kemudian ia tiada memenuhi seruan itu dengan tidak ada udzur, maka tidaklah shalat baginya.” (HR.Ahmad, Ibnu Hazam)

“Sungguh aku telah berkemauan akan manyuruh mengumpulkan berkas-berkas kayu api, kemudian aku menyuruh mendirikan shalat, lalu diadzankan untuknya. Kemudian aku menyuruh seorang buat menjadi imam. Sesudahnya itu, aku pun pergi kepada mereka yang tidak menghadiri jamaah, lalu aku bakar rumahnya bersama-sama dengan mereka didalamnya.” (HR.Bukhari-Muslim).

Hadist-hadist diatas mengisyaratkan kepada umat Islam bahwa shalat berjamaah sangat dianjurkan. Hal ini dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, di lihat dari pahala yang akan diberikan kepada mereka yang menjalankan ibadah berjamaah, misalnya akan diampuni dosanya, dilipatgandakan atau dikalikan 27 kali dan juga bagi mereka yang berjamaah maka dirinya dibawah tanggungan Allah SWT. Kedua, menekankan ancaman bagi mereka yang tidak mau berjamaah, terlihat pad hadist diatas Nabi akan” membakar” rumah bersama-sama dengan para penghuninya bagi mereka yang tidak mau mengerjakan atau menghadiri shalat berjamaah. Hal ini tentunya bukan secara harfiah akan membakar, namun memberikan penekanan betapa pentingnya shalat berjamaah.

Disamping mempunyai pahala yang besar, shalat berjamaah ternyata menurut Haryanto (1993;1994), mempunyai dimensi psikologis tersendiri, antara lain: aspek demokratis, rasa diperhatikan dan berarti kebersamaan, tidak adanya jarak personal, pengalihan perhatian (terapi lingkungan) dan interdependensi (lihat Ancok, 1985; 1989; 1992; Arif;1985).

A. Aspek demokratis

Aspek psikologis pertama shalat berjamaah adalah aspek demokratis. Hal ini terlihat dari berbagai aktivitas yang melingkupi shalat berjamaah itu sendiri, antara lain:

1. Memukul kentongan atau bedug

Di masjid, langgar, surau, atau musholah terutama di pedesaan dan sebagian di perkotaan ada kentongan atau bedug sebagai tanda memasuki waktu shalat. Dalam hal ini siapa saja boleh memukul kentongan atau bedug tersebut, tentunya harus mengerti aturan atau kesepakatan di daerah tersebut. Ini berarti Islam sudah menerapkan bahwa kedudukan manusia sama, tidak dibedakan berdasarkan berbagai atribut kemanusiaan. Konon tanda ini diciptakan oleh Sunan Kali Jogo salah seorang wali sanga (sembilan) yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa syarat dengan simbul-simbul. Menurut orang jawa bunyi kentongan adalah “thong…thong…thong…” artinya masjidnya masih kothong (kosong), kemudian disilahkan masuk dengan bunyi bedug, yaitu”bleng…bleng…bleng…”. Dalam bahasa Jawa ada kata untuk meyangatkan, misalnya: masuk “(mlebu…bleng…)”, lari (mlayu…jranthal), dan sebagainya.

2. Mengumandangkan adzan

Adzan merupakan tanda waktu shalat dan harus dikumandangkan oleh “tukang adzan” (bang atau muadzin). Siapa yang mengumandangkan adzan tidak dipersoalkan

oleh Islam karena pada prinsipnya siapa saja boleh. Namun, perlu diingat bahwa adzan adalah bagian dari syiar Islam, sehingga memang benar-benar orang yang mengerti dan diharapkan mempunyai suara yang bagus (lafal, ucapannya baik dan benar) syukur mempunyai “nafas” yang panjang, sehingga pada saat adzan tidak terputus ditengah jalan. Nabi Muhammad SAW sendiri memilih Bilal manta budak yang hitam legam kemudian masuk Islam sebagai “bang (tukang adzan) karena kuat suara dan fasih lafalnya”. Pengangkatan Bilal sebagai “bang” ini juga sudah merupakan suatu revolusi yang sangat luar biasa, karena pada saat itu yang namanya budak sudah tidak dihargai lagi harkat dan martabat kemanusiaan. Isalam justru datang untuk memerdekakan budak (Bilal) kemudian memperoleh kehormatan menjadi orang yang menyeru kepada kebaikan. Sayang saat ini banyak yang tidak memahami fungsi adzan ini, misalnya banyak muazin anak-anak atau para manula/lanjut usia. Sehingga suaranya tidak bagus, lafalnya tidak pas (fasih) dan bahkan sering terputus (tidak kuat) di tengah jalan.

3. Melantunkan iqomat

Kalau adzan adalah tanda waktu memasuki shalat, maka iqomat adalah sebagai tanda bahwa shalat (berjamaah) akan segera dimulai. Ibaratnta dalam militer, maka iqamat ini adalah “aba-aba” pasukan akan diberangkatkan. Sepertihalnya memukul bedug dan adzan, maka iqamat ini juga dapat dilakukan oleh siapa saja bahkan tidak harus yang tadi beradzan. Para jamaah tidak boleh atau bisa menghentikan seseorang untuk iqamat dikarenakan ada teman atau “bosnya” belum datang. Diharapkan jarak antara adzan dan iqamat tidak terlalu lama hal ini sekaligus pula menggambarkan masalah kedisiplinana dan penghargaan terhadap waktu. Salah satu contoh di Pondok Pesanteren Suryalaya, jarak antara adzan dan iqamat hanyalah shalat sunat. Sehingga mereka tidak akan dapat “beleha-leha, seenaknya”, kalua hal ini dilakukan berarti mereka akan ketinggalan shalat berjamaah. Namun tidak jarang terjadi di suatu masjid jarak antara adzan dan iqamat sangat panjang, bahkan sudah diselingi berbagai macam pujian atau bacaan shalawat namun baik makmum maupun imamnya belum juga datang. Sehingga sering ada gurauan: “memukul kentongan sendiri, adzan dan iqamat juga dia sendiri, saat mendirikan shalat juga sendiri…ada yang lewat…borongan nich yee…”.

4. Pemilihan/pengisian “ barisan/shaf”

Pada saat seseorang masuk ke Masjid maka siapa saja tidak pandang bulu, apakah ia seorang mahasiswa, dosen, guru besar atau karyawan; apakah ia guru atau murid; apakah ia kopral/jendral; apakah ia presiden/pesinden; apakah dia mentri/mantri; apakah ia seorang konglomerat/gembel, atau atribut yang lain. Siapa pun ia memperoleh hak di depan atau shaf pertama atau dengan kata lain siapa yang datang dahulu maka boleh menempati tempat yang paling “ terhormat “ yaitu di depan. Bahkan dalam hadist disebutkan “kalau engkau mengetahui fadhilah shaf pertama,maka engkau meminta untuk diundi” . Namun sering mereka memasuki masjid seperti masuk ke gedung bioskop, yaitu justru menempati barisan paling belakang dan justru yang depan tidak terisi. Hal ini sering justru memberi kesempatan kepada jamaah yang datang akhir akan melakukan yang tidak di anjurkan oleh agama, yaitu melewati para jamaah yang datang lebih awal bahkan mungkin melompatinya.

5. Proses pemiliha imam

Shalat berjamaah harus da yang menjadi imam dan makmum, meski itu hanya berdua. Apabila diperhatikan maka seolah-olah ada suatu musyawarah untu memilih imam (pemimpin) dalam shalat yang dilakukan di masjid, langgar, surau/musholah. Ternyata unuk menjadi imam harus memenuhi kriteria tertentu, sesuai dengan hadist nabi (Sa’id hawa,1987):

“Orang yang menjadi imam hendaknya yang paling baik bacaannya (dalam mambaca) Al-Quran. Jika mereka sama baiknya dalam bacaan, maka orang yang paling mengetahui sunah. Jika mereka sama pengetahuannya tentang sunah, maka orang yang paling dahulu hijrah. Jika mereka bersamaan dalam hijrah, maka orang yang paling tua umurnya. Dan janganlah seseorang diimami (orang lain) di rumahnya, dan tidak duduk atas penghormatannya kecuali dengan izinnya (HR.Muslim dan Ashabus Sunan).”

Jadi dapat disimpulkan bahwa seorang imam secara gradasi mempunyai persyaratan sebagai berikut:

· Fasih bacaan Al-Quran

· Mereka yang mengerti hadist-hadist nabi

· Lebih dahulu hijrahnya, kalau tidak ada maka dipilih,

· Yang lebih tua

· Diutamakan tuan rumah daripada tamu

· Imam adalah salah seorang dari mereka yang disenangi dalam kelompok tersebut bukan yang dibenci, tidak disukai atau ditolak.

“Dari Abdulah bin Amrra. Nabi bersabda: Ada tiga golongan yang tidak diterima shalatnya:(1) Orang yang maju ke depan kaum untuk menjadi imam, sedangkan mereka membencinya, (2) Orang yang biasa mengakhirkan shalat (waktunya terlah habis), (3) Orang yang memperbudak orang yang merdeka”.

Hal ini menunjukkan bahwa untuk menjadi imam (pemimpin) memerlukan syarat-syarat tertentu atau kualifikasi tertentu namun hal ini tidak diperlukan bagi makmum. Hal ini dijelaskan oleh dai sejuta umat KH. Zainuddin MZ. (1993), yaitu bahwa untuk memilih pemimpin harus ada syarat-syarat atau kriteria tertentu, sedangkan untuk menjadi rakyat atau masyarakat umum tidak perlu adanya”persyaratan” seperti memilih pemimpin. Disamping itu makmum suatu saat juga dapat menjadi imam sehingga seorang makmum harus mempersiapkan menjadi imam. Sehingga regenerasi atau pergantian pemimpin akan terjadi secara alamiah, tidak harus dengan demo atau kudeta. Di samping itu pada saat sebelum shalat, selama shalat dan setelah menjalankan shalat maka ada tingkah laku imam yang dapat kita kaji:

a. Imam sebelum melakukan shalat harus memperhatikan jamaah, terutama memeriksa barisan (shaf) kemudian memerintahkan agar lurus dan merapatkan barisan, karena rapat dan barisan itu salah satu kesempurnaan shalat.Adapun ucapan imam yang disunahkan adalah: “Samaratakanlah shafmu, karena menyamaratakan shaf itu merupakan kesempurnaan shalat (HR.Bukhari-Muslim).”

b. Imam adalah manusia biasa sehingga dimungkinkan untuk lupa, salah bacaan atau salah gerakan atau batal, misalnya buang angin (kentut). Hal ini ada prosedur untuk mengingatkan, membetulkan, atau mengganti imam oleh makmum, antara lain:

*> Kalau imam lupa, maka makmum dengan segera wajib untuk mengingatkan, yaitu dengan membaca “ Subhanallah (Maha Suci Allah)” bila jamaah laki-laki; dan bertepuk tangan; bila jamaah wanita.

*> Bila imam melakukan kesalahan, terutama bacaan maka makmum harus segera membenarkan. Dalam hal ini imam tidak boleh tersinggung atau marah bila dibetulkan oleh makmum yang mungkin mempunyai tingkatan atau posisi yang lebih rendah. Pada saat berlangsung shalat imam (pemimpin) ini tetap harus memperhatikan makmum. Nabi pernah memperpendek shalat gara-gara Beliau mendengar seorang anak kecil sedang menangis. Nabi juga pernah memarahi sahabatnya yang mengimami shalat dengan bacaan-bacaan yang terlalu panjang, hingga para makmum mengeluh. “ Jangan membuat fitnah,”kata nabi (Mustofa Bisri, 1995) menegur sang imam. Jadi ima harus memperhatikan makmumnya, mungkin ada yang kuat tapi ada juga yang lemah, ada yang sehat namun ada pula yang kurang sehat, ada yang banyak waktu, ada pula yang terburu-buru dan sebagainya. Ditambahkan oleh KH. Drs. Effendi Zarkasi (1999) hal ini mengisyaratkan bahwa pemimpin harus mengerti “ penderitaan rakyat”.

*> Kalau imam batal, misalnya buang angin (kentut), maka secara otomatis ia harus mundur, harus “lengser” dengan “jujur dan legowo”. Meskipun makmum tidak tahu kalau imam tersebut batal, dan juga tidak harud “didemo” oleh makmum ia harus mundur dengan baik-baik dan dengan prosedur yang benar. Kemudian makmum yang paling depan menggantikan imam, dan tidak harus membuat shalat baru melainkan, langsung meneruskan apa yang kurang dari imam yang lama. Hal ini mengisyaratkan bahwa kalau pemimpin sudah “batal atau dianggap batal oleh makmum” ia harus lengser, dan makmum (rakyat) terutama yang dibelakangnya (punya kemampuan) harus segera menggantikannya.

Alangkah indahnya dan bagusnya nilai-nilai demokratis yang terdapat dalam shalat tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga, masyarakat, organisasi, pemerintah (negara) dan yang saat ini sangat ramai dibicarakan, yakni”kehidupan partai”.

Penelitian-penelitian pada bidang psikologi membuktikan bahwa keluarga yang demikratis ternyata mempengaruhi perkembangan anak-anaknya, misalnya anak-anaknya akan mempunyai ciri:locus of controlnya cenderung internal, motif berprestasinya tinggi, dan lebih asertif. Penelitian di Amerika yang dikutip oleh majalah Intisari ( Haryanto, 1993) memaparkan hubungan antara sikap orang tua dengan angka kecedasan. Penelitian ini dengan sampel anak-anak nerusia 3 tahun, hasilnya menunjukkan:

* Sangat tidak ramah 1.0 angka mundur

* Pasif, kurang perhatian 0.5 angka mundur

* memerintah dan menekan 0.5 angka maju

* Sabar, kurang perhatian 5.0 angka maju

* Sabar penuh perhatian 8.0 angka maju

Penelitian ini memang masih harus di kaji lagi, namun secara umum suasana yang demokratis baik itu dalam rumah tangga,industri,organisasi sosial, organisasi politik maupun dalam pemerintah akan sangat berpengaruh pada para anggota kelompok tersebut.Dan tentunya dalam jangka panjang akan mempengaruhi produktifitas kerja karyawan.

B. Rasa diperhatikan dan berarti

Seseorang yang merasa tidak diperhatikan atau diacuhkan oleh keluarganya, masyarakat atau lingkungan dimana ia berada sering mengalami gangguan atau goncangan jiwa. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang stress, depresi dan berakhir dengan bunuh diri. Pada shalat berjamaah ada unsur-unsur rasa diperhatikan dan rasa berarti bagi diri seseorang. Beberapa aspek pada dimensi ini antara lain:

1.Memilih dan menempati shaf. Dalam shalat sipa saja datang terlebih dahulu “berhak” untuk menempati shaf atau barisan pertama atau terdepan. Dalam agama shaf terdepan dan sebelah kanan merupakan shaf yang utama, seperti hadist nabi:

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas shaf pertama dan shaf-shaf yang pertama (HR. Abu Daud, An Nasai dari Al-Bara)”

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas shaf-shaf sebelah kanan (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah dari ‘Aisyah)”

Hal ini tentunya sangat berati bagi seseorang yang dilingkunganya tidak memperoleh peran, ia selalu diremehkan, tidak pernah dapat menjadi sebab dari suatu akibat. Perasaan-perasaan seperti ini tidak mengherankan sebagai salah satu motifasi anak remaja masuk ke gang atau berbuat negatif atau menyalahgunakan narkotika.

2. Setelah duduk maka para jamaah mempunyai kebiasaan untuk bersalaman dengan jamaah yang berada di kanan dan kiri bahkan tidak jarang dengan sebelah depan dan sebelah belakang. Hal ini menunjukkan bahwa ia mempunyai kedudukan yang sama dan berhak untuk menyapa lingkungannya, sedang itu mungkin tidak ia temui dilingkungnnya.

3. Pada saat mengisi shaf dan meluruskan shaf, apabila shalat akan di mulai, maka imam akan memeriksa barisan kemudian akan “memerintahkan” pada makmum untuk mengisi shaf yang kosong dan merapatkan barisan. Hal ini juga tidak memperdulikan “siapa itu makmum”,kalau ada shaf yang kosong harus segera di isi dan juga kalau kurang rapat harus di rapatkan.Karena lurus dan rapatnya shaf merupakan faktor pendukung kesempurnaan shalat.

4. Pada saat membaca “Al Fatihah” maka para makmum mengucapkan “ Amin (kabulkanlah doa kami)” secara serempak, bersama-sama,dan juga dalam mengikuti gerakan iman. Tidak boleh saling mendahului karena mungkin merasa mempunyai kedudukan atau atribut lain yang lebih dari imam.Bahkan dalam sebuah hadist sangat tegas bahwa mereka yang mendahului imam nanti di akhirat kepalanya akan di ganti dengan kepala keledai!

5. Demikian pula saat akan mengakhiri shalat mereka mengucapkn salam ke kanan ke kiri serta dengan saling bersalaman lagi, dan (mungkin)ada wirit dan doa bersama.

Semua ini sangat penting atau sangat dibutuhkan pada saat kemajuan ilmu dan teknologi yang begitu pesat, sehingga ada kecenderungan manusia sangat individualis, permisif, dan materialistis. Kecenderungan ini menyebabkan seseorang merasa asing dalam lingkungan yang begitu ramai. Semua urusan diukur dengan materi, pertolongan, urusan, jasa dan tindakan-tindakan sekecil apapun sering dihargai dengan materi atau fulus. Sehingga ada pepatah “Ada fulus urusan mulus, tiada fulus lu mampus”. Dan ada pula yang membuat pelesetan “KUHP (kasih uang habis perkara); UUD (ujung-ujungnya duit atau uang); Maju Tak Gentar Membela Yang Bayar”. Shalat berjamaah akan menambah “kebermaknaan” seseorang dan sangat penting dalam menumbuhkan kesehatan mental.

C. Perasaan kebersamaan

Shalat yang dilakukan secara berjmaah, disamping mempunyai pahala yang lebih banyak daripad shalat sendirian seperti telah dipaparkan di atas juga mempunyai nilai sosial atau kebersamaan. Menurut Djamaludin Ancok (1989) dan Utsman Najati (1985) aspek kebersamaan pada shalat berjamaah menpunyai nilai terapyutik, dapat menghindarkan seseorang dari rasa terisolir, terpencil, tidak dapat bergabung dalam kelompok, tidak diterima atau dilupakan. Apabila diterapkan pada mereka yang menyalahgunakan narkotika, salah satu sebab mereka menyalahgunakan narkotika adalah untuk mengatasi alianasi (monks, dkk,1987). Dalam kondisi alianasi total seseorang dapat masuk ke dalam kelompok yang menentang norma-norma masyarakat (kontra kultur), menjadi social drop out atau menjadi pencandu narkotika.

Shalat yang dilakukan berjamaah juga mempunyai efek terapi kelompok (group terapy) sehingga perasan cemas, terasing, takut, menjadi nothing atau nobody akan hilang (lindgren dalam Adi, 1985). Di dalam kelompok seseorang dapat merasakan adanya universalitas, merasa adanya orang lain yang memiliki masalah yang sama dengan dirinya. Suasana demikian sangat penting bagi mereka yang bermasalah, misalnya anak-anak yang menyalahgunakan narkotika, yang secara langsung atau tidak tidak langsung mereka telah dibuang atau disingkirkan dari keluarga. Perasaan universalitas ini akan meningkatkan pembukaan diri dan memberikan motivasi untuk berubah yang lebih besar dan membantu proses penyembuhan.

D. (Tidak ada) Jarak Personal (Personal Space)

Salah satu kesempurnan shalat berjamaah adalah lurus dan rapatnya barisan (shaf)a jamaahnya.Ini berarti tidak ada jarak personal antara jarak satu dengan yang lainnya. Pada saat ini banyak orang yang merasa sepi di tempat yang ramai, merasa asing dengan dirinya sendiri, merasa asing dengan rumahnya, merasa asing dengan anak atau istrinya, dan sebagainya. Semakin jauh jarak personal seseorang berarti akan semakin tidak intim, dan ini akan memungkinkan terjadinya kesepian, keterasingan (alianasi) pada diri seseorang. Kajian mengenai jarak personal ini sudah banyak dilakukan pada psikologi lingkungan yang membuktikan bahwa semakin asing seseorang pada orang lain berarti semakin lebar atau jauh jarak personal. Sebaliknya jika semakin intim maka akan semakin dekat jarak personalnya.

Dalam shalat berjamaah jarak personal ini boleh dikata tidak ada, karena pada saat para jamaah mendirikan shalat mereka harus rapat dan meluruskan barisan demi keutamaan shalat. Masing-masing berusaha untuk mengurangi jarak personal, bahkan kepada mereka yang tidak ia kenal, namun merasa ada sati ikatan yaitu “ikatan akidah (keyakinan)”. Hal ini ditunjukkan oleh hadist nabi saw berikut ini:

“Adalah Nabi Muhammad saw mendatangi sudut-sudut barisan shaf dan menyamaratakan dada-dada jamaah dan bahu-bahunya, seraya bersabda:Jangan kamu maju mundur yang menyebabkan pula maju mundur hatimu, bawasanya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas ahli shaf pertama,” (HR. Ibnul Khuzaiman)

“Dirikanlah shaf, dan sejajarkanlah bahu,dan tutupilah tempat yang lapang, dan lembutkanlah dirimu bila di tarik oleh tangan-tangan saudaramu, dan janganlah kamu biarkan lapangan-lapangan setan.Barang siapa menyambung shaf,niscaya Allah akan menyambungkan dan barang siapa memotong shaf,niscaya Allah akan memotongnya (berhubungan dengannya).”(HR.Daud dan Abu Bakar)

“Samaratakan shafmu,karena menyamakan shaf itu merupakan kesempurnaan shalat.”(HR.Bukhari-Muslim).

Berdasarkan berbagai hadist di atas jelas betapa pentingnya rapat dan lurusnya shaf tersebut yang akan mendukung terciptanya jarak pribadi yang sangat minim dan dapat di kaji lebih jauh sebagai berikut:

*> Nabi mendatangi para jamaah dalam rangka memeriksa shafnya,apakah sudah lurus dan rapat atau belum.Hal ini seperti dalam tradisi militer seorang komandan memeriksa/inspeksi barisan.

*> Maju dan mundurnya shaf yang berarti bentuk lahiriah atau tingkah laku namun oleh nabi di kaitkan dengan sesuatu yang ada dalam diri seseorang, yaiyu hati.Jadi dengan kata lain kalau barisannya maju atau mundur dalam shalat,berarti hatinya juga maju-mundur, atau shalatnya tidak khusyuk

*> Jamaah yang ada di kanan atau kiri, depan atau belakang oleh nabi dikatakan sebagai “saudara”, hal ini menegaskan bahwa dalam Islam mengenal ada dua macam saudara, yaitu nasab(satu darah/keturunan) dan saudara satu akidah. Hal ini lebih menegaskan, sehingga kalu mungkin ada yang meminta mengisi shaf yang kosong, bahkan dalam hadist di atas adalah”menarik” dirinya mengisi shaf yang kosong tersebut, maka ia akan memenuhi dengan lapang hati.

*> Shaf yang kosong dikatakan oleh nabi adalah sebagai “lapangan setan”. Maka kalau seseorang membiarkan shafnya kosong berarti telah membiarkan setan ada di sampingnya yang akan menggodanya. Apabila kita berbicara tentang terminologi agama khususnya Islam, maka akan seseorang berbuat tidak baik atau jahat akan dua kekuatan yang mempengaruhinya yaitu setan dan nafsu (Haryanto,1999). Berati disini dengan meluruskan dan merapatkan barisan sudah sekaligus menutup jalan setan untuk dapat menggodanya selama shalat.

*> Menyambung dan memutuskan barisan (Shaf) oleh nabi dikemukakan akan berkaitan disambung atau diputuskannya dirinya dengan Allah. Ternyata perbuatan yang nampaknya sangat enteng, yaitu “merapatkan atau memutuskan barisan” sudah mampu untuk menghubungkan dirinya dengan Tuhan atau sebaliknya memutuskan hubungan dirinya dengan Tuhan.

*> Seperti telah banyak dikutip diatas bahwa hadist tersebut menegaskan menyamaratakan shaf merupakan salah satu komponen kesempurnaan shalat. Artinya kalau ada hal-hal kurang dalam shalat dapat ditutup karena para jamaah sangat memperhatikan barisannya.

E. Terapi lingkungan

Salah satu kesempurnaan shalat adalah dilakukan berjamaah dan lebih utama lagi dilakukan di masjid. Masjid dalam Islam mempunyai peranan yang cukup besar, masjid bukan pusat aktifitas beragama dalam arti sempit namun sebagai pusat aktivitas kegiatan umat. Sehingga shalat di masjid ini mengandung unsur terapi lingkungan (Haryanto, 1993;19994).

Apabila kita mengkaitkan dengan korban penyalahgunaan narkotika yang sebagian besar adalah remaja berarti berkaitan dengan perkembangan sosial. Remaja sudah mulai meninggalkan lingkungan keluarga menuju ke kelompok (Monks, dkk,1987). Menurut Hurlock (1992) ada berbagai macam kelompok remaja, antara lain chume, clique (sahabat karib), crowd, kelompok formal dan gang. Gang remaja inilah yang sering berkaitan dengan tingkah laku yang menyimpang. Diantaranya adalah menyalahgunakan narkotika, alkohol, psikotropika dan zat adiktif lainya.

Salah satu terapi bagi korban penyalahgunaan napza adalah dengan terapi lingkungan, ia harus pindah dari lingkungan yang kurang mendukung ke lingkungan yang lebih mendukung. Namun hal ini kadang-kadang sulit dilakukan, karena hampir di setiap tempat anak dapat memperoleh obat dan memperoleh teman yang hampir sama dengan temapat yang lama.

Oleh karena itu, lingkungan masjid diharapkan dapat sebagai salah satu alternatif. Di masjid biasanya terdapat aktivitas remaja yaitu “Remaja Masjid”. Kegiatan inilah yang diharapkan ikut memberikan andil terapi. Disamping itu masjid juga syarat dengan kegiatan baik itu keagamaan maupun kegiatan sosial.

Penelitian terhadap para mahasiswa Malaysia yang belajar di Amerika, yaitu antara mereka yang tinggal dekat dengan masjid dan yang jauh dengan masjid ternyata memberikan dampak kepada perbedaan prestasi (Ancok,1985). Mereka yang tinggal dekat dengan masjid ternyata mempunyai prestasi yang lebih baik daripada yang jauh dari masjid.

F. Pengalihan perhatian

Disamping efek terapeutis seperti yang disebutkan diatas, shalat berjamaah mengandung unsur pengalihan perhatian (Haryanto,1993;1994). Pada saat ini orang disibukkan oleh berbagai macam kesibukkan yang menyita pikiran, tenaga, dan perasaan, bahkan kadang-kadang kebutuhan fisik, misalnya makan dan istirahat saja tidak sempat dilakukan. Dalam kondisi seperti ini maka seseorang membutuhkan istirahat dan perubahan suasana. Hal ini juga sekaligus menjadi penjelasan kenapa ditempat tugas, misalnya kantor atau instansi perlu di adakan mutasi, rotasi, alih tugas, mengubah suasana kerja dan sebagainya.

Melakukan shalat berjamaah di masjid atau musholah juga dapat diharapkan akan mengalihkan perhatian seseorang dari kesibukkan yang sudah menyita segala energi yang ada dalam diri seseorang dan kadang-kadang sebagai penyebab stress. Lingkungan masjid atau musholah yang telah tertata dengan baik, tidak seperti dahulu lagi. Misalnya ada dekorasi yang indah, taman yang nyaman, dilengkapi pengatur sirkulasi udara yang baik bahkan telah dilengkapi dengan perpustakaan masjid.

G. Melatih saling ketergantungan (interdependency)

Salah satu buku yang saat ini sangat laris (Best seller) adalah buku yang dikarang oleh Stephen R. Covey ( 1989) yang berjudul The Sevent Habits of Hihgly Effective People. Dikatakan dalam buku ini bahwa ada perubahan paradigma manusia dari tergantung (dependence) menuju ke arah bebas (independence).

—–

*) Dikutip dari buku HAriyanto, Psikologi Shalat.


Cegah Bullying Sejak Dini

15 Oktober 2008

Cegah Bullying Sejak Dini

TPG IMAGES

/

Artikel Terkait:

Jumat, 10 Oktober 2008 | 05:33 WIB

DI tahun 2007, beberapa kali kita dikejutkan oleh serangkaian berita-berita tentang kekerasan di sekolah dan geng remaja. Diawali dengan berita tentang Cliff Muntu-siswa STPDN, dan diakhiri dengan berita tentang geng Gazper di SMA 34 Pondok Labu. Ternyata di tahun 2008 kekerasan di kalangan remaja masih saja terjadi, berita yang terbaru adalah tentang ritual perpeloncoan geng remaja putri Nero dari Pati, kota kecil di Jawa Tengah dan kekerasan remaja putri di Kalimantan Tengah.

Seringkali kita merasa ngeri, prihatin dan tidak percaya dengan adanya fakta-fakta tersebut. Namun, tampaknya kekerasan memang telah menjadi bagian dari kehidupan remaja kita. Kekerasan antar sebaya atau bullying merupakan suatu tindak kekerasan fisik dan psikologis yang dilakukan seseorang atau kelompok, yang dimaksudkan untuk melukai, membuat takut atau membuat tertekan seseorang (anak atau siswa) lain yang dianggap lemah, yang biasanya secara fisik lebih lemah, minder dan kurang mempunyai teman, sehingga tidak mampu memertahankan diri. Alasan bullying seringkali tidak jelas, biasanya menggunakan kedok perpeloncoan, penggemblengan mental, ataupun aksi solidaritas.

Sebenarnya bullying tidak hanya meliputi kekerasan fisik, seperti memukul, menjambak, menampar, memalak, dll, tetapi juga dapat berbentuk kekerasan verbal, seperti memaki, mengejek, menggosip, dan berbentuk kekerasan psikologis, seperti mengintimidasi, mengucilkan, mendiskriminasikan. Berdasarkan sebuah survei terhadap perlakuan bullying, sebagian besar korban melaporkan bahwa mereka menerima perlakuan pelecehan secara psikologis (diremehkan). Kekerasan secara fisik, seperti didorong, dipukul, dan ditempeleng lebih umum di kalangan remaja pria.

Ada dua jenis pelaku bullying. Pertama, adalah pelaku utama, yaitu pihak yang merasa lebih berkuasa dan berinisiatif melakukan tindak kekerasan baik secara fisik maupun psikologis terhadap korban, dan kedua adalah pelaku pengikut, yaitu pihak yang ikut melakukan bullying berdasarkan solidaritas kelompok atau rasa setia kawan, konformitas, tuntutan kelompok, atau untuk mendapatkan penerimaan atau pengakuan kelompok. Di luar pihak pelaku dan korban sebenarnya ada sekelompok saksi, dimana saksi ini biasanya hanya bisa diam membiarkan kejadian berlangsung, tidak melakukan apapun untuk menolong korban, bahkan seringkali mendukung perlakuan bullying. Saksi cenderung tidak mau ikut campur disebabkan karena takut menjadi korban berikutnya, merasa korban pantas dibully, tidak mau menambah masalah atau tidak mau tahu.

Sebagai bagian dari masyarakat dan secara khusus sebagai orang tua, pasti kita bertanya-tanya mengapa remaja kita (bahkan remaja putri) dapat menjadi pelaku bullying, melakukan seangkaian kekerasan kepada sesama temannya. Perjalanan seorang anak tumbuh menjadi remaja pelaku agresi cukup kompleks, dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor; biologis, psikologis dan sosialkultural. Secara biologis, ada kemungkinan bahwa beberapa anak secara genetik cenderung akan mengembangkan agresi dibanding anak yang lain. Dalam bukunya Developmental Psychopathology, Wenar & Kerig (2002) menambahkan bahwa agresi yang tinggi pada anak-anak dapat merupakan hasil dari abnormalitas neurologis.

Secara psikologis, anak yang agresif kurang memiliki kontrol diri dan sebenarnya memiliki ketrampilan sosial yang rendah; anak-anak ini memiliki kemampuan perspective taking yang rendah, empati terhadap orang lain yang tidak berkembang, dan salah mengartikan sinyal atau tanda-tanda sosial, mereka yakin bahwa agresi merupakan cara pemecahan masalah yang tepat dan efektif. Jika kita runut dari lingkungan keluarga, anak-anak yang mengembangkan perilaku agresif tumbuh dalam pengasuhan yang tidak kondusif; anak mengalami kelekatan (attachment) yang tidak aman dengan pengasuh terdekatnya, orang tua menerapkan disiplin yang terlalu keras ataupun terlalu longgar, dan biasanya ditemukan masalah psikologis pada orang tua; konflik suami-istri, depresi, bersikap antisosial, dan melakukan tindak kekerasan pada anggota keluarganya.

Terjadinya kekerasan antar sebaya semakin menguat mengingat adanya faktor pubertas dan krisis identitas, yang normal terjadi pada perkembangan remaja. Dalam rangka mencari identitas dan ingin eksis, biasanya remaja lalu gemar membentuk geng. Geng remaja sebenarnya sangat normal dan bisa berdampak positif, namun jika orientasi geng kemudian ’menyimpang’ hal ini kemudian menimbulkan banyak masalah. Dari relasi antar sebaya juga ditemukan bahwa beberapa remaja menjadi pelaku bullying karena ’balas dendam’ atas perlakuan penolakan dan kekerasan yang pernah dialami sebelumnya (misalnya saat di SD atau SMP).

Lingkungan secara makro pun turut berpengaruh terhadap munculnya bullying, baik secara langsung mauun tidak langsung. Secara sosiokultural, bullying dipandang sebagai wujud rasa frustrasi akibat tekanan hidup dan hasil imitasi dari lingkungan orang dewasa. Tanpa sadar, lingkungan memberikan referensi kepada remaja bahwa kekerasan bisa menjadi sebuah cara pemecahan masalah. Misalnya saja lingkungan preman yang sehari-hari dapat dilihat di sekitar mereka dan juga aksi kekerasan dari kelompok-kelompok massa. Belum lagi tontotan-tontonan kekerasan yang disuguhkan melalui media visual. Walaupun tak kasat mata, budaya feodal dan senioritas pun turut memberikan atmosfer dominansi dan menumbuhkan perilaku menindas.

Bullying harus diperangi. Bagaimanapun juga kita tidak dapat membiarkan generasi penerus kita menjadi penjahat-penjahat hak asasi manusia. Untuk mencegah dan menghambat munculnya tindak kekeraran di kalangan remaja, diperlukan peran dari semua pihak yang terkait dengan lingkungan kehidupan remaja. Sedini mungkin, anak-anak memperoleh lingkungan yang tepat. Keluarga-keluarga semestinya dapat menjadi tempat yang nyaman untuk anak dapat mengungkapkan pengalaman-pengalaman dan perasaan-perasaannya. Orang tua hendaknya mengevaluasi pola interaksi yang dimiliki selama ini dan menjadi model yang tepat dalam berinteraksi dengan orang lain. Berikan penguatan atau pujian pada perilaku pro sosial yang ditunjukkan oleh anak. Selanjutnya dorong anak untuk mengambangkan bakat atau minatnya dalam kegiatan-kegiatan dan orang tua tetap harus berkomunikasi dengan guru jika anak menunjukkan adanya masalah yang bersumber dari sekolah.

Untuk mencegah dan menekan tindakan bullying di sekolah, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah, terutama di sekolah dasar sebagai lingkungan pendidikan formal pertama bagi anak. Selama ini, kebanyakan guru tidak terlalu memperhatikan apa yang terjadi di antara murid-muridnya. Sangat penting bahwa para guru memiliki pengetahuan dan ketrampilan mengenai pencegahan dan cara mengatasi bullying. Kurikulum sekolah dasar semestinya mengandung unsur pengembangan sikap prososial dan guru-guru memberikan penguatan pada penerapannya dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Sekolah sebaiknya mendukung kelompok-kelompok kegiatan agar diikuti oleh seluruh siswa. Selanjutnya sekolah menyediakan akses pengaduan atau forum dialog antara siswa dan sekolah, atau orang tua dan sekolah, dan membangun aturan sekolah dan sanksi yang jelas terhadap tindakan bullying.

Agnes Indar Etikawati, S.Psi, P.Si., M.Si, dosen pada Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta


KIYAI SAHAL, ALIM PROGRESIF DAN ARIF

11 Maret 2014

Oleh : Husein Muhammad

Kiyai Haji Muhammad Ahmad Sahal Mahfuzh adalah satu di antara sosok ulama (alim) terkemuka Indonesia zaman ini yang memberikan apresiasi dan respon positif terhadap gagasan fiqh kontekstual. Beliau termasuk ulama yang sangat gelisah jika fiqh harus mengalami kondisi stagnan atau tidak mampu mengatasi suatu masalah social, kebangsaan dan kemanusiaan. Sebab ini akan berarti agama menjadi tidak berfungsi solutif atas permasalah manusia. Dengan kapasitas ilmunya yang sangat luas dan mendalam beliau mengajak orang lain untuk bergerak ke arah penyelesaian dan pemecahan masalah dan bukannya hanya semata-mata bisa menjawab masalah, tanpa mempertimbangkan relevansi dan efektifitasnya. Sejumlah tulisannya tentag fiqh seperti dalam bukunya yang terkenal “Fiqh Sosial”, memperlihatkan dengan jelas bagaimana beliau mampu mengetengahkan kajian fiqh dengan pendekatan kontekstual. Saya kira agak sulit bagi kita menemukan sosok ulama pesantren atau kiyai yang mempunyai pikiran yang demikian maju dan boleh jadi bisa disebut progresif. Lebih jauh, dari sekedar menjawab dengan fiqh, Kiyai Sahal adalah seorang pemikir fiqh (ushuli), yakni ahli dalam metodologi fiqh. Ini berkat keahliannya tentang kaedah-kaedah fiqh dan ushul fiqh (teori-teori fiqh/hukum syari’ah). Bahkan sudah sejak lama Kiyai Sahal telah menulis kaedah-kaedah fiqh dalam bahasa Arab yang sangat bagus, layaknya orang Arab saja. Kumpulan pemikirannya yang dituangkan dalam sejumlah buku yang ditulisnya, jelas memberikan kesan yang mendalam betapa kentalnya kaedah fiqh dalam pemikiran beliau. Hampir setiap jawaban yang disampaikan berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan masyarakat awam, atau yang dilihat dalam kehidupan social, selalu diselipkan dasar-dasar fiqhnya yang diambil dari karyanya “Al-Qawa’id al Fiqhiyyah al-Hajiniyyah”. Tetapi hal yang menarik dari Kiyai Sahal adalah bahwa beliau tetap berhati-hati untuk keluar dari pemikiran fiqh dominan atau mainstream. Artinya, jika jawaban yang diberikan cukup memberikan pemahaman melalui pendekatan qauli, tekstual, dari mazhab Syafi’i, maka beliau tidak perlu mencari jawaban dari mazhab lain. Pandangan fiqh mazhab lain baru disampaikan sebagai alternatif jika lebih berpeluang untuk diamalkan oleh yang bersangkutan. Dengan begitu, Kiyai Sahal tetap ingin berada dan menyantuni tradisinya, baik dalam kaitannya dengan fiqh qauli maupun fiqh manhaji. Ini tentu saja mengantarkan beliau sebagai ahli fiqh yang moderat dan tidak terbawa oleh arus “liberal” seperti pikiran murid-muridnya, antara lain Ulil Abshar Abdallah atau anak muda NU lain yang berpikiran maju. Meski tidak sejalan, tetapi Kiyai Sahal adalah ulama yang arif dalam menyikapi pikiran-pikiran anak-anak muda NU yang memiliki kecenderungan berpikir “liberal” tersebut. Beliau alih-alih mengkafirkan atau memberi label sesat atasnya, malahan mengajaknya untuk berdiskusi dengan baik. Buku saja “Fiqh Perempuan: Refleksi Kiyai atas Wacana Islam dan Gender”, bahkan diapresiasi dengan sangat mengesankan. Sikap dan cara pandang ini sesungguhnya, dalam pandangan saya juga menjadi karakter ulama NU lainnya. Ini berbeda dengan sikap kelompok lain yang mudah melabel sesat, mengkafirkan dan memurtadkan orang yang berbeda pandangan dengan mainstream. Sikap seperti Kiyai Sahal itu, dalam pandangan saya, memperlihatkan kedalaman dan keluasan ilmu seseorang sekaligus tanda kearifannya.

Hal lain yang paling menarik dari pemikiran Kiyai Sahal tentu saja adalah pandangannya tentang fiqh sebagai kumpulan pikiran ulama yang sejatinya dibuat untuk menciptakan moralitas kemanusiaan. Kiyai Sahal menyebutnya “Fiqh sebagai Etika Sosial”. Inilah pikiran brilian Kiyai Sahal yang membuatnya pantas memperoleh penghargaan akademis bergengsi : Doktor, dari UIN Jakarta, meski ia tak pernah menulisnya, manakala diminta mengisi CV untuk keperluan seminar atau yang lain. Usai orasi doktoralnya, Gus Dur segera memberikan apresiasi kepadanya atas tesis pamannya itu. Gus Dur menghendaki paradigm ini diikuti para ulama lain. Sayang sekali, tidak banyak orang yang bisa memahami paradigma yang ditawarkan Kiyai Sahal ini.

Selamat Jalan Kiyai Sahal. “Ya Ayyatuhannafs al-Muthminnah Irji’i Ila Rabbiki Radhiyah Mardhiyyah Fa Udkhuli fi ‘Ibadi wa Udkhuli Jannati”.

Stasiun Gambir, 240114

Berasal dari tulisan untuk Epilog buku : “Wajah Baru Fiqh Pesantren”, ed. Aziz Hakim Saeroziy, Citra Pustaka, Jakarta, 2004


TANTANGAN DUET NAHKODA NU LAMONGAN

28 September 2013

Oleh : Ali Shodikin

Alhamdulilah duet nahkoda Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama Lamongan sudah terpilih. Yakni KH. Abdul Madjid (Gus Madjid) dan Ust Drs.Bi’in Abdussalam ( Radar Jawa Pos,8/9). Ia akan memimpin NU kota soto ini masa khidmat 2013-2018. Dalam banyak kesempatan tokoh-tokoh NU semisal KH. Muchit Muzadi sering mengibaratkan NU laksana kereta api. Arah yang akan dituju sudah jelas. Jalur yang dilalui juga sudah jelas. Aturan untuk menjadi masinis juga sudah ada ketentuannya. Hanya butuh peneguhan komitmen. Dan yang terakhir ini sering terabaikan.
Contoh riil terkait dengan komitmen adalah persoalan khittah. Hampir duapuluh sembilan tahun sejak khittah NU diputuskan selalu ada dinamika naik-turun. Memang harus disadari, pelaksanaan program tidaklah semudah menaruh harapan. Tidak gampang memang menerapkan khittah secara utuh. Karena khittah menyangkut seluruh aspek kehidupan dalam NU. Dari pemikiran, sikap hingga urusan politik. Tidak terkecuali PCNU Lamongan. Apalagi pada periode sebelumnya nahkodanya ditengarahi ada disharmoni kalau tidak boleh dikatakan retak antara unsur Syuriah vs Tanfidliyah.
Dari sini, menurut hemat kita ada beberapa agenda yang mendesak yang harus segera dibenahi dan diselesaikan oleh Gus Madjid dan Ust Biin dalam waktu dekat ini, yakni : Pertama, meminimalkan personalia komponen yang bisa mengakomodir ‘kedua kubu’. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah kehati-hatian dalam merekrut calon-calon pengurus baru yang ‘terlibat’ dalam kegiatan politik praktis. Ini penting. Sebab menurut muktamar Donohudan Solo disebutkan bahwa pengurus NU dalam semua level tidak boleh terlibat langsung dalam kegiatan politik praktis. Kenapa ini menjadi penting ? Sebab kenyataan di lapangan membuktikan bahwa perjalanan khittah selama ini semakin kabur. Khittah selalu diartikan sesuai dengan keinginan orang yang menyatakan. Sehingga ada kelakar dari Kiai Muchid Muzadi, bahwa implementasi khittah bukan semakin mendekat atau semakin menjauh tapi justru semakin mbulet.
Kedua, penyelamatan aset-aset NU yang demikian besar. Namun kenyataannya ternyata sedikit yang dapat diselamatkan kalau tidak boleh dikatakan’gagal’ dikembalikan ke pangkuan NU. Ini juga penting, sebab sebagaimana kita ketahui bersama, ada beberapa aset NU Lamongan yang ‘dikuasai’ oleh segelintir orang. Dan ini mestinya harus bisa dikembalikan ke rahim NU seperti semula.
Ketiga, kepada para calon pengurus NU juga kita harapkan agar senantiasa bermuhasabah nafs (introspeksi) diri. Amanat organisasi, mabda’ organisasi, AD/ART, program dan lain-lain agar dilaksanakan dan diterapkan secara jujur dan adil untuk kepentingan bersama. Dan bukan untuk kepentingan perorangan dan kelompok. Hal ini menjadi urgen agar kepengurusan ini bisa terhindar dari timbulnya pertentangan dan perpecahan internal.
Keempat, konsolidasi internal hendaknya dijadikan pilihan menu utama. Yang tentunya tetap harus mengedepankan unsur solidaritas, kolektivitas, kolegialitas dan kebersamaan sederajat. Sehingga tidak mudah terjadi pergeseran, apalagi saling pecat satu sama lain. Yang ini semua kalau dirunut akibat persaingan antar pengurus yang tidak sehat.
Kelima, disiplin organisasi sebagai sebuah mekanisme berjalannya antar masing-masing individu atau kelompok di dalam organisasi hendaknya dijalankan dengan konsekuen dan keikhlasan.
Dan yang tidak kalah pentingnya adalah agenda yang Keenam yakni budaya musyawarah musawah (persamaan) dan menghargai pendapat pihak lain. Musawah ini hendaknya ‘dihidupkan’ kembali. Kenapa ? Tidak lain agar segala permasalahan hendaknya bisa diselesaikan dengan cara musyawarah yang jujur dan mengedepankan kepentingan bersama dan kebersamaan. Kalau keputusan musyawarah sudah sedemikian rapi, maka hendaknya juga semua komponen bisa menghormati dan melaksanakan secar jujur dan bertanggung jawab.
Sebelum mengakhiri tulisan ini, ada baiknya menelaah kembali sembilan butir Pedoman berpolitik Warga NU yang dicetuskan dalam Muktamar NU XVIII di Krapayak Yogyakarta tahun 1989 sebagai berikut :1. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama mengandung arti keterlibatan warga negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara secara menyeluruh sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945; 2. Politik bagi Nahdlatul Ulama adalah politik yang berwawasan kebangsaan dan menuju integritas bangsa dengan langkah-langkah yang senantiasa menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan untuk mencapai cita-cita bersama, yaitu terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur lahir dan batin dan dilakukan sebagai amal ibadah menuju kebahagiaan di dunia dan kehidupan di akhirat; 3. Politik bagi Nahdlatul Ulama adalah pengembangan nilai-nilai kemerdekaan yang hakiki dan demokratis, mendidik kedewasaan bangsa untuk menyadari hak, kewajiban, dan tanggung jawab untuk mencapai kemaslahatan bersama; 4. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama haruslah dilakukan dengan moral, etika, dan budaya yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, ber-Kemanusiaan yang adil dan beradab, menjunjung tinggi Persatuan Indonesia, ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan ber-Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia; 5. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama haruslah dilakukan dengan kejujuran nurani dan moral agama, konstitusional, adil, sesuai dengan peraturan dan norma-norma yang disepakati serta dapat mengembangkan mekanisme musyawarah dalam memecahkan masalah bersama; 6. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama dilakukan untuk memperkokoh konsensus-konsensus nasional dan dilaksanakan sesuai dengan akhlaq al karimah sebagai pengamalan ajaran Islam Ahlussunah Waljamaah; 7. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama, dengan dalih apa pun, tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan kepentingan bersama dan memecah belah persatuan; 8. Perbedaan pandangan di antara aspirasi-aspirasi politik warga NU harus tetap berjalan dalam suasana persaudaraan, tawadlu’ dan saling menghargai satu sama lain, sehingga di dalam berpolitik itu tetap terjaga persatuan dan kesatuan di lingkungan Nahdlatul Ulama; 9. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama menuntut adanya komunikasi kemasyarakatan timbal balik dalam pembangunan nasional untuk menciptakan iklim yang memungkinkan perkembangan organisasi kemasyarakatan yang lebih mandiri dan mampu melaksanakan fungsinya sebagai sarana masyarakat untuk berserikat, menyatukan aspirasi serta berpartisipasi dalam
Akhirnya, Selamat dan Sukses untuk nahkoda NU Lamongan. Dipundak mereka berdua maju mundurnya NU Lamongan di amanahkan. Kita yakin beliau berdua mampu mengemban kepercayaan warga NU LA dengan jujur dan ikhlas yang sebenar-benarnya. Semoga.


RUNTUHNYA MORAL PELAJAR DAERAH

28 Agustus 2013

oleh; Ali Shodikin*

Miris hati ini rasanya ketika membaca Radar Bojonegoro (19/12), yang memberitakan tentang sejumlah pelajar di Madrasah Tsanawiyah di daerah Babat tepatnya 9 Pelajar yang minum-minuman keras ketika perkemahan di Tuban untuk memperingati Tahun Baru Hijriyah. Yang apalagi notabene sekolah berbasis Islam. Pertanyaannya kemudian, kenapa para pelajar sekarang cenderung sangat berani menerabas larangan agama dan apakah mereka tidak mengerti/ tidak tahu bahwa perbuatan seperti MOLIMO katagori larangan yang tidak bisa ditawar ? Kemudian bagaimana tindakan preventifnya agar para pelajar kita tidak terjerumus dalam jurang kemaksiaatan ?
Manusia tak terkecuali pelajar yang terbimbing secara benar pasti menyadari bahwa dirinya dan jiwanya telah meyakini bahwa Allah sebagai Tuhannya. Bahkan sebelum eksistensinya sebagai manusia dan pelajar dilahirkan ke dunia ini. Kalau sudah demikian rupa keyakinannya terhadap pencipta, pemelihara dan pelindungnya maka sifat berutang dari penciptaan dan eksistensinya adalah sangat menyeluruh dan bersenyawa. Sehingga seorang pelajar merasa berada dalam suatu keadaan kehilangan (fana’) sama sekali. Karena ia tidak memiliki dirinya sendiri. Ia melihat bahwa setiap sesuatu di sekitarnya dalam dirinya dan dari dirinya adalah apa yang dimiliki sang Pencipta. Dan kalau sudah memiliki kesadaran yang sedemikian tinggi maka seorang pelajar akan merasa harus ‘membayar kembali’ dengan dirinya dan harus ‘mengembalikan’ dirinya kepada-Nya yang memilikinya secara mutlak. Sekalipun menanamkan hal-hal demikian tidak mudah bahkan hampir mustahil, tetapi kita harus selalu punya sifat optimis (raja’).

Tujuan Pengajaran
Melihat fenomena akhir-akhir ini, seperti pelajar yang suka tawuran, minum-minuman keras dan fenomena yang terbaru yang menggegerkan dunia pendidikan Jawa Timur yakni arisan pelajar untuk memboking PSK dan lain-lain. Nyatalah yang menjadi tugas utama dan pertama seorang pendidik yaitu membentuk pelajar yang punya susila plus cakap, membentuk warga negara yang demokratis dan menjadikan mereka orang-orang yang bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air (Ngalim Purwanto, 1995).
Dari sekian banyak tujuan pendidikan tersebut hemat kita yang perlu mendapatkan skala prioritas dan perhatian semua pihak adalah menjadikan pelajar yang punya susila. Mungkin dalam benak kita muncul berbagai pertanyaan semisal, apakah yang dimaksud dengan pelajar yang bersusila itu ? Dapatkan kesusilaan atau watak itu dididik ? Mengapa pendidikan kesusilaan itu penting dan urgen ? Dengan cara bagaimana kita dapat mendidik kesusilaan atau watak itu ? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang terkait dengan kesusilaan.
Namun menurut hemat kita, pelajar yang bersusila adalah pelajar yang dalam kesehariannya senantiasa menuruti dan sesuai dengan koridor serta kaidah dan norma-norma kesusilaan yang sedang berlaku.
Kita katakan norma kesusilaan yang sedang berlaku, sebab setiap zaman orang berubah-ubah pandangan tentang baik dan buruk (etika). Yang dahulu berlaku, mungkin sekarang sudah dianggap sebagai suatu hal yang bersifat feodal. Tetapi, kita harus ingat bahwa tidak semua yang kolot dan kuno itu mesti buruk. Dan sebaliknya segala yang baru itu mesti baik. Pandangan orang demikian itu sangat tidak tepat bahkan bisa menyesatkan. Sebab kenyataannya, masih banyak sekali tingkah laku dan adat-istiadat yang dahulu yang masih dianggap baik, sekarangpun ternyata tetap masih baik dan bahkan masih relevan. Yang begini ini menurut hemat kita perlu dilestarikan dan dipertahankan. Sebaliknya, banyak hal baru yang sebenarnya tidak baik dan tidak sesuai dengan adat istiadat atau pandangan hidup bangsa kita, yang sebenarnya tidak perlu kita kembangkan dan bahkan harus kita buang jauh-jauh dari bumi kita tercinta Indonesia.
Selanjutnya, dapatkan watak itu dididik ? Atau lebih jelas lagi dapatkah anak/pelajar dididik menjadi pribadi yang berwatak susila ? Prof. Heymas seorang Psikoklog Belanda meragukan akan berhasilnya pendidikan watak. Namun demikian, menurut hemat kita, betapapun susahnya membina watak pelajar, kita harus optimis pasti BISA. Imam Al-Ghazali juga berpendapat demikian. Anak harus kita didik agar mempunyai kemauan yang keras untuk melakukan segala sesuatu yang baik dan menjauhi segala sesuatu yang buruk. Anak juga harus dididik supaya berperasaan yang halus. Ini berarti dengan perasaanya itu anak dapat mencintai segala yang baik dan membenci segala sesuatu yang buruk.
Dengan bahasa sederhana dan gampang, kita tidak boleh membiarkan pertumbuhan pelajar kita sekehendaknya ( Jawa; semahu guwe). Pelajar wajib kita bimbing, kita bina dan kita arahkan agar watak dan kepribadiannya tidak menyimpang dan menerjang dari norma susila, lebih-lebih hukum-hukum agama.
Satu hal lagi yang juga sangat menggelitik pikiran kita yakni, kenapa pendidikan kesusilaan itu sangat urgen ? Pertanyaan ini kita munculkan, sebab ada sebagian orang yang beranggapan, bahwa bukankah ada yang lebih penting lagi daripada mengurusi kesusilaan itu sendiri. Yakni mendidik pelajar menjadi orang yang berilmu pengetahuan yang tinggi dan pandai mengurus negara, pandai mengatur tentang dunia perteknikan (technical skill) yang justru sangat penting bagi kemajuan dan kebesaran sebuah bangsa dan negara ?
Sebenarnya pertanyaan penting atau tidak, atau mana yang harus didahulukan, dalam tulisan yang singkat ini tidak diulas. Namun yang perlu dimengerti dan disadari oleh semua pihak bahwa kesusilaan bukan hanya berarti bertingkah-laku sopan-santun, bertindak lemah-lembut, taat dan berbakti kepada orang tua saja, melainkan lebih luas lagi dari itu. Selalu bertindak jujur, konsekuen, bertanggung jawab, cinta bangsa dan sesama manusia, mengabdi kepada rakyat dan negara, punya kemauan yang membaja, berperasaan halus, dan lain-lain. Ini semua juga termasuk norma-norma yang harus kita kembangkan dan kita tanamkan kepada benak dan sanubari pelajar kita sejak dini.
Sebagai kata akhir, ada baiknya kita juga perlu mengintrospeksi, mawas diri dan bila dirasa perlu mengevaluasi model pengajaran kita. Sebab pada umumnya para guru atau pendidik mayoritas lebih mementingkan dan memfokuskan pendidikan intelektual (IQ), dan memompakan sains kepada otak peserta didik ansich sehingga kadang-kadang kurang menghiraukan sisi pendidikan yang lain. Padahal pendidikan yang terabaikan tersebut ternyata maha penting, yakni pendidikan kesusilaan, etika dan moral. Lebih-lebih pendidikan Spiritual (ESQ). Sebab semakin pendidikan ESQ ( Emotional Spiritual Qoestion) itu dijauhkan dari pribadi pelajar bisa dipastikan anak didik kita tidak bisa meniru filosofi tanaman padi, dimana padi itu semakin berisi maka semakin merunduk. Semoga.


JADIKAN RAMADLAN KAMPUNG KEDAMAIAN

17 Juli 2013

Pak De Karwo yang nota bene Gubernur Jawa Timur melarang sweeping tempat hiburan malam bagi Ormas-ormas Islam selama Ramadan. Sebab, tugas untuk penertiban sudah menjadi kewenengan aparat penegak hukum. Jangan sweeping. Tidak boleh. Soal penertiban serahkan saja kepada aparat penegak hukum, kan sudah ada polisi dan Satpol PP. Demikian himbauan sang Gubernur terhadap Ormnas Islam. Himbauan ini sangat bisa dipahami sebab aksi-aksi main hakim sendiri oleh sebagian kecil Organisasi Keagamaan yang sudah tidak terhitung jumlahnya baik secara kualitas maupun secara kuantitas menggunakan ‘dakwah’ kekerasan.
Memang tidak gampang menjadikan masyarakat yang relegius luar dalam. Di tengah-tengah gencarnya virus hedonisme yang menjalar dan mendarah daging seperti sekarang ini. Apalagi hakikat kehidupan dunia ialah bahwa ia sangat menarik dan menggiurkan. Tetapi juga sangat bersifat sementara dan jangka pendek (‘ajilah). Maka bagi mereka yang memusatkan perhatiannya hanya kepada kehidupan duniawi ia akan mendapatkan kekecewaan dan kepedihan hidup. Sedangkan Allah menyeru manusia untuk memasuki. Sehingga ada sebagian mufassir yang menyatakan bahwa dalam kitab suci Al-Quran sendiri terdapat ajaran yang agaknya merupakan asal-muasal ketidakdamaian hidup manusia dan kericuhannya. Ajaran dan doktrin itu ialah yang berada di sekitar ‘kejatuhan’. Yaitu kejatuhan Adam dan Ibunda Hawa dari Surga ke dunia karena melanggar larangan Tuhan memakan buah pohon Khuldi. Doktrin tersebut selayaknya termuat di berbagai dalil al-Quran. “Tuhan berfirman : Turunlah kamu (Adam dan Hawa). Sebagian darimu akan menjadi musuh sebagian yang lain. Dan bagimu di bumi tempat tinggal dan kesenangan yang lain. Dan bagimu di bumi tempat tinggal dan kesenangan sementara. Tuhan berfirman : Di bumi itu kamu hidup, di situ pula kamu mati, dan di situ kamu akan dikeluarkan. (Al-A’raf; 25-26).
Dari sini, hemat kita bisa ditarik pelajaran bahwa baginda Adam dan Ibunda Hawa adalah dua manusia yang menjadi ayah dan ibu umat manusia. Karena melanggar larangan Tuhan, Ia menerima hukuman diusir dari Surga. Dan mendapat kutuk bahwa kehidupan mereka di bumi akan merupakan sesuatu yang tak damai, dan penuh permusuhan. Manusia kehilangan hidup damainya yang abadi di dalam alam surgawi digantikan dengan kehidupan duniawi yang bersifat sementara.
Inilah sesungguhnya sifat kehidupan di bumi ini, ricuh dan singkat. Keterangan lebih khusus juga ditemui di dalam kitab suci di berbagai tempat. Kelengkapan doktrin-doktrin itu selanjutnya mengatakan sebagaimana terbaca, misalnya di dalam surat Taha yang terjemahannya sebagai berikut: “Tuhan berfirman: Turunlah kamu semua dari sini (Surga), sebagian kamu menjadi musuh sebagian lainnya. Maka, jika datang kepadamu petunjuk dari-ku maka siapa saja yang mengikuti petunjukku itu. Ia tidak akan sesat dan tidak akan sengsara. Dan barangsiapa berpaling dari ajaran-ku, maka sesungguhnya baginya ialah kehidupan yang sesak (rupeg). Dan kami akan membangkitkannya di hari kiamat dalam keadaan buta. Padahal dahulu aku dalam keadaan melhat ? (Tuhan) berfirman, begitulah, telah datang kepadamu ajaran-ku, kemudian kamu melupakannya. Maka demikianlah hari ini kamu terlupakan. Begitulah kami membalas orang yang berlebihan dan tak percaya kepada ajaran Tuhannya. Dan sungguh, siksa di hari kemudian itu lebih hebat dan lebih pedih (Taha; 124-128).
Doktrin semakna juga terdapat di tempat-tempat lain. Khususnya di dalam surat al-Baqarah ayat 37- 40. Doktrin ini menyatakan bahwa kutukan Tuhan kepada manusia berupa kesengsaraan hidup di muka bumi ini bukanlah sesuatu yang tidak mungkin di cabut olehnya. Dengan kasihnya, Allah menunjukkan kepada manusia jalan mengatasi kerupegan hidupnya. Yaitu dengan mengikuti petunjuk yang diberikannya kepada umat manusia melalui utusan-utusan atau rasul-rasulnya yaitu ajaran agama. Kehidupan sengsara hanya dialami oleh mereka yang berpaling dari ajaran-ajaran Tuhan.

Kampung Perdamaian
Memang hakikat kehidupan dunia ialah bahwa ia sangat menarik dan menggiurkan. Tetapi bersifat sementara dan jangka pendek (‘ajilah). Maka, bagi mereka yang memusatkan hanya kepada kehidupan duniawi akan mendapatkan kekecewaan dan kepedihan hidup. Sedangkan Allah menyeru manusia untuk memasuki negeri perdamaian (Darussalam). Hal ini jelas dapat dipahami dalam surat Yasin ; 25-26. “Sesungguhnya perumpamaan hidup di dunia hanyalah bagaikan air hujan yang kami turunkan dari lagit. Kemudian berpadu dengan tumbuhan bumi yang menjadi makanan manusia dan binatang. Sehingga tatkala bumi mulai berhias dirinya nampak indah menarik. Dan penghuninya menyangka bahwa mereka mempunyai kekuasaan atas bumi itu. Tiba-tiba datang perintah kami di malam atau siang hari. Kemudian kami jadikan bumi itu gundul seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu apapun hari kemaren. Demikianlah kami menjelaskan ayat-ayat kami untuk kaum yang berpikir. Dan Allah menyeru kepada negeri perdamaian serta menunjukkan siapa saja yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.

Ihtitam
Sekalipun mewujudkan kampung damai tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun bukan berarti menjaga toleransi umat beragama dengan baik tidak bisa diwujudkan. Hemat kita kalau ada komitmen yang kuat oleh masing-masing umat beragama dan Ormas Islam kami yakin bisa. Apalagi ini berkaitan dengan momentum Ramadan. Dan sekali lagi, kalau kita memperhatikan himbauan orang nomor 1 di Jawa Timur ini maka benang kusut intoleransi umat beragama sedikit akan terurai. Lihatlah bagaimana bijaknya kalau, misalnya, warung yang tetap dibuka pada siang hari tetep diberi kerudung. Termasuk warung warga non muslim juga harus menjaga tolerasi. Dan yang tidak kalah pentingnya juga terhadap tempat hiburan malam yang nekad beroperasi selama Ramadan juga harus bisa menjaga perasaan umat yang sedang berpuasa. Dan kalau sudah melebihi ambang batas toleransi maka dilaporkan ke aparat yang berwajib. Tentu harapan kita Bapak polisi akan bertindak professional dengan tidak tebang pilih.
Akhirnya, Selamat menjalankan ibadah puasa dan kampung damai yang dicita-citakan umat beragama segera terealisasi dengan sebenar-benarnya. Semoga.


LANJUTAN SOAL LOGIKA

27 Mei 2013

21. Di permukaan laut, air mendidih pada suhu 100 derajat Celcius jika tekanan udara normal. Jika tekanan udara kurang dari normal, maka air mendidih pada suhu yang lebih rendah dari 100 derajat Celcius. Di daerah-daerah yang letaknya lebih tinggi dari permukaan laut, tekanan udara sering kali lebih rendah daripada tekanan normal. Di daerah ini akan :
a. Selalu mendidih pada suhu 100 derajat Celcius
b. Selalu mendidih pada suhu di atas 100 derajat Celcius
c. Sering mendidih pada suhu di bawah 100 derajat Celcius
d. Tidak pernah mendidih pada suhu 100 derajat Celcius

22. Luas area parkir 176 m2, luas rata-rata untuk mobil sedan 4 m2 dan bis 20 m2. Kapasitas maksimum hanya 20 kendaraan, biaya parkir untuk mobil Rp. 1000 satu kali parkir dan untuk bis Rp. 2000 satu kali parkir. Jika dalam satu jam tidak ada kendaraan yang pergi dan datang, maka hasil maksimum tempat parkir itu adalah…
A. Rp. 300.000
B. Rp. 260.000
C. Rp. 440.000
D. Rp. 340.000

23. Sebuah kerta api berangkat dari kota Jogja ke kota Purwokerto dengan kecepatan 50 km/jam selama 4 jam. Sementara itu kereta api lainnya berangkat dari kota Purwokerto menuju kota Jogja selama 5 jam. Berapa km/jam kecepatan kereta api itu berangkat dari kota Purwokerto ?
A. 20
B. 25
C. 35
D. 40

24. Rumah Mita berjarak 1.5 km dari sekolahnya. Jika Mita berjalan rata-rata 4,5 Km tiap jamnya, berapa jamkah yang ditempuh Mita untuk berjalan pergi-pulang sekolah selama satu minggu (satu minggu dihitung 6 hari sekolah)?
a. 4 jam
b.24 jam
c. 6 jam
d. 1/3 jam

25. Satu bidang tanah mempunyai keliling 96 meter, bisa ditanami jagung sebanyak 100 pohon. Berapa panjang tanah yang diperlukan untuk menanam 50 pohon jagung jika lebar tanah tersebut adalah 6 meter ?
a. 7 meter
a. 8 meter
c. 9 meter
d. 10 meter

26. Waktu di kota A adalah 3 jam lebih cepat daripada kota B. Sebuah kapal terbang berangkat dari kota A menuju ke kota B pada pukul 5 pagi dan tiba 4 jam kemudian. Pada pukul berapakah kapal terbang tersebut di kota B?
A. 2 pagi
B. 6 pagi
C. 4 pagi
D. 3 pagi

27. Sebuah proyek akan diselesaiakan dalam x hari, maka biaya proyek per hari menjadi 2x + (1000/x – 40 hari) juta rupiah. Biaya proyek minimum adalah :
A. 500 juta rupiah
B. 800 juta rupiah
C. 880 juta rupiah
D. 900 juta rupiah

28. Sebuah mobil menempuh jarak 120 km ke suatu tempat dengan kecepatan rata-rata 60 km/jam. Dan kembali ke tempat semula dengan kecepatan rata-rata 40 km/jam. Berapa km/jam rata-rata kecepatan seluruhnya mobil tersebut ?
A. 60
B. 54
C. 50
D. 48

29. Hilmy, Faris, Zidan masing-masing membawa tongkat 3 m, 4 m , 5 m. Jika ujung-ujung tongkat dipertemukan di atas tanah, maka luas tanah maksimal adalah :
a. 5 meter persegi
b. 6 meter persegi
c. 7 meter persegi
d. 8 meter persegi

30. Sebuah bengkel pengisian aki membutuhkan waktu 5 jam untuk mengisi 3 buah aki. Berapa lamakah waktu yang dibutuhkan untuk mengisi 12 aki ?
a. 15 jam
b. 18 jam
c. 20 jam
d. 21 jam

31. Sebuah wadah berbentuk silinder diisi air 1/3 nya, lalu wadah tersebut ditambah air sebanyak 3 liter, sehingga isinya kini menjadi 1/2 nya. Berapa kapasitas wadah tersebut ?
A. 25
B. 18
C. 20
D. 22

32. Seekor burung merpati terbang 5 km ke arah Barat dan kemudian ke Utara. Ke arah manakah burung tersebut harus terbang supaya sampai di tempat semula ?
A. Tenggara
B. Selatan
C. Barat Daya
D. Barat Laut

33. Asep adalah seorang pedagang yang memiliki 6 warung dan setiap warung membutuhkan 5 liter minyak. satu botol berisi 4 liter minyak goreng. Satu botol minyak dijual dengan harga Rp. 12.000 dan satu liter minyak dijual Rp. 5.000. Berapakah jumlah minimum yang harus dikeluarkan oleh Asep untuk membeli minyak goreng agar mencukupi kebutuhannya?
a. Rp. 84.000
b. Rp. 94.000
c. Rp. 96.000
d. Rp. 102.000

34. Sebuah kolam renang mempunyai isi 300 meter kubik air. Luas kolam itu adalah 100 meter persegi. Berapakah dalamnya kolam itu ?
a. 3 meter
b. 4 meter
c. 5 meter
d. 6 meter

35. Seorang karyawan mengendarai sepedamotornya sejauh 40 km ke tempat kerjanya tiap pagi dalam waktu 55 menit. Pada suatu pagi dia terlambat 7 menit dari biasanya, berapakah kecepatan yang harus ditempuhnya supaya dia sampai di tempat kerjanya seperti waktu biasanya ?
A. 42 km/jam
B. 45 km/jam
C. 54 km/jam
D. 50 km/jam

36. Seekor burung terbang dengan kecepatan rata-rata 25 km/jam. Berapakah panjang lintasan yang ditempuh burung selama 3 jam ?
A. 75 km
B. 80 km
C. 82 km
D. 85 km

37. Dias Naruto berwisata dari Jepang ke Indonesia. Di Indonesia, ia berangkat dengan pesawat terbang dari Cengkareng , Jakarta menuju Jayapura. Pesawat lepas landas dari bandara Jakarta pada pukul 20.00 waktu setempat dan mendarat di bandara Jayapura pada pukul 06.00 waktu setempat. Jika selama penerbangan pesawat singgah bandara Surabaya dan Makasar masing-masing 30 menit, berapa jamkah lama seluruh perjalanan Dias Naruto?
a. 9 jam
b. 10 jam
c. 7 jam
d. 12 jam

38. Seekor kancil dapat berlari dengan kecepatan 80 km per jam. Berapa menit yang diperlukan kancil untuk menempuh jarak 8 km ?
a. 9 menit
b. 8 menit
c. 7 menit
d. 6 menit

39. Sepotong balok kayu berukuran 90 cm X 30 cm X 12 cm dipotong menjadi kubus dengan terbesar yang dapat di buat. Berapa banyaknya kubus yang dapat dibuat ?
A. 6
B. 8
C. 10
D. 12

40. Rina menempuh 4/5 lingkaran dalam waktu x menit. Berapakah lamanya waktu yang diperlukan Rina untuk menempuh satu lingkaran ?
A. x/4
B. 5 x/4
C. 4 x/5
D. 5/4 x

41. Naufal membeli selembar tripleks yang berbentuk bujur sangkar dengan luas 169 meter persegi. Ia harus memotongnya 2 m pada salah satu sisinya agar secara tepat menutup sisi sebuah tembok. Berapa luas dinding?
a. 113 meter persegi
b. 121 meter persegi
c. 143 meter persegi
d. 145 meter persegi

42. Seorang pedagang air memindahkan 900 liter air dari 1 bak ke dalam drum. Setelah dihitung-hitung ternyata sisa air tinggal 870 liter. Ternyata ketika memindahkan air menggunakan ember masing-masing berkurang 3 liter. Berapa ember yang digunakan untuk memindahkan air tersebut ?
a. 8 ember
b. 9 ember
c. 10 ember
d. 11 ember

43. Sepotong kayu panjangnya 40 meter dipotong menjadi 2 bagian dimana yang satu panjangnya 2/3 dari lainnya. Berapa panjang bagian yang terpendek ?
A. 16 m
B. 18 m
C. 22 m
D. 24 m

44. Waktu di Jakarta lebih dulu 3 jam daripada di kota Abu Dhabi. Sebuah pesawat tebang berangkat dari Jakarta menuju kota Abu Dhabi 4 jam kemudian. Pada pukul berapakah pesawat terbang tersebut tiba di kota Abu Dhabi ?
A. 2 pagi
B. 3 pagi
C. 4 pagi
D. 6 pagi

45. Sebuah mobil Honda keluaran terbaru menempuh perjalanan 15 km dengan 1 liter bahan bakar ketika mobil dipacu dengan kecepatan 50 km per jam. Jika mobil berkecepatan 60 km per jam, maka jarak yang ditempuh hanya 80%-nya. Berapakah bahan bakar yang diperlukan untuk menempuh jarak 120 km dengan kecepatan 60 km per jam?
a. 8 liter
b. 6,4 liter
c. 9,6 liter
d. 10 liter

46. Seorang pengamen dapat mengumpulkan uang rata-rata Rp 6.000 setiap jam. Berapakah waktu yang diperlukan si pengamen untuk mendapatkan uang sebanyak Rp 50.000 ?
a. 7 jam
b. 7 jam 40 menit
c. 8 jam
d. 8 jam 20 menit

47. Seseorang berjalan kaki dari titik x menuju arah Timur 1 km kemudian 2 km ke Utara, lalu 1 km ke Timur, terus 1 km ke Utara, lalu 1 km ke Timur lagi, dan terakhir 1 km ke Utara hingga sampailah ia di titik y. Berapa kilometer jarak antara titik x dengan titik y ?
A. 10
B. 5
C. 7
D. 6

48. Jika x = berat total p kotak yang masing-masing kotak beratnya q kg dan y = berat total q kotak yang masing-masing kotak beratnya p kg, maka
a. x > y
b. x < y
c. x = y
d. x dan y tak dapat ditentukan

49. Diketahui suatu bangunan berbentuk balok, dengan volume 162 m kubik. Sisi panjangnya adalah 6 m sisi pendeknya 3 m. Hitunglah berapa cm sisi tingginya?
a. 600 cm
b. 700 cm
c. 800 cm
d. 900 cm

50. Seorang pengangkut batu dapat mengangkut 500 kg batu dalam 5 hari. Hari pertama mengangkut 90 kg, hari kedua 75 kg, hari ketiga 120 kg, dan hari keempat 30 kg. Berapa gram-kah yang dia angkut pada hari ke-5 ?
a. 185.000 gram
b. 180.000 gram
c. 175.000 gram
d. 165.000 gram

LAGU KENANGAN;
Sayonara sayangku
Kini tiba saat berpisah
Jangan bersih hati
Kini akan tiada lagi
Belaian sayang cumbu dan rayu

Walau nanti jauh di mata
Lama takkan berjumpa
Namun hatiku kan selalu
Terbayang hanya pada dirimu

Sayonara.. sayonara..
Selamat tinggal kekasih hatiku
Sayonara.. sayonara..
Hatiku hanya untuk hatimu

Walau nanti jauh di mata
Lama takkan berjumpa
Namun hatiku kan selalu
Terbayang hanya pada dirimu

Sayonara.. sayonara..
Selamat tinggal kekasih hatiku
Sayonara.. sayonara..
Hatiku hanya untuk hatimu

Sayonara.. sayonara..
Selamat tinggal kekasih hatiku
Sayonara.. sayonara..
Hatiku hanya untuk hatimu


BERTENGKAR ITU JELEK; Win Win Solution MTA

22 Mei 2013

Oleh; Ali Shodikin
Pendahuluan
Harian Radar Bojonegoro menurunkan berita yang cukup mencolok tentang demo warga Ngambon Bojonegoro. Demontrasi ini dilakukan karena para warga merasa tuntutannya tidak diindahkan oleh jamaah Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA) Cabang Ngambon (Radar Bojonegoro, 17/5). Padahal sebagaimana dapat kita ketahui di wibesite MTA bahwa pendirian MTA dilatarbelakangi oleh kondisi umat Islam pada akhir dekade 60 dan awal dekade 70. Sampai pada waktu itu, umat Islam yang telah berjuang sejak zaman Belanda untuk melakukan emansipasi, baik secara politik, ekonomi, maupun kultural, justru semakin terpinggirkan. Kala itu, Ustadz Abdullah Thufail Saputra, seorang mubaligh yang karena profesinya sebagai pedagang mendapat kesempatan untuk berkeliling hampir ke seluruh Indonesia, kecuali Irian Jaya, melihat kondisi umat Islam di Indonesia yang semacam itu disebabkan karena umat Islam di Indonesia kurang memahami Al-Quran. Oleh karena itu, sesuai dengan sabda Nabi SAW bahwa umat Islam tidak akan bisa menjadi baik kecuali dengan apa yang telah menjadikan umat Islam baik pada awalnya, yaitu Al-Quran.
Kembali kepada persoalan MTA vs Warga Ngambon, pertanyaan yang cukup menggelitik adalah benarkah perpecahan itu merupakan takdir atau azab ? Dan kenapa perpecahan yang bersifat khilafiyah selalu dan selalu berulang dan berulang ? selanjutnya adakah solusi yang mendamaikan kedua belah pihak ( win win solution ) ? Inilah yang menurut hemat penulis perlu dan penting untuk dikupas dalam artikel ini.

Perpecahan; Taqdir atau Azab ?
Diakui atau tidak, memang sepanjang sejarah umat Islam selalu bertengkar. Bahkan ada yang meyakini bahwa perpecahan sudah menjadi taqdir yang tidak dapat diubah. Bukankah dalam menjalankan agama pun kita terpecah menjadi berbagai mazhab seperti; Imam Syafi’i, Hambali, Maliki dan Imam Hanafi. Ini masih belum ditambah dalil pembenar, seperti ayat yang menunjukkan dalil perpecahan. Yakni surat al-An’am ayat 65: Dia Maha Kuasa untuk mengirimkan azab kepadamu dari atas atau dari bawah kakimu, atau dijadikannya kamu menjadi beberapa golongan, dan sebagian mendatangkan bahaya kepada yang lain. Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan keterangan-keterangan supaya mereka mengerti. Para mufasir kemudian meriwayatkan hadis yang menceritakan tiga permohonan Nabi Muhammad Saw. Dua dikabulkan dan satu tidak. Yang tidak dikabulkan ialah permohonan Nabi agar ummat Islam tidak saling mencelakakan atau tidak saling berpecah.
Di samping itu, ada hadis yang sangat populer untuk menjustifikasi perpecahan yakni hadis yang artinya sebagai berikut : “ Orang Yahudi sudah terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, orang Nasrani sudah terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan akan terpecah umatku menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semua masuk neraka kecuali satu golongan saja, yang selamat adalah Ahlussunnah Wal jamaah.
Sekalipun demikian, bukan berarti surat Al-An’am 65 itu sebagai pembenar dan dalil perpecahan umat Islam. Hemat kita, perpecahan bukan harus diterima begitu saja (taken for granted), tetapi harus diselesaikan dengan melakukan introspeksi pada perilaku kita. Lalu bagaimana dengan hadis bahwa Allah tidak mengabulkan permohonan Nabi yang ketiga ? Pertama, bukankah ada hadis lain yang menerangkan bahwa doa Nabi selalu dikabulkan oleh Allah ? Mengapa kali ini Allah tidak memperkenankannya ? Kedua, bila hadis ini dianggap sahih, maka perpecahan harus dianggap bakal terjadi di kalangan kaum muslim, tetapi tidak boleh diartikan selalu terjadi. Ketika Nabi menyebutkan bahwa diantara umatnya ada yang taat dan ada yang maksiat, Nabi sedang menunjukkan alternatif. Kita dapat melakukan perbuatan yang membawa kepada perpecahan, seperti juga perbuatan yang membawa persaudaraan. Jadi alternatif itu selalu ada, dan kita selalu diberikan kebebasan untuk memilihnya. (Jalaluddin Rakhmat, 1998)
Dan diantara kebebasan memilih adalah apa yang terjadi di dunia kampus. Kami melihat sekarang ini banyak kalangan mahasiswa yang nota bene Muhammadiyah (IRM) dan mahasiswa NU (PMII) yang tidak lagi berdebat tentang mana yang sunnah dan mana yang bid’ah. Justru mereka berdiskusi tentang islamisasi sains, ekonomi, politik, kebudayaan dan masyarakat. Yang menjadi persoalan bukan bagaimana cara berhaji yang sah, tetapi bagaimana menghadapi para pejabat yang naik haji dengan hasil merampas uang rakyat ( baca; korupsi). Mereka juga tidak lagi mempersoalkan berapa jumlah rakaat shalat tarawih yang di sunnahkan, tetapi berapa orang karyawan yang belum mau melakukan shalat tarawih. Mereka juga tidak lagi mendebatkan soal perbedaan ta’rif faqir dan miskin, tetapi bagaimana meningkatkan kualitas hidup keduanya.
Dari sinilah kalau ditarik mundur perspektif benang merah sejarah, bahwa sebenarnya konflik mazhab itu lahir dari kepentingan politik praktis. Sehingga tidak heran kalau mazhab-mazhab fiqih juga selalu berkembang sejalan dengan perkembangan sistem politik. Dan momentum kesadaran bermazhab ini sudah dimulai dari Sahabat Ibnu Mas’ud. Betul, Ibnu Mas’ud sempat kecewa betul ketika mendengar khalifah Usman shalat Zhuhur dan Ashar sebanyak masing-masing empat rakkaat di Mina. Sahabat Utsman dianggap telah meninggalkan sunnah Rasullulah.Tetapi, Ibnu Mas’ud shalat berjamaah di Mina dibelakang Usman, ia shalat seperti shalatnya Usman. Ketika orang mempertanyakanya hal itu, Ibnu Mas’ud berkata,’’bertengkar itu semuanya jelek!”
‘Pertengkaran’ antara MTA dengan masyarakat Ngambon ini sebenarnya bukan hal baru, sebab sebagaimana ditulis Sekretaris Umum MTA, Yoyok Mugiyatno pada April tahun silam di halaman Opini Jawa Pos dengan judul “Beda Boleh, Putus Silaturahmi Jangan”. Ini berarti kalau tidak hati-hati dalam mengelola khilafiyah, apa yang dikhawatirkan Sekjen MTA bisa benar-benar menjadikan kenyataaan.

Sambung Tali Persaudaraan
Satu hari Rasulullah bertanya kepada para sahabatnya. “Maukah kalian saya tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya dari shalat dan puasa ? “Tentu saja ya Rasulullah, jawab mereka. Rasulullah menjawab, “Engkau damaikan orang-orang yang bertengkar.” Menyambungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang berpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam dan mengukuhkan ukhuwa h di antara mereka adalah amal saleh yang besar pahalanya. “ Barang siapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizkinya, hendaklah ia menyambungkan persaudaraan”.
Namun demikian, tawaran Rasulullah Saw. ternyata apikasinya di lapangan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Menurut beberapa hasil studi mutakhir dikatakan, bahwa biang kerok perpecahan ummat Islam paling tidak ada dua faktor. Pertama, pemahaman yang formalistik. Dan sejarah telah membuktikan bahwa mereka yang menafsirkan teks-teks Al-Qur’an dan Hadis dengan sangat kaku dan formalistik adalah kaum Khawarij. Dan faktor kedua adalah Patuh Ritual tetapi minim Ukhuwah. Kaum Khawarij rata-rata berpegang pada Al-Qur’an dan Hadis dalam kerangka pemikiran mereka dan tidak menghormati pemahaman kelompok lain. Sehingga tidak heran kalau kita mendengar ada fatwa halal darahnya atau mengkafirkan sesama muslim. Padahal mengtakfirkan sesama muslim juga larangan keras agama. Mendiang Nurcholish Madjid masih menambahkkan satu lagi yakni fanatisme sempit. Menurut Cak Nur fanatisme membabi buta ini kalau tidak tertangani dengan baik dan profesioanal maka bisa menjadi bahaya sosial paling besar. Ingat bangsa NAZI yang mengklaim dirinya adalah suku/ ras yang terbaik di dunia. Sehingga bangsa NAZI bisa dengan seenaknya membantai manusia-manusia yang tak berdosa tanpa merasa melanggar HAM.

Penutup
Sebagai kata pamungkas, kita patut mengapresiasi gagasan dan ide Kapolres Bojonegoro AKBP Rakhmat Setyadi yang mengajak dialog multipihak. Seperti dari unsur Majelis Ulama Indonesia (MUI), Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) dan Bupati. Sebab kita meyakini bahwa perpecahan tidak sama dengan perbedaan pendapat. Orang dapat berbeda pendapat tanpa harus berpecah-belah. Lihatlah bagaimana Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal yang banyak berbeda pendapat, tetapi mereka saling menyayangi dan menghormati. Bahkan tak satupun riwayat yang menyebutkan bahwa mereka satu dengan yang saling mengkafirkan. Wallahu a’lam.


GURU SEBAGAI PENEBAR AJARAN UKHUWAH BASARIYAH

18 Februari 2013

Oleh : Ali Shodikin

 

Sesungguhnya pendidikan bukanlah soal main-main. Pendidikan terkadang merupakan upaya yang serius untuk melestarikan nilai-nilai hidup tertentu, baik dalam lingkup pribadi, keluarga maupun masyarakat. Pendidikan juga bisa menjadi media untuk mempertahankan bahkan menegakkan keyakinan seseorang atau kelompok dari gangguan fihak lain, yang tidak mungkin dilakukan kecuali dengan media tersebut. Karena itulah tidak jarang suatu kegiatan pendidikan didahului atau disertai upaya kajian filosofis mengenai dasar tempat berpijak dan tujuan yang hendak dicapai melalui kegiatan itu. Tidak terkecuali dalam pendidikan Islam sendiri.

Sehingga Abdul Rasyid Abdul Azis Salim mengatakan bahwa dalam konteks pendidikan Islam, ibadah mempunyai dampak positif terhadap perkembangan peserta didik antara lain : mendidik untuk berkesaran berpikir, melalui adanya planning (niat) yang ikhlas, serta ketaatan sesuai dengan cara dan bentuk yang dilakukan oleh Rasulullah Saw; mendidik untuk melaksanakan ukhuwah islamiyah  melalui shalat berjamah, ibadah haji. Dengan melakukan kewajiban itu manusia akan memperoleh rasa persamaan, persatuan, dan solidaritas.

Dengan bahasa sederhana, guru sebenarnya harus bisa mengemban trilogi peserta didik dalam kehidupan. Trilogi yang dimaksud adalah hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan alam makro kosmos (alam semesta). Namun dalam tulisan ini akan penulis fokuskan pada hubungan manusia dengan sesama manusia.

Sebagai makhluk sosial (social animal) manusia hidup saling membutuhkan, tolong-menolong dan berhubungan dengan yang lainnya. Dalam interaksi sosial, manusia bebas berbuat dan merdeka berkehendak, sebatas dengan hak dan kewajibannya. Tanpa adanya upaya mengganggu kebebasan dan kemerdekaan orang lain “hurriyatika muqayyadatun bi hurriyatil akhar”. Untuk menciptakan suasana yang penuh ukhuwah, dibutuhkan seperangkat aturan yang di sebut dengan norma atau kaidah kehidupan. Norma tersebut harus dikristalisasi pada undang-undang suatu negara agar dapat diamalkan manusia secara keseluruhan.

Dalam Islam, sumber utama undang-undang kehidupan adalah Al-Quran dan Al-Hadis. Di dalamnya termaktub seperangkat prinsip dan aturan yang membawa kemaslahatan dunia akhirat. Bahkan ketika berada di Madinah Rasulullah Saw pernah memformulasikan undang-undang Islam yang merupakan konstitusi pertama kali tercipta di dunia. Di dalam konstitusi Nabi (piagam Madinah) terdapat tujuh prinsip dasar, yaitu: pertama, adanya persatuan umat dan pembebasan dari belenggu orang atau negara lain. Kedua, mengakui hak-hak asasi manusia (former condition). Ketiga, adanya persatuan seagama, misalnya: mengakui hak orang lain, menentang kebatilan, melindungi yang lemah, setia kawan, teguh terhadap jalan yang benar, segala perselisihan harus dikembalikan pada hukum Allah dan Rasulnya. Keempat, toleransi beragama serta menghargai dan memberi kebebasan pada umat agama lain untuk memeluk agama selain Islam, walaupun kelompok minoritas. Kelima, negara merupakan tanggung jawab bersama, tanpa mengenal ras, suku, dan agama. Keenam, pemberian hukuman kepada yang bersalah tanpa membeda-bedakan kelompok mayoritas maupun minoritas, agama dan sebagainya dan ketujuh menjunjung tinggi asas perdamaian (Muhaimin, 2000).

Dalam buku al-Islam wa audha’una al-qauniyah, Abdul Qodir Audah (1973) menyatakan dua belas prinsip masyarakat Islam, yaitu:

  1. Adanya persamaan yang merata
  2. Keadilan yang ditegakkan diberbagai dimensi kehidupan
  3. Kemerdekaan yang seluas-luasnya, baik bidang spiritual maupun material
  4. Persaudaraan yang mendalam
  5. Persatuan yang kuat
  6. Saling membantu dan membela
  7. Memelihara kesopanan dan kehormatan
  8. Menjunjung akhlak yang mulia dan sifat yang utama
  9. Mempunyai rasa memiliki bersama (istikhlaf) segala materi yang diciptakan oleh Allah Swt
  10. Meratakan kekayaan di antara sesama manusia
  11. Saling mengasihi sesama makhluk dan saling berbuat baik
  12. Memegang teguh prinsip musyawarah

 

Di sinilah menurut hemat penulis perlu adanya sosialisasi yang berkelanjutan kepada seluruh elemen bangsa terlebih khusus para guru untuk merealisasikan program-program yang mulia ini. Sebab setiap ia mengajar, ia perlu melaksanakan hal-hal yang bersifat rutin. Bertanya kepada kelas, menerangkan pelajaran dengan suara baik dan mudah ditangkap serta ia sendiri dapat memahami pertanyaan-pertanyaan atau pendapat muridnya. Guru juga harus pandai berkomunikasi dengan murid-muridnya. Setiap saat ia siap memberikan bimbingan atas kesulitan yang dihadapi para siswa. Pekerjaan ini hanya mungkin dilakukan apabila berbadan sehat dan memiliki kepribadian yang menarik.

Dalam suasana di dalam kelas, dimana siswa bermacam-macam latar belakang minat dan kebutuhannya maka ia harus sanggup merangsang murid-muridnya belajar. Menjaga disiplin kelas, melakukan supervisi belajar dan memimpin murid-murid belajar. Sehingga pengajaran berjalan baik dan memberikan hasil yang memuaskan.

Dalam melaksanakan tugasnya, ia perlu mengadakan kerja sama dengan orang tua murid, dengan badan-badan kemasyarakatan dan sekali-kali membawa murid-murid mengunjungi objek-objek yang kiranya perlu diketahui murid dalam rangka kurikulum sekolah. Dan ia perlu pula mengundang seorang ahli dari masyarakat untuk memberikan ceramah atau latihan-latihan dalam ketrampilan tertentu. Selain melaksanakan tugas profesinya di sekolah, guru wajib pula berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan masyarakat serta memperbaiki peranan dan kualifikasi profesionalnya. Demikianlah begitu uniknya pekerjaan seorang guru, dan betapa luasnya tugas kewajiban yang harus dijalankannya. Betapa banyaknya hubungan-hubungan yang perlu dibina dan dipupuknya, serta betapa ia harus menghadapi masalah-masalah baik pribadi maupun sosial. Namun demikian, pada akhirnya masyarakat mengakui bahwa pekerjaan guru adalah suatu pekerjaan mulia dan telah merangsang banyak pemuda yang berminat terjun ke dalamnya.

Guru memerlukan keahlian khusus

Jabatan guru dikenal sebagai suatu pekerjaan profesional, artinya jabatan ini memerlukan suatu keahlian khusus. Sebagaimana orang menilai bahwa dokter, insinyur, ahli hukum dan sebagainya sebagai profesi tersendiri, maka guru pun adalah suatu profesi tersendiri. Pekerjaan ini tidak bisa dikerjakan oleh sembarang orang tanpa memiliki keahlian sebagai guru. Banyak orang yang pandai berbicara tertentu, namun orang demikian belum dapat disebut sebagai seorang guru. Ada perbedaan mendasar antara guru profesional dengan guru yang bukan profesional. Misalkan seorang petani sayur-sayuran, yang bukan profesional tidak akan mengerti bagaimana cara menanam sayur-sayuran secara baik, bagaimana menggunakan pupuk dan tidak mengetahui bagaimana memelihara tanaman itu agar tumbuh subur. Sebaliknya seorang petani sayuran yang profesional dia mengetahui dengan jelas tentang masalah penanaman sayur-sayuran itu, sehingga hasil kebun sayurannya akan lebih baik daripada petani yang pertama.

Demikian pula halnya seorang guru profesional, oleh karena dia menguasai betul seluk-beluk pendidikan dan pengajaran serta ilmu-ilmu yang lainnya. Tambahan lagi dia telah mendapatkan pendidikan khusus untuk guru dan memiliki keahlian khusus yang diperlukan untuk jenis pekerjaan ini maka sudah dapat dipastikan bahwa hasil usahanya akan lebih baik.

Untuk itulah Oemar Hamalik memberikan syarat yang ketat bagi seorang guru. Karena pekerjaan guru adalah pekerjaan profesional, maka untuk menjadi guru harus pula memenuhi persyaratan yang berat. Beberapa diantaranya ialah :

  1. Harus memiliki bakat sebagai guru
  2. Harus memiliki keahlian sebagai guru
  3. Memilliki kepribadian yang baik dan terintegrasi
  4. Memiliki mental yang sehat
  5. Berbadan sehat
  6. Memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas
  7. Guru adalah manusia yang berjiwa Pancasila dan
  8. Guru adalah seorang warga negara yang baik ( Oemar Hamalik, 2001; 118).

Dari delapan syarat tersebut, yang perlu mendapatkan perhatian khusus yakni guru harus memiliki keahlian sebagai guru. Ini penting, sebab setiap guru profesional harus menguasai pengetahuan yang mendalam dalam spesialisasinya. Penguasaan pengetahuan ini merupakan syarat yang penting di samping keterampilan-keterampilan lainnya. Oleh sebab dia berkewajiban menyampaikan pengetahuan, pengertian, keterampilan, dan lain-lain kepada murid-muridnya. Selain dari itu guru harus menguasai tentang hal-hal berikut:

  1. Apakah ia memahami tentang bagaimana merumuskan tujuan mengajar ?
  2. Sejauh manakah ia memahami tentang proses-proses belajar yang dilakukan oleh siswa ?
  3. Sejauh manakah ia memahami cara menyampaikan pelajaran kepada murid ?
  4. Apakah ia mampu memilih dan menggunakan alat-alat bantu pendidikan ?
  5. Mampukah ia memberikan pelayanan terhadap perbedaan-perbedaan individual siswa ?
  6. Apakah ia mampu memberikan bimbingan dalam membantu siswa mengatasi kesulitan dan masalah-masalahnya ?
  7. Apakah ia memiliki kemampuan tentang menyusun dan menggunakan alat-alat evaluasi kemajuan belajar siswa ?
  8. Apakah ia mampu melakukan kerja sama yang baik dengan orang tua murid ?
  9. Apakah ia selalu berusaha memperbaiki peranan profesionalnya ?
  10. Apakah ia selalu berusaha memperbaiki mutu profesionalnya ?

 

Tegasnya, seorang guru di samping menguasai spesialisasi pengetahuannya, dia juga harus menguasai dengan baik ilmu-ilmu keguruan pada umumnya dan didaktik pada khususnya.

Tanggung Jawab Guru

Di sisi lain guru juga mempunyai tugas dan tanggung jawab yang tidak ringan. Tanggung jawab tersebut adalah:

  1. Guru harus mengajak muridnya belajar
  2. Turut serta membina kurikulum sekolah
  3. Melakukan pembinaan terhadap diri siswa (kepribadian, watak dan jasmaniah )
  4. Memberikan bimbingan kepada murid
  5. Melakukan diagnosis atas kesulitan-kesulitan belajar dan mengadakan penilaian atas kemajuan belajar
  6. Menyelenggarakan penelitian
  7. Mengenal masyarakat dan ikut berpartisipasi aktif
  8. Menghayati, mengamalkan dan mengamalkan Pancasila
  9. Turut serta membantu terciptanya kesatuan, persatuan bangsa dan perdamaian dunia
  10. Turut menyukseskan pembangunan, dan
  11.  Bertanggung jawab meningkatkan peranan profesioan guru (Oemar Hamalik, 2001; 127-133).

Khusus pada poin nomor sembilan perlu mendapatkan perhatian lebih. Sebab disamping melakukan kegiatan belajar mengajar, guru juga dituntut bertanggung jawab mempersiapkan peserta didiknya menjadi warga negara yang baik. Pengertian yang baik ialah antara lain memiliki rasa cinta persatuan dan kesatuan sebagai bangsa. Perasaan demikian dapat tercipta apabila para peserta didik saling menghargai, mengenal daerah, masyarakat, adat istiadat, seni budaya, sikap, hubungan-hubungan sosial, keyakinan, kepercayaan, peninggalan-peninggalan historis setempat, keinginan dan minat dari daerah-daerah lainnya di seluruh Nusantara. Dengan pengenalan, pemahaman yang cermat maka akan tumbuh rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Mereka akan menghormati, menjunjung tinggi, bersimpati, serta toleransi terhadap masyarakat dari daerah lainnya. Di lain pihak, guru berusaha mencegah timbulnya gejala atau tindakan yang cenderung bersifat kedaerahan atau kesukuan (suubiyah), yang kemungkinan timbulnya kecenderungan perpecahan dan pertentangan dan rasa antipati, hal-hal mana akan merusak pertumbuhan rasa cinta persatuan dan kesatuan bangsa.

 

Mendidik siswa ke arah ini bukanlah pekerjaan mudah. Bukanlah pula semata-mata melalui pelajaran yang diberikan ansich. Melainkan banyak metode dan usaha yang bisa ditempuh oleh guru. Disamping membaca buku-buku yang relevan, mengadakan studi perbandingan, serta yang tidak kalah pentingnya adalah sikap guru sendiri (keteladanan).

Guru harus pula turut bertanggung jawab mengembangkan kesadaran  internasonal   dalam  diri siswa.  Para  siswa   perlu juga perlu menyadari, bahwa persahabatan antar bangsa sangat diperlukan guna memupuk perdamaian dunia. Untuk itu dalam diri mereka harus ditanamkan pengertian dan apreasiasi terhadap masyarakat lain, terhadap kebudayaannya, aspirasinya, sistem pemerintahannya, cara hidup, dan sumbangannya terhadap dunia lain. Sehingga akan menumbuhkan kesadaran atau saling bergantungan baik dalam ekonomi, politik dan budaya. Untuk mencapai tujuan-tujuan ini, sekolah mempunyai peranan yang penting melalui bermacam kegiatan pengajaran, seperti membaca, percakapan, bermain, dan bekerja. Pada hakikatnya, sekolah merupakan tangga pertama tempat memupuk dan mengembangkan persahabatan, hidup berdampingan, dan perdamaian dunia yang kekal abadi. Semoga.

 

 


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.